My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Mama Arini


__ADS_3

Suasana rumah yang seharusnya sepi karena kepergian Vico


terasa hangat karena kedatangan mama Arini. Keduanya terlihat duduk di sofa


dengan memandang layar berukuran besar yang menyuguhkan tontonan aksi disertai


bumbu komedi kesukaan keduanya. Film yang berjudul “ Bad Boys for Life” yang


menampilkan dua aktor keren Martin Lawrence dan Will Smith sangat menghibur


keduanya yang memang sudah tidak asing dengan aksi perkelahian.


Aksi perkelahian, penembakan sangat mengagumkan diperankan


kedua aktor kawakan tersebut. Seolah keduanya memiliki kesan tersendiri dengan


berbagai adegan yang diperankan. Film tersebut sendiri menceritakan balas


dendam seorang wanita dengan pria yang dulunya sangat dia percaya hingga


dirinya memiliki seorang putra dari kekasih rahasianya di mana si pria tersebut


adalah mata-mata yang diperankan aktor Will Smith.


Sang wanita sakit hati karena merasa dijebak hingga dirinya


harus dipenjara seumur hidupnya. Singkat cerita wanita itu berhasil kabur


dengan bantuan anaknya dan meminta sang putra membunuh semua dalang dari semua


kasusnya. Dan target terakhirnya adalah aktor Will Smith sang putra menjalankan


segala rencana sang mama dengan alasan balas dendam akan kematian sang ayah


yang tak lain suami sah wanita tersebut yang diketahui seharusnya tidak dapat


memiliki keturunan. Sang anak yang memang tidak mengetahui apa-apa dan tersulut


api balas dendam hanya menjalankan perintah sang mama.


Di akhir cerita sang anak mengetahui jika ayah


kandungnya adalah pria yang akan dibunuhnya tersebut. Film aksi sangat


menghibur untuk Arini. Film pun usai kini hanya terlihat layar hitam di layar


tv tersebut. Entah apa yang terjadi mama Arini meneteskan air mata.


Flash Back Mama Arini


Kala dirinya masih muda dan berusia remaja dirinya yang


memang sudah di didik sangat keras oleh orang papanya menjalankan sebuah misi


jual beli senjata api dengan salah satu klien papanya dari Rusia. Seorang


gadis muda dengan rambut berkuncir kuda dan beberapa bawahan berpakaian hitam


berwajah sangar menjadi bodyguardnya.


Di belakang mereka terlihat sebuah Truk container besar yang


membawa senjata yang menjadi objek jual beli mereka. Di dunia mafia mereka


hanya percaya uang tunai dalam setiap transaksinya. Seorang pria bertubuh kurus


dengan setean jas berwarna abu dengan beberapa bodyguard menjadi client mama


Arini.


“ Perlihatkan barangnya ?” Ucap pria berjas abu-abu sambil


menghisap cerutu dan berdiri di depan mama Arini muda. Asap mengepul dari bibir


sang pria tersebut. Gedung Tua yang terlihat kotor dan sudah ditinggal

__ADS_1


pemiliknya itu seperti menjadi saksi bisu kejadian tersebut.


“Perlihatkan uangnya dulu, Tidak ada uang tidak ada barang.”


Ucap mama Arini sepertinya memang sudah biasa dengan bisnis haram dan selalu


mempertaruhkan nyawa di setiap dirinya menjalankan misi dari sang papa. Sorot


mata tajam dan tubuh tegap tak bergeming membuat dirinya bagai tembok beton


yang kokoh. Pria di depannya seolah bukan ancaman walau dirinya harus selalu


waspada dengan berbagai hal yang mungkin saja terjadi.


“ Hah gadis muda sepertimu tidak mempercayaiku.” Ucap sang


pria sambil memberikan intruksi pada anak buahnya dengan gelengan kepala agar


memperlihatkan uang pembayaran tersebut. Anak buah mama Arini yang memang sudah


terbiasa dengan transaksi itu pun mengecek uang tersebut dan mengangguk memberi


sinyal uang itu asli. Bagaimana pun dunia gelap ini tidak ada saling


kepercayaan kecuali pada uang. Semua bisa saling menghianati, bisa saling


membunuh hanya untuk uang.


Mama Arini pun membiarkan anak buah sang pria itu melihat


barang yang akan dibelinya dengan diikuti beberapa orang penjaga mama Arini.


Sang pria bertubuh kekar itu terlihat sangat memahami senjata laras panjang


yang dapat membunuh siapa saja tersebut. Merasa puas dengan barang itu dirinya


mengangguk pada sang bos yang mempekerjakannya.


Sayang transaksi tidak berjalan mulus sang pria bertubuh


mencoba menghabisi mama Arini dan anggotanya. Kejadian pertumpahan darah pun


tidak dapat terelakkan. Mama Arini terlihat bersembunyi dibalik tiang baja.


Container senjata miliknya sudah dikunci kembali dan sang pria kekar yang


sebelumnya melempar senjata sudah tertembak tewas di tempat.


Pria berpakaian hitam yang membawa uang terlihat berlari


keluar sesuai intruksi sang pria berjas abu-abu sebelumnya. Kala hampir sampai


di gerbang luar sang pria tersebut mengalami adu tembak hingga amunisi keduanya


habis dilanjutkan dengan adu kekuatan yang akhirnya sang pria tewas di tempat


ditangan anak buah mama Arini yang memang sengaja berjaga di luar menunggu


sambil bersembunyi.


Di dalam gedung adu tembak mempertaruhkan nyawa satu sama


lain terdengar cukup ramai. Untung gedung tua itu terlihat terletak jauh dari


pemukiman warna sehingga tak seorang pun dari luar keduanya datang ke tempat


kejadian. Mama Arini yang memang selalu mempersiapkan segala dengan sempurna mengintruksikan


semua bawahannya untuk mengepung dan menyerang. Walau anggota mama Arini yang


berada di dalam cukup sedikit tetapi bala bantuan yang berada di  luar cukup banyak.


Anggota mama Arini beberapa terlihat tewas. Mama Arini yang


kiri berada dibalik tong mencoba mempertahankan diri dengan lengan yang

__ADS_1


terlihat terkena luka senjata api. Dia terus memasukkan amunisi ke dalam


senjatanya dan menembak lawannya tanpa kenal ampun. Lima anak buah pria berjas


abu-abu terlihat tewas dengan luka tembak di dada dan kepala berkat kelihaian


mama Arini memainkan senjata berwarna hitam itu.


Kala bantuan sudah dapat memasuki gudang tua para anggota


pria berjas abu pun tidak dapat menahan serangan yang mendadak itu. Pria


berjas abu-abu terlihat pasrah dan tidak ingin melawan karena dirinya bisa mati


konyol jika melawan anggota mama Arini yang banyak saat itu. Pikirannya yang


penting dirinya bisa hidup apa pun akan dilakukan. Selama dia bisa hidup dia


akan bisa membalas apa yang mama Arini lakukan padanya begitulah pikirannya.


“ Baiklah aku kalah, Transaksinya tetap berjalan kalian


sudah terima uangkan ?” Ucap pria tersebut mencoba bertingkah biasa tanpa


merasa bersalah. Dia berjalan keluar dari persembunyiannya dengan tenang dan


mencoba tersenyum. Entah apa yang ada di pikiran pria setengah baya itu, kenapa


usia tidak bisa mendewasakannya sama sekali.


“ Tidak ada Transaksi, kamu harus mati, habisi.” Mama Arini


yang memang berdarah dingin dan tidak kenal ampun terlihat berwajah datar


berjalan ke arah keluar sambil menatap pria setengah baya yang seharusnya


menjadi clientnya hari ini tapi sayang karena terlalu bertingkah dirinya harus


menyerahkan nyawanya. Sang pria kurus berambut cepak itu merasa terpojok hingga


dirinya menyambut kaki mama Arini untuk memohon. Wajah dingin tanpa perasaan


dari mama Arini menyorot tajam pada wajah melas sang pria hingga tendangan yang


dia dapat dari permohonan itu. Mama Arini kembali berjalan usai sang pengganggu


diurus anak buahnya.


“ Hah anak buahku harus mati percuma karena orang bodoh sepertinya,


Menyebalkan.” Kesal mama Arini yang kini meninggalkan lokasi tersebut dengan


mobil hitam yang dikemudikan sopir pribadinya.


Flash back Off


“ Mama kenapa ?” Tanya Arini yang bingung karena mamanya


tiba-tiba menangis setelah menonton film yang seharusnya tidak membuat orang


menangis itu. Arini menarik beberapa lembar tisu di depannya dan mencoba


menghapus air yang menggelincir di pipi wanita yang sangat dia sayangi itu.


“ Ah tidak apa-apa sayang.” Mama Arini yang seolah sadar dia


merasa sangat bersyukur kehidupan kelamnya tersebut tidak berlanjut sampai


sekarang setelah dirinya menikah dengan papa Arini. Walau dirinya tetap merasa


selalu ketakutan karena semua pekerjaannya dahulu kini berpindah ke Putra


tanggung jawabnya. Bersyukur dirinya memiliki putra yang kuat dan pengertian


seperti Putra. Dan dirinya juga memiliki putri yang cantik yang kini bahkan

__ADS_1


akan menjadi seorang ibu.


__ADS_2