My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Kakak Datang


__ADS_3

Usai Haris pulang terlihat Vico sedikit cemberut karena


sekali lagi merasakan perasan jeruk lemon pada perasaannya. Tapi mau bagaimana


lagi istrinya memang menawan hingga membuat para pria idaman menyukainya baik


fisik maupun hatinya. Ingin juga Vico mencegah istri tercintanya bekerja dan menjadi ibu


rumah tangga di rumah dan hanya mengurusnya dan anak-anak mereka nanti. Sayang


sekali angan itu sepertinya akan sulit terwujud.


Melihat wajah masam Vico yang lucu menurut Arini membuatnya


tergoda untuk menjahilinya. Arini mencoba mencubit perut Vico yang memang


sangat dekat dengannya karena dia masih terduduk di pangkuan Vico tidak


diijinkan berpindah.


“ Kenapa masa marah ?” Tanyanya menatap wajah Vico yang


tidak bereaksi dengan cubitan perut darinya yang memang sedikit pelan. Terlihat


ekspresi Vico masih belum berubah dan mengalihkan pandangannya. Arini menghela


nafas kasar dan berusaha meraih wajah Vico dengan kedua tangannya menatapnya


lekat bagaikan sedang berkomunikasi dari hati ke hati. Entah sinyal apa yang tersambung


membuat Vico ingin sekali mencium bibir Arini yang sedikit kemerahan olesan lip


balm agar tetap lembab itu. Ciuman manis belum bisa terlaksana karena ponsel


Arini berdering.


Arini yang mendengarnya mengurungkan niat Vico menciumnya.


Terlihat Vico kesal pada orang yang menghubungi istri tercintanya itu. Arini


beralih berdiri mencoba meraih ponsel yang sebelumnya dia letakkan pada meja di


depannya. Tertera nama "Kakakku Tersayang"  pada ponsel Arini di mana berarti Putra tengah


menghubunginya.


“ Halo, iya kak ada apa ?” Tanya Arini dengan senang karena


sejak dia menikah jarang bertemu dengan kakak tersayangnya dan berkomunikasi


karena kesibukan masing-masing dengan perusahaan. Vico yang melihat nama itu


sudah tahu kalau si Brother Con yang menghubungi istrinya merasa sedikit kesal.


“ Bagaimana kabar kamu ? Oh kakak lagi senggang kamu di


rumah ? Kirim alamat ya kakak mau ke tempat kamu.” Putra yang memang kawatir


sejak berita penculikan Arini merasa harus bertemu dengan adiknya kali ini


untuk memastikan jika Arini baik-baik saja. Karena Arini yang tidak suka di


rumah sakit dia meyakini kalau Arini di rumah karena kejadian kemarin.


“ Arini baik kak, Arini di kantor Vico kak tidak di rumah.”


Jawab Arini menjelaskan keadaan sebenarnya. Vico terlihat sedikit cemas jika


kakak Arini yang super protektif itu berpikir dia tidak bisa merawat Arini


bahkan sekarang membawanya ke kantor.


“ Apa di kantor, wah kurang ajar bukannya dirawat di rumah


malah dibawa ke kantor, apa menurut dia perusahaannya lebih penting dari pada


kamu, buat apa dia mengerjakan banyak karyawan tetapi tidak bisa bekerja jika


di tinggal untuk merawat kamu saja, ya sudah kakak akan ke kantor Vico.” Ucap

__ADS_1


Putra langsung menutup panggilannya karena kesal dengan ulah adik iparnya tanpa


mengetahui alasan keberadaan Arini.


“ Kak kak kak Putra.” Panggil Arini tapi panggilannya telah


terputus. Arini mencoba menghubungi kakaknya tapi tidak ada jawaban. Vico yang


sebelumnya menguping pembicaraan kakak adik itu menghembuskan nafas kasar


mendengar celoteh Putra yang terlihat benar-benar kesal dengannya. Vico hanya


bisa mempersiapkan diri dimarahi atau beradu argumen dengan kakak wanita yang


menjadi istrinya itu.


“ Aduh Vic, nanti aku jelasin pada kakak ya, tenang saja.”


Ucap Arini setelah menyerah menghubungi kakaknya sambil menatap wajah Vico yang


terlihat bingung bercampur cemas itu.


Putra yang usai menghubungi adiknya segera memberi tahu


sekretaris pribadinya untuk menunda semua jadwal kerjanya hari ini karena ada


urusan pribadi dan bergegas mengambil kunci mobil dan jas miliknya menuju


Perusahaan Vico. Dengan cepat dia menancapkan gas mobil sport berwarna biru


miliknya menembus keramaian jalan siang itu yang lumayan ramai. Putra yang dari


kemarin merasa kawatir dan belum bisa merasa tenang walau sebelumnya sudah dihubungi


Vico ingin menemui Arini dan memastikan keadaannya.


Putra langsung berhenti di depan lobby perusahaan Vico dan


meminta satpam memarkirkan mobilnya. Dengan wajah bagaikan aktor Korea,


Ketampanan paripurna, Tubuh tegap tinggi berwibawa dengan sorot wajah dingin


berjalan dengan cepat menuju meja resepsionis yang tengah bekerja.


Tanya resepsionis yang memang terpesona pada pandangan pertama melihat Putra,


suku kata yang harusnya tersambung dengan lancar terucap sebagai dasar menjadi seorang


resepsionis terucap terbata-bata. Resepsionis di sampingnya bahkan hanya


menatap wajah Putra. Beberapa karyawan wanita yang lewat pun ikut terpesona


dengan wajah Putra.


“ Wah bukannya itu presdirnya AR kenapa ke sini ya ? Wah


pria idamanku setelah tuan Vico berada di sini.” Ucap Karyawan bergosip sambil


berjalan melewati Putra.


“ Ruang Vico di mana ?” Tanya Putra langsung pada tujuan


utamanya datang pada Perusahaan itu.


“ Ruangan Tuan Vico ada di Lantai... mmm maaf Tuan apakah


sudah membuat janji ?” Tanya Resepsionis yang kembali tersadar untuk melakukan


protokol orang yang bisa menemui orang nomor satu pada perusahaannya itu.


“ Tidak ada, kamu hubungi dia bilang Putra di bawah.” Ucap


Putra tidak bisa basa-basi dan tidak sabar sebenarnya dengan protokol yang


berlaku pada setiap perusahaan itu.


“ Baik Tuan tolong tunggu sebentar.” Resepsionis tersebut


lalu menghubungi langsung ruangan Vico tanpa melalui sekretaris Kim seperti

__ADS_1


biasa takut jika Putra orang penting yang bisa membuatnya hampir dipecat


seperti kejadian perempuan yang pernah mengantarkan makan yang membuatnya


hampir kehilangan mata pencaharian yang menjanjikan ini.


“ Tuan Vico ada Tuan Putra di bawah ingin bertemu.” Ucap


Resepsionis sopan pada atasan nomor satunya itu. Tidak ada jawaban dari Vico


dia segera menutup panggilan itu dan bergegas turun ke bawah menemui kakak


Arini tersebut.


“ Tuan tuan Vico.” Resepsionis yang tidak mendapat jawaban


dari Vico bingung dan menghubunginya lagi untuk memastikan karena takut bertindak


antara membiarkan masuk atau bagaimana, tapi sayang tidak ada jawaban dari


panggilan tersebut. Putra terlihat mengkerutkan dahinya merasa ada yang tidak


beres.


“ Ar kakakmu sudah di bawah aku akan menjemputnya, tunggu di


sini ya.” Ucap Vico lalu berdiri memindahkan tubuh istrinya yang masih di


pangkuannya walaupun dia sudah berpindah pada meja kerjanya. Arini mengangguk


dan kini sudah terduduk manis di sofa depan meja kerja Vico.


Vico berjalan cepat ke lift miliknya dan menuju langsung


lobby kantornya. Vico yang melihat kakak kesayangan istrinya berdiri di depan


resepsionis lalu menyapanya.


“ Kak Putra langsung ke atas saja.” Ucap Vico ramah dan


mengajak Putra menemui Arini.


“ Dasar adik kurang ajar.” Ucap Putra dan berlalu pergi


meninggalkan resepsionis karena tidak mau menyia-nyiakan waktunya untuk bertemu


Adik kesayangannya itu.


“ Wah dia siapa ya ? Bahkan Tuan Vico yang selalu berwajah


dingin dan tidak pernah tersenyum terlihat sangat menghormatinya.” Gosip


resepsionis yang melihat kejadian yang terlihat tidak nyata itu berlangsung.


Karyawan wanita yang berlalu lalang melihat kedua pria


tampan rupawan berjalan berhenti sekedar untuk menatap makhluk Tuhan paling


indah itu.


“ Bukankah kita tidak pernah bekerja sama dengan AR kenapa


Tuan Putra berada di sini ya, bahkan lihat dia terlihat lebih dingin daripada


presdir es kita.” Ucap Karyawan bergosip.


“ Ssstt jangan keras-keras tetapi menurutku presdir kita


tetap yang paling menawan wajah manly dengan perawakan kebule-bulean memang


idaman.” Ucap karyawan lain yang membela Vico.


“ Tapi aku lebih suka Tuan Putra lihatlah pasti anak kita


akan lucu-lucu jika bisa menikah dengannya.” Ucap karyawan lain berhalusinasi.


“ Apa kalian tidak ada pekerjaan ?” Suara manajer laki-laki


yang tengah lewat membuyarkan berbagai imajinasi para wanita yang tengah

__ADS_1


bergosip itu, di mana tanpa di sadari sosok Putra dan Vico sudah entah ke mana


berlalu. Para karyawan kembali pada tujuan mereka masing-masing.


__ADS_2