
“ Hei kenapa menangis ? Iya aku menyiapkan semua ini, apa
kamu tidak suka ?” Ucap Vico lalu mendekati Arini dan mengusap air mata Arini dia terlihat
takut jika Arini tidak menyukai kejutannya tersebut.
“ Aku sangat menyukainya, Terima kasih.” Ucap Arini lalu
berjinjit mengecup bibir Vico yang terlihat kebingungan dengan ekspresi sedih
yang Arini tunjukan itu.
Merasa Arini bahagia sampai mengecupnya, membuat Vico tidak
menyia-nyiakan hal itu.
Vico lalu membalas kecupan Arini dengan perasaan yang
membara pada seluruh tubuhnya. Arini pun juga merasakan gairah yang tersalur
dari ciuman yang sangat rakus dari suaminya tersebut.
Vico masih menikmati bibir merah Arini tapi tangannya sudah
berusaha menyentuh semua bagian sensitif yang di miliki istrinya tersebut,
karena perasaan yang selama ini terpendam membuatnya benar-benar bagaikan
memiliki keinginan untuk memadu kasih dengan istri yang sudah dia nikahi selama
4 bulan itu.
Vico melepaskan semua pakaian dari tubuh Arini pelan-pelan
walaupun dia ingin segera melakukannya tapi karena dia tidak ingin menyakiti
Arini dia tetap bersabar melepaskannya. Terlihat Arini yang masih berdiri
dengan tubuh polosnya. Vico lalu berganti melepaskan semua pakaiannya.
Vico menjatuhkan tubuhnya dan Arini di atas ranjang yang
masih bertaburan kelopak mawar itu tanpa melepaskan ciumannya pada Arini. Tidak
ada penolakan dari Arini dengan apa yang dilakukan Vico hingga Vico melepaskan
ciumannya tersebut.
“ Apakah aku boleh ?” Tanya Vico yang masih memandang Arini
lekat karena dia tidak ingin memaksa Arini dengan keinginannya tersebut. Hanya
anggukan dan senyuman yang Arini berikan tanda dia setuju dengan tindakan Vico
itu.
Merasa mendapat lampu hijau dari Arini, Vico kembali mencium
rakus mulut Arini yang terlihat sangat merah karena ciuman sebelumnya, lidah
mereka saling beradu, walaupun terlihat Arini masih kaku tapi dia mencoba
mengimbangi perlakuan Vico tersebut.
Ciuman berpindah ke leher Arini, Vico mencium dan mengisap
leher Arini dan turun ke bawah mencium dan meninggalkan tanda merah di tubuh
Arini yang terlihat putih bagaikan susu itu.
Desiran, getaran dan decitan dari ranjang yang menjadi saksi
bisu kedua insan manusia yang memadu kasih itu.
Vico yang sudah menyelesaikan malam pertama yang tertunda
hingga 4 bulan itu terkulai lemas di atas tubuh Arini yang polos.
“ Terima kasih.” Ucap Vico membisikkan pada telinga Arini
mengecup puncak kepalanya dan mereka lalu tidur dengan saling berpelukan dan
__ADS_1
masih dalam keadaan belum memakai sehelai benang pun dan hanya menutupinya
dengan selimut.
Surya bersinar cerah pagi itu, seperti kebahagiaan dua insan
yang masih tertidur pulas karena kelelahan dengan gelora cinta yang saling
tersalur satu sama lain semalam.
Karena silau Arini terlihat membuka kedua matanya dan
mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk. Arini terlihat kaget
karena hari sudah menunjukkan pukul 07.00 dia tidak melaksanakan ibadah
subuhnya karena kesiangan.
Tangan Vico masih mendekap tubuhnya erat dia memindahkan
tangan Vico pelan agar tidak membangunkan suaminya tersebut.
Arini lalu menuju kamar mandi karena ini merupakan
pengalaman pertamanya terasa miliknya sangat perih ketika dia membenamkan
tubuhnya di bak mandi yang sudah terisi air hangat dan banyak kelopak mawar
itu.
“ Ahhhh sakit” Desis Arini yang merasakan perih pada miliknya
itu.
Vico terlihat juga mulai membuka matanya dan meregangkan
tubuhnya yang terasa lelah akan aktivitasnya tadi malam. Vico lalu mencari
Arini yang tidak ada di sampingnya, dia membuka selimutnya dan akan berdiri
meninggalkan ranjangnya, terlihat bercak darah di seprai tersebut menandakan
keperawanan Arini yang ia tembus tadi malam.
dalamnya.
“ Ahhhhhhhh, apa yang kamu lakukan ?” Teriak Arini saat
melihat Vico berdiri di depannya polos.
“ Aku mencarimu, aku mau mandi juga, kita mandi bersama
ya ?” Ucap Vico lalu mendekat pada bak mandi yang Arini tempati.
“ Tidak kamu mandi nanti setelah aku selesai, jangan
mendekat.” Ucap Arini yang menutup dadanya dengan kedua tangan menyilang.
“ Baiklah aku akan menunggumu sampai selesai.” Ucap Vico
yang melihat itu lalu pergi meninggalkan Arini karena tidak ingin membuat Arini
marah.
“ Hah.” Helaan kasar Arini lepaskan. “ Walaupun aku sudah
melakukannya tapi entah kenapa aku masih risih jika melihatnya bertelanjang
seperti itu.” Ucap Arini sambil membersihkan dirinya.
“ Dunia memang tidak pernah ada yang bisa menebak jalan
ceritanya, semua hal yang sulit yang telah aku lewati selama ini hingga aku
mulai menjauhi seorang pria karena terlalu takut kejadian hal yang menyakitkan
itu terjadi lagi, dia pria yang aku kira sangat aneh pelan-pelan mendekatiku
dengan status sebagai suami mulai membuka hatiku dan mengikis semua kenangan
kelam dan sangat bersabar memperlakukan aku, selalu mencoba tidak menyentuhku
__ADS_1
sampai hari ini, aku pun yang takut mulai memberanikan diri menjalankan tugasku
melayaninya dengan jiwa dan ragaku dan akhirnya aku bisa melakukan kewajibanku
sebagai seorang istri malam ini, Apakah dia akan menginginkan kembali entahlah
aku akan berusaha tetap menerimanya .” Arini bergumam sambil tersenyum
mengingat semua kenangan selama 4 bulan bersama dengan suami yang dijodohkan
oleh kedua orang tuanya tersebut.
Arini yang sudah selesai mandi hanya menggunakan Kimono dan handuk
kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
“ Mandilah, aku sudah selesai.” Ucap Arini menghampiri Vico
yang duduk di sofa sudah menggunakan celana pendek.
Vico lalu berdiri dan masuk ke kamar mandi untuk
membersihkan dirinya yang terasa lengket karena keringat.
“ Akhirnya Arini menerimaku, rasanya sungguh menyenangkan
melakukan itu dengannya, tubuhku merasakan sensasi yang tidak terlupakan,
sampai sekarang bahkan aku masih berdebar-debar setiap memandang Arini.” Ucap
Vico di depan cermin sambil mengingat pengalaman pertamanya dengan wanita yang
juga istrinya itu.
Vico lalu menyalakan shower, dia cukup lama menyiram kepala
hingga tubuhnya itu untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya yang masih terasa
panas timbul keinginan melakukannya lagi saat melihat Arini yang ada di bak
mandi tadi, tapi Vico tetap berusaha menahan keinginannya tersebut.
Vico selesai mandi dan sudah memakai pakaian rapi untuk
berangkat ke kantor.
Terlihat Arini sudah menunggunya di meja makan, makanan
sudah di hidangkan, karena Arini sudah meminta pelayan menyiapkannya saat Vico
mandi tadi.
Mereka menyantap sarapan itu dengan lahap mengisi energi
yang terkuras untuk menjalankan pekerjaannya masing-masing hari ini.
“ Sekretaris Kim tidak menjemputmu ?” Tanya Arini setelah
menyelesaikan makannya.
“ Tidak, aku menyuruhkan langsung ke kantor hari ini, ayo
kita berangkat aku akan mengantarkanmu ke kantor dulu .” Ucap Vico yang bangkit
dari duduknya lalu menggandeng istrinya pergi meninggalkan penthouse miliknya
itu.
Mereka melewati Lobby Hotel itu, terlihat beberapa orang
karyawan yang melihat Vico yang bergandengan dengan Arini sangat iri karena memang
ini pertama kalinya Vico membawa gadis ke Hotelnya dan bermalam bersama.
Kalau kalian kecewa dengan penggambaran malam pertama ini
Happy mohon maaf sekali...
Happy berkali-kali bingung untuk menentukan episode ini
karena jika terlalu vulgar sangat bertentangan dengan perasaan Happy
__ADS_1
Happy Reading ya
Thank You dukungannya selama ini....