My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Ingin Mengajaknya


__ADS_3

Arini yang sudah menyelesaikan kegiatan ibadahnya terlihat


menengok sosok pria yang tengah berdiri di ambang pintu ruang pakaian miliknya


itu.


“ Kenapa kamu bangun ?” Tanya Arini yang biasanya Vico tidak


bangun saat dia tinggal untuk beribadah selama ini.


“ Tidak apa-apa aku hanya mencarimu, karena kamu tidak ada


di sampingku tadi.” Ucap Vico dan mendekati Arini. Arini merapikan peralatan


ibadahnya dan mengembalikan ke tempatnya. Ia menggandeng Vico untuk kembali ke


ranjang empuknya dan melanjutkan istirahat.


Arini sebenarnya ingin sekali mengajak Vico untuk juga


melaksanakan ibadah seperti dirinya tapi melihat sifat Vico yang mirip


kakaknya, Arini ingin Vico sendiri yang berinisiatif karena menurutnya jika


memaksa dan tidak timbul dari dalam diri Vico sendiri itu juga bukan hal


baik.


“ Ar .” Panggil Vico pelan yang memeluk tubuh ramping


istrinya dari belakang.


“ Iya ?” Jawab Arini yang masih terjaga.


“ Jika aku tidak sebaik yang kamu kira bagaimana ?” Tanya


Vico memberanikan diri untuk menceritakan dirinya yang belum Arini ketahui.


“ Apa maksudmu Vic ?” Tanya Arini kemudian mengubah posisi


tidurnya menjadi berhadapan dengan Vico untuk lebih seksama mendengarkan ucapan


suaminya itu.


“ Mmmm ya jika aku tidak seperti ini maksudku berlawanan


dengan apa yang aku biasa lakukan di depanmu ? “ Tanya Vico yang masih ragu


untuk menjelaskan lebih lanjut. Vico masih menunggu respon dari Arini.


“ Maksudnya bagaimana ?” Arini masih tidak mengerti apa yang


Vico maksud.


“ Ar apa kamu tahu semua kegiatan kakakmu ?” Vico mencoba


menanyakan hal tentang Putra yang menggeluti bisnis mafia juga. Mungkin jika


Arini mengetahuinya itu akan lebih mudah untuk menjelaskannya.


“ Iya, kakak bekerja mengurus bisnisnya, milik papah dan


kakek, tidak ada aktivitas lain selain itu.” Jawab Arini memikirkan kegiatan


yang biasa putra lakukan selama ini sesuai yang dia tahu.


“ Oh.” Jawab Vico


Sepertinya Putra memang tidak memberitahu Arini tentang


bisnis keluarganya di dunia mafia yang dia warisi dari kakek Arini. Batin

__ADS_1


Vico


“ Jadi apa maksudmu Vic ?” Tanya Arini yang kembali ke


ucapan awal Vico tentang diri Vico sebenarnya.


“ Ah sudahlah nanti akan aku ceritakan, ayo istirahat lagi.”


Ucap Vico yang kembali tidak ingin menceritakan pekerjaannya dan dirinya yang


bertolak belakang dengan apa yang Arini ketahui itu.


Arini yang tidak ingin memaksa hanya mengangguk dan menutup


matanya. Arini ingin Vico bercerita jika dirinya sudah siap, mungkin ada hal


yang tidak ingin diketahui Arini saat ini dan berat menceritakannya. Keduanya pun telah terbawa ke dunia mimpi.


Tidak terasa suara adzan shubuh berkumandang menandakan


waktu untuk beribadah, seperti kebiasaan keluarganya jika kedua orang tua


mereka di rumah akan melakukan sholat berjama’ah di rumah. Arini bangun dan


membersihkan diri ke kamar mandi. Arini bingung membangunkan Vico atau tidak


untuk ikut melakukan rutinitas pagi yang satu ini saat ia berada di kamar


mandi.


Vico yang sebelumnya memeluk tubuh ramping istrinya dan kini


sudah tidak ada ia pun terbangun, mengerjapkan penglihatannya dan mendengar suara


gemericik dari kamar mandi menandakan Arini ada di dalamnya. Arini yang sudah


usai melakukan kegiatan membersihkan diri pun keluar dan sudah berpakaian rapi.


di atas ranjang. Vico melihat Arini yang berjalan ingin meninggalkannya dari kamar


itu dengan pakaian rapi.


“ Mau sholat shubuh biasanya di sini akan sholat berjamaah


saat mamah dan papah di rumah.” Jawab Arini menghentikan langkahnya dan


menengok ke arah suaminya itu. Kini Vico sudah terbangun dan dalam posisi duduk.


“ Hhhm tunggu aku, aku juga ikut.” Jawab Vico yang merasa


dia akan menjadi menantu yang kurang baik di mata kedua orang tua Arini jika


tidak ikut beribadah, ya bagaimana pun agamanya hanya tertera dalam KTP saja


tanpa melaksanakan ibadah sesuai keyakinan miliknya. Vico memang tidak terlalu


percaya dengan berbagai agama dan dia hanya mengikuti agama yang di turunkan


ayahnya saja. Sebenarnya Vico juga belajar hal itu dari kecil tapi entah kenapa


dia tidak pernah bisa meyakininya.


“ Baiklah aku akan menunggumu.” Ucap Arini dan berjalan ke


arah sofa dan duduk untuk menunggu Vico. Karena pakaian ganti Vico masih belum


di kirim sekretaris Kim Arini pun kembali berdiri dan berjalan ke arah kamar


kakaknya untuk meminjam pakaian yang cocok untuk beribadah. Terlihat Putra juga


sudah bangun dan sudah berpakaian rapi lengkap dengan sarung dan peci siap

__ADS_1


untuk melaksanakan ibadah.


Arini kembali ke kamarnya dan menyerahkan pakaian untuk Vico.


Usai berpakaian Arini mengenakan sarung untuk Vico mengingat ini hal yang


sangat tidak lumprah bagi Vico karena sudah lama tidak mengenakannya. Usai menggunakan


perlengkapan ibadah mereka berdua pun berjalan ke ruangan ibadah bersama-sama


terlihat di sana ada semua anggota keluarga tak terkecuali para pelayan yang


memeluk agama yang sama dengan keluarga ini.


Vico yang melihat kebersamaan keluarga ini sedikit merasa


kaget karena terasa kental sekali suasana ketaqwaan dari anggota keluarga ini,


bahkan Putra yang bersikap dingin dan terkenal sadis itu terlihat sangat


bertolak belaka dengan apa yang Vico lihat saat ini. Bahkan dengan para pelayan


saja mereka memperlakukan sama. Semua pria yang hadir berjajar sesuai shaf begitu


pula para wanita. Sholat kali ini papah Arini yang menjadi imamnya.


Vico yang memang sudah lama tidak beribadah terlihat hanya


melirik untuk mengikuti semua gerakan yang seharusnya di lakukan usai kegiatan


ibadah dan doa semuanya pun kembali ke kamar masing-masing dan siap-siap untuk


mulai aktivitas mereka. Pagi itu sekretaris Kim juga datang untuk mengantar


pakaian untuk Tuan mudanya Vico. Pakaian diterima pelayan dan diantarkan pada


Arini di kamarnya. Tidak seperti biasanya di mana Arini akan berolahraga pagi


saat di rumah, kini kegiatannya adalah menemani Vico di kamar.


Tok tok tok


“ Non ada Tuan Kim barusan mengantarkan pakaian untuk Den


Vico.” Ucap Pelayan sambil membawa kantong kertas berwarna coklat di tangannya.


“ Iya bi sebentar Arini datang.” Ucap Arini dan berjalan ke


arah pintu dan menerima pakaian tersebut tidak lupa ia berterima kasih pada


pelayan wanita itu.


“ Vico pakaianmu sudah di antar kamu mau mandi lagi atau


langsung ganti ?” Tanya Arini pada Vico yang terduduk di sofa.


“ Aku akan mandi lagi saja.” Ucap Vico dan menerima pakaian


itu dan membawanya ke ruang ganti dan menuju ke kamar mandi. Arini kembali


terduduk di sofa sambil memainkan ponselnya karena sudah berpakaian rapi siap


untuk berangkat ke kantor.


Usai Vico mandi dan berpakaian lengkap tidak lupa Arini yang


selalu menjalankan ritual penting memakaikan dasi pun sudah menggenggam dasi


berwarna biru di tangannya dan berdiri memakaikannya ke leher Vico. Keduanya kini


sudah siap untuk bekerja.

__ADS_1


__ADS_2