
Hari ini terasa sangat panjang menurut Arini. Dini hari yang
gelap dengan angin sepoi menyentuh pipi mulus Arini kala dirinya berdiri di
balkon kamarnya untuk menenangkan hatinya. Dia terlihat memandang tanpa arah
hanya sekedar untuk membuat sang waktu segera berlalu. Matanya memejam enggan
sambil mengela nafas kasar. Tubuhnya terasa lelah dan kini dia mengistirahatkan
di bangku dekat jendela.
Putra yang hanya memperhatikan Arini yang berdiri di dekat
pintu kini mulai mendekat. “ Ar segeralah istirahat ini sudah malam.” Ucapnya
karena mengetahui waktu sudah menunjukkan pukul 11.25 di benda bulat yang
melingkari pergelangan tangannya itu. Tangannya menarik tubuh Arini mengajaknya
kembali ke dalam kamar agar sang adik tersebut bisa segera istirahat. Arini
sudah seperti boneka bergerak sesuai ajakan putra. Selimut sudah ditarik ke
atas menutup tubuh Arini. Mata yang terlihat merah dan sembab itu enggan untuk
menutup, waktu istirahat yang biasanya dilakukan pukul 9 malam kini seolah tak
ada sedikit pun rasa kantuk menghinggapi Arini. Putra beberapa kali menyuruhnya
segera tidur tapi Arini hanya bergerak-gerak di atas ranjang untuk mencari
posisi ternyaman untuk istirahat tetapi tetap saja tidak bisa tidur. Hingga
Putra mematikan semua lampu dan menyisakan sebuah lampu kecil di atas nakas
dekat ranjang Arini dan menutup mata Arini dengan tangan kanannya. Nafas Arini
yang sebelumnya tidak teratur berangsur-angsur mulai stabil menandakan dirinya
sudah terlelap. Putra pun segera pergi usai memastikan Arini tertidur. Langkahnya
pelan karena tidak ingin membangunkan Arini. Dirinya berjalan kembali ke ruang
kerjanya menjatuhkan tubuhnya kasar merasa lelah dengan apa yang terjadi hari
ini.
Italia
Di ruang belajar seorang pria setengah baya terlihat
menghisap cerutunya. Seorang pria berpakaian hitam terlihat berdiri di
depannya.” Tuan rencana menyingkirkan Vico sudah berjalan lancar pesawat yang
dikendarainya mengalami kecelakaan sampai saat ini masih belum ditemukan para
penumpang dan awaknya, diperkirakan semuanya sudah tewas.” Ucap pria tersebut.
Pria itu menyeringai dan memberi kode untuk sang bawahan itu
pergi. “ Akhirnya 1 orang tersingkir sisa 2 orang lagi untuk aku habisi. Kamu
harus merasakan rasanya kehilangan karena kamu telah meninggalkanku saat itu
__ADS_1
demi orang lain dan hidup bahagia. Saatnya aku menyingkirkan Orlando untuk membalaskan
kematian Ayahku yang dibunuh oleh kakeknya, aku sudah berhasil membunuh ayahnya
tinggal dia seorang keturunan si tua yang juga sudah mati ditanganku itu. Jika
mereka tahu bahwa ayah masih memilikiku dulu mereka pasti juga menghabisiku,
dasar keluarga sialan.”
Pria itu kembali menghisap cerutunya dan mengepulkan asap
putih yang pekat. Tangannya mengetuk-ngetuk kursi seolah berpikir hal lain.”
Black Kingdom sekarang sudah berkembang pesat dibandingkan waktu dulu yang
hanya preman wilayah semua itu karena otak cerdik anak dari wanita sialan itu
bagaimana mereka bisa bertemu dan bekerja sama padahal keduanya seharusnya
tidak ada hubungannya sama sekali, huh bagaimana pun keduanya sudah ditakdirkan
aku habisi untuk membalaskan dendamku.” Usai cerutu itu habis dirinya lalu berdiri
dan meninggalkan ruangan itu banyak pengawal di luar pintu melakukan penghormatan
kala dirinya melewatinya.
Keluarga Vico
Mama Vico terlihat berjalan mondar-mandir di ruang keluarga
di depan layar televisi yang masih menampilkan perkembangan evakuasi kecelakaan
yang dialami Vico. Bagaimana pun Vico adalah orang yang berpengaruh di dalam negeri
media sosial dan berita tagar #PrayforVico masih menjadi trending topik.
“ Pa apakah masih
belum ada kabar tentang Vico ?” Tanya mama Vico yang wajahnya terlihat sangat
cemas karena kabar sang anak kesayangan mengalami kecelakaan maut. Papa Vico
pun juga terlihat memijat keningnya yang terlihat kaku karena berita tersebut.
Sekeras apa pun dia dengan Vico dia sangat menyayangi anak lelakinya itu. Dirinya
dan sang istri bahkan sudah mempersiapkan armada untuk pergi ke tempat kejadian
esok hari. Sebenarnya dia ingin berangkat hari ini tetapi masih ada urusan
perusahaan yang harus dibereskan karena kepergian Vico dan berita kecelakaan
yang menyebabkan gejolak harga saham pada perusahaannya. Dirinya juga
sebenarnya juga berusaha menekan berita tetapi karena animo masyarakat yang
tinggi dan perkembangan telekomunikasi hal tersebut tersebar dengan cepat.
“ Masih belum.” Ucapnya frustasi dan berdiri mengambil benda
pipih untuk menghubungi seseorang yang merupakan anak buahnya yang dia kirim
untuk mengikuti evakuasi di tempat kejadian.“ Apakah masih belum ada kabar ?” Tanyanya
__ADS_1
dengan alis mengerut berharap ada angin segar tentang keberadaan sang putra
semata wayangnya itu.
“ Belum ada.” Jawab orang yang dihubungi terdengar pasrah
dengan keadaan di lapangan.
“ Perluas pencarian !” Perintahnya lagi pada orang tersebut.
Berita kecelakaan Vico membuat semua orang mengerahkan banyak tim pencarian
baik dari Orlando, Putra maupun orang tua Vico sendiri tapi hingga hampir 24
hilang, masih belum ada kabar tentang keberadaan Vico, sekretaris Kim dan awak
yang lain.
“ Pa besok jika papa masih sibuk Mama akan berangkat sendiri
ke sana ya, Mama tidak bisa berdiam diri seperti ini di rumah, padahal Arini
sedang hamil dan itu merupakan hal yang mama tunggu-tunggu tetapi kenapa anak
itu malah tidak kembali Pa.” Mama Vico terlihat menangis frustasi dan tidak
sabar dengan semua kerja keras orang-orang yang melakukan pencarian dan ingin
sekali segera berangkat ke sana untuk mencari putra kesayangannya itu.
“ Ma tenanglah, Papa besok akan ke sana juga, Papa sudah menyiapkan
semua untuk keberangkatan besok jadi mama jangan menangis lagi, Vico pasti
ketemu anak itu pasti selamat, percaya dengan papa ya Ma.” Bujuk Papa Viko
sambil mengusap kepala mama Vico dan memberikan tissue padanya. Mama Vico berderai
air matanya seakan tidak mau berhenti. Hati ibu mana yang rela kehilangan
anaknya dalam kecelakaan yang tragis seperti itu.
“ Iya Pa. Mama berharap Vico selamat kemungkinan sekecil apa
pun kita tidak boleh menyerah Pa untuk mencari Vico, dia pasti akan bahagia jika
mengetahui Arini hamil.” Ucapnya sambil mengusap air mata dan memeluk suaminya.
Rumah Arini
Terlihat seorang pria memanjat balkon Arini, pria tinggi itu
terlihat dengan mudah sampai di balkon lalu masuk ke dalam kamar Arini. Dirinya
lalu mencium bibir pucat Arini mengelus rambut panjangnya. “ Aku akan segera
menjemputmu priamu sudah tewas sekarang itu adalah takdir di mana seharusnya
kitalah yang bersama, tunggu aku sayang.”
Usai melakukan hal tersebut dirinya pergi meninggal kamar
Arini dia menggunakan Hoodi hitam dengan mudah melewati pagar tinggi dan
beberapa penjaga di rumah Arini. Sebuah mobil jeep hitam tidak jauh dengan
__ADS_1
rumah itu terparkir dan kini sang pria itu membuka Hoodinya dan memperlihatkan
wajahnya yang tak lain adalah mantan pacar Arini Valdo.