
Arini yang sudah menyelesaikan kegiatan ibadahnya terlihat
menengok sosok pria yang tengah berdiri di ambang pintu ruang pakaian miliknya
itu.
“ Kenapa kamu bangun ?” Tanya Arini yang biasanya Vico tidak
bangun saat dia tinggal untuk beribadah selama ini.
“ Tidak apa-apa aku hanya mencarimu, karena kamu tidak ada
di sampingku tadi.” Ucap Vico dan mendekati Arini. Arini merapikan peralatan
ibadahnya dan mengembalikan ke tempatnya. Ia menggandeng Vico untuk kembali ke
ranjang empuknya dan melanjutkan istirahat.
Arini sebenarnya ingin sekali mengajak Vico untuk juga
melaksanakan ibadah seperti dirinya tapi melihat sifat Vico yang mirip
kakaknya, Arini ingin Vico sendiri yang berinisiatif karena menurutnya jika
memaksa dan tidak timbul dari dalam diri Vico sendiri itu juga bukan hal
baik.
“ Ar .” Panggil Vico pelan yang memeluk tubuh ramping
istrinya dari belakang.
“ Iya ?” Jawab Arini yang masih terjaga.
“ Jika aku tidak sebaik yang kamu kira bagaimana ?” Tanya
Vico memberanikan diri untuk menceritakan dirinya yang belum Arini ketahui.
“ Apa maksudmu Vic ?” Tanya Arini kemudian mengubah posisi
tidurnya menjadi berhadapan dengan Vico untuk lebih seksama mendengarkan ucapan
suaminya itu.
“ Mmmm ya jika aku tidak seperti ini maksudku berlawanan
dengan apa yang aku biasa lakukan di depanmu ? “ Tanya Vico yang masih ragu
untuk menjelaskan lebih lanjut. Vico masih menunggu respon dari Arini.
“ Maksudnya bagaimana ?” Arini masih tidak mengerti apa yang
Vico maksud.
“ Ar apa kamu tahu semua kegiatan kakakmu ?” Vico mencoba
menanyakan hal tentang Putra yang menggeluti bisnis mafia juga. Mungkin jika
Arini mengetahuinya itu akan lebih mudah untuk menjelaskannya.
“ Iya, kakak bekerja mengurus bisnisnya, milik papah dan
kakek, tidak ada aktivitas lain selain itu.” Jawab Arini memikirkan kegiatan
yang biasa putra lakukan selama ini sesuai yang dia tahu.
“ Oh.” Jawab Vico
Sepertinya Putra memang tidak memberitahu Arini tentang
bisnis keluarganya di dunia mafia yang dia warisi dari kakek Arini. Batin
__ADS_1
Vico
“ Jadi apa maksudmu Vic ?” Tanya Arini yang kembali ke
ucapan awal Vico tentang diri Vico sebenarnya.
“ Ah sudahlah nanti akan aku ceritakan, ayo istirahat lagi.”
Ucap Vico yang kembali tidak ingin menceritakan pekerjaannya dan dirinya yang
bertolak belakang dengan apa yang Arini ketahui itu.
Arini yang tidak ingin memaksa hanya mengangguk dan menutup
matanya. Arini ingin Vico bercerita jika dirinya sudah siap, mungkin ada hal
yang tidak ingin diketahui Arini saat ini dan berat menceritakannya. Keduanya pun telah terbawa ke dunia mimpi.
Tidak terasa suara adzan shubuh berkumandang menandakan
waktu untuk beribadah, seperti kebiasaan keluarganya jika kedua orang tua
mereka di rumah akan melakukan sholat berjama’ah di rumah. Arini bangun dan
membersihkan diri ke kamar mandi. Arini bingung membangunkan Vico atau tidak
untuk ikut melakukan rutinitas pagi yang satu ini saat ia berada di kamar
mandi.
Vico yang sebelumnya memeluk tubuh ramping istrinya dan kini
sudah tidak ada ia pun terbangun, mengerjapkan penglihatannya dan mendengar suara
gemericik dari kamar mandi menandakan Arini ada di dalamnya. Arini yang sudah
usai melakukan kegiatan membersihkan diri pun keluar dan sudah berpakaian rapi.
di atas ranjang. Vico melihat Arini yang berjalan ingin meninggalkannya dari kamar
itu dengan pakaian rapi.
“ Mau sholat shubuh biasanya di sini akan sholat berjamaah
saat mamah dan papah di rumah.” Jawab Arini menghentikan langkahnya dan
menengok ke arah suaminya itu. Kini Vico sudah terbangun dan dalam posisi duduk.
“ Hhhm tunggu aku, aku juga ikut.” Jawab Vico yang merasa
dia akan menjadi menantu yang kurang baik di mata kedua orang tua Arini jika
tidak ikut beribadah, ya bagaimana pun agamanya hanya tertera dalam KTP saja
tanpa melaksanakan ibadah sesuai keyakinan miliknya. Vico memang tidak terlalu
percaya dengan berbagai agama dan dia hanya mengikuti agama yang di turunkan
ayahnya saja. Sebenarnya Vico juga belajar hal itu dari kecil tapi entah kenapa
dia tidak pernah bisa meyakininya.
“ Baiklah aku akan menunggumu.” Ucap Arini dan berjalan ke
arah sofa dan duduk untuk menunggu Vico. Karena pakaian ganti Vico masih belum
di kirim sekretaris Kim Arini pun kembali berdiri dan berjalan ke arah kamar
kakaknya untuk meminjam pakaian yang cocok untuk beribadah. Terlihat Putra juga
sudah bangun dan sudah berpakaian rapi lengkap dengan sarung dan peci siap
__ADS_1
untuk melaksanakan ibadah.
Arini kembali ke kamarnya dan menyerahkan pakaian untuk Vico.
Usai berpakaian Arini mengenakan sarung untuk Vico mengingat ini hal yang
sangat tidak lumprah bagi Vico karena sudah lama tidak mengenakannya. Usai menggunakan
perlengkapan ibadah mereka berdua pun berjalan ke ruangan ibadah bersama-sama
terlihat di sana ada semua anggota keluarga tak terkecuali para pelayan yang
memeluk agama yang sama dengan keluarga ini.
Vico yang melihat kebersamaan keluarga ini sedikit merasa
kaget karena terasa kental sekali suasana ketaqwaan dari anggota keluarga ini,
bahkan Putra yang bersikap dingin dan terkenal sadis itu terlihat sangat
bertolak belaka dengan apa yang Vico lihat saat ini. Bahkan dengan para pelayan
saja mereka memperlakukan sama. Semua pria yang hadir berjajar sesuai shaf begitu
pula para wanita. Sholat kali ini papah Arini yang menjadi imamnya.
Vico yang memang sudah lama tidak beribadah terlihat hanya
melirik untuk mengikuti semua gerakan yang seharusnya di lakukan usai kegiatan
ibadah dan doa semuanya pun kembali ke kamar masing-masing dan siap-siap untuk
mulai aktivitas mereka. Pagi itu sekretaris Kim juga datang untuk mengantar
pakaian untuk Tuan mudanya Vico. Pakaian diterima pelayan dan diantarkan pada
Arini di kamarnya. Tidak seperti biasanya di mana Arini akan berolahraga pagi
saat di rumah, kini kegiatannya adalah menemani Vico di kamar.
Tok tok tok
“ Non ada Tuan Kim barusan mengantarkan pakaian untuk Den
Vico.” Ucap Pelayan sambil membawa kantong kertas berwarna coklat di tangannya.
“ Iya bi sebentar Arini datang.” Ucap Arini dan berjalan ke
arah pintu dan menerima pakaian tersebut tidak lupa ia berterima kasih pada
pelayan wanita itu.
“ Vico pakaianmu sudah di antar kamu mau mandi lagi atau
langsung ganti ?” Tanya Arini pada Vico yang terduduk di sofa.
“ Aku akan mandi lagi saja.” Ucap Vico dan menerima pakaian
itu dan membawanya ke ruang ganti dan menuju ke kamar mandi. Arini kembali
terduduk di sofa sambil memainkan ponselnya karena sudah berpakaian rapi siap
untuk berangkat ke kantor.
Usai Vico mandi dan berpakaian lengkap tidak lupa Arini yang
selalu menjalankan ritual penting memakaikan dasi pun sudah menggenggam dasi
berwarna biru di tangannya dan berdiri memakaikannya ke leher Vico. Keduanya kini
sudah siap untuk bekerja.
__ADS_1