My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Bimbang


__ADS_3

Hari berlalu seorang dengan tubuh kekar duduk di kursi hitam


dengan topi hitam dan cerutu pada mulutnya. Dia terlihat sangat berkuasa karena


terlihat dari banyaknya pengawal dan penjaga dari rumah megah miliknya. Ruangan


yang terlihat bertembok coklat dengan lantai marmer berwarna gading itu terasa


sangat menyeramkan karena banyaknya kepala hewan terpasang menjadi pajangan di


dinding.


“ Telpon.” Ucapnya menyuruh seorang pelayannya untuk


melakukan panggilan telepon untuknya. Asap mengepul dari mulutnya setelah


cerutuh berwarna coklat pekat itu ia hisap dengan bibir tebal kecoklatan


miliknya. Pria yang berpakaian serba hitam itu terlihat mengeryitkan alisnya.


“ Silakan tuan.” Asistennya memberikan telepon yang sudah


mendapat jawaban dari seorang yang dia hubungi." Bagaimana apakah semua aman ?”


Tanya Pria tersebut pada seseorang. Senyum seringai bak iblis ia keluarkan jika


tidak mengenalnya hal itu dapat membuat bulu kuduk berdiri merasa ngeri dengan


senyuman bak iblis itu.


“ Aman tuan, mereka sangat penurut.” Jawab pria bertubuh


kekar yang menjadi penjaga Vico dan Orlando yang mereka sekap. Terlihat banyak


puntung rokok dan minuman keras di depan meja. Orang yang menjadi temannya


berjaga terlihat tertidur pulas entah karena mabuk atau apa.


“ Bagus, kalian tidak lama lagi bisa mengeksekusinya, tunggu


perintah dariku.” Ucap Pria kekar tersebut. Panggilan itu lalu ia putuskan dan


menghubungi seseorang yang tak lain adalah Fernando paman Vico yang menjadi


anak buah dadakannya. Mereka memiliki tujuan yang sama yaitu menyingkirkan Vico


jika Fernando ingin mendapatkan harta dia hanya ingin saja melakukan itu.


“ Kamu bisa memerasnya sekarang !” Perintah pria tersebut


pada Fernando dan mendapat jawaban siap dari pria yang sudah berkhianat pada


keluarganya tersebut bahkan tega menyakiti keponakannya demi harta yang


harusnya tidak bisa ternilai dibandingkan nyawa manusia itu.


Usai Fernando dia mencoba menghubungi suruhannya untuk


menghubungi keluarga Orlando untuk menyerahkan kepemimpinan grup mafianya


padanya jika ingin Orlando selamat beserta mengirimkan foto keadaan Orlando dan


keluarganya.


Jerman


Fernando mencoba berbicara dengan adik perempuannya di


ruangan tersendiri dari rumah mereka. Saat itu papah Vico tengah sibuk dalam


pencarian begitu pun kakek Vico dan seharusnya Fernando juga. Tapi dia terlihat

__ADS_1


tidak mau ikut sibuk mencari keponakannya dan mencoba memeras adiknya tersebut.


“ Berikan semua warisan ayah padaku, tanda tangani surat


serah terima ini dan aku akan melepaskan anak laki-lakimu.” Ucapnya sambil


menyodorkan dokumen beserta foto yang menampakkan keadaan Vico yang tengah di


sekap. Dia juga menyuruh adiknya tidak mengatakan hal itu pada orang lain atau


Vico akan dibunuh.


“ Kak kenapa kamu melakukan ini bukankah kamu juga


menyayangi Vico selama ini ?” Tanya mamah Vico merasa sangat sedih dan tidak


percaya jika kakaknya itu sebegitunya menginginkan harta dari orang tuanya


untuk dikuasainya sendiri bahkan melakukan hal sekejam itu pada anak kecil.


“ Diamlah, sudah tanda tangani saja cepat, atau anak kamu


benar-benar akan dihabisi.” Fernando menatap tajam adik perempuannya dan


mendesaknya untuk segera menandatangani surat pemindahan harta dengan map biru


ditangannya tersebut.


“ Kak aku tidak bisa.” Ucap mamah Vico terlihat menangis


karena memang tidak bisa melakukan perintah Fernando tersebut, dia sangat sedih


melihat keadaan anaknya tersebut tapi dia tetap tidak bisa melakukan perintah


Fernando tersebut.


Fernando mencoba mencekik leher adik perempuannya tersebut.


Tanyanya dengan mata memerah marah dengan penolakan adik perempuannya yang


menurutnya lebih menginginkan harta dibanding anaknya sendiri.


“ Bukan, beberapa hari yang lalu yang menjadi pemilik harta


ayah sudah dipindahkan pada Vico dan Vico baru bisa memilikinya setelah usianya


18 tahun jadi semuanya miliknya, bahkan jika terjadi apa-apa sebelum Vico


berumur tersebut semua harta itu akan disumbangkan. Begitulah yang ayah katakan


dan semua datanya sudah berada di kuasa hukum ayah kak.” Ucap mamah Vico


sedikit terbatuk-batuk menyesuaikan udara yang masuk setelah acara pencekikan


kakak laki-lakinya tersebut.


“ Sialan tua bangka kurang ajar, sepertinya dia sudah curiga


padaku hingga melakukan ini.” Ucapnya merasa geram karena dia tidak dapat


menguasai semuanya saat ini dan merasa sia-si menculik Vico saat ini, merasa


jika terjadi apa-apa pada Vico bahkan dia akan kehilangan segalanya karena akan


disumbangkan pada yayasan semua harta yang ia inginkan tersebut.


“ Ingat jangan bicara pada siapa pun atau ucapkan selamat


tinggal pada anak laki-lakimu tersebut.” Fernando mencoba menegaskan kembali


agar adiknya tidak banyak omong bahkan mengatakan rahasia jika dialah yang

__ADS_1


menculik Vico dan mengancam adiknya dengan keselamatan Vico.


“ Iya, tapi aku mohon kak jangan sakiti Vico, Vico tidak


mengetahui apa pun tentang ini, dia hanya anak kecil yang tidak tahu apa-apa.


Kak Vico di mana sekarang ?” Tanya mamah Vico merasa sangat sedih dan tidak


bisa berbuat apa-apa dan berharap kakaknya tidak menyakiti Vico dan segera


melepaskannya.


“ Diamlah.” Ucap Fernando lalu keluar ruangan dengan wajah


gusar dan marah dan menatap tajam pada mamah Vico.


Hanya isak tangis dan kebisuan yang bisa mamah Vico lakukan


kala itu. Tidak punya daya atau keberanian untuk mengungkapkan kenyataan itu.


Dia hanya berpikir jika dapat menemukan Vico kembali dia akan mengikuti


suaminya ke Indonesia saja dan tidak akan pernah membawanya kembali ke Jerman


karena tidak ingin putra kesayangannya itu terluka kembali.


Keluarga Orlando


“ Halo.” Sahut Kakek Orlando mendapat panggilan dari


seseorang dari telepon kuno berwarna emas di meja kerjanya.


“ Cucumu ada ditanganku, jika ingin selamat berikan semua


kekuasaan kamu padaku, jika kamu tidak percaya ambil fotonya yang saat ini


sudah dikirimkan ke rumahmu.” Ucap penelpon terdengar serius dan tegas dengan


ucapannya.


“ Hai si*lan di mana cucuku. “ Sayang panggilan itu sudah


diputuskan sehingga ucapan kakek Orlando tidak mendapat balasan dari penelpon.


Ia segera bangkit dari duduknya berjalan cepat dan menyuruh seseorang mengambil


isi kotak pos miliknya. Dan benar saja ada sebuah surat tanpa nama ia terima.


Surat tersebut berisikan foto Orlando sang cucu tercinta dan


sebuah surat yang bertuliskan. Serahkan Grup mafiamu padaku atas nama Rodrigo


jangan memberitahukan orang lain hanya tanda tangani surat penyerahan ini dan


cucumu akan selamat. Jika sudah menanda tanganinya taruh di kotak pos rumahmu


lagi. Ingat jangan mencoba mengelabuhi kami atau kamu ucapkan selamat tinggal


pada cucu laki-lakimu sekarang.


“ Hais siapa dia ?” Kakek Vico merasa bimbang dan membuatnya


frustasi dengan surat tersebut, dilain sisi dia pasti tidak ingin kehilangan


cucu kesayangannya tersebut, dilain sisi dia juga tidak bisa menyerahkan grup


mafianya begitu saja karena itu adalah bisnis gelap yang sudah dia geluti sejak


muda walaupun tidak mencakup daerah yang luas tapi hal itu menguntungkannya


sampai sekarang.

__ADS_1


__ADS_2