My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Tetap Tenang


__ADS_3

“ Tenanglah Aldo, Arini masih dalam perjalanan kemari,


duduklah dulu.” Ucap Poppy dan mempersilakan Aldo untuk duduk di ruang tamu.


Karena kamar yang disewa Poppy memiliki dapur kecil, ruang tamu dan kamar


tersekat dari ruang tamu sehingga Aldo tidak bisa melihat sampai dalam atau


mengetahui keberadaan Arini.


“ Minumlah dulu, mungkin sebentar lagi Arini datang.” Ucap


Poppy sambil menyuguhkan jus yang sama yang dia berikan pada Arini kepada Aldo.


Aldo lalu meneguknya karena dia merasa haus saking senangnya


akan bertemu dia buru-buru datang ke Hotel itu.


“ sebentar ya Do aku ke kamar mandi sebentar.” Ucap Poppy


lalu pergi meninggalkan Aldo.


“ Kenapa aku tiba-tiba pusing ya.” Gumam Aldo dan memegang


kepalanya dan tak lama dia sudah pingsan dan tak sadarkan diri.


Saat Poppy tidak mendengar apa pun dari ruang tamu dia lalu


menghampiri Aldo yang terlihat sudah tak sadarkan diri di sofa itu. Poppy lalu


menghubungi seseorang dan menyuruhnya membantu membawa Aldo ke ranjang. Lalu


membayarnya dan menyuruhnya meninggalkan kamar itu.


Poppy terlihat tersenyum licik karena keberhasilannya menipu


kedua orang bodoh di depannya yang terlihat terlelap tidak sadar.


Poppy membuka baju kedua orang itu lalu memposisikan tubuh


Aldo yang setengah telanjang itu terlihat memeluk Arini yang masih berpakaian


tetapi karena tertutup selimut tidak terlihat jika Arini masih berpakaian lalu


dia memotretnya dan mengirimkannya pada Vico.


Drt drt drt


Mendengar Ponselnya bergetar Vico yang saat itu sedang sibuk


dan lembur karena ingin segera menyelesaikan pekerjaannya karena berencana


ingin pergi ke Bali bersama Arini untuk menghabiskan waktu berdua.


Vico membuka pesan dari nomor yang tidak di kenal itu, dan


terlihatlah Foto Arini yang tertidur ditutupi selimut yang hanya memperlihatkan


wajahnya dipeluk pria lain yang terlihat sangat mesra.


“ Sialan, siapa yang mengirim Foto ini.” Karena tidak


percaya dengan foto itu Vico lalu menghubungi beberapa kali nomor Arini tetapi


tidak ada jawaban bahkan sekarang dalam keadaan nonaktif.


“ Siapa yang berani memeluk istriku. ******** sialan itu


harus aku hancurkan.” Teriak Vico lalu memanggil sekretaris Kim dan mencari


keberadaan Arini .


Sekretaris Kim lalu menghubungi mata-mata yang dia kerjakan


sesuai perintah Vico untuk mengikuti Arini tetapi jawaban yang dia terima tidak


memuaskan. Mata-mata itu mengatakan ada yang mengganggunya saat dia mengikuti

__ADS_1


Arini saat di jalan sehingga dia kehilangan jejak.


“ Tuan mata-mata kita sepertinya di sabotase seseorang


sehingga dia kehilangan nona saat mengikutinya.” Ucap sekretaris Kim pada Vico


yang terlihat sudah sangat marah.


“ Sialan, Kim hancurkan perusahaan orang yang sedang


berduaan dengan istriku ini.” Perintah Vico pada sekretaris Kim dengan tatapan


seakan-akan ingin memakan seseorang di depannya.


“ Baik Tuan akan segera saya laksanakan.” Jawab sekretaris


Kim.


“ Cari tahu ke segala tempat keberadaan Arini aku tidak mau


tahu aku ingin bertemu dengannya secepatnya.” Perintah Vico lagi pada


sekretaris Kim. Sekretaris Kim mengangguk lalu undur diri meninggalkan Vico dan


menyuruh banyak orang suruhannya mencari keberadaan Arini


“ Aku tidak mungkin menanyakan pada Kak Putra lagi, aku


pasti terlihat tidak becus jika begini.” Gumam Vico karena terpikir cara


tercepat menemukan Arini sebelumnya adalah menghubungi Putra.


Semua anak buah sekretaris Kim melacak keberadaan Arini meretas


semua cctv lalu lintas dan melacak signal terakhir yang terpancar dari Ponsel


Arini sekitar 2 jam berlalu semua anak buah itu mencari keberadaan Arini


akhirnya ditemukan Arini berada di salah satu hotel.


“ Tuan nona Arini berada di Hotel X saat ini.” Ucap


Setelah mendengar Hal itu Vico langsung menuju Parkir


mobilnya dan segera menancapkan gas secepat yang dia bisa menuju hotel


tersebut.


Vico diikuti sekretaris Kim dan beberapa orang untuk


membantu Vico.


Vico yang sudah sampai langsung menghentikan kendaraannya di


depan hotel tersebut tanpa mendengarkan perintah security untuk tidak


memarkirkan kendaraan di tempat itu.


“ Tuan dilarang parkir di sini.” Bukan mendapat jawaban


security itu malah mendapat tatapan tajam membunuh dari Vico, membuat security


menciut dan meninggalkan Vico yang berjalan cepat ke meja resepsionis.


“ Ada yang menginap bernama Arini hari ini ?” Tanya Vico


tegas dan memandang tajam pada resepsionis wanita. Mendengar hal itu wanita itu


langsung mencari di data komputer miliknya.


“ Mohon maaf tuan tidak ada.” Jawab resepsionis tersebut.


Drt drt drt getar ponsel Vico


“ Tuan nona Arini berada di lantai 20 kamar nomor 31 .” Ucap


sekretaris Kim memberikan informasi tambahan karena Vico tidak sabar dan

__ADS_1


langsung pergi saja sebelum anak buahnya meretas cctv Hotel tersebut selesai


untuk memastikan keberadaan Arini.


“ Berikan aku Kartu akses ke kamar 2031 sekarang.” Bentak


Vico pada resepsionis wanita yang tidak tahu apa-apa itu.


“ Mohon maaf tuan kami tidak dapat memberikannya.” Jawab


resepsionis masih mengingat peraturan Hotel itu.


“ Apa kamu ingin hotel ini hancur sekarang, jika kamu tidak


memberikannya padaku.” Tegas dengan ucapan pelan tapi menusuk Vico menatap


tajam seakan ingin memakan kedua resepsionis itu.


“ Baaaa baik tuan se sebentar.” Jawab resepsionis itu saat


mengingat bahwa yang di depannya adalah orang paling berpengaruh di negara itu,


dan terlihat sangat serius dengan kata-katanya itu.


“ Silakan Tuan.” Ucap resepsionis itu sambil menyerahkan


kartu akses.


“ Tuan biar saya antar Anda.” Ucap sekretaris Kim saat tiba


dan mendekati Vico.


“ Kamu tunggu di sini saja, biar aku yang ke sana.” Ucap Vico


dan melangkah pergi meninggalkan sekretaris Kim menuju Lift.


Tatapan menakutkannya membuat tidak ada seseorang yang mau


naik lift bersamanya membuatnya lebih mudah menuju lantai tempat Arini.


Sesampainya di depan kamar itu Vico mengambil nafas panjang


dan masuk ke dalam kamar itu.


“ Dasar sialan mau mengambil wanitaku, lihat saja besok


perusahaanmu tak akan ada nama lagi.” Gumam Vico melihat Arini dan Aldo.


Saat membuka selimut dia sebenarnya sangat cemas, tapi


semuanya menghilang melihat Arini masih berpakaian lengkap di dalam selimut itu


dan Aldo hanya menanggalkan Bajunya saja.


Vico lalu menggendong Arini pergi dari kamar hotel itu dan


membawanya pulang.


“ Silakan Tuan.” Ucap sekretaris Kim membukakan pintu mobil.


Vico lalu masuk dan memangku kepala Arini yang terlihat


tertidur itu.


“ Kim cari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Arini dan


Lelaki sialan itu ?” Perintah Vico pada sekretaris Kim.


“ Apa kamu tidak bahagia denganku hingga mecari pria lain ?”


Gumam Vico yang memandang wajah istrinya sambil mengusap pipinya dan


menyelipkan anak rambut yang sedikit menutup wajah putih istrinya itu.


“ Huh, aku harus tetap tenang dan menanyakan pada Arini


besok.” Gumam Vico lagi karena tidak percaya jika Arini bisa melakukannya

__ADS_1


dengan Pria lain.


__ADS_2