
Begitulah pembicaraan Vico dengan sekretaris Kim saat
berkendara menuju kantor.
Kendaraan mereka berhenti lalu Vico keluar dan diikuti sekretaris Kim
langsung menuju ruangan Vico.
Terlihat beberapa tumpukan berkas permintaan persetujuan
Vico sudah menunggunya.
“ Kim buatkan aku secangkir kopi, aku masih merasa sedikit
mengantuk.” Ucap Vico yang sudah terduduk di kursi hitam miliknya dan membuka
berkas di mejanya dengan sedikit memutar kepala mengendurkan otot leher yang
dirasa masih tegang dan kantuk yang melanda.
“ Baik Tuan.” Ucap sekretaris Kim lalu pergi meninggalkan
ruangan Vico dan meminta sekretaris wanita di depan menyiapkan secangkir kopi
untuk Vico.
“ Tuan 10 menit lagi akan rapat tentang produk makanan yang
akan menjadi kerja sama dengan chef internasional yang sudah kita atur dan
sepakati sebelumnya.” Ucap sekretaris Kim yang sudah masuk lagi ke ruangan Vico
untuk mengingatkan pekerjaan pada tuannya tersebut.
“ Iya , Kim siang nanti kosongkan waktu dua jam untukku aku
akan istirahat sebentar.” Ucap Vico lagi sambil menandatangani berkas yang ada
di mejanya.
“ Baik Tuan, ini kopi Anda Tuan.” Jawab sekretaris Kim dan
meletakkan secangkir Kopi di meja Vico setelah dia menerimanya dari sekretaris
wanita di depan. Vico yang memang terlihat sedikit mengantuk lalu mengambil
secangkir kopi itu dan meniup sebelum meneguknya.
Vico dan sekretaris Kim lalu pergi meninggalkan ruangannya
lima menit sebelum rapat mereka di mulai.
Terlihat Vico duduk memperhatikan presentasi dari Tim
perencana produk lalu dia memberikan beberapa ide untuk menyempurnakan rencana
produk baru tersebut dengan chef yang ikut bekerja sama dengannya tersebut.
Terlihat Vico sangat profesional saat bekerja tak sedikit pun perasaannya
mempengaruhi pekerjaannya saat rapat itu berlangsung. Usai rapat Vico berjabat
tangan dengan Chef tersebut setelah itu kembali ke ruangannya.
Kantor Arini
Waktu makan siang sudah tiba, Arini membulatkan niatnya
untuk menemui Vico ke kantornya. Arini lalu bersiap-siap untuk pergi tak lupa
dia mendatangi meja Vivi untuk pamit pergi dan memberitahu Vivi jika ada
apa-apa bisa menghubunginya lewat ponsel.
Arini lalu pergi menuju tempat parkir dan mengendarai
mobilnya akan berangkat ke Kantor Vico.
“ Apakah aku akan ke sana tanpa membawa apa-apa ?” Ucap Arini
__ADS_1
masih tetap fokus dengan kemudinya.
“ Aku bawakan makan siang saja mungkin lebih baik, tapi
nanti terlihat mencolok tidak ya dengan karyawannya.” Gumam Arini lagi bingung
dengan kedatangannya di kantor Vico yang mendadak itu. Dia terlihat berhenti
karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, beberapa kali Arini menengok
lampu memastikan apakah sudah hijau atau belum.
“ Aku mampir ke restoran yang biasa dia ajak makan saja,
membelikan makanan yang biasa dia makan.” Ucap Arini lalu membelokkan mobilnya
menuju restoran tersebut dan membelikan beberapa menu makanan yang mungkin
disukai Vico. Setelah itu dia melajukan kendaraannya lagi menuju kantor Vico.
Sesampainya dia kantor Vico Arini memarkirkan kendaraannya.
Dia lalu pergi memasuki kantor yang memang sangat megah dan besar ya 20 kali
kantor yang dimiliki Arini saat ini.
Arini lalu menuju resepsionis meminta untuk menunjukkan ruangan
Vico.
“ Selamat siang nona.” Ucap Arini pada dua resepsionis yang
terlihat sangan cantik dengan pakaian sangat rapi itu.
“ Selamat siang nona ada yang bisa saya bantu ?” Tanya
resepsionis itu melihat kedatangan dan sapaan Arini tanpa mengetahui jika Arini
adalah istri bos yang mempekerjakannya sekarang.
“ Nona ruangan Tuan Vico dimana ya ?” Tanya Arini yang
letak kantor suaminya tersebut.
“ Apakah nona sudah membuat janji dengan tuan Vico ?” Ucap
resepsionis tersebut pada Arini karena menurut peraturan kantor hanya orang
yang sudah membuat janji saja yang boleh bertemu dengan Tuan Vico kecuali anggota
keluarga Vico sendiri yaitu mamah dan papahnya.
“ Belum nona.” Ucap Arini yang memang belum membuat janji
tersebut, kedatangannya saja mendadak.
“ Mohon maaf nona menurut peraturan kantor kami tidak bisa
mengijinkan nona menemui Tuan Vico jika belum ada janji bertemu.” Ucap
resepsionis itu sopan dengan Arini.
“ Begini saja nona, bisakah saya menitipkan ini untuk Tuan
Vico tolong sampaikan dari Arini begitu saja ya, “ Ucap Arini lalu menyerahkan
makanan yang dia beli tadi pada resepsionis.
“ Baik nona akan kami serahkan ke Tuan Vico dan menyampaikan
pesan nona.” Ucap Resepsionis tersebut.
Arini lalu pergi meninggalkan kantor suaminya dengan
perasaan yang masih mengganjal karena keinginannya untuk minta maaf dengan Vico
tidak bisa dia lakukan.
Arini lalu mengendarai mobilnya itu melajukannya dan
__ADS_1
menghentikannya pada sebuah taman kota yang dekat dengan laut dia sejenak
keluar dari mobilnya tersebut menikmati angin yang semilir siang itu sambil
menikmati pemandangan laut yang indah. Walaupun terik Arini terlihat tetap
menikmatinya sambil membaca buku yang dia biasa bawa di dalam mobilnya terduduk
di bawah pohon yang rindang.
Kantor Vico
Tok tok tok
Sekretaris Kim yang memang duduk di sofa memangku leptopnya
mendengar suara ketukan itu lalu meletakkan leptopnya di meja dan membukakan
pintu ruangan Vico. Terlihat Vico tidak ada di mejanya dia terlihat berada di
ruangan yang disediakan khusus untuknya beristirahat di kantor dia terlihat
baru akan memejamkan matanya.
“ Ada apa ?” Tanya sekretaris Kim pada sekretaris wanita
yang mengetuk pintu sambil membawa makanan yang tadi Arini titipkan ke
resepsionis.
“ Tuan ada titipan dan nona Arini tadi resepsionis
membawakan ke atas katanya ada nona muda bernama Arini menitipkan ini untuk
Tuan Vico sebenarnya dia ingin bertemu tapi karena belum ada janji hanya
menitipkannya dan pergi Tuan.” Ucap sekretaris wanita tersebut pada sekretaris
Kim.
“ Baiklah kamu boleh pergi.” Ucap sekretaris Kim lalu
menerima makanan tersebut dan meletakkannya di meja lalu menemui Vico yang
berada di kamarnya.
“ Tuan Vico.” Panggil sekretaris Kim di sebelah ranjang Vico
yang terlihat Vico merebahkan tubuhnya dan menutupkan matanya tetapi belum
terlihat tidur pulas sehingga sekretaris Kim memanggilnya.
“ Hemm kenapa Kim ?” Jawab Vico yang masih belum membuka
matanya mendengar pangilan sekretaris Kim.
“ Tuan tadi nona Arini ke kantor dan membawakan makanan
untuk makan siang Tuan sebenarnya dia ingin bertemu dengan tuan Vico tapi
sesuai prosedur jika tidak ada janji tidak bisa bertemu sehingga dia
menitipkan makanan itu ke resepsionis sekarang sudah di meja depan Tuan, apakah
tuan ingin makan siang dulu ?” Ucap sekretaris Kim.
Vico yang mendengar hal itu lalu langsung berdiri
meninggalkan sekretaris Kim dan langsung meninggalkan ruangannya dan menuju
resepsionis jika saja Arini masih belum pergi terlalu jauh.
“ Dimana wanita yang mengirimkan makanan tadi ?” Tanya Vico
dengan tatapan tajam pada resepsionis tadi.
“ Su sudah pergi tuan.” Ucap Resepsionis terbata-bata
menjawabnya.
__ADS_1