My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Pencarian Vico


__ADS_3

Usai mengantar Dokter pergi Putra juga meminta pelayan untuk


menyiapkan makanan yang mudah dicerna untuk Arini, walaupun Arini sudah


dipasang infus tetapi dokter tetap menyarankan memakan sesuatu untuk membantu menguatkan


Arini serta janinnya. Pelayan memahami perintah tersebut dan segera menyiapkan


makanannya. Putra pun segera kembali ke kamar Arini. Putra terlihat duduk di


sofa abu-abu di kamar Arini yang terletak tidak jauh dengan ranjang. Melihat


keadaan sang adik yang sudah diperiksa dokter Putra terlihat sangat sedih.


Cukup lama hingga terlihat ada gerakan dari tubuh lemah


Arini. Bibir merah delima Arini yang biasa terlihat kemerahan kini terlihat


memutih dengan kulit pucat serta mata sembab merah dengan air mata yang masih


belum kunjung berhenti kala dirinya kembali terisak mengingat berita terjatuhnya


pesawat yang ditumpangi Vico. Matanya memejam seolah tidak tega melihat


ekspresi Arini yang sedang dalam kondisi bersedih itu. Langkah kakinya lemah


tetapi dengan pasti mendekat ranjang besar yang menampung sesosok wanita dengan


suara tangis sedikit terisak.


“ Ar kamu tenang ya, Vico pasti baik-baik saja, Kakak sudah


meminta anak buah kakak untuk melakukan pencarian di sana. Kamu jangan menangis


lagi ya, kamu harus tenang sekarang, kamu sekarang tidak sendiri kamu sedang


mengandung buah hati kalian berdua. Oke ?” Putra mencoba membujuk Arini dengan


suara pelan sambil mengusap rambut Arini dengan lembut.


Arini tidak kuasa dengan kata-kata Putra yang menyebutkan


tentang buah hati yang tengah ia kandung tersebut dirinya segera memeluk tubuh


Putra seolah mencurahkan segala tangis terakhir yang ingin dia lepaskan hingga dirinya


berangsur-angsur tenang dan mulai menguasai isi hatinya. “Ka kakak harus


menemukan Vico ya Harus! Kakak janji ya sama Arini ?, Arini ingin memberikan


kejutan pada Vico tetapi kenapa Arini yang terkejut dengan berita ini.” Arini


terlihat terbata-bata dengan suara serak lemah mencoba mencurahkan isi hatinya


yang terlintas saat ini. Dia membayangkan momen bahagia ketika sang suami


pulang dan mendengar berita bahagia itu tapi kenyataan tidak sesuai harapannya.


“ Iya Ar kakak janji oke, kamu tenang ya, kamu istirahat


dulu ya.” Ucap Putra sambil memeluk dan mengelus kepala Arini dan mencoba


meletakkan tubuh lemah Arini kembali beristirahat di atas ranjang, serta


menarik selimut hingga menutupi tubuh Arini.


Tok tok tok “ Tuan makanan nona sudah siap “ Ucap pelayan


yang mengantarkan makanan yang diminta putra dari balik pintu kamar Arini.

__ADS_1


Putra pun segera berdiri dan melangkahkan kaki panjangnya menuju


pintu untuk mengambil makanan tersebut. Nampan kayu berisi semangkok bubur yang


bercampur sayur dan ayam dan satu gelas susu hangat terlihat kala Putra berjalan


kembali ke ranjang Arini.


“ Ar kamu makan dulu ya lalu minum obat.” Putra menaruh


nampan di atas nakas berwarna putih di dekat ranjang serta membujuk Arini untuk


memakannya.


“ Arini tidak lapar kak.” Ucap Arini lemah menolak makanan


yang sudah terhidang itu sambil menggelengkan kepalanya pelan, karena dirinya benar-benar tidak memiliki nafsu makan


saat ini. Dan kembali mencoba menutup mata untuk istirahat.


“ Arini kamu harus makan, kasihan janin kamu kalau kamu


tidak makan, selain itu dokter menganjurkan makan dahulu sebelum meminum obatnya,


kamu dan janinmu harus kuat dan sehat menunggu Vico kembali, agar Vico tidak sedih


melihat kalian nanti.” Putra masih mencoba menggunakan alasan kehamilan Arini


untuk membujuk Arini karena menurutnya hanya itulah kekuatan Arini dan kelemahannya


saat ini atas hilangnya Vico.


Arini membuka matanya menarik nafas dalam dan mencoba duduk


untuk menyantap makanan yang tersedia itu. Bagaimana pun dia tidak boleh


hatinya yang sedang dia kandung saat ini. Melihat hal tersebut Putra segera


mengambil semangkok bubur tersebut dan menyuapi Arini walaupun bubur tersisa


Putra tetap lega melihat Arini mau memakannya, segelas susu hangat pun


diteguknya dan tersisa separuh.


Usai memakan hidangan tersebut Putra segera mengambilkan


obat lalu disuapkan kembali ke Arini. Setelah selesai Putra menyuruh Arini


untuk istirahat. Melihat Arini sudah memejamkan mata Putra lalu keluar sambil membawa


nampan yang berisi mangkok dan gelas dan membawanya ke dapur.


Putra lalu berjalan ke arah ruangan yang biasa menjadi


tempat kerjanya. Diambilnya benda pipih persegi panjang dan dirinya kini


menghubungi seseorang yang bertugas melakukan pencarian untuk menemukan Vico. “


Bagaimana apakah sudah ketemu ?” Tanyanya singkat pada orang yang tengah ia


hubungi.


“ Saat ini hanya ada puing-puing keberadaan pesawatnya saja


untuk semua penumpang yang menaiki belum ada tanda-tanda sama sekali. “ Ucap


sang penerima panggilan terlihat sopan dan terengah-engah dengan suara


seraknya. Pencarian telah dilakukan sejak Putra menerima berita tersebut dari

__ADS_1


Orlando dini hari.


“ Apakah ada kemungkinan selamat ?” Tanya Putra tetap


memikirkan hal yang terbaik yang mungkin bisa terjadi walaupun kemungkinannya


kecil untuk saat ini mengingat puing-puing pesawat yang hancur berantakan


menurut anak buahnya.


“ Belum tahu Tuan, belum bisa memastikan mengingat kerusakan


pesawat yang kemungkinan menabrak dasar laut yang cukup dangkal mengingat


kecelakaan dekat dengan pantai, kemungkinan semua penumpang dan awak tewas


di tempat.” Ucap orang tersebut memberikan kenyataan terburuk yang mungkin


terjadi mengenai kecelakaan Vico tersebut.


Putra terlihat semakin mengerutkan alisnya dengan jari-jari


memijat pelipisnya sambil menutup panggilan tersebut. Dia tidak tahu apa yang


akan terjadi pada adiknya jika kemungkinan itu terjadi dan Vico benar-benar


tewas. Dia tidak tega jika memikirkan Arini ke depannya akan sendirian dan


membesarkan buah hati mereka. Putra memejamkan matanya dengan enggan dan mencoba


berpikir untuk menyelesaikan masalah ini. Memikirkan berbagai hal untuk


mengatasi hal ini.


Dirinya kini mengambil benda pipih itu lagi dari meja dan


memanggil Orlando. “ Bagaimana pencarianmu apakah masih belum ada hasil ?”


Tanya Putra tanpa basa-basi.


“ Masih nihil, huh aku tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi


padahal semua sudah sesuai dan aman untuk penerbangannya, kenapa tiba-tiba


terjadi hal ini aku juga masih menyelidiki penyebab hal ini terjadi.” Ucap


Orlando yang terlihat berada di atas kapal memandu anak buahnya melakukan pencarian


pada Vico dan sekretaris Kim itu.


“ Ada kemungkinan selamat ?” Tanya Putra lagi mencoba


memastikan hal yang sangat penting itu.


“ Entahlah, ada kemungkinan walaupun kecil karena pesawat


tersebut adalah tipe terbaru yang dilengkapi sistem keselamatan terbaik saat


ini, tapi bagaimanapun aku tidak tahu mengingat dangkalnya laut yang terbentur


dengan badan pesawat.” Ucap Orlando yang memberikan sedikit harapan pada Putra.


“ Baiklah kabari jika ada berita selanjutnya kerjasamalah


dengan orangku juga yang berada di sana.” Ucap Putra lalu menutup panggilan


tersebut, walau kemungkinan selamat kecil tapi Putra berharap keajaiban bisa terjadi


walau dirinya tidak mempercayainya.

__ADS_1


__ADS_2