
“ Tenanglah Aldo, Arini masih dalam perjalanan kemari,
duduklah dulu.” Ucap Poppy dan mempersilakan Aldo untuk duduk di ruang tamu.
Karena kamar yang disewa Poppy memiliki dapur kecil, ruang tamu dan kamar
tersekat dari ruang tamu sehingga Aldo tidak bisa melihat sampai dalam atau
mengetahui keberadaan Arini.
“ Minumlah dulu, mungkin sebentar lagi Arini datang.” Ucap
Poppy sambil menyuguhkan jus yang sama yang dia berikan pada Arini kepada Aldo.
Aldo lalu meneguknya karena dia merasa haus saking senangnya
akan bertemu dia buru-buru datang ke Hotel itu.
“ sebentar ya Do aku ke kamar mandi sebentar.” Ucap Poppy
lalu pergi meninggalkan Aldo.
“ Kenapa aku tiba-tiba pusing ya.” Gumam Aldo dan memegang
kepalanya dan tak lama dia sudah pingsan dan tak sadarkan diri.
Saat Poppy tidak mendengar apa pun dari ruang tamu dia lalu
menghampiri Aldo yang terlihat sudah tak sadarkan diri di sofa itu. Poppy lalu
menghubungi seseorang dan menyuruhnya membantu membawa Aldo ke ranjang. Lalu
membayarnya dan menyuruhnya meninggalkan kamar itu.
Poppy terlihat tersenyum licik karena keberhasilannya menipu
kedua orang bodoh di depannya yang terlihat terlelap tidak sadar.
Poppy membuka baju kedua orang itu lalu memposisikan tubuh
Aldo yang setengah telanjang itu terlihat memeluk Arini yang masih berpakaian
tetapi karena tertutup selimut tidak terlihat jika Arini masih berpakaian lalu
dia memotretnya dan mengirimkannya pada Vico.
Drt drt drt
Mendengar Ponselnya bergetar Vico yang saat itu sedang sibuk
dan lembur karena ingin segera menyelesaikan pekerjaannya karena berencana
ingin pergi ke Bali bersama Arini untuk menghabiskan waktu berdua.
Vico membuka pesan dari nomor yang tidak di kenal itu, dan
terlihatlah Foto Arini yang tertidur ditutupi selimut yang hanya memperlihatkan
wajahnya dipeluk pria lain yang terlihat sangat mesra.
“ Sialan, siapa yang mengirim Foto ini.” Karena tidak
percaya dengan foto itu Vico lalu menghubungi beberapa kali nomor Arini tetapi
tidak ada jawaban bahkan sekarang dalam keadaan nonaktif.
“ Siapa yang berani memeluk istriku. ******** sialan itu
harus aku hancurkan.” Teriak Vico lalu memanggil sekretaris Kim dan mencari
keberadaan Arini .
Sekretaris Kim lalu menghubungi mata-mata yang dia kerjakan
sesuai perintah Vico untuk mengikuti Arini tetapi jawaban yang dia terima tidak
memuaskan. Mata-mata itu mengatakan ada yang mengganggunya saat dia mengikuti
__ADS_1
Arini saat di jalan sehingga dia kehilangan jejak.
“ Tuan mata-mata kita sepertinya di sabotase seseorang
sehingga dia kehilangan nona saat mengikutinya.” Ucap sekretaris Kim pada Vico
yang terlihat sudah sangat marah.
“ Sialan, Kim hancurkan perusahaan orang yang sedang
berduaan dengan istriku ini.” Perintah Vico pada sekretaris Kim dengan tatapan
seakan-akan ingin memakan seseorang di depannya.
“ Baik Tuan akan segera saya laksanakan.” Jawab sekretaris
Kim.
“ Cari tahu ke segala tempat keberadaan Arini aku tidak mau
tahu aku ingin bertemu dengannya secepatnya.” Perintah Vico lagi pada
sekretaris Kim. Sekretaris Kim mengangguk lalu undur diri meninggalkan Vico dan
menyuruh banyak orang suruhannya mencari keberadaan Arini
“ Aku tidak mungkin menanyakan pada Kak Putra lagi, aku
pasti terlihat tidak becus jika begini.” Gumam Vico karena terpikir cara
tercepat menemukan Arini sebelumnya adalah menghubungi Putra.
Semua anak buah sekretaris Kim melacak keberadaan Arini meretas
semua cctv lalu lintas dan melacak signal terakhir yang terpancar dari Ponsel
Arini sekitar 2 jam berlalu semua anak buah itu mencari keberadaan Arini
akhirnya ditemukan Arini berada di salah satu hotel.
“ Tuan nona Arini berada di Hotel X saat ini.” Ucap
Setelah mendengar Hal itu Vico langsung menuju Parkir
mobilnya dan segera menancapkan gas secepat yang dia bisa menuju hotel
tersebut.
Vico diikuti sekretaris Kim dan beberapa orang untuk
membantu Vico.
Vico yang sudah sampai langsung menghentikan kendaraannya di
depan hotel tersebut tanpa mendengarkan perintah security untuk tidak
memarkirkan kendaraan di tempat itu.
“ Tuan dilarang parkir di sini.” Bukan mendapat jawaban
security itu malah mendapat tatapan tajam membunuh dari Vico, membuat security
menciut dan meninggalkan Vico yang berjalan cepat ke meja resepsionis.
“ Ada yang menginap bernama Arini hari ini ?” Tanya Vico
tegas dan memandang tajam pada resepsionis wanita. Mendengar hal itu wanita itu
langsung mencari di data komputer miliknya.
“ Mohon maaf tuan tidak ada.” Jawab resepsionis tersebut.
Drt drt drt getar ponsel Vico
“ Tuan nona Arini berada di lantai 20 kamar nomor 31 .” Ucap
sekretaris Kim memberikan informasi tambahan karena Vico tidak sabar dan
__ADS_1
langsung pergi saja sebelum anak buahnya meretas cctv Hotel tersebut selesai
untuk memastikan keberadaan Arini.
“ Berikan aku Kartu akses ke kamar 2031 sekarang.” Bentak
Vico pada resepsionis wanita yang tidak tahu apa-apa itu.
“ Mohon maaf tuan kami tidak dapat memberikannya.” Jawab
resepsionis masih mengingat peraturan Hotel itu.
“ Apa kamu ingin hotel ini hancur sekarang, jika kamu tidak
memberikannya padaku.” Tegas dengan ucapan pelan tapi menusuk Vico menatap
tajam seakan ingin memakan kedua resepsionis itu.
“ Baaaa baik tuan se sebentar.” Jawab resepsionis itu saat
mengingat bahwa yang di depannya adalah orang paling berpengaruh di negara itu,
dan terlihat sangat serius dengan kata-katanya itu.
“ Silakan Tuan.” Ucap resepsionis itu sambil menyerahkan
kartu akses.
“ Tuan biar saya antar Anda.” Ucap sekretaris Kim saat tiba
dan mendekati Vico.
“ Kamu tunggu di sini saja, biar aku yang ke sana.” Ucap Vico
dan melangkah pergi meninggalkan sekretaris Kim menuju Lift.
Tatapan menakutkannya membuat tidak ada seseorang yang mau
naik lift bersamanya membuatnya lebih mudah menuju lantai tempat Arini.
Sesampainya di depan kamar itu Vico mengambil nafas panjang
dan masuk ke dalam kamar itu.
“ Dasar sialan mau mengambil wanitaku, lihat saja besok
perusahaanmu tak akan ada nama lagi.” Gumam Vico melihat Arini dan Aldo.
Saat membuka selimut dia sebenarnya sangat cemas, tapi
semuanya menghilang melihat Arini masih berpakaian lengkap di dalam selimut itu
dan Aldo hanya menanggalkan Bajunya saja.
Vico lalu menggendong Arini pergi dari kamar hotel itu dan
membawanya pulang.
“ Silakan Tuan.” Ucap sekretaris Kim membukakan pintu mobil.
Vico lalu masuk dan memangku kepala Arini yang terlihat
tertidur itu.
“ Kim cari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Arini dan
Lelaki sialan itu ?” Perintah Vico pada sekretaris Kim.
“ Apa kamu tidak bahagia denganku hingga mecari pria lain ?”
Gumam Vico yang memandang wajah istrinya sambil mengusap pipinya dan
menyelipkan anak rambut yang sedikit menutup wajah putih istrinya itu.
“ Huh, aku harus tetap tenang dan menanyakan pada Arini
besok.” Gumam Vico lagi karena tidak percaya jika Arini bisa melakukannya
__ADS_1
dengan Pria lain.