
Bapak penghulu lalu menjabat tangan Vico setelah merasa
semua sudah siap.
“ Baik saudara Vico, apakah Anda sudah siap ?” Tanya
penghulu.
“ Iya Pak sudah” Jawab Vico mantap.
“ Baik kita mulai ijab Qobulnya ya , saudara Vico ulangi
setelah saya selesai membacakannya ya ?” Perintah penghulu kepada Vico.
“ Baik Pak “ Jawab Vico
“ Ananda Vico Marleno Bin Marco Marleno saya nikahkan dan
saya kawinkan engkau dengan Arini Putri Permana Binti Andri Permana dengan maskawinnya
berupa seperangkat alat sholat dan emas 8 gram dibayar tunai.” Ucap penghulu
Vico lalu mengulangnya dengan sekali percobaan yang sangat
lancar.
“ Bagaimana saksi sah ?” Tanya Penghulu
“ Sah, sah .” Ucap saksi yang hadir
“ Alhamdulillah. Selamat kalian sudah menjadi suami istri
yang sah dalam agama” Ucap penghulu lalu mendoakan pernikahan mereka berdua.
“ Baik suami boleh mencium kening istrinya dan istri mencium
tangan suami.” Ucap penghulu
Mereka berdua lalu melakukan perintah penghulu tersebut. Terlihat
Arini mengeluarkan butiran bening dari pelupuk matanya. Vico yang melihat itu
lalu menghapus air mata Arini dan tersenyum padanya. Arini melihat perlakuan
Vico juga membalas dengan senyum manisnya.
Semua terlihat bahagia kecuali mamah Vico
Arini lalu memeluk kedua orang tuanya dan kakaknya dikuti
Vico lalu memeluk kedua orang tua Vico.
“ Yang akur ya kalian berdua “ Ucap Papah Vico
“ Baik pah.” Ucap Vico dan Arini.
Terlihat tamu lain juga ikut memberikan selamat dan doa pada
pengantin yang baru menikah itu.
“ Tuan semoga selalu bahagia dan pernikahannya berkah.” Ucap
sekretaris Kim sambil menjabat tangan Vico
“ Iya kamu juga segeralah mencari pasangan .” Ucap Vico
meledek kesendirian sekretarisnya itu.
“ Selamat nona Arini, tolong sabar menghadapi tuan muda.”
Arini yang mendengar hal itu lalu melirik Vico.
“ Apa-apaan kamu Kim jangan membuat istriku takut denganku.”
Ucap Vico melotot dengan peringatan sekretaris Kim untuk Arini.
“ Iya sekretaris Kim terima kasih nasehatnya.” Ucap Arini
dengan diiringi senyuman termanisnya pada sekretaris Kim
Benar saja Tuan Vico menyukai nona Arini pada pandangan
pertama. Nona Arini sangat cantik dan menawan melihatnya tersenyum saja bisa
mendinginkan hati orang yang diberikan senyuman. Batin sekretaris Kim
__ADS_1
“ Kim jangan memandangi istriku terlalu lama !” ucap Vico
lagi melihat sekretaris Kim tidak segera pergi.
“ Iya Tuan.” Jawab sekretaris Kim dan berlalu meninggalkan
pasangan itu.
“ Selamat ya Vico Arini,” Ucap Keluarga yang hadir menjabat
tangan Vico dan Arini bergantian
“ Vico jaga adikku baik-baik, jika kamu ketahuan membuatnya
menangis kamu akan habis ditanganku.” Ucap Putra mengancam Vico
“ Kakak jangan begitu, tidak baik.” Ucap Arini lembut pada
kakaknya.
“ Iya kakak ipar Vico akan menjaga Arini dengan Baik, Vico
janji.” Ucap Vico yang masih menjabat tangan Putra.
“ Tepati janjimu, jika melanggar silahkan ucapkan selamat
tinggal pada dunia ini.” Ucap Putra lagi masih mengancam Vico.
“ Iya Kak Putra.” Jawab Vico berkata sesopan mungkin dengan
kakak iparnya itu.
“ Dek kalau ada apa-apa hubungi kakak ya, kakak akan datang
kapan pun kamu membutuhkan, jika dia menyakitimu bilang ke kakak, kakak akan
menyakitinya berkali lipat dia menyakitimu. Semoga pernikahan yang kamu pilih
ini membuatmu bahagia, Kakak merestuinya.” Ucap Putra pada Arini dan mengusap
puncak kepala Arini lembut.
“ Iya kak, terima kasih selalu mengawatirkan Arini, tenang
saja Arini akan bahagia.” Ucap Arini dan memeluk kakaknya.
kakaknya tersebut. Walaupun dia kakaknya sendiri, Terlihat Arini dan Kakaknya
sangat mesra jika mereka tidak ingat fakta mereka berdua adalah kakak beradik
jika orang melihatnya akan merasa mereka adalah pasangan kekasih.
Setelah memeluk Arini putra lalu pergi.
Acara pernikahan telah usah mereka berdua telah sah menjadi
pasangan suami istri.
Di dalam Kamar Pengantin (Kamar Vico sebelumnya)
“ Arini kamu bisa mandi duluan aku akan menunggumu di sini.”
Ucap Vico canggung karena hanya berdua dengan Arini saja di kamar itu.
“ Baiklah.” Arini lalu pergi ke kamar mandi dan membersihkan
diri.
“ Hari ini aku telah sah menjadi istri Vico, semoga aku bisa
menjadi istri yang baik untuknya “ Ucap Arini di depan cermin sambil
membersihkan riasan di wajahnya.
“ Hari ini aku sudah menjadi suami istri dengannya, semoga
aku bisa membahagiakannya dan meredam emosiku yang lalu.” Ucap Vico yang
terduduk di sofa kamar itu.
“ Vico bisa minta tolong ambilkan bajuku dikoper “ Ucap
Arini yang berada di ruang pakaian meminta tolong pada Vico karena dia memang
belum menata pakaian yang dibawanya ke rumah Vico tersebut.
__ADS_1
“ Iya sebentar aku ambilkan.” Ucap Vico menyahuti permintaan
Arini
“ Ini Koper kamu.” Ucap Vico dan menyerahkan dari balik
pintu. Terlihat tangan mulus Arini yang tidak terbalut kain sedikit pun
terlihat meraih koper miliknya.
Vico yang melihat itu menelan ludahnya. Arini lalu keluar
dari ruangan itu sudah memakai piyama tidurnya baju panjang menutupi lengan dan celana
panjang warna coklat muda.
Vico melihatnya membuang nafasnya kasar, karena dia pikir
Arini akan keluar dengan penampilan seksi khusus malam pertama mereka.
“ Vic, aku sudah selesai, kamu bisa mandi sekarang.” Ucap
Arini lalu berlalu mengeringkan rambutnya yang basah masih terbalut handuk
putih.
“ Oh Iya Arini.” Jawab Vico sedikit terbata-bata dengan
ucapannya
Vico lalu menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya yang
lengket karena keringat saat prosesi pernikahannya tadi.
Setelah selesai mandi Vico keluar dan hanya memakai celana
pendek selutut tanpa memakai atasan.
“ Aaaahahhh” Teriak Arini kaget melihat dada Vico yang tidak
tertutup busana.
“ Kenapa, ada apa
Arini ? “ Ucap Vico yang panik dengan Arini yang berteriak, untung saja kamar
itu kedap suara jadi orang lain tidak mendengar terikan Arini tersebut.
“ Kenapa kamu tidak memakai baju Vic ?” Tanya Arini masih
menutup kedua matanya dengan tangan.
“ Aku biasanya tidur seperti ini, apa kamu tidak
menyukainya?” Tanya Vico pada Arini yang merasa ini bukan hal yang tidak wajar
saat pria akan tidur.
“ Bisakah kamu memakai baju saat tidur denganku ?” Pinta
Arini memohon dengan suara terlembutnya.
“ Kenapa ?” Vico balik bertanya dengan permintaan Arini itu.
“ Aku tidak suka melihat laki-laki bertelanjang dada.” Ucap
Arini jujur.
“ Hah, Baiklah.” Jawab Vico yang mengalah dan membuang nafasnya
kasar merasa aneh dengan Arini. Vico lalu meninggalkan Arini dan berlalu ke
kamar baju lagi untuk memakai kaos.
“ Kalau bukan karena sudah berjanji dengan kakaknya aku
pasti akan tetap bertelanjang dada, bagaimana aku bisa tidur kalau memakai kaos
seperti ini, dia itu wanita yang aneh kenapa aku menyukainya juga dulu, wanita
lain melihatku bertelanjang dada akan berteriak terpukau dengan bentuk tubuhkan
ini, dia malah teriak takut.” Ucap Vico memandangi perut yang memiliki roti
sobek di depan cermin dan membanggakannya sendiri sambil berpose bak model
__ADS_1
profesional.