
Pagi itu Vico terlihat tidak seperti biasanya, wajah
tampannya berubah pucat, entah apa yang dia impikan dia memanggil seseorang
dalam lelap tidurnya.
“ Tetaplah bersamaku.” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya
ke udara.
Arini yang mendengar suara Vico merasa terganggu hingga
terbangun dan menggenggam tangan Vico tersebut.
“ Hai bangunlah aku di sini.” Arini mencoba menenangkan
tubuh Vico yang terlihat sedang mengigau itu, Arini yang merasa ada keanehan
pada tubuh Vico lalu menyentuh lembut dahi Vico yang terlihat berkeringat.
“ Astaga bagaimana badanya bisa sepanas ini.” Arini yang
kaget merasa suhu tubuh Vico yang sangat panas itu lalu berpikir menghubungi
sekretaris Kim untuk meminta dokter datang mengecek keadaan Vico.
Arini terlihat mencari benda pipih tersebut, dengan wajah
cemas dan gugupnya dia mencari ponsel milinya di laci dan meja tetapi entah
kenapa benda itu sulit dia temukan, sorot mata coklatnya lalu melebar dan
mengingat jika ponselnya dari pulang kerja kemarin masih tersimpan di dalam tas
coklat miliknya. Dia pun bergegas membuka tas coklat tersebut dan menghubungi
sekretaris Kim.
“ Halo iya nona, ada apa menghubungi saya pagi-pagi ?” Saut
sekretaris Kim merasa heran dengan nona mudanya yang selama ini tidak pernah
menghubunginya bahkan kali ini di lakukan sangat pagi sekali bahkan terlihat
surya masih malu-malu menampakkan diri kala itu.
“ Vico sakit, segera panggilkan dokter untuk memeriksanya.”
Perintah Arini dengan nada cemas dan kawatir jika terjadi hal buruk pada Vico,
karena memang Vico selama itu selalu terlihat sehat di matanya bahkan sekalipun
dia tidak pernah mengeluh pusing.
“ Baik nona.” Jawab sekretaris Kim menerima perintah nona
mudanya tersebut, terbersit kekawatiran juga dari wajah sekretaris Kim
mendengar tuan mudanya sedang sakit, ia lalu segera menghubungi dokter Miko
untuk segera datang ke rumah Vico.
Sekretaris Kim juga terlihat menarik tubuh kekarnya tersebut
segera meninggalnya ranjang empuk tempatnya beristirahat untuk segera
membersihkan diri dan segera berangkat ke rumah tuan mudanya untuk memastikan
keadaan orang nomor satu Grup Angkasa tersebut.
Arini yang kala terlihat kawatir langsung turun ke bawah dan
meminta air es dalam baskom plastik dan handuk kecil untuk mengompres tubuh Vico
agar panasnya bisa segera turun, dia juga memerintahkan pelayan untuk
menyiapkan bubur yang bergizi untuk sarapan pagi Vico.
Arini yang sudah membawa baskom berisi air dingin yang di
__ADS_1
campur es dengan handuk bergegas kembali ke dalam kamarnya dan meletakkan
handuk yang sudah ia peras dari air dingin itu di dahi Vico.
Tak lama pintu kamarnya terbuka menampakkan seorang dokter
muda yang tampan memasuki kamar miliknya dan Vico tersebut dengan wajah tenang.
Miko segera melakukan pemeriksaan pada tubuh Vico yang juga
merupakan sahabatnya tersebut. Dia mengecek suhu tubuh, detak jantung, kedua mata coklat
Vico dan pemeriksaan sederhana.
Arini yang terlihat kawatir terlihat berjalan mondar mandir
menyaksikan Vico diperiksa oleh Miko.
Setelah terlihat pemeriksaan itu usai Arini yang sudah
penasaran sejak tadi lalu mendekati dokter tampan itu dan menanyakan keadaan
Vico.
“ Bagaimana dok, Vico sakit apa ?” Arini terlihat meremas
kedua jarinya cemas dan mimik muka pucatnya mengiba pada dokter tersebut.
“ Tenanglah Vico tidak kenapa-kenapa , dia mungkin hanya
terlalu kelelahan hingga terserang demam.” Miko mencoba menenangkan kekawatiran
yang melanda Arini.
Terlihat Arini bernafas lega lalu mendudukkan tubuhnya di
ranjang dekat Vico yang masih terlelap.
“Nona bagaimana keadaan tuan ?” Sekretaris Kim yang terlihat
datang dengan buru-buru karena kawatirnya tetap berwajah datar seperti biasa
menjadi dokter pribadi dan juga temannya yang mengelola rumah sakit pusat milik
Vico.
“ Tenanglah Kim, Vico tidak apa-apa dia mungkin terlalu
kelelahan hingga dia sakit, semuanya kan membaik aku sudah menyuntikkan obat
agar suhu badannya segera turun dan satu lagi kakak ipar (mendapat sorotan
tajam dari mata sekretaris Kim karena kelancangannya Miko mengubah panggilan
Arini) maksud saya nona Arini tolong berikan obat ini sesuai dosis yang sudah
saya tuliskan.” Dokter Miko lalu pamit pada Arini dan berjalan sambil menepuk
bahu sekretaris Kim yang berdiri tegap memandang tubuh tuannya yang selama ini
dia jadikan panutan. Mata hitam sekretaris Kim menyiratkan kecerobohannya
membuat tuan mudanya kelelahan hingga ia bisa terbaring sakit di tempat tidur.
Arini yang memperhatikan tatapan sekretaris Kim dan
mengartikan maksud tatapan itu terlihat berjalan mendekati sekretaris Kim “ Kim
tidak perlu secemas itu, dia tidak apa-apa, dia juga manusia biasa di mana ada
kalanya dia sakit dan lelah, tolong kamu urus pekerjaan kantor hari ini aku
akan menjaganya, doakan saja semoga dia lekas sembuh dan bisa bersamamu lagi.”
Arini terlihat memasang mimik muka bijaksana dengan mengatakan hal tersebut
pada sekretaris Kim walaupun dia tidak mengenal sekretaris Kim sangat dekat dia
bisa memahami jika sosok sekretaris Kim adalah orang yang berharga untuk Vico.
__ADS_1
“ Baiklah nona Arini, jika terjadi sesuatu jangan sungkan
untuk menghubungi saya, saya undur diri dulu.” Sekretaris Kim memahami
perkataan Arini lalu dia menyerahkan Vico pada Arini dan kembali ke tugas
utamanya membereskan semua pekerjaan kantor yang tidak bisa ditangani Vico hari
ini. Dia terlihat meninggalkan Arini dan Vico sambil menunduk hingga bahu
bidangnya sudah tertutup pintu kayu kamar Arini.
“ Ar Arini.” Vico terlihat tersadar dari tidurnya dan
terdengar suara lemah memanggil nama istrinya.
Arini yang mendengar segera mendekati Vico dan menggenggam
tangan Vico erat .
“ Iya Vic, aku di sini, kata dokter kamu kelelahan hingga
membuatmu demam, istirahatlah dulu.” Arini menenangkan tubuh Vico yang seakan
ingin berdiri dan meninggalkan ranjang empuknya tersebut.
Tok tok tok
“ Nona bubur yang nona ingin kami buatkan sudah siap.”
Teriak pelayan yang tadi di suruh Arini memasakkan bubur untuk sarapan Vico.
Arini menyuruh pelayan itu masuk. Terlihat pelayan wanita dengan wajah sudah berumur
itu membawa nampan kayu yang di atasnya terdapat semangkok bubur hangat yang
masih menyisakan sedikit asap dan juga segelas air putih dari dapur dia lalu
meletakkan nampan itu di meja dekat ranjang depan Arini. Pelayan lalu pamit
setelah meletakkan makanan untuk Vico tersebut.
“ Vic, ayo sarapan dulu lalu minum obat setelah itu kamu
bisa istirahat lagi.” Arini terlihat membantu Vico untuk bangun dan duduk
sambil bersandar pada ranjang. Vico yang terlihat lemah itu melakukan hal yang diinginkan
Arini.
Dengan telaten Arini menyuapi Vico sesendok bubur hangat
sambil meniupinya memastikan Vico tidak kepanasan saat memakannya. Walaupun
terlihat Vico tidak menyukai makanan itu dia berusaha memakannya.
Bubur hangat itu tersisa separuh mangkok, Vico sudah
menghentikan suapan Arini. Merasa Vico sudah mendapat asupan karbohidrat Arini
lalu memberikan obat untuk Vico untuk diminumnya.
Vico terlihat enggan untuk memakan obat tersebut. Selama ini
memang dia lebih suka di suntik di bandingkan harus meminum obat. Menurutnya di
suntik tidak menyiksanya dibandingkan meminum obat yang dalam ingatannya sangat
menyiksanya itu.
“ Kenapa ? apa kamu tidak ingin meminumnya ?” Arini yang
melihat ekspresi enggan Vico itu memutar otaknya agar Vico mau meminum obatnya
dia meminumnya lalu mencium Vico dan menyuapinya melalui mulutnya sendiri
setelah Vico terlihat menelannya dia segera memberikan segelas air itu dan
menyuruh Vico meminumnya untuk mempermudah obat itu tertelan Vico.
__ADS_1