My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Mengunjungi Mertua


__ADS_3

Tidak terasa kendaraan yang mereka kendarai sudah memasuki


rumah mewah milik Vico. Seperti biasa sekretaris Kim membukakan pintu untuk


tuannya dan memberikan penghormatan lalu pulang ke kediamannya sendiri.


Rumah megah itu terasa sepi saat malam, langkah kaki Vico


membuat Arini menengok ke belakang di mana dia tengah mengerjakan pekerjaan


kantor yang tertunda lama karena tidak diijinkan Vico selama masa


penyembuhannya. Vico yang melihat istri cantiknya masih terlihat belum


istirahat lalu mendekatinya.


“ Kenapa belum istirahat ?” Tanya Vico sambil duduk di


samping Arini dan mencium puncak kepalanya lembut. Arini memang selalu manjur


membuat berubah menjadi orang berbeda sosok iblisnya, arogan dan dinginnya akan


sirna jika berada di depan Arini.


“ Aku menunggumu sekalian mengecek beberapa pekerjaan


kantor, apa kamu sudah makan ?” Tanya Arini memastikan jika Vico sudah makan


malam. Dia terlihat mengakhiri pekerjaannya dengan menutup leptop yang tengah


dia pangku dan meletakkan di atas nakas. Dia melepaskan dasi Vico dan


meletakkannya di meja juga.


“ Belum, bagaimana jalan-jalanmu dengan kakakmu tadi ?”


Tanya Vico sambil meregangkan ototnya terasa kaku kemudian beralih memandang


wajah Arini yang terlihat sayu karena mengantuk. Tangan kanannya mengusap pipi


Arini lembut dan menyalipkan anak rambut yang terlihat bergantung di dekat


telinga Arini.


“ Menyenangkan sekali, lekaslah mandi aku akan menyiapkan


makan malammu.” Ucap Arini lalu berjalan digandeng Vico menuju kamarnya untuk


menyiapkan air mandi Vico dan pakaian yang akan dia kenakan usai itu dia segera


ke bawah dan menyiapkan makan malam untuk Vico.


Terlihat Arini menata beberapa makanan kesukaan Vico dari


mulai sayur dan lauk. Ia duduk di menunggu Vico, hari ini hari pertamanya


bekerja setelah cuti beberapa hari untuk penyembuhan. Dia bersyukur semuanya


berjalan baik pada perusahaannya. Ada yang mengganggunya dengan pesan seperti


sebelumnya dari seseorang yang dia yakini adalah Valdo, tapi berkat dia


berjalan-jalan dengan kakaknya dia mencoba melupakan permasalahan itu.


Arini sebenarnya beberapa kali ingin bercerita dengan


kakaknya saat mereka berdua tadi karena memang hanya kakaknya yang Arini bisa


percaya untuk menyelidiki hal tersebut. Dia tidak ingin merepotkan Vico atau


membuat semua semakin rumit sehingga dia tidak membicarakannya.


“ Kenapa kamu melamun ?” Vico yang barusan turun dari tangga

__ADS_1


melihat Arini yang tengah melamun menunggunya. Senyum Arini ulas untuk mengusir


keraguan Vico bahwa dia tidak apa-apa. Seperti biasa Arini mengambilkan semua


makanan ke piring Vico dan piringnya lalu menyantapnya bersama-sama. Tidak ada


pembicaraan antara keduanya.


“ Vic bagaimana kalau besok kita ke rumahku aku sangat rindu


dengan mamah dan papah ?” Ajak Arini karena sejak mereka menikah belum pernah


sekalipun berkunjung ke rumah Arini.


“ Baiklah besok aku akan menjemputmu dan kita langsung ke


rumahmu ya.” Jawab Vico yang juga ingin mengenal keluarga istrinya tersebut.


Senyum bahagia dari Arini karena kerinduannya dengan kedua orang tuanya akan


segera terhempas. Usai makan selesai mereka pun kembali beristirahat.


Pagi itu Arini menerima beberapa klien baru untuk proyek


desain gedung dan juga rumah. Perusahaan desainnya berkembang usai mendapat


kepercayaan dari beberapa perusahaan besar. Kali ini perusahaan desain Arini


dipercaya untuk mendesain kawasan villa mewah di daerah yang sedang berkembang.


Walau ini pertama kali mendapat kepercayaan sebesar itu Arini terlihat sangat


antusias karena tidak seperti perusahaan besar lainnya yang perlu mengikuti


tender tapi orang dari perusahaan itu sendiri yang datang ke Perusahaannya.


Belanda


“ Dasar bodoh si Fernando itu menyingkirkan semut kecil saja


si Orlando, bahkan kali ini Grup mafia Dark Knight juga ikut dalam penyelidikan


ini, aku benar-benar harus memotong semuanya untuk kembali menyerang.” Ucap


Pria yang tengah duduk di singgasananya dengan mengisap cerutu dan mengepulkan


asap dari bibir coklat tebal miliknya.


Indonesia


Sore itu terlihat masih sangat cerah, Arini yang memang


tidak sabar untuk bertemu kedua orang tuannya yang saat ini tidak melakukan


perjalanan bisnis terlihat sudah bersiap-siap ingin pulang. Tidak seperti biasa


ia yang masih sibuk dengan berbagai pekerjaan hingga Vico menghubunginya kali


ini dia terlihat mengambil benda pipih tersebut dan menghubungi suami


tercintanya itu.


“ Hallo iya Ar ada apa ?” Tanya Vico yang terlihat masih


membuka map yang tertumpuk di depannya menunggu persetujuan bos dari Angkasa


Grup tersebut.


“ Kamu sudah sampai mana ?” Tanya Arini yang kini sudah


berpindah tempat duduk di sofa empuknya untuk sekedar meluruskan tubuhnya yang


terasa kaku karena seharian berada di depan komputer memikirkan desain untuk

__ADS_1


banyak klien yang tengah ditangani perusahaannya.


“ Masih di kantor, sebentar lagi aku akan menjemputmu.” Ucap


Vico usai melihat jam dinding hitam yang menggantung di dinding yang menandakan


waktu untuk pulang kerja bagi para karyawannya. Dia terlihat memijat pelipisnya


karena terlalu fokus pada dokumen-dokumen tersebut hingga lupa waktu.


“ Baiklah jika sudah dekat nanti hubungi aku ya.” Ucap Arini


lalu memutus panggilannya usai Vico mengiyakan permintaannya tersebut. Ada


sedikit kekecewaan karena biasanya Vico sudah menghubunginya di jam ini dan


bahkan sudah berada di dekat kantornya. Tapi semua itu sirna kala hatinya


berpikir mungkin Vico tengah sibuk hari ini.


Tidak terasa mobil yang di kendarai Vico sudah mendekati


kantor milik Arini. Terlihat Arini juga sudah berada di depan kantornya


menunggu Vico. Arini yang melihat kendaraan suaminya sudah menepi ia pun segera


masuk.


“ Vic mampir ke Mall sebentar ya aku ingin membelikan


sesuatu untuk mamah dan papah.” Ucap Arini sambil memandang Vico. Vico


mengiyakannya dan menarik tubuh Arini hingga kini bertumpu pada dada bidang


miliknya. Walaupun sudah suami istri hampir setengah tahun Arini masih selalu


merasa berdebar-debar jika Vico melakukan hal-hal yang tidak terduga pada


dirinya. Vico menangkup wajah Arini dan menciumnya bibir ranum Arini lembut.


Kecemasan semalam yang ada pada dirinya terasa sirna usai


melakukan hal tersebut. Arini yang tidak mengetahui apa-apa hanya menerima


perlakuan Vico tersebut. Arini terlihat sedikit kaget pada awalnya.


“ Ada apa Vic ?” Tanya Arini karena merasa ada yang aneh


pada tatapan wajah Vico.


“ Tidak ada aku hanya sangat merindukanmu.” Ucap Vico


mencoba menenangkan hati Arini.


“ Benarkah ?” Tanya Arini ragu.


“ Iya , oh kita sudah sampai.” Ucap Vico kala mereka sudah


memasuki kawasan mall megah milik Perusahaannya itu. Arini pun langsung turun


di temani Vico walaupun sebenarnya Arini ingin sendiri untuk membeli hadiah itu


tapi Vico memaksa untuk ikut hingga akhirnya mereka bersama-sama membeli hadiah


untuk orang tua Arini.


Seperti biasa jika si Tuan Tampan dan kaya raya ini masuk ke


tempat keramaian selalu menyebabkan semua mata menatap iri dengan wanita yang


berada di sampingnya. Kekaguman para wanita dan ibu-ibu pada sosok orang yang


menjadi pria idaman nomor satu di negara ini selalu tak bisa dihindarkan. Arini

__ADS_1


yang sebagai istri walau merasa risih hanya bisa menghela nafas kasar karena


memiliki Pria tersebut menjadi suaminya.


__ADS_2