My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Vico Sakit


__ADS_3

Pagi itu Vico terlihat tidak seperti biasanya, wajah


tampannya berubah pucat, entah apa yang dia impikan dia memanggil seseorang


dalam lelap tidurnya.


“ Tetaplah bersamaku.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya


ke udara.


Arini yang mendengar suara Vico merasa terganggu hingga


terbangun dan menggenggam tangan Vico tersebut.


“ Hai bangunlah aku di sini.” Arini mencoba menenangkan


tubuh Vico yang terlihat sedang mengigau itu, Arini yang merasa ada keanehan


pada tubuh Vico lalu menyentuh lembut dahi Vico yang terlihat berkeringat.


“ Astaga bagaimana badanya bisa sepanas ini.” Arini yang


kaget merasa suhu tubuh Vico yang sangat panas itu lalu berpikir menghubungi


sekretaris Kim untuk meminta dokter datang mengecek keadaan Vico.


Arini terlihat mencari benda pipih tersebut, dengan wajah


cemas dan gugupnya dia mencari ponsel milinya di laci dan meja tetapi entah


kenapa benda itu sulit dia temukan, sorot mata coklatnya lalu melebar dan


mengingat jika ponselnya dari pulang kerja kemarin masih tersimpan di dalam tas


coklat miliknya. Dia pun bergegas membuka tas coklat tersebut dan menghubungi


sekretaris Kim.


“ Halo iya nona, ada apa menghubungi saya pagi-pagi ?” Saut


sekretaris Kim merasa heran dengan nona mudanya yang selama ini tidak pernah


menghubunginya bahkan kali ini di lakukan sangat pagi sekali bahkan terlihat


surya masih malu-malu menampakkan diri kala itu.


“ Vico sakit, segera panggilkan dokter untuk memeriksanya.”


Perintah Arini dengan nada cemas dan kawatir jika terjadi hal buruk pada Vico,


karena memang Vico selama itu selalu terlihat sehat di matanya bahkan sekalipun


dia tidak pernah mengeluh pusing.


“ Baik nona.” Jawab sekretaris Kim menerima perintah nona


mudanya tersebut, terbersit kekawatiran juga dari wajah sekretaris Kim


mendengar tuan mudanya sedang sakit, ia lalu segera menghubungi dokter Miko


untuk segera datang ke rumah Vico.


Sekretaris Kim juga terlihat menarik tubuh kekarnya tersebut


segera meninggalnya ranjang empuk tempatnya beristirahat untuk segera


membersihkan diri dan segera berangkat ke rumah tuan mudanya untuk memastikan


keadaan orang nomor satu Grup Angkasa tersebut.


Arini yang kala terlihat kawatir langsung turun ke bawah dan


meminta air es dalam baskom plastik dan handuk kecil untuk mengompres tubuh Vico


agar panasnya bisa segera turun, dia juga memerintahkan pelayan untuk


menyiapkan bubur yang bergizi untuk sarapan pagi Vico.


Arini yang sudah membawa baskom berisi air dingin yang di

__ADS_1


campur es dengan handuk bergegas kembali ke dalam kamarnya dan meletakkan


handuk yang sudah ia peras dari air dingin itu di dahi Vico.


Tak lama pintu kamarnya terbuka menampakkan seorang dokter


muda yang tampan memasuki kamar miliknya dan Vico tersebut dengan wajah tenang.


Miko segera melakukan pemeriksaan pada tubuh Vico yang juga


merupakan sahabatnya tersebut. Dia mengecek suhu tubuh, detak jantung, kedua mata coklat


Vico dan pemeriksaan sederhana.


Arini yang terlihat kawatir terlihat berjalan mondar mandir


menyaksikan Vico diperiksa oleh Miko.


Setelah terlihat pemeriksaan itu usai Arini yang sudah


penasaran sejak tadi lalu mendekati dokter tampan itu dan menanyakan keadaan


Vico.


“ Bagaimana dok, Vico sakit apa ?” Arini terlihat meremas


kedua jarinya cemas dan mimik muka pucatnya mengiba pada dokter tersebut.


“ Tenanglah Vico tidak kenapa-kenapa , dia mungkin hanya


terlalu kelelahan hingga terserang demam.” Miko mencoba menenangkan kekawatiran


yang melanda Arini.


Terlihat Arini bernafas lega lalu mendudukkan tubuhnya di


ranjang dekat Vico yang masih terlelap.


“Nona bagaimana keadaan tuan ?” Sekretaris Kim yang terlihat


datang dengan buru-buru karena kawatirnya tetap berwajah datar seperti biasa


menjadi dokter pribadi dan juga temannya yang mengelola rumah sakit pusat milik


Vico.


“ Tenanglah Kim, Vico tidak apa-apa dia mungkin terlalu


kelelahan hingga dia sakit, semuanya kan membaik aku sudah menyuntikkan obat


agar suhu badannya segera turun dan satu lagi kakak ipar (mendapat sorotan


tajam dari mata sekretaris Kim karena kelancangannya Miko mengubah panggilan


Arini) maksud saya nona Arini tolong berikan obat ini sesuai dosis yang sudah


saya tuliskan.” Dokter Miko lalu pamit pada Arini dan berjalan sambil menepuk


bahu sekretaris Kim yang berdiri tegap memandang tubuh tuannya yang selama ini


dia jadikan panutan. Mata hitam sekretaris Kim menyiratkan kecerobohannya


membuat tuan mudanya kelelahan hingga ia bisa terbaring sakit di tempat tidur.


Arini yang memperhatikan tatapan sekretaris Kim dan


mengartikan maksud tatapan itu terlihat berjalan mendekati sekretaris Kim “ Kim


tidak perlu secemas itu, dia tidak apa-apa, dia juga manusia biasa di mana ada


kalanya dia sakit dan lelah, tolong kamu urus pekerjaan kantor hari ini aku


akan menjaganya, doakan saja semoga dia lekas sembuh dan bisa bersamamu lagi.”


Arini terlihat memasang mimik muka bijaksana dengan mengatakan hal tersebut


pada sekretaris Kim walaupun dia tidak mengenal sekretaris Kim sangat dekat dia


bisa memahami jika sosok sekretaris Kim adalah orang yang berharga untuk Vico.

__ADS_1


“ Baiklah nona Arini, jika terjadi sesuatu jangan sungkan


untuk menghubungi saya, saya undur diri dulu.” Sekretaris Kim memahami


perkataan Arini lalu dia menyerahkan Vico pada Arini dan kembali ke tugas


utamanya membereskan semua pekerjaan kantor yang tidak bisa ditangani Vico hari


ini. Dia terlihat meninggalkan Arini dan Vico sambil menunduk hingga bahu


bidangnya sudah tertutup pintu kayu kamar Arini.


“ Ar Arini.” Vico terlihat tersadar dari tidurnya dan


terdengar suara lemah memanggil nama istrinya.


Arini yang mendengar segera mendekati Vico dan menggenggam


tangan Vico erat .


“ Iya Vic, aku di sini, kata dokter kamu kelelahan hingga


membuatmu demam, istirahatlah dulu.” Arini menenangkan tubuh Vico yang seakan


ingin berdiri dan meninggalkan ranjang empuknya tersebut.


Tok tok tok


“ Nona bubur yang nona ingin kami buatkan sudah siap.”


Teriak pelayan yang tadi di suruh Arini memasakkan bubur untuk sarapan Vico.


Arini menyuruh pelayan itu masuk. Terlihat pelayan wanita dengan wajah sudah berumur


itu membawa nampan kayu yang di atasnya terdapat semangkok bubur hangat yang


masih menyisakan sedikit asap dan juga segelas air putih dari dapur dia lalu


meletakkan nampan itu di meja dekat ranjang depan Arini. Pelayan lalu pamit


setelah meletakkan makanan untuk Vico tersebut.


“ Vic, ayo sarapan dulu lalu minum obat setelah itu kamu


bisa istirahat lagi.” Arini terlihat membantu Vico untuk bangun dan duduk


sambil bersandar pada ranjang. Vico yang terlihat lemah itu melakukan hal yang diinginkan


Arini.


Dengan telaten Arini menyuapi Vico sesendok bubur hangat


sambil meniupinya memastikan Vico tidak kepanasan saat memakannya. Walaupun


terlihat Vico tidak menyukai makanan itu dia berusaha memakannya.


Bubur hangat itu tersisa separuh mangkok, Vico sudah


menghentikan suapan Arini. Merasa Vico sudah mendapat asupan karbohidrat Arini


lalu memberikan obat untuk Vico untuk diminumnya.


Vico terlihat enggan untuk memakan obat tersebut. Selama ini


memang dia lebih suka di suntik di bandingkan harus meminum obat. Menurutnya di


suntik tidak menyiksanya dibandingkan meminum obat yang dalam ingatannya sangat


menyiksanya itu.


“ Kenapa ? apa kamu tidak ingin meminumnya ?” Arini yang


melihat ekspresi enggan Vico itu memutar otaknya agar Vico mau meminum obatnya


dia meminumnya lalu mencium Vico dan menyuapinya melalui mulutnya sendiri


setelah Vico terlihat menelannya dia segera memberikan segelas air itu dan


menyuruh Vico meminumnya untuk mempermudah obat itu tertelan Vico.

__ADS_1


__ADS_2