
Wah benar seperti yang dibicarakan para kolegaku jika
nona Arini benar-benar sangat cantik dan mempesona, tubuhnya juga sangat Indah.
Selain itu walau perusahaan desainnya baru dibuka beberapa tahun sudah bisa
berkembang sangat pesat dan memenangkan berbagai tender dari perusahaan besar.
Selain itu dia masih lajang sampai sekarang, Perusahaanku juga termasuk
perusahaan yang bisa dibilang terbesar di negeri ini walau tidak sebesar
Angkasa Grup. Batin Pria bertubuh tambun itu tersenyum ramah pada sosok
cantik yang tak lain Arini.
Arini yang sebelumnya berdiri dipersilahkan duduk di sofa
warna hitam yang tertata rapi di ruang sang presdir. Pria berambut botak itu
lalu menghubungi sekretarisnya melalui telepon yang berada di meja kerjanya
untuk menyuruh sekretarisnya membuatkan minum untuknya dan Arini. Usai perintah
dipahami sang sekretaris ia pun lalu berjalan ke arah Arini dan mendudukkan
tubuh tambunnya di sofa dekat Arini.
“ Selamat Pagi Pak Teguh, Untuk Desain Apartemen sudah kami siapkan
sesuai informasi yang kami terima melalui email dari perusahaan bapak, berikut
beberapa referensinya untuk detailnya sudah saya siapkan soft copynya.”
Terlihat Arini menyerahkan lembaran desain yang telah ia siapkan serta
menunjukkan detail lain menggunakan leptop yang dia bawa. Sebenarnya Arini
merasa kurang nyaman bertemu berdua di ruangan kantor seperti ini. Karena biasanya
pertemuan dilakukan di ruang rapat tapi kali ini langsung di ruangan presdir
langsung.
Pak teguh yang menerima lembaran desain itu terlihat bekerja
profesional untuk menentukan pilihan desain yang nantinya dijadikan sebagai
acuan pembuatan proyek Apartemen miliknya. Setelah cukup lama mempertimbangkan
akhirnya dia menentukan pilihannya. Ia juga menyampaikan beberapa referensi
tambahan serta keinginannya untuk desain Apartemen tersebut. Tidak beberapa
lama sekretaris masuk dan meletakkan minuman untuk Arini dan pimpinan
perusahaan itu.
“ Silakan diminum dulu nona tehnya.” Pinta Pak Teguh dengan
memasang senyumannya. Indra penglihatannya yang sebelumnya bekerja profesional
sepertinya memang sudah tidak tahan jika melihat ada bunga indah di depan mata.
Terlihat dia mulai memandang Arini dengan tatapan menjijikkan. Pikirannya hanya
ingin mencoba bisa menyentuh bunga indah itu. Karena memang selama ini banyak
wanita yang agar bisa bekerja dengan perusahaannya rela menyenangkan dan
menuruti keinginannya.
“ Bagaimana tehnya nona Arini ?” Tanya sang presdir menatap
Arini dan telah meneguk teh yang tersaji dan mulai mengembalikan cangkir
__ADS_1
berwarna putih itu kembali ke tempatnya. Arini hanya tersenyum mendengar
pertanyaan itu memberikan respon jika teh itu enak. Melihat tatapan sang
presdir di depannya yang menatap intens padanya ada rasa risih pada
diri Arini.
Arini mencoba fokus kembali dengan tujuan utamanya berada di
ruangan itu. Dia mengambil kertas yang sudah dipilih dan menatanya kembali
seperti semula karena merasa pertemuannya kali ini sudah selesai. Pria bertubuh
tambun itu berdiri dan duduk di sofa yang sama dengan Arini. Arini pun kaget
dan berdiri untuk berpindah merasa tingkah ini sudah tidak sopan menurutnya.
“Mau ke mana nona Arini ? Pengajuannya akan langsung saya setujui
setelah nona mau menemani saya sekali saja masuk ke dalam ruangan itu.” Sang Presdir
mesum pun melancarkan serangannya dengan menarik tangan Arini dan menunjuk ke
sebuah pintu dekat meja kerjanya. Si adik kecil miliknya seolah tidak tahan
melihat tubuh Arini dari posisinya sekarang seolah ingin menyerang Arini
langsung tanpa bersopan santun. Tapi bagaimana pun dia harus mencoba menahan
agar keinginannya berjalan lancar. Seperti buaya yang ingin menangkap mangsa
begitulah penggambaran yang tepat dengan situasi Arini saat ini.
“ Mohon maaf jika saya akan menolak tawaran itu, dan saya
akan pergi sekarang.” Jawab Arini yang kesal dengan ketidaksopanan pria di
depannya. Jika ini bukan di kantor dia pasti sudah memukul atau membanting pria
yang berucap seperti itu di depannya. Merasa jika wanita adalah barang yang
membuatnya marah. Dia mencoba menarik nafas dalam dan menghempas tangan dengan
jari tebal milik presdir itu.
“ Nona Arini tidak perlu jual mahal, bukankah entertaiment
sangat penting untuk menjalin hubungan baik antar perusahaan, anggap saja kita
melakukan simbiosis mutualisme di mana keduanya saling untung. Hal ini hanya
dilakukan sekali saja saya senang dan perusahaan nona Arini akan mendapatkan
tender dari perusahaan saya, Bagaimana ?” Ucap Pria itu masih ingin menjalankan
keinginan mesumnya pada Arini sambil berdiri mendekati Arini yang berjalan
sudah sampai depan pintu masuknya tadi.
“ Mohon maaf saya tidak peduli sedikit pun dengan tawaran
itu, dan saya juga tidak memerlukan hubungan baik dengan perusahaan dengan
presdir yang hanya bisa bicara dengan nafsunya bukan logikanya untuk bekerja.
Selamat siang dan selamat tinggal.” Ucap Arini dan berjalan kembali sambil
membuka pintu ruangan tersebut tapi sayang pintu itu sulit untuk dibuka,
sepertinya sudah dikunci oleh presdir botak itu.
“ Nona Anda tidak perlu bersikap munafik di depan saya,
perusahaan desain kamu yang masih merintis dan sudah bisa mendapat tender
__ADS_1
sekelas perusahaanku pasti anda mengembangkannya dengan mendapatkan tender dengan
balasan tubuh nona kan ? Hal yang sudah biasa begini tidak perlu ditutupi saya
sudah bekerja lama dalam bidang ini dan semua wanita itu sama saja.” Ucapnya
seolah memandang rendah dengan wanita karena walaupun dia sudah menikah
istrinya seolah juga tutup mata dengan tingkahnya selama dia menghasilkan uang
banyak untuk istrinya belanja dan melakukan apa pun kesenangannya. Dan para
wanita biasanya malah menyodorkan tubuhnya dengan rela untuk mendapatkan apa
yang dia inginkan darinya.
Kesabaran Arini sudah habis mendengar ucapan pria bertubuh
tambun itu dan tingkah lakunya bahkan mengunci pintu kantornya. Arini pun
memukul tengkuk pria tersebut hingga pingsan dan memanggil sekretaris melalui
telepon untuk membuka pintu itu dan memberitahukan letak tombol pengunci
otomatisnya. Arini lalu segera berjalan keluar dari ruangan itu menuju tempat parkir segera ia kemudikan kuda besi miliknya itu.
“ Hah dasar pria mesum yang menyebalkan merusak suasana
hatiku saja, wah sepertinya tingkahnya tidak bisa di diamkan apa yang harus aku
lakukan untuk membalasnya. Kalau aku bicara dengan kakak semua pasti beres tapi
dia akan sangat marah padaku, tidak ah. Jika aku memberi tahu Vico hah jangan tanya
dia pasti akan lebih marah dibandingkan kakak. Apa ya ? Oh oke aku ada ide. Selamat
tinggal PT. Surya kamu salah sasaran jika menggangguku. Aku tidak ingin
bertingkah jahat tapi pemikiranmu terhadap wanita membuat nuraniku tidak bisa
tahan.” Ucap Arini sambil mengendarai mobil miliknya menuju ke perusahaannya.
Arini yang sudah kembali ke kantor lalu mengambil leptop
kesayangannya dan menyelidiki semua latar belakang presdir itu melacak semua
kontak , meretas isi percakapan pesan miliknya, melihat transaksi perbankan dan
mencari berita yang pernah menjeratnya selama ini.
“ Wah benar-benar pria brengsek dia ya “ Celetuk Arini yang
jika sudah memegang leptop kesayangannya untuk melakukan hal yang ilegal itu
menjadi wanita lain dari biasanya. Jari indahnya menari-nari di atas papan
keyboard untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Senyuman liciknya seakan menampilkan
sisi yang sangat bertolak belakang dengan dirinya yang lemah lembut selama ini.
“ Oke semua sudah aku miliki, besok pagi akan seperti bom
yang meledak yang akan membuat nilai saham perusahaan itu hancur total. Maafkan aku ya Pak Presdir yang terhormat,
semua itu salah Anda sendiri anggap saja saya membalaskan semua dendam wanita
yang telah menjadi korban pelecehan yang Anda lakukan. Anda benar-benar salah
sasaran jika bermain-main dengan saya.” Ucap Arini usai menyelesaikan
keinginannya.
“ Tik tok tik tok and booom, He,, sudahlah sudah beres
tunggu besok pagi. Sekarang aku lanjutkan mendesain pesanan yang lain.” Ucap
__ADS_1
Arini lalu menyimpan kembali leptop miliknya ke tempat semula dan melanjutkan
menatap layar komputer desainnya.