My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Vico Sakit 2


__ADS_3

Saat Vico disuapi menggunakan mulut Arini terlihat mata


kecoklatannya terbelalak mendapatkan perlakuan Arini tersebut. Karena hal


itulah dia menelan obat itu dengan cepat.


“ Sekarang istirahatlah, aku akan ke bawah menaruh mangkok


kotor ini.” Arini yang telah menjalankan tugasnya ingin meninggalkan Vico pergi


ke dapur.


“ Jangan, bisakah kamu di sini ?” Vico yang biasanya


terlihat kuat mendadak menjadi manja seperti anak kecil. Sorot mata tajam


menjadi teduh dan lemah.


“ Heh baiklah segeralah istirahat lagi.” Arini terlihat


menghela nafas dan tersenyum sambil tetap duduk di dekat Vico yang tengah


berbaring sambil tangan dengan warna putih susu itu digenggam Vico erat seakan


tidak ingin sosok Arini meninggalkannya saat dia terlelap.


Aku tidak pernah menyangka bisa dekat dengan laki-laki


seperti ini, bahkan jika dia tidak datang di hidupku mungkin sampai saat ini


hanya kakak orang yang bisa dekat dan akrab denganku. Batin Arini memandang


sosok pria yang saat ini menjadi suaminya. Mata coklat Arini dengan bulu mata


lentik itu terlihat menutup pelan mencoba mengingat kembali bagaimana keduanya


bertemu pertama kali.


Sosok tegas, kuat angkuh yang sangat dihormati menjadi sosok


sabar dengan Arini selalu mencoba membuatnya nyaman di dekatnya, selalu merasa


kawatir di mana pun keberadaan Arini kali ini dia terlihat lemah tak berdaya


terbaring dengan wajah pucat, membuat Arini merasa sesak yang tidak tahu


penyebabnya.


Vico telah meruntuhkan dinding kokoh yang Arini bangun


bertahun-tahun untuk tidak dekat laki-laki dalam artian hubungan spesial.


Bahkan kali ini pria tersebut sudah memiliki Arini seutuhnya. Dia yang selalu


bagaikan mawar berduri indah dengan banyak kamuflase yang bisa membuat orang


enggan jika mengenalnya lebih jauh.


Arini detik itu juga ingin sekali mengenal sosok Vico yang


selama ini bersamanya, karena memang mereka berdua hanya mengenal dari


permukaan saja selama ini, tidak ada yang mengetahui cerita masa lalu


masing-masing hanya saling menjaga satu sama lain dalam ikatan suci sebagai


suami istri dan melakukan kewajiban masing-masing akan ikrar suci mereka berdua


di hadapan penghulu dan para saksi.


Tersadar matahari menyinari Arini sudah sampai pada tubuhnya


yang sedang menikmati wajah suaminya yang terlihat damai, waktu terlihat


menunjukkan siang hari. Arini lalu mengambil ponsel miliknya yang dia letakkan


di atas nakas untuk menghubungi Vivi sekretaris pribadi yang membantunya

__ADS_1


mengelola perusahaannya dari mulai 0 itu mengatakan bahwa hari ini dia tidak


bekerja dan memintanya mengurus segalanya dan jika ada masalah bisa


menghubunginya dan jika ada dokumen penting bisa mengirim email pada Arini.


Wajah damai Vico terlihat sudah terlelap, mungkin efek obat


yang dia minum. Arini yang memang belum sarapan dari pagi terlihat memegang


perut ratanya tanda sistem pencernaannya meminta asupan gizi.


Arini mencoba melepaskan tangan Vico pelan-pelan agar tidak


membangunkannya. Setelah terlihat Vico tetap lelap dia lalu berjalan pelan


menuju dapur dan memakan makanan yang sudah tersaji di meja makan. Setelah usai


dia meminta pelayan membawakan makanan untuk Vico sebagai makan siang.


“ Baik nona.” Jawab pelayan sopan pada Arini yang sudah


menjadi majikannya beberapa bulan itu.


Arini kembali melangkahkan kaki jenjangnya kembali ke kamar


dan menemani suaminya yang terbaring tidak berdaya itu.


“ Kamu dari mana ? “terlihat Vico membuka matanya pelan,


entah sejak kapan dia sudah bangun.


“ Dapur, aku barusan makan dan meminta pelayan membawakan


makanan untukmu, apa kamu sudah baikan ?” Arini terlihat menyentuh wajah Vico


pelan sambil mengusap dahi Vico yang masih terdapat handuk untuk menurunkan


suhu tubuhnya.


terlihat tersenyum dan mencoba membuat kekawatiran Arini terkikis dari sorot


mata coklat dengan bulu mata lentiknya.


“ Syukurlah, jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja,


jika kamu ada hal yang bisa aku bantu aku dengan senang hati membantumu tidak


perlu sungkan, seperti yang pernah kamu katakan jika kita suami istri harus


saling membantu.” Arini berbicara sangat lancar berbeda dengan Arini yang


pertama kali Vico kenal yang selalu dingin dan terlihat tidak memiliki emosi


sama sekali di setiap tatapannya.


“ Kesinilah.” Vico meregangkan kedua tangannya meminta Arini


mendekat saat Arini mendekat pelukan hangat membuat tubuh Arini yang sebelumnya


kawatir merasa lega karena Vico sudah baikan terasa tubuh Vico sudah tidak lagi


sepanas saat tadi pagi dia menyentuh dahinya.


“ Arini terima kasih, jangan kuwatir aku dapat melakukan


segalanya, aku memiliki sekretaris Kim dan banyak orang kepercayaan yang dapat


membantuku.” Vico yang mendekap tubuh langsing istrinya itu lalu mengecup


puncak kepala Arini lembut.


“ Aku menyukai sosokmu yang seperti ini.” Tiba-tiba mulut


Vico mengucapkan kata-kata yang tidak Arini mengerti apa maksud hal tersebut.


Sambil melepaskan dekapan Vico yang hangat Arini memandang Vico lekat.

__ADS_1


“ Maksud kamu ?” Arini penasaran apa yang sebenarnya yang


ingin Vico sampaikan padanya. Mata coklat keabuan milik Vico saling beradu


dengan mata kecoklatan milik Arini.


Vico kembali tersenyum memandang wajah cantik yang


membuatnya selalu merasa lemah jika berada di dekatnya itu, membuat Vico yang


selalu menjadi manusia berdarah dingin, tidak pernah mengalah dan angkuh


menjadi sosok hangat, sabar, dan mengalah berkali-kali.


“ Aku menyukaimu menjadi sosok hangat seperti ini, sangat


sulit mendapatkan sosokmu yang begini aku tidak pernah bisa memahami cara


berpikir dan perubahan emosimu, kadang kamu menjadi sosok yang dingin seperti


pertama kali kita bertemu, kadang kamu menjadi sosok hangat dan ceria, kadang


kamu menjadi seorang yang terlihat takut dan cemas.” Vico mencoba menjelaskan


apa yang dia rasakan terhadap berbagai emosi yang selalu dia dapatkan dengan


tidak mengetahui penyebabnya itu.


“ Maafkan aku, jika membuatmu tidak nyaman, aku akan selalu


berusaha melakukan yang terbaik sebagai istrimu.” Arini terlihat tertunduk


sampai butiran benih itu tiba-tiba menetes membasahi pipi mulus miliknya.


“ Jangan menangis, aku tidak memintamu menjadi orang lain,


aku menyukaimu apa adanya.” Vico yang kaget dengan perubahan emosi Arini


tersebut menghapus aliran kesedihan dari wajah Arini dengan jarinya lalu


kembali memeluk Arini.


“ Berjanjilah padaku, percayalah padaku apa pun yang terjadi


dan jangan meninggalkanku.” Vico yang memang belum bisa menceritakan dirinya


yang sebagai bos mafia membuatnya takut jika suatu saat Arini mengetahui hal


tersebut dan meninggalkannya.


Arini mengangguk pelan masih dalam dekapan Vico.


“ Arini besok kita tetap akan pergi ke Bali, kamu jangan


lupa ?” Vico yang kembali menjadi sosok ceria mengingatkan agenda yang menjadi


janjinya dengan Arini yang ingin menyaksikan matahari terbenam di pantai Kuta


yang menjadi destinasi wisata yang terkenal sampai ke mancanegara itu.


Vico tidak lagi ingin membahayakan keselamatan Arini jika


mengajaknya ke luar negeri seperti bulan madu pertamanya, karena jika itu di


lakukan di dalam negeri akan mempermudah pengamanan mereka berdua.


“ Apakah kamu yakin sudah sehat ? Kita masih punya banyak


waktu untuk pergi ke sana .” Arini terlihat masih ada sedikit kekawatiran pada


kesehatan Vico.


“ Tenang saja aku cukup kuat, sakit seperti ini bukan


masalah untukku lihat saja pagi minum obat siang hari aku sudah segar bugar


begini.” Vico membanggakan dirinya yang memang sudah terlihat membaik tersebut.

__ADS_1


__ADS_2