
Usai mengantar Dokter pergi Putra juga meminta pelayan untuk
menyiapkan makanan yang mudah dicerna untuk Arini, walaupun Arini sudah
dipasang infus tetapi dokter tetap menyarankan memakan sesuatu untuk membantu menguatkan
Arini serta janinnya. Pelayan memahami perintah tersebut dan segera menyiapkan
makanannya. Putra pun segera kembali ke kamar Arini. Putra terlihat duduk di
sofa abu-abu di kamar Arini yang terletak tidak jauh dengan ranjang. Melihat
keadaan sang adik yang sudah diperiksa dokter Putra terlihat sangat sedih.
Cukup lama hingga terlihat ada gerakan dari tubuh lemah
Arini. Bibir merah delima Arini yang biasa terlihat kemerahan kini terlihat
memutih dengan kulit pucat serta mata sembab merah dengan air mata yang masih
belum kunjung berhenti kala dirinya kembali terisak mengingat berita terjatuhnya
pesawat yang ditumpangi Vico. Matanya memejam seolah tidak tega melihat
ekspresi Arini yang sedang dalam kondisi bersedih itu. Langkah kakinya lemah
tetapi dengan pasti mendekat ranjang besar yang menampung sesosok wanita dengan
suara tangis sedikit terisak.
“ Ar kamu tenang ya, Vico pasti baik-baik saja, Kakak sudah
meminta anak buah kakak untuk melakukan pencarian di sana. Kamu jangan menangis
lagi ya, kamu harus tenang sekarang, kamu sekarang tidak sendiri kamu sedang
mengandung buah hati kalian berdua. Oke ?” Putra mencoba membujuk Arini dengan
suara pelan sambil mengusap rambut Arini dengan lembut.
Arini tidak kuasa dengan kata-kata Putra yang menyebutkan
tentang buah hati yang tengah ia kandung tersebut dirinya segera memeluk tubuh
Putra seolah mencurahkan segala tangis terakhir yang ingin dia lepaskan hingga dirinya
berangsur-angsur tenang dan mulai menguasai isi hatinya. “Ka kakak harus
menemukan Vico ya Harus! Kakak janji ya sama Arini ?, Arini ingin memberikan
kejutan pada Vico tetapi kenapa Arini yang terkejut dengan berita ini.” Arini
terlihat terbata-bata dengan suara serak lemah mencoba mencurahkan isi hatinya
yang terlintas saat ini. Dia membayangkan momen bahagia ketika sang suami
pulang dan mendengar berita bahagia itu tapi kenyataan tidak sesuai harapannya.
“ Iya Ar kakak janji oke, kamu tenang ya, kamu istirahat
dulu ya.” Ucap Putra sambil memeluk dan mengelus kepala Arini dan mencoba
meletakkan tubuh lemah Arini kembali beristirahat di atas ranjang, serta
menarik selimut hingga menutupi tubuh Arini.
Tok tok tok “ Tuan makanan nona sudah siap “ Ucap pelayan
yang mengantarkan makanan yang diminta putra dari balik pintu kamar Arini.
__ADS_1
Putra pun segera berdiri dan melangkahkan kaki panjangnya menuju
pintu untuk mengambil makanan tersebut. Nampan kayu berisi semangkok bubur yang
bercampur sayur dan ayam dan satu gelas susu hangat terlihat kala Putra berjalan
kembali ke ranjang Arini.
“ Ar kamu makan dulu ya lalu minum obat.” Putra menaruh
nampan di atas nakas berwarna putih di dekat ranjang serta membujuk Arini untuk
memakannya.
“ Arini tidak lapar kak.” Ucap Arini lemah menolak makanan
yang sudah terhidang itu sambil menggelengkan kepalanya pelan, karena dirinya benar-benar tidak memiliki nafsu makan
saat ini. Dan kembali mencoba menutup mata untuk istirahat.
“ Arini kamu harus makan, kasihan janin kamu kalau kamu
tidak makan, selain itu dokter menganjurkan makan dahulu sebelum meminum obatnya,
kamu dan janinmu harus kuat dan sehat menunggu Vico kembali, agar Vico tidak sedih
melihat kalian nanti.” Putra masih mencoba menggunakan alasan kehamilan Arini
untuk membujuk Arini karena menurutnya hanya itulah kekuatan Arini dan kelemahannya
saat ini atas hilangnya Vico.
Arini membuka matanya menarik nafas dalam dan mencoba duduk
untuk menyantap makanan yang tersedia itu. Bagaimana pun dia tidak boleh
hatinya yang sedang dia kandung saat ini. Melihat hal tersebut Putra segera
mengambil semangkok bubur tersebut dan menyuapi Arini walaupun bubur tersisa
Putra tetap lega melihat Arini mau memakannya, segelas susu hangat pun
diteguknya dan tersisa separuh.
Usai memakan hidangan tersebut Putra segera mengambilkan
obat lalu disuapkan kembali ke Arini. Setelah selesai Putra menyuruh Arini
untuk istirahat. Melihat Arini sudah memejamkan mata Putra lalu keluar sambil membawa
nampan yang berisi mangkok dan gelas dan membawanya ke dapur.
Putra lalu berjalan ke arah ruangan yang biasa menjadi
tempat kerjanya. Diambilnya benda pipih persegi panjang dan dirinya kini
menghubungi seseorang yang bertugas melakukan pencarian untuk menemukan Vico. “
Bagaimana apakah sudah ketemu ?” Tanyanya singkat pada orang yang tengah ia
hubungi.
“ Saat ini hanya ada puing-puing keberadaan pesawatnya saja
untuk semua penumpang yang menaiki belum ada tanda-tanda sama sekali. “ Ucap
sang penerima panggilan terlihat sopan dan terengah-engah dengan suara
seraknya. Pencarian telah dilakukan sejak Putra menerima berita tersebut dari
__ADS_1
Orlando dini hari.
“ Apakah ada kemungkinan selamat ?” Tanya Putra tetap
memikirkan hal yang terbaik yang mungkin bisa terjadi walaupun kemungkinannya
kecil untuk saat ini mengingat puing-puing pesawat yang hancur berantakan
menurut anak buahnya.
“ Belum tahu Tuan, belum bisa memastikan mengingat kerusakan
pesawat yang kemungkinan menabrak dasar laut yang cukup dangkal mengingat
kecelakaan dekat dengan pantai, kemungkinan semua penumpang dan awak tewas
di tempat.” Ucap orang tersebut memberikan kenyataan terburuk yang mungkin
terjadi mengenai kecelakaan Vico tersebut.
Putra terlihat semakin mengerutkan alisnya dengan jari-jari
memijat pelipisnya sambil menutup panggilan tersebut. Dia tidak tahu apa yang
akan terjadi pada adiknya jika kemungkinan itu terjadi dan Vico benar-benar
tewas. Dia tidak tega jika memikirkan Arini ke depannya akan sendirian dan
membesarkan buah hati mereka. Putra memejamkan matanya dengan enggan dan mencoba
berpikir untuk menyelesaikan masalah ini. Memikirkan berbagai hal untuk
mengatasi hal ini.
Dirinya kini mengambil benda pipih itu lagi dari meja dan
memanggil Orlando. “ Bagaimana pencarianmu apakah masih belum ada hasil ?”
Tanya Putra tanpa basa-basi.
“ Masih nihil, huh aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi
padahal semua sudah sesuai dan aman untuk penerbangannya, kenapa tiba-tiba
terjadi hal ini aku juga masih menyelidiki penyebab hal ini terjadi.” Ucap
Orlando yang terlihat berada di atas kapal memandu anak buahnya melakukan pencarian
pada Vico dan sekretaris Kim itu.
“ Ada kemungkinan selamat ?” Tanya Putra lagi mencoba
memastikan hal yang sangat penting itu.
“ Entahlah, ada kemungkinan walaupun kecil karena pesawat
tersebut adalah tipe terbaru yang dilengkapi sistem keselamatan terbaik saat
ini, tapi bagaimanapun aku tidak tahu mengingat dangkalnya laut yang terbentur
dengan badan pesawat.” Ucap Orlando yang memberikan sedikit harapan pada Putra.
“ Baiklah kabari jika ada berita selanjutnya kerjasamalah
dengan orangku juga yang berada di sana.” Ucap Putra lalu menutup panggilan
tersebut, walau kemungkinan selamat kecil tapi Putra berharap keajaiban bisa terjadi
walau dirinya tidak mempercayainya.
__ADS_1