My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Menginap


__ADS_3

“ Tapi mah besok Arini dan Vico masih bekerja, bahkan kami


tidak membawa pakaian untuk besok, lain kali bagaimana ?” Ucap Arini yang


memang niatnya untuk sekedar berkunjung karena merindukan orang tuanya.


“ Yah. Pah putrimu sekarang tidak menyayangi kita.” Manja


mamah Arini pada suaminya.


“ Kita akan menginap mah Pah. Nanti biar Kim mengantarkan


pakaian dan keperluanmu Ar ” Ucap Vico yang merasa tidak enak dengan mertuanya


tersebut.


“ Ah anak mamah laki-laki memang pengertian, Oh kalian lekaslah


mandi kamu ambilkan pakaian Putra untuk suamimu dan nanti turun untuk makan


malam ya, lekas ibadah juga.” Ucap mamah Arini yang sejak menikah dengan Papah


Arini memeluk agama yang sama dengan suaminya dan taat beribadah.


“ Iya mah siap, mah pah Arini ke atas dulu ya.” Pamit Arini


pada kedua orang tuannya yang terlihat selalu rukun itu. Arini lalu menggandeng


Vico untuk pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, tak lupa ia pergi ke


kamar putra mencari pakaian yang sekiranya muat untuk tubuh kekar suaminya itu.


Vico yang pertama kali memasuki kamar istrinya itu melihat


sekeliling. Perabotan ala perempuan tertata rapi di dalam kamar yang luas dan


bernuansa Pink dan biru itu. Banyak penghargaan dan medali milik Arini


terpajang, foto-foto Arini saat remaja juga terpajang pada dinding kamar Arini.


Ranjang Putih luas terlihat bersih, rapi dan terawat.


Arini cukup bingung untuk memilih pakaian yang cocok untuk


Vico mengingat tubuh kakaknya berbeda dengan tubuh Vico yang lebih besar itu.


Arini mencari pakaian yang biasa kakaknya gunakan untuk Olahraga biasanya


selalu terlihat kebesaran itu. Arini akhirnya mendapat apa yang dia inginkan


Jaket hoodi Hitam dan celana santai pendek warna abu-abu. Dia lalu mengirim


pesan pada kakaknya untuk meminjam pakaian itu untuk Vico.


Usai memilih baju ia pun kembali pada kamar miliknya.


Terlihat Vico duduk di sofa kamar Arini menunggu istrinya sambil melihat


sekeliling kamar Arini. Arini yang masuk lalu menyerahkan pakaian yang ada di


tangannya dan menyuruh Vico segera mandi.


Arini pun duduk di sofa miliknya setelah mengambil benda


pipih sebagai alat komunikasi itu. Arini terlihat menghubungi Kakaknya berharap


Kakaknya segera pulang sehingga tidak melewatkan makan malam bersama karena


kehadirannya di rumah.


Tut tut tut


“ Iya Ar ada apa ?” Putra terlihat masih sibuk membaca


berbagai tumpukan laporan dan persetujuan untuk di tandatangani.

__ADS_1


“ Kak segera pulang untuk makan malam ya, Arini di rumah


sama Vico.” Ucap Arini yang sangat ingin makan malam keluarga lengkap dengan


kakak tersayangnya itu.


“ Oke aku beresin kerjaan dulu dan segera pulang.” Jawab


Putra terlihat senang adiknya pulang ke rumah. Setelah mendapat jawaban Arini


yang senang panggilan tersebut pun terputus. Putra segera menutup map dan


mengakhiri pekerjaannya untuk segera pulang.


Terlihat kantor Putra masih cukup ramai walau waktu mulai


beranjak malam karena mereka masih lembur untuk menyelesaikan pekerjaan akhir


bulan itu. Putra segera menancap gas cukup kencang agar kendaraan yang


membawanya segera sampai ke kediamannya. Waktu yang memasuki waktu sholat Isya’


itu terasa mulai berkurang kepadatan kendaraan karena banyak yang menepi untuk


melakukan ibadah.


Tidak terasa mobil milik Putra sudah memasuki gerbang rumah


megah milik keluarganya. Putra segera memasuki rumah dan menuju kamarnya. Ia


segera membersihkan diri dan berjalan ke bawah untuk menunggu waktu makan malam


di ruang keluarga. Terlihat kedua orang tua Putra juga tengah mengobrol di


sana.


“ Putra Arini sekarang sudah menikah, dia terlihat bahagia


kamu kapan ? teman-teman mamah sudah pada punya cucu, kamu jangankan istri


pernah membicarakan hal itu dan menyerahkan segala jodoh pada anak-anak mereka


tanpa melakukan perjodohan dengan rekan kerja mereka mengingat pengalaman


mereka yang menikah dari pilihan masing-masing tanpa ada tekanan dari kedua


orang tua mereka.


“ Mah Putra masih belum memikirkan itu, Putra masih muda


masih banyak hal yang ingin Putra capai.” Ucap Putra mencoba menjawab tekanan


mamahnya tersebut dengan sopan walau ada sedikit kekesalan dari dalam hatinya.


“ Putra apalagi yang ingin kamu capai, kita sudah memiliki


banyak hal, kamu perlu ada pendamping cobalah untuk membuka diri pada


perempuan, Papah lihat kamu hanya selalu dingin pada setiap wanita yang


mendekatimu, banyak rekan Papah sebenarnya ingin menjodohkan putri mereka


denganmu, tapi mengingat sifatmu papah selalu menolak.” Ucap Papah Putra ikut


menimpali dan berharap Putra semata wayangnya itu juga bisa segera menikah.


“ Iya Pah, Putra coba pikirkan lagi nanti.” Jawab Putra


sambil terlihat memakan kue yang sebelumnya dibawakan Arini yang kini sudah


terpotong dan tersaji di meja ruang keluarga itu.


Terlihat Arini dan Vico turun dari lantai atas dan berjalan


ke ruang keluarga untuk menyapa orang-orang terkasihnya. Mamah Arini segera

__ADS_1


mengajak semua anggota keluarganya itu ke ruang makan mengingat sudah waktu


makan malam.


Mereka semua pun kini sudah terduduk di kursi masing-masing


dan memulai mengambil makanan yang ingin mereka makan. Arini seperti biasa


mengambilkan makanan untuk Vico. Mamah Arini terlihat tersenyum melihat anak


perempuan kesayangannya sudah memiliki pendamping dan terlihat harmonis dengan


Vico.


Terlihat Vico melihat ke anggota keluarga lainnya. Karena masih


merasa canggung dan sesuai pemberitahuan dan kebiasaan Arini memang tidak ada


sama sekali pembicaraan saat makan. Makan malam itu di pimpin doa dari Putra


terlihat dia hikmat membaca doa sebelum makan. Vico yang menatap Putra berdoa


sedikit kagum karena Putra yang terkenal sadis dan memiliki sifat sepertinya


itu juga bersikap hangat jika berada di tengah keluarganya.


Usai doa semua menikmati makanan masing-masing tanpa


berbicara hanya suara sendok dan garpu yang bersentuhan saja yang terdengar. Usai


acara makan malam itu seperti biasa mereka kembali ke ruang keluarga untuk


saling ngobrol sebelum waktu istirahat.


“ Ar apakah sudah ada kabar bahagia untuk mamah dan papah ?”


Tanya mamah Arini yang sangat menginginkan segera memiliki cucu dari pernikahan


pertama anaknya tersebut.


“ Masih belum mah, doakan saja.” Ucap Arini sambil tersenyum


dan bermanja pada ibu cantiknya itu.


“ Aduh mamah ingin segera menimang cucu, kalian sudah


bekerja keras kan untuk melakukannya ? jangan sampai karena kalian kelelahan


dan sibuk bekerja sehingga menundanya ya. Benar kan Pah ?” Ibunya Arini


terlihat sangat bersemangat dalam hal keinginannya agar Arini segera hamil itu.


Papah Arini terlihat hanya mengangguk mendengar pertanyaan


istrinya tersebut. Sedangkan Vico sedikit tersenyum canggung mendengar


pertanyaan mamah Arini tersebut. Sedangkan Arini hanya terlihat tersenyum


mendengar ucapan mamahnya itu.


“ Mamah tenang saja, Arini dan Vico masih baru beberapa


bulan menikah dan kami masih saling mengenal satu sama lain, jika ada kabar


baik Arini janji mamah dan papah akan Arini kabari ya” Ucap Arini sambil


menggenggam tangan mamahnya itu.


“ Baiklah, mamah percaya kalian saja.” Mamah Arini akhirnya


mengalah dengan ucapan Arini tersebut. Mereka pun saling membicarakan banyak


hal hingga waktu tidak terasa sudah menunjukkan waktu untuk istirahat semua


orang terlihat kembali ke kamarnya masing-masing untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2