
“ Baiklah, jangan cemberut aku akan mencobanya sedikit.”
Ucap Vico setelah memperhatikan ekspresi istrinya yang menurutnya imut saat
cemberut. Dan membuka mulutnya menggigit sedikit sekali permen kapas itu.
“ Enak bukan.” Tanya Arini dengan wajah menunjukkan
keingintahuan pendapat Vico dan tersenyum.
“ Mmmmh enak.” Ucap Vico sambil mengangguk-anggukan
kepalanya.
Ternyata dia seperti anak kecil yang sangat manja, imut,
lucu sekali aku tidak tahu dia bisa berubah 180 derajat dari sebelumnya yang
terlihat mandiri, anggun, elegan. Batin Vico merasakan semua kejadian yang
dia alami bersama Arini seharian ini.
“ Ayo kita kesana, akan ada festival yang di gelar setiap
hari saat malam tiba.” Ucap Arini yang sudah melupakan kejadian tadi dan
menarik tangan Vico. Vico hanya mengikuti keinginan Arini dan ikut berdesakan
dengan pengunjung lain untuk mendapatkan posisi depan agar dapat melihat dengan
jelas semua pertunjukkan yang disuguhkan.
Setelah festival selesai dia mengajak Vico menaiki Ferris
Wheel menurut Arini pemandangan yang bisa dilihat dari wahana bermain satu
ini sangat memanjakan matanya. Mereka berdua menaikinya berdua Arini dan Vico
duduk berhadapan, terlihat Arini memainkan ponselnya untuk berfoto karena ingin
mengirimnya pada kakaknya Putra.
“Berikan padaku ponselmu, aku bantu.” Ucap Putra pada Arini
dan mengulurkan tangannya.
“ Thank You.” Jawab Arini dan menyerahkan telepon genggamnya
pada Vico.
Vico lalu memotret Arini dengan berbagai ekspresi yang
memperlihatkan kecantikan dan kelucuan Arini.
Karena merasa Arini juga perlu membalas kebaikan Vico, dia
menawarkan akan memotret Vico juga dengan ponsel Vico. Tapi Vico menolaknya dan
menawarkan foto bersama.
Walaupun sedikit malu-malu Arini lalu berpindah tempat duduk
dengan Vico tapi tiba-tiba saat posisi mereka berada di paling atas terlihat
wahana itu berhenti mendadak membuat Arini terjatuh kepelukan Vico dengan jarak
yang cukup dekat di antara wajah mereka.
Arini yang masih berdebar-debar dan wajah merona terlihat
sangat menarik untuk Vico tanpa sadar Vico memajukan wajahnya dan mencium Arini
saat itu, merasa tidak ada penolakan Vico memperdalam ciumannya dengan Arini,
Arini hanya terdiam membisu tanpa memberi perlawanan dan balasan ciuman Vico
tersebut. Mereka lalu saling melepaskan diri dan duduk berhadapan setelah ada
pergerakan dari wahana yang mulai berputar lagi. Arini terlihat duduk terdiam
__ADS_1
dan memandang ke jendela untuk menikmati pemandangan Belanda di malam hari yang
sangat indah.
Vico hanya terdiam walaupun merasa sedikit bersalah karena
tidak meminta ijin pada Arini dengan tindakannya, tapi dia merasa sangat
bahagia dengan apa yang barusan mereka lakukan itu.
Tidak ada pembicaraan setelah apa yang terjadi tadi sampai
mereka sudah keluar dari wahana itu.
“ Apa kamu marah ?” Tanya Vico yang tidak mau Arini marah
akan apa yang sudah dilakukan tadi.
“ mmm.” Jawab Arini sambil menggelengkan kepalanya.
“ Kenapa kamu terlihat tidak senang ?” Tanya Vico yang
merasa Arini tidak seperti sebelumnya dimana selalu tersenyum menjadi Arini
yang pendiam lagi.
“ Tidak apa-apa.” Jawab Arini dengan ekspresi yang sama.
“ Aku minta maaf, kamu jangan marah.” Ucap Vico yang
memegang kedua tangan Arini dan meminta maaf.
“ Iya.” Jawab Arini lalu tersenyum pada Vico menggambarkan
dia tidak apa-apa.
“ Baiklah ayo kita makan malam, pasti kamu lapar.” Ucap Vico
dan mencium puncak kepala Arini dan menggandengnya ke tempat makan di taman
bermain itu.
mengikutinya dari belakang.
“ Kenapa mereka mengikutiku dari tadi, sepertinya ini tidak
baik, lebih baik aku menghindar dan melarikan diri dulu.” Gumam Arini
Terlihat 2 orang mengikuti Arini dari belakang menggunakan
pakaian serba hitam dan topi di kepalanya, Arini sebenarnya sudah curiga dari
mulai dia makan permen kapas tadi, tapi dia tidak ingin memberitahukan pada
Vico, takut orang itu suruhan Pria yang menemuinya tadi dan akan membahayakan
Vico karena memang Belanda merupakan kekuasaan mereka.
Arini baru mengetahuinya setelah mereka berpisah, karena
selama berhubungan dengan Valdo dia tidak curiga sama sekali dengan pria yang
di cintai itu selama Kuliah.
Arini yang hanya diikuti 1 mata-mata Putra yang menjaganya
terlihat bersiaga untuk melindungi nona mudanya, pengawal Vico terlihat lengah
dan hanya mengawasi Vico tanpa memperhatikan Arini.
Arini mempercepat langkah kakinya, saat yang mengikuti juga
mengikutinya semakin dekat, Arini lalu berlari untuk menghindar , tapi sayang
dia terpojok di tembok yang tinggi.
Arini lalu berusaha menghajar dengan berbagai seni bela diri
yang dia pelajari setelah berpisah dari Valdo sesuai perintah kakaknya.
__ADS_1
Terlihat 1 orang pria datang, Arini terlihat sedikit takut
karena merasa kalah jumlah dan akan berakhir di tempat itu. Tetapi ternyata itu
mata-mata dari kakaknya, dia membantu Arini berkelahi satu lawan satu dengan
kedua penculik itu.
Perlawanan begitu sengit dari kedua penculik yang memang
disiapkan khusus untuk menculik Arini.
Arini terlihat mendapat beberapa pukulan dan bajunya sedikit
sobek di beberapa tempat.
Vico yang merasa Arini cukup lama ke kamar mandi dia pun
menyusul untuk memeriksanya takut terjadi hal buruk.
Vico memasuki kamar mandi perempuan.
“ AAAAAAAA” Teriakan para perempuan yang berada di kamar
mandi kala Vico masuk tanpa permisi dengan ekspresi sangat cemas karena dia
sudah berada di depan kamar mandi cukup lama tidak kunjung melihat Arini
keluar. Vico membuka semua bilik yang ada di kamar mandi tersebut setelah semua
wanita meninggalkannya karena takut melihat ekspresi cemas Vico.
“ Arini kamu dimana ?” Gumam Vico yang sudah sangat cemas
tidak menemukan wanita yang sangat disayanginya itu di kamar mandi. Vico lalu
keluar dan menghampiri sekretaris Kim
“ Kim cari Arini minta semua berpencar aku tidak mau terjadi
apa-apa dengan Arini.” Ucap Vico yang lalu pergi berkeliling semua tempat di
taman hiburan itu.
“ Arini .” Panggil Vico setelah melihat wanita berpakaian
dan penampilan mirip Arini dari belakang tapi ternyata bukan Arini.
“ Arini kamu dimana ? “ Ucap Vico yang tak kunjung menemukan
keberadaan Arini dengan mengusap wajahnya kasar dan meremas rambutnya frustasi
dengan hilangnya Arini.
“ Kim bagimana sudah ketemu ?” Tanya Vico pada sekretaris
Kim melalui telepon genggamnya berharap sekretaris Kim atau anak buahnya yang
lain sudah menemukannya.
Arini yang masih bertarung mendengar teriakan yang
memanggilnya lalu dia menyahuti panggilan itu.
“ Arini “ Teriak Vico yang masih terus berputar-putar
mencari Arini.
“ Vico aku di sini, tolong aku.” Teriak Arini yang masih
tetap bertarung melawan kedua penculik.
Vico yang medengar sahutan Arini lalu bergegas menuju asal
suara itu. Dia menemukan Arini sendiri dengan baju tersobek dibeberapa bagian
dan wajah lebam di pipi dan kedua tangan yang berdarah.
Kedua penculik yang mendengar suara Vico lalu bergegas
__ADS_1
meninggalkan Arini begitu juga mata-mata Putra sebelum kedatangan Vico.