My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Perhatian


__ADS_3

“ Halo Kak Putra” Sapa Vico pada kakak istri tercintanya


tersebut.


“ Hmmm,, aku sudah tahu, ini kesempatan terakhirmu membuat


adikku dalam bahaya jika sekali lagi hal ini terjadi jangan harap bisa


bersamanya lagi, aku akan benar-benar memisahkan kalian.” Ancam Putra pada Vico


agar lebih bisa melindungi Arini.


“ Iya Kak, tenang saja Vico janji akan menjaga Arini dengan


baik.” Jawab Vico mengerti dengan peringatan kakak iparnya tersebut.


“ Ya sudah istirahatlah.” Perintah Putra karena memang waktu


sudah hampir pagi saat Vico menghubunginya setelah mendapat jawaban dari Vico


dia lalu mengakhiri panggilan adik iparnya tersebut.


“ Ahhh aku benar-benar harus berhati-hati jika tidak aku


pasti akan benar-benar berpisah dengannya” Gumam Vico sambil memijat keningnya


dan berjalan kembali ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang sudah


lengket seharian.


Usai Vico menyelesaikan rutinitas membersihkan dirinya, dia


melangkahkan kaki panjangnya mendekati ranjang di mana istri tercintanya


terbaring dengan beberapa lebam di tubuhnya.


Vico bergegas menuju dapur untuk mencari wadah air, tidak


ingin membangunkan pelayan yang telah terlelap Vico mencoba membuka laci-laci


dan lemari di dalam dapur tersebut.


“ Akhirnya ketemu juga .” Lega dia menemukan baskom berwarna


putih di lemari paling ujung dapur luas miliknya tersebut. Vico segera kembali


ke kamarnya dan menuju kamar mandi.


Vico mengisi baskom tersebut dengan air panas dan dingin


hingga dia rasa dengan telapak tangannya memiliki suhu hangat. Vico membawa


baskom yang telah terisi air itu kembali ke dalam kamar dan dia letakkan di


atas nakas dekat ranjang miliknya.


Vico kembali ke tempat pakaian mencari baju ganti dan handuk


kecil untuk membersihkan tubuh istrinya dan menggantikan pakaian yang sudah


robek di beberapa bagian akibat perkelahian dan pemberontakan yang Arini


lakukan saat dia di sekap.


Vico terduduk di dekat tubuh Arini, Vico mematikan pendingin


ruangannya agar tubuh istrinya tidak merasa kedinginan, dengan sabar dia


membuka pakaian yang Arini kenakan dari kemarin itu.


Saat pakaian tersebut terlepas dengan pelan dan penuh


kelembutan yang Vico miliki dia mulai mengusap tubuh Arini yang masih tertidur


itu. Beberapa kali Arini terlihat mengernyit kala bagian tubuhnya yang terluka


terusap handuk berwarna putih yang sudah Vico basahi air hangat.


Vico selama ini belum pernah sekalipun merawat orang sakit


dengan sangat telaten seperti ini. Vico kembali mencelupkan handuk dan


memerasnya kembali mengusapkan pada tubuh Arini dengan selalu memperhatikan


ekspresi wajah Arini agar tidak membangunkannya.

__ADS_1


Terasa air mulai keruh dia menggantinya dengan yang baru dan


melakukan hal yang sama. Usai kegiatan membersihkan tubuh Arini, Vico mencoba


memakaikan baju terusan agar lebih mudah.


Sungguh hari ini merupakan hari yang sangat melelahkan bagi


Vico, dia terlihat menaruh baskom tersebut di dalam kamar mandi dengan baju


kotornya lalu ia pun mandi dan berganti pakaian setelah itu kembali ke ranjang empuk miliknya dan mengistirahatkan jiwa dan


raganya yang sedang di uji tersebut.


Ingin Vico memeluk tubuh Arini seperti biasa saat tertidur


tapi sayang luka Arini membuat Vico mengurungkannya.


“ Selamat malam Arini.” Ucap Vico lalu mengecup kening Arini


dan menggenggam jemari istrinya sambil tertidur memandang wajah Arini.


Walaupun Vico tertidur sudah hampir pagi dia menyetel Alarm


lebih awal agar dirinya terbangun dahulu. Petang masih menyelimuti pagi yang


sedikit mendung seakan hujan agar segera turun.


Pelayan yang memang selalu bangun sangat pagi terlihat sudah


mulai beraktivitas menyiapkan masakan untuk kedua penghuni yang menjadi Tuan


dan Nona mudanya tersebut.


Vico yang terbangun sangat awal dengan meregangkan otot-otot


yang memang masih sangat kaku tersebut. Dia ke kamar mandi dan sekedar membasuh


wajahnya agar terjaga. Langkah panjang Vico meninggalkan kamarnya menuju dapur


tempat para pelayannya memasak makanan untuknya.


“ Bi, siapkan bubur yang bergizi dan enak untuk Arini ya,


dan buatkan susu hangat juga lalu antarkan ke kamar.” Perintah Vico yang sangat


“ Baik Tuan.” Jawab kedua pelayan yang sudah mengerti


perintah yang diinginkan Tuan mudanya tersebut.


Vico kembali ke kamarnya dan duduk bersandar di ranjangnya


dengan memegang benda pipih yang menjadi alat komunikasinya tersebut.


Arini yang sudah mulai terbangun dari tidurnya mencoba


membuka matanya walaupun masih terasa berat karena kewajiban ibadah yang harus


dia lakukan. Vico yang melihat Arini sudah membuka matanya lalu mendekati


Arini.


“ Kamu sudah bangun ? “ Tangan Vico mengusap puncak kepala


Arini dengan lembut dan menatapnya dalam hingga tidak terasa butiran bening


menetes mengingat kejadian yang menimpa Arini tersebut.


“ Jangan menangis !” Arini tidak


tega melihat Vico yang terlihat sangat sedih itu dan mengusap air matanya


lembut dengan jarinya.


“ Maafkan aku ?” Ucapnya dan


menunduk sambil mencium tangan Arini yang telah dia genggam.


“ Sudahlah, semua sudah berlalu.”


Suara lembut dan senyum manis coba Arini berikan agar Vico tidak terlalu merasa


bersalah dengan kejadian yang menimpanya tersebut.


Arini mencoba membangkitkan

__ADS_1


tubuhnya dari ranjang empuk itu tapi di cegah oleh Vico.


“ Kamu mau ke mana ? Tetaplah


istirahat, Bibi akan mengantarkan makanan ke sini, Miko bilang luka kamu


sementara tidak boleh kena air juga.” Vico menarik kembali tubuh Arini agar


kembali terbaring di sampingnya.


“ Vic aku hanya akan beribadah


sebentar, aku akan berhati-hati.” Arini memindang tangan Vico yang menahannya.


Vico yang tidak mau membiarkan


Arini bergerak lalu menggendongnya ke kamar mandi dan mendudukkan tubuh Arini


di atas kloset yang tertutup lalu membantu Arini berwudlu dengan mengawasi


Arini agar air tersebut tidak mengenai luka Arini.


Vico kembali menggendong tubuh


Arini tersebut ke tempat biasa Arini beribadah, dia juga membantu Arini


mengenakan mukenanya. Terlihat Vico hanya berdiri di belakang Arini sambil


memandangi istrinya tersebut beribadah pada Tuhan dengan khusyuk walaupun dalam


keadaan terluka.


Melihat Arini selesai dia kembali


membantu membuka mukena tersebut dan menggendong Arini kembali ke ranjang dan


membaringkannya pelan. Tidak ada penolakan dari Arini menerima bantuan Vico


yang terasa sangat berlebihan menurutnya itu. Dia hanya mencoba menerima


perhatian itu, mungkin dengan hal itu Vico tidak merasa terlalu bersalah


padanya.


Tok tok tok


“Tuan makanannya sudah siap,


Apakah saya boleh masuk ?” Ucap Pelayan di balik pintu kamar Vico sambil


terlihat membawa nampan membawakan makanan yang Vico ingin buatkan untuk Arini


tersebut.


Mendengar panggilan pelayannya


Vico kembali berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya, Vico membuka pintu


tersebut dan menerima nampan makanan untuk istrinya tersebut dan menaruhnya di


atas nakas.


Vico mengambil mangkok yang


berisi bubur nasi yang sudah bercampur dengan sayur, daging dan ikan tersebut.


Sendok dia raih dan mengambilkan makanan tersebut, meniupnya beberapa kali


sambil dia rasa suhunya cukup hangat dengan dia coba menggunakan bibirnya dan


menyuapkan pada Arini pelan.


Sungguh Vico yang seperti itu


tidak terlihat sekali kalau dirinya adalah seorang yang sangat sadis, angkuh,


dan selalu berwajah dingin dengan tatapan tajam. Hanya wajah dengan tatapan


hangat penuh kasih sayang, kelembutan dan pria yang sangat perhatian.


Tidak terasa suapan demi suapan


yang telah Vico berikan sudah menghabiskan isi bubur dalam mangkuk kaca


berwarna bening yang masih dia sangga tersebut. Vico kembali mengambil segelas

__ADS_1


susu dan meminumkannya pada Arini.


__ADS_2