
Hari berlalu seorang dengan tubuh kekar duduk di kursi hitam
dengan topi hitam dan cerutu pada mulutnya. Dia terlihat sangat berkuasa karena
terlihat dari banyaknya pengawal dan penjaga dari rumah megah miliknya. Ruangan
yang terlihat bertembok coklat dengan lantai marmer berwarna gading itu terasa
sangat menyeramkan karena banyaknya kepala hewan terpasang menjadi pajangan di
dinding.
“ Telpon.” Ucapnya menyuruh seorang pelayannya untuk
melakukan panggilan telepon untuknya. Asap mengepul dari mulutnya setelah
cerutuh berwarna coklat pekat itu ia hisap dengan bibir tebal kecoklatan
miliknya. Pria yang berpakaian serba hitam itu terlihat mengeryitkan alisnya.
“ Silakan tuan.” Asistennya memberikan telepon yang sudah
mendapat jawaban dari seorang yang dia hubungi." Bagaimana apakah semua aman ?”
Tanya Pria tersebut pada seseorang. Senyum seringai bak iblis ia keluarkan jika
tidak mengenalnya hal itu dapat membuat bulu kuduk berdiri merasa ngeri dengan
senyuman bak iblis itu.
“ Aman tuan, mereka sangat penurut.” Jawab pria bertubuh
kekar yang menjadi penjaga Vico dan Orlando yang mereka sekap. Terlihat banyak
puntung rokok dan minuman keras di depan meja. Orang yang menjadi temannya
berjaga terlihat tertidur pulas entah karena mabuk atau apa.
“ Bagus, kalian tidak lama lagi bisa mengeksekusinya, tunggu
perintah dariku.” Ucap Pria kekar tersebut. Panggilan itu lalu ia putuskan dan
menghubungi seseorang yang tak lain adalah Fernando paman Vico yang menjadi
anak buah dadakannya. Mereka memiliki tujuan yang sama yaitu menyingkirkan Vico
jika Fernando ingin mendapatkan harta dia hanya ingin saja melakukan itu.
“ Kamu bisa memerasnya sekarang !” Perintah pria tersebut
pada Fernando dan mendapat jawaban siap dari pria yang sudah berkhianat pada
keluarganya tersebut bahkan tega menyakiti keponakannya demi harta yang
harusnya tidak bisa ternilai dibandingkan nyawa manusia itu.
Usai Fernando dia mencoba menghubungi suruhannya untuk
menghubungi keluarga Orlando untuk menyerahkan kepemimpinan grup mafianya
padanya jika ingin Orlando selamat beserta mengirimkan foto keadaan Orlando dan
keluarganya.
Jerman
Fernando mencoba berbicara dengan adik perempuannya di
ruangan tersendiri dari rumah mereka. Saat itu papah Vico tengah sibuk dalam
pencarian begitu pun kakek Vico dan seharusnya Fernando juga. Tapi dia terlihat
__ADS_1
tidak mau ikut sibuk mencari keponakannya dan mencoba memeras adiknya tersebut.
“ Berikan semua warisan ayah padaku, tanda tangani surat
serah terima ini dan aku akan melepaskan anak laki-lakimu.” Ucapnya sambil
menyodorkan dokumen beserta foto yang menampakkan keadaan Vico yang tengah di
sekap. Dia juga menyuruh adiknya tidak mengatakan hal itu pada orang lain atau
Vico akan dibunuh.
“ Kak kenapa kamu melakukan ini bukankah kamu juga
menyayangi Vico selama ini ?” Tanya mamah Vico merasa sangat sedih dan tidak
percaya jika kakaknya itu sebegitunya menginginkan harta dari orang tuanya
untuk dikuasainya sendiri bahkan melakukan hal sekejam itu pada anak kecil.
“ Diamlah, sudah tanda tangani saja cepat, atau anak kamu
benar-benar akan dihabisi.” Fernando menatap tajam adik perempuannya dan
mendesaknya untuk segera menandatangani surat pemindahan harta dengan map biru
ditangannya tersebut.
“ Kak aku tidak bisa.” Ucap mamah Vico terlihat menangis
karena memang tidak bisa melakukan perintah Fernando tersebut, dia sangat sedih
melihat keadaan anaknya tersebut tapi dia tetap tidak bisa melakukan perintah
Fernando tersebut.
Fernando mencoba mencekik leher adik perempuannya tersebut.
Tanyanya dengan mata memerah marah dengan penolakan adik perempuannya yang
menurutnya lebih menginginkan harta dibanding anaknya sendiri.
“ Bukan, beberapa hari yang lalu yang menjadi pemilik harta
ayah sudah dipindahkan pada Vico dan Vico baru bisa memilikinya setelah usianya
18 tahun jadi semuanya miliknya, bahkan jika terjadi apa-apa sebelum Vico
berumur tersebut semua harta itu akan disumbangkan. Begitulah yang ayah katakan
dan semua datanya sudah berada di kuasa hukum ayah kak.” Ucap mamah Vico
sedikit terbatuk-batuk menyesuaikan udara yang masuk setelah acara pencekikan
kakak laki-lakinya tersebut.
“ Sialan tua bangka kurang ajar, sepertinya dia sudah curiga
padaku hingga melakukan ini.” Ucapnya merasa geram karena dia tidak dapat
menguasai semuanya saat ini dan merasa sia-si menculik Vico saat ini, merasa
jika terjadi apa-apa pada Vico bahkan dia akan kehilangan segalanya karena akan
disumbangkan pada yayasan semua harta yang ia inginkan tersebut.
“ Ingat jangan bicara pada siapa pun atau ucapkan selamat
tinggal pada anak laki-lakimu tersebut.” Fernando mencoba menegaskan kembali
agar adiknya tidak banyak omong bahkan mengatakan rahasia jika dialah yang
__ADS_1
menculik Vico dan mengancam adiknya dengan keselamatan Vico.
“ Iya, tapi aku mohon kak jangan sakiti Vico, Vico tidak
mengetahui apa pun tentang ini, dia hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
Kak Vico di mana sekarang ?” Tanya mamah Vico merasa sangat sedih dan tidak
bisa berbuat apa-apa dan berharap kakaknya tidak menyakiti Vico dan segera
melepaskannya.
“ Diamlah.” Ucap Fernando lalu keluar ruangan dengan wajah
gusar dan marah dan menatap tajam pada mamah Vico.
Hanya isak tangis dan kebisuan yang bisa mamah Vico lakukan
kala itu. Tidak punya daya atau keberanian untuk mengungkapkan kenyataan itu.
Dia hanya berpikir jika dapat menemukan Vico kembali dia akan mengikuti
suaminya ke Indonesia saja dan tidak akan pernah membawanya kembali ke Jerman
karena tidak ingin putra kesayangannya itu terluka kembali.
Keluarga Orlando
“ Halo.” Sahut Kakek Orlando mendapat panggilan dari
seseorang dari telepon kuno berwarna emas di meja kerjanya.
“ Cucumu ada ditanganku, jika ingin selamat berikan semua
kekuasaan kamu padaku, jika kamu tidak percaya ambil fotonya yang saat ini
sudah dikirimkan ke rumahmu.” Ucap penelpon terdengar serius dan tegas dengan
ucapannya.
“ Hai si*lan di mana cucuku. “ Sayang panggilan itu sudah
diputuskan sehingga ucapan kakek Orlando tidak mendapat balasan dari penelpon.
Ia segera bangkit dari duduknya berjalan cepat dan menyuruh seseorang mengambil
isi kotak pos miliknya. Dan benar saja ada sebuah surat tanpa nama ia terima.
Surat tersebut berisikan foto Orlando sang cucu tercinta dan
sebuah surat yang bertuliskan. Serahkan Grup mafiamu padaku atas nama Rodrigo
jangan memberitahukan orang lain hanya tanda tangani surat penyerahan ini dan
cucumu akan selamat. Jika sudah menanda tanganinya taruh di kotak pos rumahmu
lagi. Ingat jangan mencoba mengelabuhi kami atau kamu ucapkan selamat tinggal
pada cucu laki-lakimu sekarang.
“ Hais siapa dia ?” Kakek Vico merasa bimbang dan membuatnya
frustasi dengan surat tersebut, dilain sisi dia pasti tidak ingin kehilangan
cucu kesayangannya tersebut, dilain sisi dia juga tidak bisa menyerahkan grup
mafianya begitu saja karena itu adalah bisnis gelap yang sudah dia geluti sejak
muda walaupun tidak mencakup daerah yang luas tapi hal itu menguntungkannya
sampai sekarang.
__ADS_1