
“ Tapi mah besok Arini dan Vico masih bekerja, bahkan kami
tidak membawa pakaian untuk besok, lain kali bagaimana ?” Ucap Arini yang
memang niatnya untuk sekedar berkunjung karena merindukan orang tuanya.
“ Yah. Pah putrimu sekarang tidak menyayangi kita.” Manja
mamah Arini pada suaminya.
“ Kita akan menginap mah Pah. Nanti biar Kim mengantarkan
pakaian dan keperluanmu Ar ” Ucap Vico yang merasa tidak enak dengan mertuanya
tersebut.
“ Ah anak mamah laki-laki memang pengertian, Oh kalian lekaslah
mandi kamu ambilkan pakaian Putra untuk suamimu dan nanti turun untuk makan
malam ya, lekas ibadah juga.” Ucap mamah Arini yang sejak menikah dengan Papah
Arini memeluk agama yang sama dengan suaminya dan taat beribadah.
“ Iya mah siap, mah pah Arini ke atas dulu ya.” Pamit Arini
pada kedua orang tuannya yang terlihat selalu rukun itu. Arini lalu menggandeng
Vico untuk pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, tak lupa ia pergi ke
kamar putra mencari pakaian yang sekiranya muat untuk tubuh kekar suaminya itu.
Vico yang pertama kali memasuki kamar istrinya itu melihat
sekeliling. Perabotan ala perempuan tertata rapi di dalam kamar yang luas dan
bernuansa Pink dan biru itu. Banyak penghargaan dan medali milik Arini
terpajang, foto-foto Arini saat remaja juga terpajang pada dinding kamar Arini.
Ranjang Putih luas terlihat bersih, rapi dan terawat.
Arini cukup bingung untuk memilih pakaian yang cocok untuk
Vico mengingat tubuh kakaknya berbeda dengan tubuh Vico yang lebih besar itu.
Arini mencari pakaian yang biasa kakaknya gunakan untuk Olahraga biasanya
selalu terlihat kebesaran itu. Arini akhirnya mendapat apa yang dia inginkan
Jaket hoodi Hitam dan celana santai pendek warna abu-abu. Dia lalu mengirim
pesan pada kakaknya untuk meminjam pakaian itu untuk Vico.
Usai memilih baju ia pun kembali pada kamar miliknya.
Terlihat Vico duduk di sofa kamar Arini menunggu istrinya sambil melihat
sekeliling kamar Arini. Arini yang masuk lalu menyerahkan pakaian yang ada di
tangannya dan menyuruh Vico segera mandi.
Arini pun duduk di sofa miliknya setelah mengambil benda
pipih sebagai alat komunikasi itu. Arini terlihat menghubungi Kakaknya berharap
Kakaknya segera pulang sehingga tidak melewatkan makan malam bersama karena
kehadirannya di rumah.
Tut tut tut
“ Iya Ar ada apa ?” Putra terlihat masih sibuk membaca
berbagai tumpukan laporan dan persetujuan untuk di tandatangani.
__ADS_1
“ Kak segera pulang untuk makan malam ya, Arini di rumah
sama Vico.” Ucap Arini yang sangat ingin makan malam keluarga lengkap dengan
kakak tersayangnya itu.
“ Oke aku beresin kerjaan dulu dan segera pulang.” Jawab
Putra terlihat senang adiknya pulang ke rumah. Setelah mendapat jawaban Arini
yang senang panggilan tersebut pun terputus. Putra segera menutup map dan
mengakhiri pekerjaannya untuk segera pulang.
Terlihat kantor Putra masih cukup ramai walau waktu mulai
beranjak malam karena mereka masih lembur untuk menyelesaikan pekerjaan akhir
bulan itu. Putra segera menancap gas cukup kencang agar kendaraan yang
membawanya segera sampai ke kediamannya. Waktu yang memasuki waktu sholat Isya’
itu terasa mulai berkurang kepadatan kendaraan karena banyak yang menepi untuk
melakukan ibadah.
Tidak terasa mobil milik Putra sudah memasuki gerbang rumah
megah milik keluarganya. Putra segera memasuki rumah dan menuju kamarnya. Ia
segera membersihkan diri dan berjalan ke bawah untuk menunggu waktu makan malam
di ruang keluarga. Terlihat kedua orang tua Putra juga tengah mengobrol di
sana.
“ Putra Arini sekarang sudah menikah, dia terlihat bahagia
kamu kapan ? teman-teman mamah sudah pada punya cucu, kamu jangankan istri
pernah membicarakan hal itu dan menyerahkan segala jodoh pada anak-anak mereka
tanpa melakukan perjodohan dengan rekan kerja mereka mengingat pengalaman
mereka yang menikah dari pilihan masing-masing tanpa ada tekanan dari kedua
orang tua mereka.
“ Mah Putra masih belum memikirkan itu, Putra masih muda
masih banyak hal yang ingin Putra capai.” Ucap Putra mencoba menjawab tekanan
mamahnya tersebut dengan sopan walau ada sedikit kekesalan dari dalam hatinya.
“ Putra apalagi yang ingin kamu capai, kita sudah memiliki
banyak hal, kamu perlu ada pendamping cobalah untuk membuka diri pada
perempuan, Papah lihat kamu hanya selalu dingin pada setiap wanita yang
mendekatimu, banyak rekan Papah sebenarnya ingin menjodohkan putri mereka
denganmu, tapi mengingat sifatmu papah selalu menolak.” Ucap Papah Putra ikut
menimpali dan berharap Putra semata wayangnya itu juga bisa segera menikah.
“ Iya Pah, Putra coba pikirkan lagi nanti.” Jawab Putra
sambil terlihat memakan kue yang sebelumnya dibawakan Arini yang kini sudah
terpotong dan tersaji di meja ruang keluarga itu.
Terlihat Arini dan Vico turun dari lantai atas dan berjalan
ke ruang keluarga untuk menyapa orang-orang terkasihnya. Mamah Arini segera
__ADS_1
mengajak semua anggota keluarganya itu ke ruang makan mengingat sudah waktu
makan malam.
Mereka semua pun kini sudah terduduk di kursi masing-masing
dan memulai mengambil makanan yang ingin mereka makan. Arini seperti biasa
mengambilkan makanan untuk Vico. Mamah Arini terlihat tersenyum melihat anak
perempuan kesayangannya sudah memiliki pendamping dan terlihat harmonis dengan
Vico.
Terlihat Vico melihat ke anggota keluarga lainnya. Karena masih
merasa canggung dan sesuai pemberitahuan dan kebiasaan Arini memang tidak ada
sama sekali pembicaraan saat makan. Makan malam itu di pimpin doa dari Putra
terlihat dia hikmat membaca doa sebelum makan. Vico yang menatap Putra berdoa
sedikit kagum karena Putra yang terkenal sadis dan memiliki sifat sepertinya
itu juga bersikap hangat jika berada di tengah keluarganya.
Usai doa semua menikmati makanan masing-masing tanpa
berbicara hanya suara sendok dan garpu yang bersentuhan saja yang terdengar. Usai
acara makan malam itu seperti biasa mereka kembali ke ruang keluarga untuk
saling ngobrol sebelum waktu istirahat.
“ Ar apakah sudah ada kabar bahagia untuk mamah dan papah ?”
Tanya mamah Arini yang sangat menginginkan segera memiliki cucu dari pernikahan
pertama anaknya tersebut.
“ Masih belum mah, doakan saja.” Ucap Arini sambil tersenyum
dan bermanja pada ibu cantiknya itu.
“ Aduh mamah ingin segera menimang cucu, kalian sudah
bekerja keras kan untuk melakukannya ? jangan sampai karena kalian kelelahan
dan sibuk bekerja sehingga menundanya ya. Benar kan Pah ?” Ibunya Arini
terlihat sangat bersemangat dalam hal keinginannya agar Arini segera hamil itu.
Papah Arini terlihat hanya mengangguk mendengar pertanyaan
istrinya tersebut. Sedangkan Vico sedikit tersenyum canggung mendengar
pertanyaan mamah Arini tersebut. Sedangkan Arini hanya terlihat tersenyum
mendengar ucapan mamahnya itu.
“ Mamah tenang saja, Arini dan Vico masih baru beberapa
bulan menikah dan kami masih saling mengenal satu sama lain, jika ada kabar
baik Arini janji mamah dan papah akan Arini kabari ya” Ucap Arini sambil
menggenggam tangan mamahnya itu.
“ Baiklah, mamah percaya kalian saja.” Mamah Arini akhirnya
mengalah dengan ucapan Arini tersebut. Mereka pun saling membicarakan banyak
hal hingga waktu tidak terasa sudah menunjukkan waktu untuk istirahat semua
orang terlihat kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
__ADS_1