
Saat Vico disuapi menggunakan mulut Arini terlihat mata
kecoklatannya terbelalak mendapatkan perlakuan Arini tersebut. Karena hal
itulah dia menelan obat itu dengan cepat.
“ Sekarang istirahatlah, aku akan ke bawah menaruh mangkok
kotor ini.” Arini yang telah menjalankan tugasnya ingin meninggalkan Vico pergi
ke dapur.
“ Jangan, bisakah kamu di sini ?” Vico yang biasanya
terlihat kuat mendadak menjadi manja seperti anak kecil. Sorot mata tajam
menjadi teduh dan lemah.
“ Heh baiklah segeralah istirahat lagi.” Arini terlihat
menghela nafas dan tersenyum sambil tetap duduk di dekat Vico yang tengah
berbaring sambil tangan dengan warna putih susu itu digenggam Vico erat seakan
tidak ingin sosok Arini meninggalkannya saat dia terlelap.
Aku tidak pernah menyangka bisa dekat dengan laki-laki
seperti ini, bahkan jika dia tidak datang di hidupku mungkin sampai saat ini
hanya kakak orang yang bisa dekat dan akrab denganku. Batin Arini memandang
sosok pria yang saat ini menjadi suaminya. Mata coklat Arini dengan bulu mata
lentik itu terlihat menutup pelan mencoba mengingat kembali bagaimana keduanya
bertemu pertama kali.
Sosok tegas, kuat angkuh yang sangat dihormati menjadi sosok
sabar dengan Arini selalu mencoba membuatnya nyaman di dekatnya, selalu merasa
kawatir di mana pun keberadaan Arini kali ini dia terlihat lemah tak berdaya
terbaring dengan wajah pucat, membuat Arini merasa sesak yang tidak tahu
penyebabnya.
Vico telah meruntuhkan dinding kokoh yang Arini bangun
bertahun-tahun untuk tidak dekat laki-laki dalam artian hubungan spesial.
Bahkan kali ini pria tersebut sudah memiliki Arini seutuhnya. Dia yang selalu
bagaikan mawar berduri indah dengan banyak kamuflase yang bisa membuat orang
enggan jika mengenalnya lebih jauh.
Arini detik itu juga ingin sekali mengenal sosok Vico yang
selama ini bersamanya, karena memang mereka berdua hanya mengenal dari
permukaan saja selama ini, tidak ada yang mengetahui cerita masa lalu
masing-masing hanya saling menjaga satu sama lain dalam ikatan suci sebagai
suami istri dan melakukan kewajiban masing-masing akan ikrar suci mereka berdua
di hadapan penghulu dan para saksi.
Tersadar matahari menyinari Arini sudah sampai pada tubuhnya
yang sedang menikmati wajah suaminya yang terlihat damai, waktu terlihat
menunjukkan siang hari. Arini lalu mengambil ponsel miliknya yang dia letakkan
di atas nakas untuk menghubungi Vivi sekretaris pribadi yang membantunya
__ADS_1
mengelola perusahaannya dari mulai 0 itu mengatakan bahwa hari ini dia tidak
bekerja dan memintanya mengurus segalanya dan jika ada masalah bisa
menghubunginya dan jika ada dokumen penting bisa mengirim email pada Arini.
Wajah damai Vico terlihat sudah terlelap, mungkin efek obat
yang dia minum. Arini yang memang belum sarapan dari pagi terlihat memegang
perut ratanya tanda sistem pencernaannya meminta asupan gizi.
Arini mencoba melepaskan tangan Vico pelan-pelan agar tidak
membangunkannya. Setelah terlihat Vico tetap lelap dia lalu berjalan pelan
menuju dapur dan memakan makanan yang sudah tersaji di meja makan. Setelah usai
dia meminta pelayan membawakan makanan untuk Vico sebagai makan siang.
“ Baik nona.” Jawab pelayan sopan pada Arini yang sudah
menjadi majikannya beberapa bulan itu.
Arini kembali melangkahkan kaki jenjangnya kembali ke kamar
dan menemani suaminya yang terbaring tidak berdaya itu.
“ Kamu dari mana ? “terlihat Vico membuka matanya pelan,
entah sejak kapan dia sudah bangun.
“ Dapur, aku barusan makan dan meminta pelayan membawakan
makanan untukmu, apa kamu sudah baikan ?” Arini terlihat menyentuh wajah Vico
pelan sambil mengusap dahi Vico yang masih terdapat handuk untuk menurunkan
suhu tubuhnya.
terlihat tersenyum dan mencoba membuat kekawatiran Arini terkikis dari sorot
mata coklat dengan bulu mata lentiknya.
“ Syukurlah, jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja,
jika kamu ada hal yang bisa aku bantu aku dengan senang hati membantumu tidak
perlu sungkan, seperti yang pernah kamu katakan jika kita suami istri harus
saling membantu.” Arini berbicara sangat lancar berbeda dengan Arini yang
pertama kali Vico kenal yang selalu dingin dan terlihat tidak memiliki emosi
sama sekali di setiap tatapannya.
“ Kesinilah.” Vico meregangkan kedua tangannya meminta Arini
mendekat saat Arini mendekat pelukan hangat membuat tubuh Arini yang sebelumnya
kawatir merasa lega karena Vico sudah baikan terasa tubuh Vico sudah tidak lagi
sepanas saat tadi pagi dia menyentuh dahinya.
“ Arini terima kasih, jangan kuwatir aku dapat melakukan
segalanya, aku memiliki sekretaris Kim dan banyak orang kepercayaan yang dapat
membantuku.” Vico yang mendekap tubuh langsing istrinya itu lalu mengecup
puncak kepala Arini lembut.
“ Aku menyukai sosokmu yang seperti ini.” Tiba-tiba mulut
Vico mengucapkan kata-kata yang tidak Arini mengerti apa maksud hal tersebut.
Sambil melepaskan dekapan Vico yang hangat Arini memandang Vico lekat.
__ADS_1
“ Maksud kamu ?” Arini penasaran apa yang sebenarnya yang
ingin Vico sampaikan padanya. Mata coklat keabuan milik Vico saling beradu
dengan mata kecoklatan milik Arini.
Vico kembali tersenyum memandang wajah cantik yang
membuatnya selalu merasa lemah jika berada di dekatnya itu, membuat Vico yang
selalu menjadi manusia berdarah dingin, tidak pernah mengalah dan angkuh
menjadi sosok hangat, sabar, dan mengalah berkali-kali.
“ Aku menyukaimu menjadi sosok hangat seperti ini, sangat
sulit mendapatkan sosokmu yang begini aku tidak pernah bisa memahami cara
berpikir dan perubahan emosimu, kadang kamu menjadi sosok yang dingin seperti
pertama kali kita bertemu, kadang kamu menjadi sosok hangat dan ceria, kadang
kamu menjadi seorang yang terlihat takut dan cemas.” Vico mencoba menjelaskan
apa yang dia rasakan terhadap berbagai emosi yang selalu dia dapatkan dengan
tidak mengetahui penyebabnya itu.
“ Maafkan aku, jika membuatmu tidak nyaman, aku akan selalu
berusaha melakukan yang terbaik sebagai istrimu.” Arini terlihat tertunduk
sampai butiran benih itu tiba-tiba menetes membasahi pipi mulus miliknya.
“ Jangan menangis, aku tidak memintamu menjadi orang lain,
aku menyukaimu apa adanya.” Vico yang kaget dengan perubahan emosi Arini
tersebut menghapus aliran kesedihan dari wajah Arini dengan jarinya lalu
kembali memeluk Arini.
“ Berjanjilah padaku, percayalah padaku apa pun yang terjadi
dan jangan meninggalkanku.” Vico yang memang belum bisa menceritakan dirinya
yang sebagai bos mafia membuatnya takut jika suatu saat Arini mengetahui hal
tersebut dan meninggalkannya.
Arini mengangguk pelan masih dalam dekapan Vico.
“ Arini besok kita tetap akan pergi ke Bali, kamu jangan
lupa ?” Vico yang kembali menjadi sosok ceria mengingatkan agenda yang menjadi
janjinya dengan Arini yang ingin menyaksikan matahari terbenam di pantai Kuta
yang menjadi destinasi wisata yang terkenal sampai ke mancanegara itu.
Vico tidak lagi ingin membahayakan keselamatan Arini jika
mengajaknya ke luar negeri seperti bulan madu pertamanya, karena jika itu di
lakukan di dalam negeri akan mempermudah pengamanan mereka berdua.
“ Apakah kamu yakin sudah sehat ? Kita masih punya banyak
waktu untuk pergi ke sana .” Arini terlihat masih ada sedikit kekawatiran pada
kesehatan Vico.
“ Tenang saja aku cukup kuat, sakit seperti ini bukan
masalah untukku lihat saja pagi minum obat siang hari aku sudah segar bugar
begini.” Vico membanggakan dirinya yang memang sudah terlihat membaik tersebut.
__ADS_1