
Tidak terasa kendaraan yang mereka kendarai sudah memasuki
rumah mewah milik Vico. Seperti biasa sekretaris Kim membukakan pintu untuk
tuannya dan memberikan penghormatan lalu pulang ke kediamannya sendiri.
Rumah megah itu terasa sepi saat malam, langkah kaki Vico
membuat Arini menengok ke belakang di mana dia tengah mengerjakan pekerjaan
kantor yang tertunda lama karena tidak diijinkan Vico selama masa
penyembuhannya. Vico yang melihat istri cantiknya masih terlihat belum
istirahat lalu mendekatinya.
“ Kenapa belum istirahat ?” Tanya Vico sambil duduk di
samping Arini dan mencium puncak kepalanya lembut. Arini memang selalu manjur
membuat berubah menjadi orang berbeda sosok iblisnya, arogan dan dinginnya akan
sirna jika berada di depan Arini.
“ Aku menunggumu sekalian mengecek beberapa pekerjaan
kantor, apa kamu sudah makan ?” Tanya Arini memastikan jika Vico sudah makan
malam. Dia terlihat mengakhiri pekerjaannya dengan menutup leptop yang tengah
dia pangku dan meletakkan di atas nakas. Dia melepaskan dasi Vico dan
meletakkannya di meja juga.
“ Belum, bagaimana jalan-jalanmu dengan kakakmu tadi ?”
Tanya Vico sambil meregangkan ototnya terasa kaku kemudian beralih memandang
wajah Arini yang terlihat sayu karena mengantuk. Tangan kanannya mengusap pipi
Arini lembut dan menyalipkan anak rambut yang terlihat bergantung di dekat
telinga Arini.
“ Menyenangkan sekali, lekaslah mandi aku akan menyiapkan
makan malammu.” Ucap Arini lalu berjalan digandeng Vico menuju kamarnya untuk
menyiapkan air mandi Vico dan pakaian yang akan dia kenakan usai itu dia segera
ke bawah dan menyiapkan makan malam untuk Vico.
Terlihat Arini menata beberapa makanan kesukaan Vico dari
mulai sayur dan lauk. Ia duduk di menunggu Vico, hari ini hari pertamanya
bekerja setelah cuti beberapa hari untuk penyembuhan. Dia bersyukur semuanya
berjalan baik pada perusahaannya. Ada yang mengganggunya dengan pesan seperti
sebelumnya dari seseorang yang dia yakini adalah Valdo, tapi berkat dia
berjalan-jalan dengan kakaknya dia mencoba melupakan permasalahan itu.
Arini sebenarnya beberapa kali ingin bercerita dengan
kakaknya saat mereka berdua tadi karena memang hanya kakaknya yang Arini bisa
percaya untuk menyelidiki hal tersebut. Dia tidak ingin merepotkan Vico atau
membuat semua semakin rumit sehingga dia tidak membicarakannya.
“ Kenapa kamu melamun ?” Vico yang barusan turun dari tangga
__ADS_1
melihat Arini yang tengah melamun menunggunya. Senyum Arini ulas untuk mengusir
keraguan Vico bahwa dia tidak apa-apa. Seperti biasa Arini mengambilkan semua
makanan ke piring Vico dan piringnya lalu menyantapnya bersama-sama. Tidak ada
pembicaraan antara keduanya.
“ Vic bagaimana kalau besok kita ke rumahku aku sangat rindu
dengan mamah dan papah ?” Ajak Arini karena sejak mereka menikah belum pernah
sekalipun berkunjung ke rumah Arini.
“ Baiklah besok aku akan menjemputmu dan kita langsung ke
rumahmu ya.” Jawab Vico yang juga ingin mengenal keluarga istrinya tersebut.
Senyum bahagia dari Arini karena kerinduannya dengan kedua orang tuanya akan
segera terhempas. Usai makan selesai mereka pun kembali beristirahat.
Pagi itu Arini menerima beberapa klien baru untuk proyek
desain gedung dan juga rumah. Perusahaan desainnya berkembang usai mendapat
kepercayaan dari beberapa perusahaan besar. Kali ini perusahaan desain Arini
dipercaya untuk mendesain kawasan villa mewah di daerah yang sedang berkembang.
Walau ini pertama kali mendapat kepercayaan sebesar itu Arini terlihat sangat
antusias karena tidak seperti perusahaan besar lainnya yang perlu mengikuti
tender tapi orang dari perusahaan itu sendiri yang datang ke Perusahaannya.
Belanda
“ Dasar bodoh si Fernando itu menyingkirkan semut kecil saja
si Orlando, bahkan kali ini Grup mafia Dark Knight juga ikut dalam penyelidikan
ini, aku benar-benar harus memotong semuanya untuk kembali menyerang.” Ucap
Pria yang tengah duduk di singgasananya dengan mengisap cerutu dan mengepulkan
asap dari bibir coklat tebal miliknya.
Indonesia
Sore itu terlihat masih sangat cerah, Arini yang memang
tidak sabar untuk bertemu kedua orang tuannya yang saat ini tidak melakukan
perjalanan bisnis terlihat sudah bersiap-siap ingin pulang. Tidak seperti biasa
ia yang masih sibuk dengan berbagai pekerjaan hingga Vico menghubunginya kali
ini dia terlihat mengambil benda pipih tersebut dan menghubungi suami
tercintanya itu.
“ Hallo iya Ar ada apa ?” Tanya Vico yang terlihat masih
membuka map yang tertumpuk di depannya menunggu persetujuan bos dari Angkasa
Grup tersebut.
“ Kamu sudah sampai mana ?” Tanya Arini yang kini sudah
berpindah tempat duduk di sofa empuknya untuk sekedar meluruskan tubuhnya yang
terasa kaku karena seharian berada di depan komputer memikirkan desain untuk
__ADS_1
banyak klien yang tengah ditangani perusahaannya.
“ Masih di kantor, sebentar lagi aku akan menjemputmu.” Ucap
Vico usai melihat jam dinding hitam yang menggantung di dinding yang menandakan
waktu untuk pulang kerja bagi para karyawannya. Dia terlihat memijat pelipisnya
karena terlalu fokus pada dokumen-dokumen tersebut hingga lupa waktu.
“ Baiklah jika sudah dekat nanti hubungi aku ya.” Ucap Arini
lalu memutus panggilannya usai Vico mengiyakan permintaannya tersebut. Ada
sedikit kekecewaan karena biasanya Vico sudah menghubunginya di jam ini dan
bahkan sudah berada di dekat kantornya. Tapi semua itu sirna kala hatinya
berpikir mungkin Vico tengah sibuk hari ini.
Tidak terasa mobil yang di kendarai Vico sudah mendekati
kantor milik Arini. Terlihat Arini juga sudah berada di depan kantornya
menunggu Vico. Arini yang melihat kendaraan suaminya sudah menepi ia pun segera
masuk.
“ Vic mampir ke Mall sebentar ya aku ingin membelikan
sesuatu untuk mamah dan papah.” Ucap Arini sambil memandang Vico. Vico
mengiyakannya dan menarik tubuh Arini hingga kini bertumpu pada dada bidang
miliknya. Walaupun sudah suami istri hampir setengah tahun Arini masih selalu
merasa berdebar-debar jika Vico melakukan hal-hal yang tidak terduga pada
dirinya. Vico menangkup wajah Arini dan menciumnya bibir ranum Arini lembut.
Kecemasan semalam yang ada pada dirinya terasa sirna usai
melakukan hal tersebut. Arini yang tidak mengetahui apa-apa hanya menerima
perlakuan Vico tersebut. Arini terlihat sedikit kaget pada awalnya.
“ Ada apa Vic ?” Tanya Arini karena merasa ada yang aneh
pada tatapan wajah Vico.
“ Tidak ada aku hanya sangat merindukanmu.” Ucap Vico
mencoba menenangkan hati Arini.
“ Benarkah ?” Tanya Arini ragu.
“ Iya , oh kita sudah sampai.” Ucap Vico kala mereka sudah
memasuki kawasan mall megah milik Perusahaannya itu. Arini pun langsung turun
di temani Vico walaupun sebenarnya Arini ingin sendiri untuk membeli hadiah itu
tapi Vico memaksa untuk ikut hingga akhirnya mereka bersama-sama membeli hadiah
untuk orang tua Arini.
Seperti biasa jika si Tuan Tampan dan kaya raya ini masuk ke
tempat keramaian selalu menyebabkan semua mata menatap iri dengan wanita yang
berada di sampingnya. Kekaguman para wanita dan ibu-ibu pada sosok orang yang
menjadi pria idaman nomor satu di negara ini selalu tak bisa dihindarkan. Arini
__ADS_1
yang sebagai istri walau merasa risih hanya bisa menghela nafas kasar karena
memiliki Pria tersebut menjadi suaminya.