My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Kakek Arini


__ADS_3

Hari Keberangkatan menemui Kakek Arini untuk mengkonfirmasi


masalah kalung yang tengah ada di tangannya pun tiba terlihat dia tengah duduk


di pesawat pribadi yang dia miliki dari grup Perusahaan miliknya dan temannya


Orlando Philip itu. Sekretaris pribadi yang selalu setia menemaninya sejak


kecil pun terlihat duduk tidak jauh darinya duduk. Vico terlihat memangku


leptop kesayangannya untuk mengecek semua pekerjaan kantornya dan melihat


laporan yang sudah dirangkum dan dikirim melalui email dari sekretaris Kim.


Vico sungguh tidak sabar ingin segera mengetahui kebenaran


dan membuktikan apakah benar gadis itu Arini atau bukan. Semua rencananya untuk


grup mafianya dengan Orlando sudah dia selesaikan pembicaraannya semalam dengan


berbagai pertimbangan. Vico memang seorang yang sangat ambisius selama ini,


itulah mengapa Perusahaannya dan kedua orang tuanya bisa berkembang dengan


pesat dan bahkan Grup mafia temannya Orlando yang sebelumnya hanya menguasai


sebuah kota bisa berkembang pesat dan menjadi Grup mafia nomor satu di Eropa


sampai sekarang dan bahkan memiliki usaha legal juga semua itu berkat tangan


dingin dan otak cerdas Vico bahkan Orlando yang seharusnya memimpin terasa


seperti di bawah Vico dan menjalankan semua perintah Vico selama ini.


Intuisi Vico dalam bidang bisnis memang sangat cemerlang.


Tapi sayang pencariannya pada gadis penolongnya di masa kecil itu sangat sulit


dia lacak dengan semua sumber informasi yang dia miliki selama ini. Orang yang


dulu mengantarnya dan Orlando pun juga tidak mau memberitahu hingga saat dia


dewasa dia tidak dapat menemui lagi orang tersebut.


Burung besi yang Vico kendarai pun tidak terasa sudah


mengantarkannya ke Negara yang terkenal dengan kincir anginnya itu. Suasana


yang sama yang pernah ia rasakan saat dia bersama dengan Arini seakan


menyambutnya dia Negara Kakek Arini itu. Terlihat beberapa orang yang


berpakaian resmi dengan jas dan dasi hitam lengkap dengan kaca mata hitam


mendatangi Vico dan sekretaris Kim untuk mengantar Vico ke kediaman Kakek Arini.


Sebenarnya mereka adalah anak buah grup mafianya yang bekerja di Belanda tetapi


semua orang itu hanya mengenal Orlando sebagai pimpinannya dan bekerja sesuai


perintah Orlando.


Nama Vico hanya diketahui oleh beberapa orang petinggi di


Grup Mafianya selain mereka anak buah tidak ada yang tahu karena memang Vico

__ADS_1


sangat menjaga namanya selama ini agar tidak terlihat oleh orang lain bahwa


dirinya juga bekerja di dalam Grup Mafia itu.


“ Selamat siang Tuan silakan ikuti saya.” Ucap Pria


berpakaian hitam itu lalu menuntun Vico dan sekretaris Kim menuju mobil Hitam


yang sudah mereka siapkan. Vico yang memang sudah terbiasa dengan hal itu pun


mengikuti orang-orang tersebut dan berjalan lalu masuk ke dalam mobil usai di


bukakan pintunya oleh para pengawalnya tersebut.


Perjalanan terasa sangat cepat hingga tidak terasa Vico


sudah sampai di sebuah rumah yang sangat megah dengan kebun bunga luas di


depannya itu dengan pagar tinggi mengelilinginya. Terlihat Gerbang besar


berwarna hitam menyambut Vico saat akan masuk keamanan mengkonfirmasi


kedatangan mereka pada kakek Arini usai mendapat ijin masuk mobil itu pun masuk


ke dalam halaman rumah tersebut. Rumah itu memang di jaga sangat ketat


bagaimana tidak itu merupakan keduaman orang nomor satu di negara itu dan


merupakan Grup mafia kedua terkuat di Eropa.


Vico yang merasa sangat tegang untuk bertemu dengan Kakek


wanita tercintanya itu terlihat menarik nafas dalam saat keluar dari mobil


hitam yang mengantarnya itu. Ia pun berjalan masuk dengan diikuti sekretaris


Vico.


“ Selamat datang Tuan Vico, Tuan Besar sudah menunggu di


ruangannya silakan ikuti saya.” Ucap pelayan lalu mengantarkan Vico dan


sekretaris Kim ke ruangan yang dia maksud. Karena memang Vico adalah bagian


keluarganya Kakek Arini tidak mempermasalahkan jika Vico memasuki ruangan


pribadinya, karena merasa jika Vico akan membicarakan hal yang serius karena


membuatnya datang jauh-jauh sampai ke sini.


“ Silakan Tuan, Tuan besar di dalam.” Pelayan itu


mempersilahkan Vico masuk ke ruangan itu lalu dia meninggalkan Vico dan


sekretaris Kim untuk kembali ke dapur. Vico lalu mengetuk pintu kayu berwarna


coklat itu untuk memberitahukan kedatangannya pada Kakek Arini. Setelah


mendapat perintah untuk masuk ia pun membuka pintu itu dan masuk. Sekretaris


Kim terlihat menunggunya di luar karena tidak ingin mengganggu pembicaraan


mereka.


“ Vico, bagaimana kabarnya ? Ada apa datang jauh-jauh ke

__ADS_1


sini ?” Tanya Kakek Arini terlihat duduk di sofa coklat miliknya. Dia pun


meletakkan buku yang tengah dia baca sambil menunggu Vico. Ruangan itu berisi


berbagai kepala hewan liar yang terpasang rapi di dinding. Meja kerja besar


berwarna hitam dengan kursi putar terlihat di tengah dekat dinding belakang


ruangan itu. Tembok rumah itu bercat warna abu-abu dengan lantai marmer


berwarna coklat membuat kesan sedikit suram di mana pencahayaan juga sangat


redup.


“ Halo Kakek, Vico baik-baik saja, Bagaimana kabar kakek


Vico harap juga dalam keadaan sehat.” Vico berjalan mendekati Kakek Arini lalu


memeluknya saat melihat kedua tangan pria yang sudah berusia lebih dari 70


tahun itu terbuka untuk menyambut cucu menantu pertamanya itu. Kakek Arini lalu


mempersilahkan Vico duduk di dekatnya.


“ Begini kek saya ingin bertanya sesuatu pada kakek, Apakah


kalung ini milik Arini ?” Tanya Vico langsung pada inti apa yang ingin dia tahu


selama ini itu. Dia mengeluarkan kalung itu dan menyerahkannya pada kakek


Arini. Terlihat ekspresi penasaran dari wajah Vico ingin mendengar jawaban dari


kakek Arini.


“Oh sebentar.” Kakek Vico menerima kalung yang Vico serahkan


itu. Dia lalu mengambil kaca mata yang sebelumnya ia pakai untuk membaca buku


tadi untuk melihat dengan jelas kalung yang Vico tanyakan itu. Terlihat kakek


Arini sangat serius memperhatikan kalung itu di setiap detailnya.


“ Vic ambilkan aku senter di dalam laci mejaku.” Perintah


kakek Vico ingin memastikan kalung itu karena memang mirip dengan kalung yang


pernah ia dan istrinya buatkan untuk cucu perempuannya itu. Vico yang mendengar


perintah kakek Arini segera melangkahkan kakinya menuju tempat yang disebutkan


kakek Arini. Dia mencari senter yang menurut kakek Arini berada di laci.


Setelah menemukan benda yang dimaksud dia kembali mendekati Kakek Arini dan


menyerahkannya.


Kakek Arini pun menerimanya dan melakukan hal yang sama yang


Arini pernah lakukan pada kalung yang dia miliki. Di langit-langit terlihat


huruf APP yang sama dengan huruf yang ada pada kalung Arini yang dia bawa


selama ini.


“ Kakek bagaimana apakah ini milik Arini ?” Tanya Vico

__ADS_1


sekali lagi karena kakek Arini tidak berucap sepatah kata pun dan masih


mengamati kalung itu.


__ADS_2