
Suasana rumah yang seharusnya sepi karena kepergian Vico
terasa hangat karena kedatangan mama Arini. Keduanya terlihat duduk di sofa
dengan memandang layar berukuran besar yang menyuguhkan tontonan aksi disertai
bumbu komedi kesukaan keduanya. Film yang berjudul “ Bad Boys for Life” yang
menampilkan dua aktor keren Martin Lawrence dan Will Smith sangat menghibur
keduanya yang memang sudah tidak asing dengan aksi perkelahian.
Aksi perkelahian, penembakan sangat mengagumkan diperankan
kedua aktor kawakan tersebut. Seolah keduanya memiliki kesan tersendiri dengan
berbagai adegan yang diperankan. Film tersebut sendiri menceritakan balas
dendam seorang wanita dengan pria yang dulunya sangat dia percaya hingga
dirinya memiliki seorang putra dari kekasih rahasianya di mana si pria tersebut
adalah mata-mata yang diperankan aktor Will Smith.
Sang wanita sakit hati karena merasa dijebak hingga dirinya
harus dipenjara seumur hidupnya. Singkat cerita wanita itu berhasil kabur
dengan bantuan anaknya dan meminta sang putra membunuh semua dalang dari semua
kasusnya. Dan target terakhirnya adalah aktor Will Smith sang putra menjalankan
segala rencana sang mama dengan alasan balas dendam akan kematian sang ayah
yang tak lain suami sah wanita tersebut yang diketahui seharusnya tidak dapat
memiliki keturunan. Sang anak yang memang tidak mengetahui apa-apa dan tersulut
api balas dendam hanya menjalankan perintah sang mama.
Di akhir cerita sang anak mengetahui jika ayah
kandungnya adalah pria yang akan dibunuhnya tersebut. Film aksi sangat
menghibur untuk Arini. Film pun usai kini hanya terlihat layar hitam di layar
tv tersebut. Entah apa yang terjadi mama Arini meneteskan air mata.
Flash Back Mama Arini
Kala dirinya masih muda dan berusia remaja dirinya yang
memang sudah di didik sangat keras oleh orang papanya menjalankan sebuah misi
jual beli senjata api dengan salah satu klien papanya dari Rusia. Seorang
gadis muda dengan rambut berkuncir kuda dan beberapa bawahan berpakaian hitam
berwajah sangar menjadi bodyguardnya.
Di belakang mereka terlihat sebuah Truk container besar yang
membawa senjata yang menjadi objek jual beli mereka. Di dunia mafia mereka
hanya percaya uang tunai dalam setiap transaksinya. Seorang pria bertubuh kurus
dengan setean jas berwarna abu dengan beberapa bodyguard menjadi client mama
Arini.
“ Perlihatkan barangnya ?” Ucap pria berjas abu-abu sambil
menghisap cerutu dan berdiri di depan mama Arini muda. Asap mengepul dari bibir
sang pria tersebut. Gedung Tua yang terlihat kotor dan sudah ditinggal
__ADS_1
pemiliknya itu seperti menjadi saksi bisu kejadian tersebut.
“Perlihatkan uangnya dulu, Tidak ada uang tidak ada barang.”
Ucap mama Arini sepertinya memang sudah biasa dengan bisnis haram dan selalu
mempertaruhkan nyawa di setiap dirinya menjalankan misi dari sang papa. Sorot
mata tajam dan tubuh tegap tak bergeming membuat dirinya bagai tembok beton
yang kokoh. Pria di depannya seolah bukan ancaman walau dirinya harus selalu
waspada dengan berbagai hal yang mungkin saja terjadi.
“ Hah gadis muda sepertimu tidak mempercayaiku.” Ucap sang
pria sambil memberikan intruksi pada anak buahnya dengan gelengan kepala agar
memperlihatkan uang pembayaran tersebut. Anak buah mama Arini yang memang sudah
terbiasa dengan transaksi itu pun mengecek uang tersebut dan mengangguk memberi
sinyal uang itu asli. Bagaimana pun dunia gelap ini tidak ada saling
kepercayaan kecuali pada uang. Semua bisa saling menghianati, bisa saling
membunuh hanya untuk uang.
Mama Arini pun membiarkan anak buah sang pria itu melihat
barang yang akan dibelinya dengan diikuti beberapa orang penjaga mama Arini.
Sang pria bertubuh kekar itu terlihat sangat memahami senjata laras panjang
yang dapat membunuh siapa saja tersebut. Merasa puas dengan barang itu dirinya
mengangguk pada sang bos yang mempekerjakannya.
Sayang transaksi tidak berjalan mulus sang pria bertubuh
mencoba menghabisi mama Arini dan anggotanya. Kejadian pertumpahan darah pun
tidak dapat terelakkan. Mama Arini terlihat bersembunyi dibalik tiang baja.
Container senjata miliknya sudah dikunci kembali dan sang pria kekar yang
sebelumnya melempar senjata sudah tertembak tewas di tempat.
Pria berpakaian hitam yang membawa uang terlihat berlari
keluar sesuai intruksi sang pria berjas abu-abu sebelumnya. Kala hampir sampai
di gerbang luar sang pria tersebut mengalami adu tembak hingga amunisi keduanya
habis dilanjutkan dengan adu kekuatan yang akhirnya sang pria tewas di tempat
ditangan anak buah mama Arini yang memang sengaja berjaga di luar menunggu
sambil bersembunyi.
Di dalam gedung adu tembak mempertaruhkan nyawa satu sama
lain terdengar cukup ramai. Untung gedung tua itu terlihat terletak jauh dari
pemukiman warna sehingga tak seorang pun dari luar keduanya datang ke tempat
kejadian. Mama Arini yang memang selalu mempersiapkan segala dengan sempurna mengintruksikan
semua bawahannya untuk mengepung dan menyerang. Walau anggota mama Arini yang
berada di dalam cukup sedikit tetapi bala bantuan yang berada di luar cukup banyak.
Anggota mama Arini beberapa terlihat tewas. Mama Arini yang
kiri berada dibalik tong mencoba mempertahankan diri dengan lengan yang
__ADS_1
terlihat terkena luka senjata api. Dia terus memasukkan amunisi ke dalam
senjatanya dan menembak lawannya tanpa kenal ampun. Lima anak buah pria berjas
abu-abu terlihat tewas dengan luka tembak di dada dan kepala berkat kelihaian
mama Arini memainkan senjata berwarna hitam itu.
Kala bantuan sudah dapat memasuki gudang tua para anggota
pria berjas abu pun tidak dapat menahan serangan yang mendadak itu. Pria
berjas abu-abu terlihat pasrah dan tidak ingin melawan karena dirinya bisa mati
konyol jika melawan anggota mama Arini yang banyak saat itu. Pikirannya yang
penting dirinya bisa hidup apa pun akan dilakukan. Selama dia bisa hidup dia
akan bisa membalas apa yang mama Arini lakukan padanya begitulah pikirannya.
“ Baiklah aku kalah, Transaksinya tetap berjalan kalian
sudah terima uangkan ?” Ucap pria tersebut mencoba bertingkah biasa tanpa
merasa bersalah. Dia berjalan keluar dari persembunyiannya dengan tenang dan
mencoba tersenyum. Entah apa yang ada di pikiran pria setengah baya itu, kenapa
usia tidak bisa mendewasakannya sama sekali.
“ Tidak ada Transaksi, kamu harus mati, habisi.” Mama Arini
yang memang berdarah dingin dan tidak kenal ampun terlihat berwajah datar
berjalan ke arah keluar sambil menatap pria setengah baya yang seharusnya
menjadi clientnya hari ini tapi sayang karena terlalu bertingkah dirinya harus
menyerahkan nyawanya. Sang pria kurus berambut cepak itu merasa terpojok hingga
dirinya menyambut kaki mama Arini untuk memohon. Wajah dingin tanpa perasaan
dari mama Arini menyorot tajam pada wajah melas sang pria hingga tendangan yang
dia dapat dari permohonan itu. Mama Arini kembali berjalan usai sang pengganggu
diurus anak buahnya.
“ Hah anak buahku harus mati percuma karena orang bodoh sepertinya,
Menyebalkan.” Kesal mama Arini yang kini meninggalkan lokasi tersebut dengan
mobil hitam yang dikemudikan sopir pribadinya.
Flash back Off
“ Mama kenapa ?” Tanya Arini yang bingung karena mamanya
tiba-tiba menangis setelah menonton film yang seharusnya tidak membuat orang
menangis itu. Arini menarik beberapa lembar tisu di depannya dan mencoba
menghapus air yang menggelincir di pipi wanita yang sangat dia sayangi itu.
“ Ah tidak apa-apa sayang.” Mama Arini yang seolah sadar dia
merasa sangat bersyukur kehidupan kelamnya tersebut tidak berlanjut sampai
sekarang setelah dirinya menikah dengan papa Arini. Walau dirinya tetap merasa
selalu ketakutan karena semua pekerjaannya dahulu kini berpindah ke Putra
tanggung jawabnya. Bersyukur dirinya memiliki putra yang kuat dan pengertian
seperti Putra. Dan dirinya juga memiliki putri yang cantik yang kini bahkan
__ADS_1
akan menjadi seorang ibu.