
“ Vic bisa aku bertanya ?” Arini dengan menimbang berbagai
hal memutuskan bertanya pada Vico karena seperti sebelumnya dia tidak ingin
mengetahui kebenaran alasan seseorang ingin menculiknya karena mungkin mengira
itu perbuatan Valdo karena sebelumnya dia bertemu dengan Valdo.
“ Tentu, tanyakan saja .” Jawab Vico sambil meletakkan gelas
yang tengah iya pegang setelah isinya terminum Arini setelah makannya, dengan
wajah tenang Vico memegang kedua tangan Arini.
“ Apakah sebelumnya itu juga Pamanmu yang melakukannya ?”
Tanya Arini karena mendengar pembicaraan Paman Vico dan Zack saat di luar
ruangannya disekap. Walaupun Arini mengetahui penyebabnya adalah perebutan
harta tapi dia merasa ada yang aneh karena bisa setega itu sampai membunuh
keponakannya sendiri.
“ Mmmm, Tapi tenang saja ini adalah yang terakhir aku
jamin.” Jawab Vico mantap sambil menatap manik mata kecoklatan milik istrinya
tercinta dan mengeratkan genggamannya pada kedua tangan Arini. Sirat keseriusan
dan kedua mata Vico membuat Arini tersenyum agar suaminya itu tenang.
“ Kenapa dia begitu tega padamu Vic ?” Arini masih penasaran
dengan alasan yang masih mengganggu pikirannya itu, sambil menatap Vico ada
sedikit dendam membara kala Vico menjawab pertanyaan Arini tadi.
Apakah ini waktu yang tepat untukku menceritakan semuanya
? Batin Vico menimbang keputusan menceritakan semua pada Arini.
“ Entahlah Ar, alasannya selalu karena harta kakekku.
Walaupun aku selalu mengalah sebelumnya dan tidak peduli bahkan memberikan
kesempatan dia berubah tapi Paman tetap melakukan itu padaku sejak dulu.” Jawab
Vico ada siratan kepahitan masa lalu dari wajah tampannya. Dia masih berusaha
mencoba menyembunyikan pengalaman masa kecilnya pada Arini menurutnya ini masih
bukan waktu yang tepat.
“ Sejak dulu maksudmu ?” Tanya Arini karena mungkin masih
ada hal lain yang mungkin lebih parah dari yang dia alami melihat kedua mata
Vico dan perubahan ekspresi yang telah Vico tunjukan. Kepahitan, kesedihan dan
dendam terlihat dari kedua mata coklat milik Vico.
Flash Back
Vico kecil terlihat sedang menghadiri acara penjamuan makan
keluarga di Rumah besar keluarga Mayer keluarga dari Ibunya. Terlihat pesta
sangat mewah dan di hadiri banyak orang yang merupakan relasi kerja dan
berbagai orang penting dari Kakek Vico. Terlihat Kakek Vico Ardinal Mayer masih
terlihat sehat walau usianya sudah lanjut tidak seperti sekarang dia sudah
terbaring lemah di atas kasur saja.
Ardinal Mayer memiliki dua keturunan yaitu Fernando Mayer
paman Vico, dan Anggi Mayer ibu Vico saat ini dan setelah menikah dengan Marco
__ADS_1
Marleno ayah Vico mengubah namanya mengikuti nama suaminya. Terlihat Vico kecil
juga sangat tampan, lucu dan menawan kecerdasannya sudah terlihat dari
perbincangannya dengan teman-temannya mengenai pasar saham.
Vico yang masih berusia 8 tahun kala itu memakai setelan
formal khusus anak dengan jas berwarna hitam terlihat berjalan ke arah kamar
mandi meninggalkan teman-teman sebayanya dan keramaian yang ada. Vico kecil
yang masih belum mengenal keserakahan Pamannya karena memang jarangnya bertemu
karena memang tinggal di Indonesia bersama orang tuannya dihampiri Fernando.
“ Vic apakah kamu ingin ke kamar mandi ?” Tanya Fernando
yang berpapasan di lorong menuju kamar mandi. Fernando terlihat masih cukup
tampan kala itu dengan setelan jas berwarna biru.
“ Iya Paman.” Jawab Vico sopan karena memang yang bertanya
adalah pamannya yang memiliki umur lebih tua darinya. Setelah menjawab hal itu
Vico tetap berjalan menuju kamar mandi yang menjadi tujuannya.
Senyum tipis Fernando ulas dari wajah tampannya dan memberi
kode kepada seorang pria yang tengah dia temui mengikuti Vico kecil. Pakaian
serba hitam dan bertopi membuatnya sulit dikenali, Lorong dan kamar mandi kala
itu terlihat sepi entah karena memang tidak ada yang ingin ke sana atau sengaja
dibuat sepi dialihkan ke kamar mandi lain.
Vico yang terbiasa mandiri itu terlihat sudah menyelesaikan
urusannya dan berdiri di depan wastafel untuk mencuci tangannya. Pria bertubuh
memang kalah tenaga karena tubuhnya yang masih kecil dan penculikan itu
terlihat sangat mudah.
Vico yang pingsan di bawa melalui pintu belakang dan di bawa
ke Belanda oleh Pamannya. Terlihat bangunan tua yang usang di tengah hutan
menjadi tempat Vico di sekap saat dia masih kecil itu. Di sana terlihat pula
seorang anak laki-laki yang seusianya juga tengah di sekap seruangan dengannya
kala mata mungilnya mulai membuka mata.
Anak laki-laki berambut pirang dan panjang itu terlihat
masih menutup mata dengan kedua tangan dan kaki terikat dan mulut tersumpal.
Vico pun memiliki nasib yang sama di mana indra geraknya terikat dengan tali dan
mulutnya terlakban.
Sebuah ruangan gelap dan lembab dengan jendela kecil yang
bertralis besi terlihat di dekat Vico. Bangku-bangku kayu terlihat usang
berserakan dengan debu bertebaran. Vico yang sudah mulai bisa bergerak mencoba
melepaskan diri.
Pesta yang semula meriah berubah menjadi kepanikan karena
Vico tidak bisa ditemukan kala itu. Pencarian dilakukan di seluruh bagian rumah
tanpa terlewat sedikit pun tapi sosok Vico kecil tidak ditemukan.
“ Pah Vico di mana ?” Tanya mamah Vico terlihat sangat
__ADS_1
kawatir dengan keberadaan putra tunggal kesayangannya itu. Terlihat dia
menangis dan terisak di sofa ruang tamu menunggu kabar dari orang-orang yang
dikerahkan kakek Vico kala itu. Kakek Vico yang memang baru memiliki cucu
pertama itu juga terlihat sangat kawatir.
“ Mah, tenang ya Vico pasti ketemu.” Ucap Papah Vico yang
sebenarnya tak kalah kawatir dengan sang istri tapi mencoba berusaha setenang
mungkin menenangkan istrinya. Ibu jarinya mengusap air mata istrinya dan
memeluknya agar tenang.
Paman Vico yang menjadi dalang dari semua itu terlihat hanya
diam dan berakting panik tapi tersenyum tipis karena mendapat laporan dari anak
buahnya jika Vico sudah berada di Belanda.
Paman Vico memang sangat serakah, dia sebenarnya sudah
menduduki Perusahaan ayahnya tersebut tapi pemegang saham utama malah di
serahkan pada adik perempuannya yaitu mamahnya Vico. Merasa ingin memiliki
semua milik ayahnya itulah membuatnya tega pada Vico kecil selain itu dia juga
mendapat bantuan dari seseorang yang tiba-tiba menelponnya dan mengajaknya
bekerja sama untuk melancarkan rencananya tersebut.
Fernando yang sudah dibutakan dengan harta tidak peduli
dengan siapa yang mengajaknya kerja sama itu bahkan menanyakan alasannya
membantunya sekarang. Dua hari berlalu Vico masih belum juga ditemukan. Banyak orang
dikerahkan dan juga jajaran kepolisian untuk mencari keberadaan cucu orang
terkaya nomor 1 di Jerman kala itu tapi masih saja belum ditemukan.
Vico kecil yang di sekap hanya diberi makan seadanya oleh
penculik yang tengah menyekapnya. Orlando Philiph merupakan anak kecil yang
tengah disekapnya dengannya kala itu. Tidak ada komunikasi dari keduanya karena
memang mulut mereka di sumpal dan jika pun makan mereka akan disuapi
bergantian.
Saat Penjaga pergi meninggalkan keduanya Vico kecil berusaha
melepaskan diri lagi tapi tetap sia-sia seperti sebelumnya. Vico pun memiliki
ide untuk membantu Orlando dahulu dan kemudian memintanya melepaskannya.
Keduanya pun saling berdekatan.
Melepas sumpalan mulut Orlando merupakan hal pertama yang
dia lakukan di mana dia dan Orlando terlihat terbaring di tanah. Orlando dan
Vico yang sebelumnya berkomunikasi dengan kode dan deheman kali ini mereka sudah
dapat saling berbicara dengan bahasa Inggris yang memang mereka sudah kuasai.
Orlando berusaha melepaskan ikatan tangan Vico menggunakan
tangannya yang terikat dan kadang gigi kecilnya. Akhirnya ikatan kuat ditangan
Vico terlepas, Vico pun melepaskan ikatan tangan Orlando dan kakinya. Keduanya
sudah mempelajari kebiasaan penculik di mana setelah memberi makan akan
meninggalkannya dan tidak mengurus hingga waktu makan selanjutnya.
__ADS_1