
Hari Keberangkatan menemui Kakek Arini untuk mengkonfirmasi
masalah kalung yang tengah ada di tangannya pun tiba terlihat dia tengah duduk
di pesawat pribadi yang dia miliki dari grup Perusahaan miliknya dan temannya
Orlando Philip itu. Sekretaris pribadi yang selalu setia menemaninya sejak
kecil pun terlihat duduk tidak jauh darinya duduk. Vico terlihat memangku
leptop kesayangannya untuk mengecek semua pekerjaan kantornya dan melihat
laporan yang sudah dirangkum dan dikirim melalui email dari sekretaris Kim.
Vico sungguh tidak sabar ingin segera mengetahui kebenaran
dan membuktikan apakah benar gadis itu Arini atau bukan. Semua rencananya untuk
grup mafianya dengan Orlando sudah dia selesaikan pembicaraannya semalam dengan
berbagai pertimbangan. Vico memang seorang yang sangat ambisius selama ini,
itulah mengapa Perusahaannya dan kedua orang tuanya bisa berkembang dengan
pesat dan bahkan Grup mafia temannya Orlando yang sebelumnya hanya menguasai
sebuah kota bisa berkembang pesat dan menjadi Grup mafia nomor satu di Eropa
sampai sekarang dan bahkan memiliki usaha legal juga semua itu berkat tangan
dingin dan otak cerdas Vico bahkan Orlando yang seharusnya memimpin terasa
seperti di bawah Vico dan menjalankan semua perintah Vico selama ini.
Intuisi Vico dalam bidang bisnis memang sangat cemerlang.
Tapi sayang pencariannya pada gadis penolongnya di masa kecil itu sangat sulit
dia lacak dengan semua sumber informasi yang dia miliki selama ini. Orang yang
dulu mengantarnya dan Orlando pun juga tidak mau memberitahu hingga saat dia
dewasa dia tidak dapat menemui lagi orang tersebut.
Burung besi yang Vico kendarai pun tidak terasa sudah
mengantarkannya ke Negara yang terkenal dengan kincir anginnya itu. Suasana
yang sama yang pernah ia rasakan saat dia bersama dengan Arini seakan
menyambutnya dia Negara Kakek Arini itu. Terlihat beberapa orang yang
berpakaian resmi dengan jas dan dasi hitam lengkap dengan kaca mata hitam
mendatangi Vico dan sekretaris Kim untuk mengantar Vico ke kediaman Kakek Arini.
Sebenarnya mereka adalah anak buah grup mafianya yang bekerja di Belanda tetapi
semua orang itu hanya mengenal Orlando sebagai pimpinannya dan bekerja sesuai
perintah Orlando.
Nama Vico hanya diketahui oleh beberapa orang petinggi di
Grup Mafianya selain mereka anak buah tidak ada yang tahu karena memang Vico
__ADS_1
sangat menjaga namanya selama ini agar tidak terlihat oleh orang lain bahwa
dirinya juga bekerja di dalam Grup Mafia itu.
“ Selamat siang Tuan silakan ikuti saya.” Ucap Pria
berpakaian hitam itu lalu menuntun Vico dan sekretaris Kim menuju mobil Hitam
yang sudah mereka siapkan. Vico yang memang sudah terbiasa dengan hal itu pun
mengikuti orang-orang tersebut dan berjalan lalu masuk ke dalam mobil usai di
bukakan pintunya oleh para pengawalnya tersebut.
Perjalanan terasa sangat cepat hingga tidak terasa Vico
sudah sampai di sebuah rumah yang sangat megah dengan kebun bunga luas di
depannya itu dengan pagar tinggi mengelilinginya. Terlihat Gerbang besar
berwarna hitam menyambut Vico saat akan masuk keamanan mengkonfirmasi
kedatangan mereka pada kakek Arini usai mendapat ijin masuk mobil itu pun masuk
ke dalam halaman rumah tersebut. Rumah itu memang di jaga sangat ketat
bagaimana tidak itu merupakan keduaman orang nomor satu di negara itu dan
merupakan Grup mafia kedua terkuat di Eropa.
Vico yang merasa sangat tegang untuk bertemu dengan Kakek
wanita tercintanya itu terlihat menarik nafas dalam saat keluar dari mobil
hitam yang mengantarnya itu. Ia pun berjalan masuk dengan diikuti sekretaris
Vico.
“ Selamat datang Tuan Vico, Tuan Besar sudah menunggu di
ruangannya silakan ikuti saya.” Ucap pelayan lalu mengantarkan Vico dan
sekretaris Kim ke ruangan yang dia maksud. Karena memang Vico adalah bagian
keluarganya Kakek Arini tidak mempermasalahkan jika Vico memasuki ruangan
pribadinya, karena merasa jika Vico akan membicarakan hal yang serius karena
membuatnya datang jauh-jauh sampai ke sini.
“ Silakan Tuan, Tuan besar di dalam.” Pelayan itu
mempersilahkan Vico masuk ke ruangan itu lalu dia meninggalkan Vico dan
sekretaris Kim untuk kembali ke dapur. Vico lalu mengetuk pintu kayu berwarna
coklat itu untuk memberitahukan kedatangannya pada Kakek Arini. Setelah
mendapat perintah untuk masuk ia pun membuka pintu itu dan masuk. Sekretaris
Kim terlihat menunggunya di luar karena tidak ingin mengganggu pembicaraan
mereka.
“ Vico, bagaimana kabarnya ? Ada apa datang jauh-jauh ke
__ADS_1
sini ?” Tanya Kakek Arini terlihat duduk di sofa coklat miliknya. Dia pun
meletakkan buku yang tengah dia baca sambil menunggu Vico. Ruangan itu berisi
berbagai kepala hewan liar yang terpasang rapi di dinding. Meja kerja besar
berwarna hitam dengan kursi putar terlihat di tengah dekat dinding belakang
ruangan itu. Tembok rumah itu bercat warna abu-abu dengan lantai marmer
berwarna coklat membuat kesan sedikit suram di mana pencahayaan juga sangat
redup.
“ Halo Kakek, Vico baik-baik saja, Bagaimana kabar kakek
Vico harap juga dalam keadaan sehat.” Vico berjalan mendekati Kakek Arini lalu
memeluknya saat melihat kedua tangan pria yang sudah berusia lebih dari 70
tahun itu terbuka untuk menyambut cucu menantu pertamanya itu. Kakek Arini lalu
mempersilahkan Vico duduk di dekatnya.
“ Begini kek saya ingin bertanya sesuatu pada kakek, Apakah
kalung ini milik Arini ?” Tanya Vico langsung pada inti apa yang ingin dia tahu
selama ini itu. Dia mengeluarkan kalung itu dan menyerahkannya pada kakek
Arini. Terlihat ekspresi penasaran dari wajah Vico ingin mendengar jawaban dari
kakek Arini.
“Oh sebentar.” Kakek Vico menerima kalung yang Vico serahkan
itu. Dia lalu mengambil kaca mata yang sebelumnya ia pakai untuk membaca buku
tadi untuk melihat dengan jelas kalung yang Vico tanyakan itu. Terlihat kakek
Arini sangat serius memperhatikan kalung itu di setiap detailnya.
“ Vic ambilkan aku senter di dalam laci mejaku.” Perintah
kakek Vico ingin memastikan kalung itu karena memang mirip dengan kalung yang
pernah ia dan istrinya buatkan untuk cucu perempuannya itu. Vico yang mendengar
perintah kakek Arini segera melangkahkan kakinya menuju tempat yang disebutkan
kakek Arini. Dia mencari senter yang menurut kakek Arini berada di laci.
Setelah menemukan benda yang dimaksud dia kembali mendekati Kakek Arini dan
menyerahkannya.
Kakek Arini pun menerimanya dan melakukan hal yang sama yang
Arini pernah lakukan pada kalung yang dia miliki. Di langit-langit terlihat
huruf APP yang sama dengan huruf yang ada pada kalung Arini yang dia bawa
selama ini.
“ Kakek bagaimana apakah ini milik Arini ?” Tanya Vico
__ADS_1
sekali lagi karena kakek Arini tidak berucap sepatah kata pun dan masih
mengamati kalung itu.