
“ Halo Kak Putra” Sapa Vico pada kakak istri tercintanya
tersebut.
“ Hmmm,, aku sudah tahu, ini kesempatan terakhirmu membuat
adikku dalam bahaya jika sekali lagi hal ini terjadi jangan harap bisa
bersamanya lagi, aku akan benar-benar memisahkan kalian.” Ancam Putra pada Vico
agar lebih bisa melindungi Arini.
“ Iya Kak, tenang saja Vico janji akan menjaga Arini dengan
baik.” Jawab Vico mengerti dengan peringatan kakak iparnya tersebut.
“ Ya sudah istirahatlah.” Perintah Putra karena memang waktu
sudah hampir pagi saat Vico menghubunginya setelah mendapat jawaban dari Vico
dia lalu mengakhiri panggilan adik iparnya tersebut.
“ Ahhh aku benar-benar harus berhati-hati jika tidak aku
pasti akan benar-benar berpisah dengannya” Gumam Vico sambil memijat keningnya
dan berjalan kembali ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah
lengket seharian.
Usai Vico menyelesaikan rutinitas membersihkan dirinya, dia
melangkahkan kaki panjangnya mendekati ranjang di mana istri tercintanya
terbaring dengan beberapa lebam di tubuhnya.
Vico bergegas menuju dapur untuk mencari wadah air, tidak
ingin membangunkan pelayan yang telah terlelap Vico mencoba membuka laci-laci
dan lemari di dalam dapur tersebut.
“ Akhirnya ketemu juga .” Lega dia menemukan baskom berwarna
putih di lemari paling ujung dapur luas miliknya tersebut. Vico segera kembali
ke kamarnya dan menuju kamar mandi.
Vico mengisi baskom tersebut dengan air panas dan dingin
hingga dia rasa dengan telapak tangannya memiliki suhu hangat. Vico membawa
baskom yang telah terisi air itu kembali ke dalam kamar dan dia letakkan di
atas nakas dekat ranjang miliknya.
Vico kembali ke tempat pakaian mencari baju ganti dan handuk
kecil untuk membersihkan tubuh istrinya dan menggantikan pakaian yang sudah
robek di beberapa bagian akibat perkelahian dan pemberontakan yang Arini
lakukan saat dia di sekap.
Vico terduduk di dekat tubuh Arini, Vico mematikan pendingin
ruangannya agar tubuh istrinya tidak merasa kedinginan, dengan sabar dia
membuka pakaian yang Arini kenakan dari kemarin itu.
Saat pakaian tersebut terlepas dengan pelan dan penuh
kelembutan yang Vico miliki dia mulai mengusap tubuh Arini yang masih tertidur
itu. Beberapa kali Arini terlihat mengernyit kala bagian tubuhnya yang terluka
terusap handuk berwarna putih yang sudah Vico basahi air hangat.
Vico selama ini belum pernah sekalipun merawat orang sakit
dengan sangat telaten seperti ini. Vico kembali mencelupkan handuk dan
memerasnya kembali mengusapkan pada tubuh Arini dengan selalu memperhatikan
ekspresi wajah Arini agar tidak membangunkannya.
__ADS_1
Terasa air mulai keruh dia menggantinya dengan yang baru dan
melakukan hal yang sama. Usai kegiatan membersihkan tubuh Arini, Vico mencoba
memakaikan baju terusan agar lebih mudah.
Sungguh hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan bagi
Vico, dia terlihat menaruh baskom tersebut di dalam kamar mandi dengan baju
kotornya lalu ia pun mandi dan berganti pakaian setelah itu kembali ke ranjang empuk miliknya dan mengistirahatkan jiwa dan
raganya yang sedang di uji tersebut.
Ingin Vico memeluk tubuh Arini seperti biasa saat tertidur
tapi sayang luka Arini membuat Vico mengurungkannya.
“ Selamat malam Arini.” Ucap Vico lalu mengecup kening Arini
dan menggenggam jemari istrinya sambil tertidur memandang wajah Arini.
Walaupun Vico tertidur sudah hampir pagi dia menyetel Alarm
lebih awal agar dirinya terbangun dahulu. Petang masih menyelimuti pagi yang
sedikit mendung seakan hujan agar segera turun.
Pelayan yang memang selalu bangun sangat pagi terlihat sudah
mulai beraktivitas menyiapkan masakan untuk kedua penghuni yang menjadi Tuan
dan Nona mudanya tersebut.
Vico yang terbangun sangat awal dengan meregangkan otot-otot
yang memang masih sangat kaku tersebut. Dia ke kamar mandi dan sekedar membasuh
wajahnya agar terjaga. Langkah panjang Vico meninggalkan kamarnya menuju dapur
tempat para pelayannya memasak makanan untuknya.
“ Bi, siapkan bubur yang bergizi dan enak untuk Arini ya,
dan buatkan susu hangat juga lalu antarkan ke kamar.” Perintah Vico yang sangat
“ Baik Tuan.” Jawab kedua pelayan yang sudah mengerti
perintah yang diinginkan Tuan mudanya tersebut.
Vico kembali ke kamarnya dan duduk bersandar di ranjangnya
dengan memegang benda pipih yang menjadi alat komunikasinya tersebut.
Arini yang sudah mulai terbangun dari tidurnya mencoba
membuka matanya walaupun masih terasa berat karena kewajiban ibadah yang harus
dia lakukan. Vico yang melihat Arini sudah membuka matanya lalu mendekati
Arini.
“ Kamu sudah bangun ? “ Tangan Vico mengusap puncak kepala
Arini dengan lembut dan menatapnya dalam hingga tidak terasa butiran bening
menetes mengingat kejadian yang menimpa Arini tersebut.
“ Jangan menangis !” Arini tidak
tega melihat Vico yang terlihat sangat sedih itu dan mengusap air matanya
lembut dengan jarinya.
“ Maafkan aku ?” Ucapnya dan
menunduk sambil mencium tangan Arini yang telah dia genggam.
“ Sudahlah, semua sudah berlalu.”
Suara lembut dan senyum manis coba Arini berikan agar Vico tidak terlalu merasa
bersalah dengan kejadian yang menimpanya tersebut.
Arini mencoba membangkitkan
__ADS_1
tubuhnya dari ranjang empuk itu tapi di cegah oleh Vico.
“ Kamu mau ke mana ? Tetaplah
istirahat, Bibi akan mengantarkan makanan ke sini, Miko bilang luka kamu
sementara tidak boleh kena air juga.” Vico menarik kembali tubuh Arini agar
kembali terbaring di sampingnya.
“ Vic aku hanya akan beribadah
sebentar, aku akan berhati-hati.” Arini memindang tangan Vico yang menahannya.
Vico yang tidak mau membiarkan
Arini bergerak lalu menggendongnya ke kamar mandi dan mendudukkan tubuh Arini
di atas kloset yang tertutup lalu membantu Arini berwudlu dengan mengawasi
Arini agar air tersebut tidak mengenai luka Arini.
Vico kembali menggendong tubuh
Arini tersebut ke tempat biasa Arini beribadah, dia juga membantu Arini
mengenakan mukenanya. Terlihat Vico hanya berdiri di belakang Arini sambil
memandangi istrinya tersebut beribadah pada Tuhan dengan khusyuk walaupun dalam
keadaan terluka.
Melihat Arini selesai dia kembali
membantu membuka mukena tersebut dan menggendong Arini kembali ke ranjang dan
membaringkannya pelan. Tidak ada penolakan dari Arini menerima bantuan Vico
yang terasa sangat berlebihan menurutnya itu. Dia hanya mencoba menerima
perhatian itu, mungkin dengan hal itu Vico tidak merasa terlalu bersalah
padanya.
Tok tok tok
“Tuan makanannya sudah siap,
Apakah saya boleh masuk ?” Ucap Pelayan di balik pintu kamar Vico sambil
terlihat membawa nampan membawakan makanan yang Vico ingin buatkan untuk Arini
tersebut.
Mendengar panggilan pelayannya
Vico kembali berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya, Vico membuka pintu
tersebut dan menerima nampan makanan untuk istrinya tersebut dan menaruhnya di
atas nakas.
Vico mengambil mangkok yang
berisi bubur nasi yang sudah bercampur dengan sayur, daging dan ikan tersebut.
Sendok dia raih dan mengambilkan makanan tersebut, meniupnya beberapa kali
sambil dia rasa suhunya cukup hangat dengan dia coba menggunakan bibirnya dan
menyuapkan pada Arini pelan.
Sungguh Vico yang seperti itu
tidak terlihat sekali kalau dirinya adalah seorang yang sangat sadis, angkuh,
dan selalu berwajah dingin dengan tatapan tajam. Hanya wajah dengan tatapan
hangat penuh kasih sayang, kelembutan dan pria yang sangat perhatian.
Tidak terasa suapan demi suapan
yang telah Vico berikan sudah menghabiskan isi bubur dalam mangkuk kaca
berwarna bening yang masih dia sangga tersebut. Vico kembali mengambil segelas
__ADS_1
susu dan meminumkannya pada Arini.