
Usai Haris pulang terlihat Vico sedikit cemberut karena
sekali lagi merasakan perasan jeruk lemon pada perasaannya. Tapi mau bagaimana
lagi istrinya memang menawan hingga membuat para pria idaman menyukainya baik
fisik maupun hatinya. Ingin juga Vico mencegah istri tercintanya bekerja dan menjadi ibu
rumah tangga di rumah dan hanya mengurusnya dan anak-anak mereka nanti. Sayang
sekali angan itu sepertinya akan sulit terwujud.
Melihat wajah masam Vico yang lucu menurut Arini membuatnya
tergoda untuk menjahilinya. Arini mencoba mencubit perut Vico yang memang
sangat dekat dengannya karena dia masih terduduk di pangkuan Vico tidak
diijinkan berpindah.
“ Kenapa masa marah ?” Tanyanya menatap wajah Vico yang
tidak bereaksi dengan cubitan perut darinya yang memang sedikit pelan. Terlihat
ekspresi Vico masih belum berubah dan mengalihkan pandangannya. Arini menghela
nafas kasar dan berusaha meraih wajah Vico dengan kedua tangannya menatapnya
lekat bagaikan sedang berkomunikasi dari hati ke hati. Entah sinyal apa yang tersambung
membuat Vico ingin sekali mencium bibir Arini yang sedikit kemerahan olesan lip
balm agar tetap lembab itu. Ciuman manis belum bisa terlaksana karena ponsel
Arini berdering.
Arini yang mendengarnya mengurungkan niat Vico menciumnya.
Terlihat Vico kesal pada orang yang menghubungi istri tercintanya itu. Arini
beralih berdiri mencoba meraih ponsel yang sebelumnya dia letakkan pada meja di
depannya. Tertera nama "Kakakku Tersayang" pada ponsel Arini di mana berarti Putra tengah
menghubunginya.
“ Halo, iya kak ada apa ?” Tanya Arini dengan senang karena
sejak dia menikah jarang bertemu dengan kakak tersayangnya dan berkomunikasi
karena kesibukan masing-masing dengan perusahaan. Vico yang melihat nama itu
sudah tahu kalau si Brother Con yang menghubungi istrinya merasa sedikit kesal.
“ Bagaimana kabar kamu ? Oh kakak lagi senggang kamu di
rumah ? Kirim alamat ya kakak mau ke tempat kamu.” Putra yang memang kawatir
sejak berita penculikan Arini merasa harus bertemu dengan adiknya kali ini
untuk memastikan jika Arini baik-baik saja. Karena Arini yang tidak suka di
rumah sakit dia meyakini kalau Arini di rumah karena kejadian kemarin.
“ Arini baik kak, Arini di kantor Vico kak tidak di rumah.”
Jawab Arini menjelaskan keadaan sebenarnya. Vico terlihat sedikit cemas jika
kakak Arini yang super protektif itu berpikir dia tidak bisa merawat Arini
bahkan sekarang membawanya ke kantor.
“ Apa di kantor, wah kurang ajar bukannya dirawat di rumah
malah dibawa ke kantor, apa menurut dia perusahaannya lebih penting dari pada
kamu, buat apa dia mengerjakan banyak karyawan tetapi tidak bisa bekerja jika
di tinggal untuk merawat kamu saja, ya sudah kakak akan ke kantor Vico.” Ucap
__ADS_1
Putra langsung menutup panggilannya karena kesal dengan ulah adik iparnya tanpa
mengetahui alasan keberadaan Arini.
“ Kak kak kak Putra.” Panggil Arini tapi panggilannya telah
terputus. Arini mencoba menghubungi kakaknya tapi tidak ada jawaban. Vico yang
sebelumnya menguping pembicaraan kakak adik itu menghembuskan nafas kasar
mendengar celoteh Putra yang terlihat benar-benar kesal dengannya. Vico hanya
bisa mempersiapkan diri dimarahi atau beradu argumen dengan kakak wanita yang
menjadi istrinya itu.
“ Aduh Vic, nanti aku jelasin pada kakak ya, tenang saja.”
Ucap Arini setelah menyerah menghubungi kakaknya sambil menatap wajah Vico yang
terlihat bingung bercampur cemas itu.
Putra yang usai menghubungi adiknya segera memberi tahu
sekretaris pribadinya untuk menunda semua jadwal kerjanya hari ini karena ada
urusan pribadi dan bergegas mengambil kunci mobil dan jas miliknya menuju
Perusahaan Vico. Dengan cepat dia menancapkan gas mobil sport berwarna biru
miliknya menembus keramaian jalan siang itu yang lumayan ramai. Putra yang dari
kemarin merasa kawatir dan belum bisa merasa tenang walau sebelumnya sudah dihubungi
Vico ingin menemui Arini dan memastikan keadaannya.
Putra langsung berhenti di depan lobby perusahaan Vico dan
meminta satpam memarkirkan mobilnya. Dengan wajah bagaikan aktor Korea,
Ketampanan paripurna, Tubuh tegap tinggi berwibawa dengan sorot wajah dingin
berjalan dengan cepat menuju meja resepsionis yang tengah bekerja.
Tanya resepsionis yang memang terpesona pada pandangan pertama melihat Putra,
suku kata yang harusnya tersambung dengan lancar terucap sebagai dasar menjadi seorang
resepsionis terucap terbata-bata. Resepsionis di sampingnya bahkan hanya
menatap wajah Putra. Beberapa karyawan wanita yang lewat pun ikut terpesona
dengan wajah Putra.
“ Wah bukannya itu presdirnya AR kenapa ke sini ya ? Wah
pria idamanku setelah tuan Vico berada di sini.” Ucap Karyawan bergosip sambil
berjalan melewati Putra.
“ Ruang Vico di mana ?” Tanya Putra langsung pada tujuan
utamanya datang pada Perusahaan itu.
“ Ruangan Tuan Vico ada di Lantai... mmm maaf Tuan apakah
sudah membuat janji ?” Tanya Resepsionis yang kembali tersadar untuk melakukan
protokol orang yang bisa menemui orang nomor satu pada perusahaannya itu.
“ Tidak ada, kamu hubungi dia bilang Putra di bawah.” Ucap
Putra tidak bisa basa-basi dan tidak sabar sebenarnya dengan protokol yang
berlaku pada setiap perusahaan itu.
“ Baik Tuan tolong tunggu sebentar.” Resepsionis tersebut
lalu menghubungi langsung ruangan Vico tanpa melalui sekretaris Kim seperti
__ADS_1
biasa takut jika Putra orang penting yang bisa membuatnya hampir dipecat
seperti kejadian perempuan yang pernah mengantarkan makan yang membuatnya
hampir kehilangan mata pencaharian yang menjanjikan ini.
“ Tuan Vico ada Tuan Putra di bawah ingin bertemu.” Ucap
Resepsionis sopan pada atasan nomor satunya itu. Tidak ada jawaban dari Vico
dia segera menutup panggilan itu dan bergegas turun ke bawah menemui kakak
Arini tersebut.
“ Tuan tuan Vico.” Resepsionis yang tidak mendapat jawaban
dari Vico bingung dan menghubunginya lagi untuk memastikan karena takut bertindak
antara membiarkan masuk atau bagaimana, tapi sayang tidak ada jawaban dari
panggilan tersebut. Putra terlihat mengkerutkan dahinya merasa ada yang tidak
beres.
“ Ar kakakmu sudah di bawah aku akan menjemputnya, tunggu di
sini ya.” Ucap Vico lalu berdiri memindahkan tubuh istrinya yang masih di
pangkuannya walaupun dia sudah berpindah pada meja kerjanya. Arini mengangguk
dan kini sudah terduduk manis di sofa depan meja kerja Vico.
Vico berjalan cepat ke lift miliknya dan menuju langsung
lobby kantornya. Vico yang melihat kakak kesayangan istrinya berdiri di depan
resepsionis lalu menyapanya.
“ Kak Putra langsung ke atas saja.” Ucap Vico ramah dan
mengajak Putra menemui Arini.
“ Dasar adik kurang ajar.” Ucap Putra dan berlalu pergi
meninggalkan resepsionis karena tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk bertemu
Adik kesayangannya itu.
“ Wah dia siapa ya ? Bahkan Tuan Vico yang selalu berwajah
dingin dan tidak pernah tersenyum terlihat sangat menghormatinya.” Gosip
resepsionis yang melihat kejadian yang terlihat tidak nyata itu berlangsung.
Karyawan wanita yang berlalu lalang melihat kedua pria
tampan rupawan berjalan berhenti sekedar untuk menatap makhluk Tuhan paling
indah itu.
“ Bukankah kita tidak pernah bekerja sama dengan AR kenapa
Tuan Putra berada di sini ya, bahkan lihat dia terlihat lebih dingin daripada
presdir es kita.” Ucap Karyawan bergosip.
“ Ssstt jangan keras-keras tetapi menurutku presdir kita
tetap yang paling menawan wajah manly dengan perawakan kebule-bulean memang
idaman.” Ucap karyawan lain yang membela Vico.
“ Tapi aku lebih suka Tuan Putra lihatlah pasti anak kita
akan lucu-lucu jika bisa menikah dengannya.” Ucap karyawan lain berhalusinasi.
“ Apa kalian tidak ada pekerjaan ?” Suara manajer laki-laki
yang tengah lewat membuyarkan berbagai imajinasi para wanita yang tengah
__ADS_1
bergosip itu, di mana tanpa di sadari sosok Putra dan Vico sudah entah ke mana
berlalu. Para karyawan kembali pada tujuan mereka masing-masing.