
Club Malam
“ Selamat malam nona, ingin saya buatkan apa ?” Tanya
bartender pria yang tampan di depan berbagai merek minuman alkohol yang
berjajar rapi di belakangnya.
“ satu Red Boom “ Ucap Poppy memesan salah satu racikan yang
dapat membuat semua orang yang tidak biasa meminumnya kehilangan kesadarannya
jika meminumnya walaupun hanya satu gelas.
“ Baik Nona.” Jawab Bartender tampan itu dan menyiapkan
pesanan Poppy.
Club malam itu sangat ramai malam itu, terlihat banyak
muda-mudi duduk di meja bergerombol dengan mejanya di penuhi berbagai merek
minuman.
Bau tajam alkohol yang menusuk hidung, suara keras
memekakkan telinga, dan lampu sorot warna-warni bergerak membuat tempat itu
menjadi neraka bagi orang yang tidak biasa.
Tapi tidak dengan Poppy dia terlihat sangat menikmatinya,
baginya hal ini sudah biasa. Sebagai model internasional seperti dirinya party
di Club malam sudah menjadi kegiatan sehari-hari dengan teman-temannya selama
di luar negeri.
Terlihat bartender sudah meletakkan satu gelas minuman pesanan
Poppy di meja didekatkannya pada tangan yang dari tadi digunakan untuk
menyanggah kepalanya seakan ada banyak pikiran di kepalanya.
Melihat minuman berwarna merah itu Poppy lalu mengambilnya
dan meneguknya habis lalu mengembalikan gelas kosong yang sudah habis isinya ke
tempat semula.
“ Ayo hari ini bersenang-senang.” Teriaknya yang sudah
berdiri dari tempat duduknya menuju tempat banyak orang menari sesuka hatinya
sesuai iringan musik keras yang diputarkan DJ.
Dia menari sambil tersenyum-senyum entah apa yang membuatnya
bahagia, tak lama Haris mendatanginya dan menarik tangan Poppy untuk duduk.
“ Kenapa tidak menungguku ?” Tanya Haris yang melihat Poppy
sudah meneguk alkohol tanpa menunggunya.
“ Kamu terlalu lama, sudahlah segera pesan minuman dan ayo
kita menikmati malam ini di sini.” Ucap Poppy masih sadar sambil menepuk bahu
Haris.
Haris memesan minuman dan meneguknya habis dan ikut menari
dengan Poppy.
Rumah Vico
Terlihat Arini hanya diam saja malam itu saat Vico pulang.
Dia tetap melakukan kewajibannya menyiapkan pakaian ganti menaruh tas kerja dan
__ADS_1
baju kotor Vico, walaupun biasanya dia jarang berbicara tapi hari itu Arini
benar-benar menjadi orang yang pendiam.
Vico yang merasa Arini tidak seperti biasanya mencoba
mendekat dan bertanya pada Arini.
“ Kamu kenapa ? Kamu marah ?” Tanya Vico pelan setelah
menangkup wajah Arini yang tertunduk dan sekarang sudah menatap dirinya.
Hanya gelengan kepala yang menjadi respon pertanyaan Vico
itu.
“ Terus kenapa kamu diam saja ?” Tanya Vico lagi sambil
tersenyum.
“ Tidak apa-apa.” Jawab Arini dengan wajah datarnya.
“ Ayolah Arini, kamu kenapa ?” Tanya Vico lagi masih dengan
nada lembut dan senyum masih menempel di wajah tampannya.
“ Aku tidak apa-apa.” Jawab Arini lalu tersenyum pada Vico.
“ Baiklah, ayo kita istirahat.” Ajak Vico dan menarik
tangan Arini menuju ranjang empuk dengan seprei warna cream itu.
Saat keduanya sudah merebahkan tubuh masing-masing pada
kasur empuk itu terlihat mereka memiringkan badannya masing-masing sehingga
sekarang sudah saling berhadapan.
“ Kamu marah soal kemarin.” Tanya Vico yang sekarang
membelai wajah Arini dan menyelipkan anak rambut Arini yang sedikit terurai
“ Tidak, aku hanya entahlah rasanya masih tidak nyaman.”
Ucap Arini yang tidak memahami dirinya sendiri mulai bercerita akan perasaan
yang dia rasakan mengingat apa yang dia dan Vico lakukan semalam.
“ Apa kamu belum siap ?” Tanya Vico lagi berusaha memahami
istrinya tersebut dengan sedikit menarik tubuh Arini lebih mendekat padanya dan
mendekap tubuh ramping Arini.
“ Bukan, aku sudah mempersiapkan hal itu, tapi aku tidak
tahu aku hanya takut saat ini.” Ucap Arini yang terlihat wajahnya ada di dada
Vico yang bidang.
“ Apa kamu mau melakukannya lagi, agar kamu bisa
menghilangkan perasaanmu itu ?” Ucap Vico lembut sambil mencium puncak kepala
Arini.
“ Baiklah.” Jawab Arini
Tidak menyia-nyiakan hal itu Vico lalu melucuti pakainya dan
milik Arini dan malam panjang nan panas berlangsung hingga keduanya sudah lemas
dan masih terlihat belum tertidur dan masih berdekapan.
“ Bagaimana perasaanmu sekarang ?” Tanya Vico yang saat ini
mensejajarkan wajahnya dengan Arini.
“ Aku tidak tahu, ada kelegaan dan sedikit rasa takut
__ADS_1
sekarang.” Ucap Arin pelan dengan wajah sudah sayu karena mengantuk dan
kelelahan tapi entah kenapa matanya masih berat untuk terpejam.
“ Arini percayalah padaku, aku akan selalu berada di
sampingmu, kamu jangan takut, aku sangat menyayangimu.” Ucap Vico dan meraih
kepala Arini dan mengecup pelan bibir merah yang Arini miliki.
“ Iya.” Jawab Arini dan tersenyum pada Vico.
Mereka lalu tertidur lelap dengan saling berdekapan.
Apartemen Poppy
Silau surya siang masuk dari sela-sela tirai tipis dari
jendela apartemen menyorot pada wajah teler Poppy yang masih tidak bergerak di
dalam balutan selimut menutupi tubuh yang masih memakai pakaian seksi yang dia
kenakan semalam .
“ Hah sudah siang ternyata.” Ucap Poppy saat sinar itu
menusuk matanya terlihat dia mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang
masuk pada matanya sambil melihat jam yang tertera pada layar ponsel dekat
nakas yang mudah dijangkau tangan panjangnya.
Poppy lalu terduduk malas di ranjangnya dan membuka beberapa
pesan yang di terimanya. Salah satunya dari mata-mata yang kemarin dia suruh
menyelidiki pria yang dekat dengan Arini.
Dia membaca informasi yang cukup detail dari matanya
tersebut.
“ Siapa ya yang sebaiknya aku ajak kerja sama ?” Gumam Poppy
sambil menggigit bibir bawahnya dan tangan kirinya meremas kepala agar
membuatnya menemukan ide.
“ Oh aku kerja sama dengan Aldo saja, sepertinya dia cocok
denganku dibandingkan aku mengajak Arga.” Pikirnya saat sudah mendapat ide
gilanya itu sambil menyeringai licik.
Poppy lalu memulai untuk menemui Aldo dan membuatnya dekat
dengan dia, ya dia memang sangat percaya diri untuk mendapat perhatian pria.
Poppy merasa kalau masalah pria merupakan hal yang mudah kecuali mendapatkan
Vico kembali hingga membuatnya harus selalu putar otak.
“ Aku hari ini sudah ada janji dengan sekretaris Arini untuk
membicarakan masalah desain rumah, aku akan mulai mendekati Arini dulu, lalu
Aldo setelah itu aku akan membuat Arini tidak percaya dengan Vico, di lain sisi
aku juga akan mengajak Aldo untuk membuat Arini lebih dekat dengannya dan aku
akan meminta orang suruhanku memotret kebersamaan mereka dan mengirim pada Vico
dan saat semuanya sudah renggang aku akan menghibur Vico dan Vico akan berpisah
dengan Arini dan aku akan kembali menjadi kekasih Vico dan menjadi Nyonya
Angkasa Grup. Hahahahahahaha.” Ucap
Poppy dan tertawa jahat akan semua ide gila yang menjadi rencana memisahkan
__ADS_1
Vico dengan Arini tersebut.