
Terlihat ruangan luas dengan arsitektur minimalis yang
elegan pada ruang kerja Vico. Arini terduduk di sofa dan kembali memainkan ponselnya
untuk mengusir kebosanan. Sifat Arini memang sangat tidak suka berdiam diri
walaupun hanya suka di rumah dia selalu melakukan berbagai hal mulai mendesain,
merawat tanaman atau sekedar memasak untuk dirinya sendiri dan membaca buku, komik atau sekedar menonton drama korea.
“ Vico.” Ucap Haris yang memang biasa masuk ke ruangan Vico
tanpa permisi itu. Teman yang selalu merasa kekurangan pekerjaan dan mendatangi
Vico saat bosan untuk sekedar mengganggunya. Melihat Vico tidak di ruangannya
dia ingin kembali tapi sorot matanya menangkap sesosok wanita idamannya yang
tak lain adalah Arini. Haris mengurungkan kepergiannya dan masuk mendekati
Arini.
“ Ar apa yang kamu lakukan di sini ? Apakah menunggu Vico ?”
Tanya Haris dengan polosnya berpikir mungkin Arini ada pekerjaan yang
mengharuskan dirinya bertemu Vico. Dengan santai dia duduk di dekat Arini dan
bertindak akrab seperti biasanya.
“ Oh mmm iya.” Ucap Arini tidak ingin membongkar
identitasnya. Terlihat mata Haris menyusuri seluruh tubuh Arini dan melihat bekas
luka pada beberapa bagian yang tidak tertutupi pakaian Arini.
“ Ada apa denganmu ? Apa yang terjadi ?” Ucap Haris sambil
menggenggam tangan Arini terlihat kekawatiran pada sorot wajah Haris melihat
wanita yang dia dambakan terluka.
“ Tidak apa-apa hanya luka gores, akan segera sembuh.” Ucap
Arini sambil melepas genggaman tangan Haris karena risih dan tidak mau di
pegang oleh orang yang bukan mahramnya itu. Arini juga menjauhkan duduknya dari
dekat Haris agar ada jarak yang cukup jauh. Haris yang merasa Arini menjauhinya
kembali mendekatkan tubuhnya kembali. Hingga Arini berpindah duduk ke sofa
single di seberang.
“ Bukankah kamu bilang kamu sudah menikah ? Apakah ini
dilakukan suamimu ? Ar jika kamu tidak bahagia dengannya atau bahkan dia
memperlakukan hal buruk ini padamu ceraikan saja suamimu itu dan menikahlah
denganku, dia tidak pantas memilikimu.” Ucap Haris yang menyimpulkan isi
pikirannya sendiri tanpa mengetahui alasan dan kejelasan penyebab luka pada
tubuh Arini itu.
“ Ris ini bukan seperti yang kamu pikirkan suamiku tidak
seperti itu. Dia sangat baik padaku.” Arini menghembus nafas kasar menghadapi
__ADS_1
Haris yang selalu unik menurutnya itu.
“ Apakah kamu diancam agar tidak memberitahukan pada orang
lain atas kekerasan dalam rumah tangga, tenang Ar aku akan mempekerjakan kuasa
hukum yang handal untuk membantumu bercerai, dan aku akan melindungimu darinya,
bagaimana kamu berpisah saja ya dengan dia ?” Ucap Haris menggebu-gebu ingin
membantu Arini bercerai dengan suaminya agar dia punya kesempatan bersama
dengan Arini selamanya.
“ Apa kamu bilang ?” Vico yang sudah selesai rapat masuk ke
dalam ruangannya dengan sorot mata membunuh dan dingin.
“ Iya Vic, Ini Arini wanita yang selalu aku bicarakan saat
kuliah, bukankan dia sangat cantik tapi sayang aku baru bertemu sekarang dan
dia bilang sudah menikah dan lihat dia terluka pasti suaminya melakukan
kekerasan padanya, aku ingin membantunya berpisah dengan suaminya agar dia
tidak terluka lagi, bukankah aku orang yang baik.” Ucap Haris dengan ketidaktahuannya
mengadu pada Vico .
“ Apa kamu bilang berpisah dengan suaminya, aku suaminya.”
Ucap Vico menatap dingin pada Haris dengan marah dan berasa ingin memakan pria
tampan di depannya itu.
“ Apa ? jadi istrimu Arini ?” Haris tidak percaya dengan
dengan berbagai penalaran tapi masih tidak bisa tersambung.
“ Bagaimana bisa kalian bisa bersama, Ar kenapa kamu menikah
dengan dia, aku sangat menyayangimu Ar, dia itu manusia berdarah dingin.” Haris
kembali mendekati Arini.
“ Jangan dekat-dekat. Arini sedang terluka.” Ucap Vico menyingkirkan
Haris dari dekat Arini dan mendudukkan tubuh Arini pada pangkuannya.
“ Vic kenapa kamu mengambil Ariniku? aku sangat menyayangi
dia. Lihat Arini terluka pasti karena ulah kamu kan ?” Ucap Haris sambil
bersungut karena kekecewaannya pada cinta pertamanya yang harus pupus ditangan
sahabat setianya.
“ Sudah, Ris dia Vico suamiku yang aku pernah bilang padamu,
dan aku terluka bukan karena dia, jadi tolong jangan mendekatiku lagi.” Ucap
Arini tegas pada Haris agar pria yang menyayanginya selama ini menyerah akan
perasaannya.
“ Tapi Ar, aku tidak bisa melupakanmu aku sudah mencoba berhubungan
dengan wanita lainnya tapi aku selalu teringat denganmu, jika saja aku bertemu
__ADS_1
denganmu lebih dulu pasti aku yang akan menjadi suamimu, bukan Vico.” Ucap Haris
yang sangat sedih dengan waktu yang tidak berpihak padanya kali ini hingga
membuatnya sekali lagi berpisah dan bahkan benar-benar mengubur semua perasaan
cinta pada wanita pertama yang menggetarkan hatinya tersebut.
Arini kenapa kamu selalu bisa memikat pria lain, rasanya
ingin sekali aku mengurungmu dan memilikimu sendiri, aku tidak ingin dia
bertemu dengan pria lainnya dan pria itu terpikat pada Ariniku. Batin Vico
“ Sudahlah Ris. Kita hanya bisa berteman saja sekarang, kamu
pasti akan bertemu dengan wanita yang lebih baik dariku, cobalah membuka diri
lagi.” Ucap Arini menyemangati Haris.
“ Tidak boleh berteman juga tidak boleh, kamu jangan
berhubungan lagi dengannya, pokoknya hanya aku yang boleh berhubungan dengan
kamu .” Vico yang tidak terima berucap dengan cepat agar Arini tidak dekat
dengan Haris lagi.
“ Kamu pelit sekali jadi suami, berteman saja tidak boleh,
toh Arini masih ikut dalam tender pembangun dengan perusahaanku jadi masih
bertemu beberapa kali.” Haris yang tidak terima mencoba mencari jalan agar bisa
bertemu Arini untuk melepaskan perasaannya pelan-pelan.
“ Ar suruh karyawanmu saja mengurusinya, pokoknya kamu tidak
boleh bertemu dia lagi ya.” Ucap Vico sambil menatap Arini lekat karena tidak
ingin istri tercintanya dekat dengan cinta lamanya itu.
“ Huh baiklah, maaf ya Ris nanti pekerjaanku akan aku
delegasikan pada karyawanku untuk mengurusinya.” Ucap Arini agar kedua sahabat
itu bisa berhenti memperebutkannya.
“ Dasar kamu suami posesif, kamu pasti takut kalah denganku.”
Ejek Haris merasa bisa menang dari Vico karena kekuatan cinta lamanya. Sebenarnya
Vico sudah ingin meninju wajah Haris jika tidak ada Arini, Vico memang berusaha
sabar di depan Arini dia tidak ingin jiwa monsternya keluar.
“ Berani menggoda istriku ?” Ucap Vico pelan dengan tatapan
tajam membunuh karena sudah tidak bisa meredam emosinya.
“ Santai Vic, tidak-tidak aku tidak berani. Baiklah aku akan
pulang dulu tidak mengganggu kalian, sampai jumpa Arini aku pulang dulu.” Ucap
Haris yang tidak berani lagi menggoda Vico yang terkenal sadis itu dia berlalu
pergi meninggalkan ruangan kerja Vico tersebut.
“ Ariniku sudah menikah, bahkan dia menikah dengan Vico aku
__ADS_1
sudah tidak punya harapan lebih baik aku ke bar untuk menghilangkan kesedihanku
saat ini.” Gumam Haris dan menancapkan gas untuk menuju Bar langganannya.