
“ Benarkah ? aku memang tahu masa lalunya dari cerita
kakeknya yang menyebabkan dia seperti itu, itulah yang membuatku sabar sampai
sejauh ini Kim, kamu tahu sifatku kan ?” Ucap Vico yang mengusap wajahnya kasar
dan sedikit memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan selanjutnya tentang
hubungannya dengan Arini yang tidak ada kemajuan selama di sini berbeda saat
mereka berbulan madu yang menurut Vico Arini menjadi sosok yang berbeda, tetapi
setelah sampai di Indonesia Arini kembali menjadi Arini yang saat dikenal
pertama oleh Vico.
Terlihat tidak ada satu pun kendaraan yang melintas jalan itu
hanya mobil yang dikendarai sekretaris Kim saja saat itu. Malam gelap terlihat
dari jendela kala itu yang menunjukkan waktu akan segera fajar. Sekretaris
mengendarai dengan kecepatan sedang.
“ Iya Tuan, saya tahu tuan sangat menahan semua sifat tuan
jika di depan nona Arini.” Jawab Kim yang tetap fokus dengan kemudinya.
Mereka sudah sampai di Hotel milik Vico terlihat Hotel
tersebut sebagai Hotel termewah di negeri ini tak heran selain mewah hotel ini
menjadi hotel termahal untuk sekali menginap.
Karena memang semua karyawan sudah mengetahui kalau Vico
pemilik Hotel, dia tidak perlu reservasi atau melakukan pendaftaran di
resepsionis untuk menginap dia langsung di sambut pelayan dan mengantarkannya
di Penthouse milik Vico di lantai paling atas gedung Hotel tersebut
menggunakan Lift khusus untuk Vico sendiri.
Penthouse tersebut sangat luas karena memakan 2
lantai penuh dalam hotel tersebut dengan berbagai fasilitas lengkap terdapat
beberapa kamar dengan ranjang mewah, bar, dapur pribadi meja makan dalam dan
luar ruangan, perpustakaan pribadi, ruang kerja, piano klasik, dan banyak hal
mewah lain tersedia. Semua pelayan berdatangan ketika mengetahui Vico akan
menginap di Hotel tersebut.
“ Untuk Hari ini jangan ada yang menggangguku semua pelayan
tidak perlu ada di sini.” ucap Vico pada sekretaris Kim saat sudah memasuki
kamar miliknya dan menjatuhkan tubuhnya yang terlihat sangat lelah baik hati
dan fisiknya itu.
“ Baik Tuan.” Jawab sekretaris Kim lalu meninggalkan Vico
yang terlihat berbaring dan mulai memejamkan kedua matanya dengan tangan kanan
menutupi dahinya masih berpakaian lengkap.
Sekretaris Kim menemui pelayan yang sudah berada di
__ADS_1
posisinya masing-masing terlihat ada enam pelayan dan satu kepala pelayan siap
menerima perintah apa pun untuk menyenangkan tuannya tersebut.
“ Untuk hari ini kalian bisa turun, tidak perlu melayani
tuan muda karena Tuan tidak ingin diganggu untuk saat ini, jika nanti ada
kebutuhan akan saya hubungi.” Ucap sekretaris Kim menemui kepala pelayan dan
menjelaskan perintah Vico tadi.
“ Baik Tuan, saya dan para pelayan akan menunggu di bawah .”
Jawab kepala pelayan lalu menundukkan tubuhnya pada sekretaris Kim setelah itu
dia mengajak semua pelayan untuk turun meninggalkan ruangan itu.
“ Hah hari ini menjadi sangat melelahkan aku akan istirahat
di sini menjaga Tuan.” Ucap sekretaris Kim saat semua pelayan sudah pergi dia
mendudukkan tubuhnya di sofa beberapa saat lalu pergi ke kamar lain untuk mengistirahatkan
tubuhnya yang dia rasa sangat lelah selain selalu menemani Vico dia juga harus
selalu mengatur semuanya agar sempurna dimata Tuannya tersebut.
“ Kenapa Tuan untuk merasakan jatuh cinta saja sulit sekali,
bagaimana jika itu terjadi denganku, entahlah sampai sekarang aku juga belum
memikirkannya bahkan tidak ada yang menarik menurutku.” Gumam sekretaris Kim
yang masih merebahkan tubuhnya di ranjang tidurnya.
Sekretaris Kim lalu bangkit dan membersihkan diri di kamar
bekerja.
Vico yang masih belum bisa tidur membukan ponselnya dan
terlihat 50 Panggilan tidak terjawab dari Arini dan satu pesan menanyakan
keberadaannya.
Apakah benar yang dikatakan Kim kalau Arini juga
mengkawatirkanku, tapi selama ini dia tidak pernah menanyakan keadaanku
sekalipun, iya memang aku selalu memberitahukan dia dimana keberadaanku dan apa
yang aku lakukan tapi selalu aku yang memberitahunya tanpa dia menanyakan
sekali pun. Batin Vico
“Aku biarkan saja besok saja aku menjawabnya, aku ingin
sejenak melupakan perasaanku padanya aku selalu menjadi Vico yang lemah saat di
dekatnya, semua sifat dominanku pupus jika melihat kedua mata indah itu,
entahlah Tuhan apakah ini karma untukku.” Gumam Vico yang membuka kedua matanya
menatap langit-langit kamar tersebut dan masih memikirkan perasaannya saat ini.
Vico kembali terduduk dan mengembuskan nafasnya kasar mulai
keluar kamarnya dan menuju dapur mengambil segelas air dingin dan meneguknya
kasar.
__ADS_1
“ Sudahlah aku akan berbicara dengan Arini besok setelah
pulang kerja, benar kata Kim mungkin aku terlalu marah dengan mamah hingga
melihat Arini dengan pria lain tanpa tahu yang mereka bicarakan aku sudah
menjadi murka, mungkin mereka membahas desain ? Arini pasti tahu batasannya.”
Ucap Vico sendiri setelah menghabiskan minumannya lalu kembali ke kamarnya dan
menuju ke kamar mandi lalu merendam tubuhnya dengan air hangat agar lebih
rileks setelah selesai di kembali ke ranjang dan mematikan penerangannya lalu
melelapkan matanya agar beristirahat.
Rumah
Dingin menusuk tubuh Arini yang tertidur di ruang tamu kala
waktu hampir mulai subuh, Arini yang terbangun merasa kedinginan dia lalu
bergegas ke kamarnya tapi masih tidak menemukan suaminya tersebut. Arini yang
terlihat sangat sedih karena ini pertama kalinya Vico tidak pulang ke rumah
tanpa mengabarinya bahkan biasanya walaupun keluar kota Vico akan tetap
mengusahakan dirinya pulang ke rumah walaupun itu larut atau sudah mulai pagi
sekalipun.
“ Apakah dia sangat marah hingga tidak mau pulang ke rumah
?” Ucap Arini dan meneteskan air matanya dan pergi ke kamar mandi untuk
membersihkan diri.
Arini lalu mengisi bak mandi dengan air panas dan dingin
hingga terasa hangat dikulitnya menuangkan sabun dan beberapa aroma terapi lalu
membenamkan tubuhnya yang terlihat bagaikan susu itu untuk menenangkan perasaan
kalutnya saat Vico tidak pulang tanpa ada kabar sedikit pun.
“ Apa sebaiknya aku menemui Vico di kantornya hari ini, aku
harus meluruskan kesalahpahaman ini dan meminta maaf padanya, aku tidak ingin
bertengkar dengannya, walaupun aku belum bisa melayaninya dengan baik sebagai
istri tapi aku sudah bisa menerima keberadaannya di dekatku selama ini, aku
sudah merasa nyaman dengan dia seperti aku bersama kakak, dia sangat baik
kepadaku dia tidak sekalipun berkata kasar padaku atau meninggikan suaranya,
mungkin karena kesalahanku bertemu dengan Arga membuatnya semarah itu padaku
hari ini.” Ucap Arini yang masih merendamkan tubuhnya pada air hangat dan
memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk meminta maaf pada Vico dan mengakui
kesalahannya yang membuat Vico sangat marah hingga tidak pulang malam ini.
Arini lalu menyudahi ritual mandinya tersebut lalu segera
melakukan ibadah subuhnya. Arini lalu berolahraga kali ini dia melakukannya di ruangan
Gym dan dia memutuskan akan mendatangi Vico di kantornya.
__ADS_1