My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Salah Sasaran


__ADS_3

Wah benar seperti yang dibicarakan para kolegaku jika


nona Arini benar-benar sangat cantik dan mempesona, tubuhnya juga sangat Indah.


Selain itu walau perusahaan desainnya baru dibuka beberapa tahun sudah bisa


berkembang sangat pesat dan memenangkan berbagai tender dari perusahaan besar.


Selain itu dia masih lajang sampai sekarang, Perusahaanku juga termasuk


perusahaan yang bisa dibilang terbesar di negeri ini walau tidak sebesar


Angkasa Grup. Batin Pria bertubuh tambun itu tersenyum ramah pada sosok


cantik yang tak lain Arini.


Arini yang sebelumnya berdiri dipersilahkan duduk di sofa


warna hitam yang tertata rapi di ruang sang presdir. Pria berambut botak itu


lalu menghubungi sekretarisnya melalui telepon yang berada di meja kerjanya


untuk menyuruh sekretarisnya membuatkan minum untuknya dan Arini. Usai perintah


dipahami sang sekretaris ia pun lalu berjalan ke arah Arini dan mendudukkan


tubuh tambunnya di sofa dekat Arini.


“ Selamat Pagi Pak Teguh, Untuk Desain Apartemen sudah kami siapkan


sesuai informasi yang kami terima melalui email dari perusahaan bapak, berikut


beberapa referensinya untuk detailnya sudah saya siapkan soft copynya.”


Terlihat Arini menyerahkan lembaran desain yang telah ia siapkan serta


menunjukkan detail lain menggunakan leptop yang dia bawa. Sebenarnya Arini


merasa kurang nyaman bertemu berdua di ruangan kantor seperti ini. Karena biasanya


pertemuan dilakukan di ruang rapat tapi kali ini langsung di ruangan presdir


langsung.


Pak teguh yang menerima lembaran desain itu terlihat bekerja


profesional untuk menentukan pilihan desain yang nantinya dijadikan sebagai


acuan pembuatan proyek Apartemen miliknya. Setelah cukup lama mempertimbangkan


akhirnya dia menentukan pilihannya. Ia juga menyampaikan beberapa referensi


tambahan serta keinginannya untuk desain Apartemen tersebut. Tidak beberapa


lama sekretaris masuk dan meletakkan minuman untuk Arini dan pimpinan


perusahaan itu.


“ Silakan diminum dulu nona tehnya.” Pinta Pak Teguh dengan


memasang senyumannya. Indra penglihatannya yang sebelumnya bekerja profesional


sepertinya memang sudah tidak tahan jika melihat ada bunga indah di depan mata.


Terlihat dia mulai memandang Arini dengan tatapan menjijikkan. Pikirannya hanya


ingin mencoba bisa menyentuh bunga indah itu. Karena memang selama ini banyak


wanita yang agar bisa bekerja dengan perusahaannya rela menyenangkan dan


menuruti keinginannya.


“ Bagaimana tehnya nona Arini ?” Tanya sang presdir menatap


Arini dan telah meneguk teh yang tersaji dan mulai mengembalikan cangkir

__ADS_1


berwarna putih itu kembali ke tempatnya. Arini hanya tersenyum mendengar


pertanyaan itu memberikan respon jika teh itu enak. Melihat tatapan sang


presdir di depannya yang menatap intens padanya ada rasa risih pada


diri Arini.


Arini mencoba fokus kembali dengan tujuan utamanya berada di


ruangan itu. Dia mengambil kertas yang sudah dipilih dan menatanya kembali


seperti semula karena merasa pertemuannya kali ini sudah selesai. Pria bertubuh


tambun itu berdiri dan duduk di sofa yang sama dengan Arini. Arini pun kaget


dan berdiri untuk berpindah merasa tingkah ini sudah tidak sopan menurutnya.


“Mau ke mana nona Arini ? Pengajuannya akan langsung saya setujui


setelah nona mau menemani saya sekali saja masuk ke dalam ruangan itu.” Sang Presdir


mesum pun melancarkan serangannya dengan menarik tangan Arini dan menunjuk ke


sebuah pintu dekat meja kerjanya. Si adik kecil miliknya seolah tidak tahan


melihat tubuh Arini dari posisinya sekarang seolah ingin menyerang Arini


langsung tanpa bersopan santun. Tapi bagaimana pun dia harus mencoba menahan


agar keinginannya berjalan lancar. Seperti buaya yang ingin menangkap mangsa


begitulah penggambaran yang tepat dengan situasi Arini saat ini.


“ Mohon maaf jika saya akan menolak tawaran itu, dan saya


akan pergi sekarang.” Jawab Arini yang kesal dengan ketidaksopanan pria di


depannya. Jika ini bukan di kantor dia pasti sudah memukul atau membanting pria


yang berucap seperti itu di depannya. Merasa jika wanita adalah barang yang


membuatnya marah. Dia mencoba menarik nafas dalam dan menghempas tangan dengan


jari tebal milik presdir itu.


“ Nona Arini tidak perlu jual mahal, bukankah entertaiment


sangat penting untuk menjalin hubungan baik antar perusahaan, anggap saja kita


melakukan simbiosis mutualisme di mana keduanya saling untung. Hal ini hanya


dilakukan sekali saja saya senang dan perusahaan nona Arini akan mendapatkan


tender dari perusahaan saya, Bagaimana ?” Ucap Pria itu masih ingin menjalankan


keinginan mesumnya pada Arini sambil berdiri mendekati Arini yang berjalan


sudah sampai depan pintu masuknya tadi.


“ Mohon maaf saya tidak peduli sedikit pun dengan tawaran


itu, dan saya juga tidak memerlukan hubungan baik dengan perusahaan dengan


presdir yang hanya bisa bicara dengan nafsunya bukan logikanya untuk bekerja.


Selamat siang dan selamat tinggal.” Ucap Arini dan berjalan kembali sambil


membuka pintu ruangan tersebut tapi sayang pintu itu sulit untuk dibuka,


sepertinya sudah dikunci oleh presdir botak itu.


“ Nona Anda tidak perlu bersikap munafik di depan saya,


perusahaan desain kamu yang masih merintis dan sudah bisa mendapat tender

__ADS_1


sekelas perusahaanku pasti anda mengembangkannya dengan mendapatkan tender dengan


balasan tubuh nona kan ? Hal yang sudah biasa begini tidak perlu ditutupi saya


sudah bekerja lama dalam bidang ini dan semua wanita itu sama saja.” Ucapnya


seolah memandang rendah dengan wanita karena walaupun dia sudah menikah


istrinya seolah juga tutup mata dengan tingkahnya selama dia menghasilkan uang


banyak untuk istrinya belanja dan melakukan apa pun kesenangannya. Dan para


wanita biasanya malah menyodorkan tubuhnya dengan rela untuk mendapatkan apa


yang dia inginkan darinya.


Kesabaran Arini sudah habis mendengar ucapan pria bertubuh


tambun itu dan tingkah lakunya bahkan mengunci pintu kantornya. Arini pun


memukul tengkuk pria tersebut hingga pingsan dan memanggil sekretaris melalui


telepon untuk membuka pintu itu dan memberitahukan letak tombol pengunci


otomatisnya. Arini lalu segera berjalan keluar dari ruangan itu menuju tempat parkir segera ia kemudikan kuda besi miliknya itu.


“ Hah dasar pria mesum yang menyebalkan merusak suasana


hatiku saja, wah sepertinya tingkahnya tidak bisa di diamkan apa yang harus aku


lakukan untuk membalasnya. Kalau aku bicara dengan kakak semua pasti beres tapi


dia akan sangat marah padaku, tidak ah. Jika aku memberi tahu Vico hah jangan tanya


dia pasti akan lebih marah dibandingkan kakak. Apa ya ? Oh oke aku ada ide. Selamat


tinggal PT. Surya kamu salah sasaran jika menggangguku. Aku tidak ingin


bertingkah jahat tapi pemikiranmu terhadap wanita membuat nuraniku tidak bisa


tahan.” Ucap Arini sambil mengendarai mobil miliknya menuju ke perusahaannya.


Arini yang sudah kembali ke kantor lalu mengambil leptop


kesayangannya dan menyelidiki semua latar belakang presdir itu melacak semua


kontak , meretas isi percakapan pesan miliknya, melihat transaksi perbankan dan


mencari berita yang pernah menjeratnya selama ini.


“ Wah benar-benar pria brengsek dia ya “ Celetuk Arini yang


jika sudah memegang leptop kesayangannya untuk melakukan hal yang ilegal itu


menjadi wanita lain dari biasanya. Jari indahnya menari-nari di atas papan


keyboard untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Senyuman liciknya seakan menampilkan


sisi yang sangat bertolak belakang dengan dirinya yang lemah lembut selama ini.


“ Oke semua sudah aku miliki, besok pagi akan seperti bom


yang meledak yang akan membuat nilai saham perusahaan itu hancur total.  Maafkan aku ya Pak Presdir yang terhormat,


semua itu salah Anda sendiri anggap saja saya membalaskan semua dendam wanita


yang telah menjadi korban pelecehan yang Anda lakukan. Anda benar-benar salah


sasaran jika bermain-main dengan saya.” Ucap Arini usai menyelesaikan


keinginannya.


“ Tik tok tik tok and booom, He,, sudahlah sudah beres


tunggu besok pagi. Sekarang aku lanjutkan mendesain pesanan yang lain.” Ucap

__ADS_1


Arini lalu menyimpan kembali leptop miliknya ke tempat semula dan melanjutkan


menatap layar komputer desainnya.


__ADS_2