
Vico dan Orlando yang sudah melepaskan semua ikatan dan
sumpalan pada mereka. Kini keduanya memikirkan cara untuk keluar dari ruangan
tersebut. Hanya ada satu jalan keluar dari ruangan gelap, lembab dan berdebu
itu. Tapi sayang jendela itu berjeruji besi yang kuat dan akan sangat sulit
untuk melepasnya.
Vico dan Orlando saling memanggul untuk mencapai jendela
yang cukup tinggi untuk kedua anak kecil itu raih. Vico yang berada di atas
Orlando mencoba melihat daerah sekitar dan memikirkan ide untuk memulai rencana
kabur dari ruangan tersebut.
“ Bagaimana ada cara untuk keluar ?” Orlando yang terlihat
keberatan menahan berat Vico mencoba bertanya pada Vico yang masih menyapu
semua pemandangan luar jendela.
Vico yang sudah bisa mengingat semuanya loncat dari tubuh
Orlando dan mulai membicarakan rencananya dengan Orlando. “ Orlando untung kita
berada di lantai satu di luar juga tidak ada pagar dan kita bisa langsung
keluar jika bisa melewati jendela ini.” Ucap Vico terlihat sangat serius dan masih
memikirkan cara melepas jeruji besi tersebut.
“ Oke, kita harus mencari alat yang bisa digunakan untuk
membobol jendela besi ini.” Orlando terlihat sudah memahami rencana tersebut,
dia lalu mencoba menyusuri ruangan yang terbengkalai itu mencoba mencari alat
yang mungkin bisa digunakan untuk membobol jendela berjeruji besi.
Vico yang masih memikirkan bagaimana untuk kabur jika sudah
keluar dari jendela mencoba mengingat semua pemandangan di luar yang hanya
terlihat hutan dengan banyak pohon tinggi. “ Bagaimana aku bisa kabur setelah
melewati jendela ini, Huh aku sendiri tidak mengetahui posisi kita di mana,
jika aku keluar dari sini malah di mangsa binatang buas akan semakin jauh dari
kata bebas.” Pikir Vico lebih dalam dan mencoba kembali memikirkan rencana
dengan matang.
“ Kenapa kamu tidak mencari benda yang bisa untuk
mengeluarkan kita dari sini ?” Tanya Orlando yang kembali menatap Vico yang
masih terduduk di bawah jendela berjeruji besi itu. Terlihat Vico sangat serius
berpikir sehingga pertanyaan Orlando tersebut tidak dia jawab. Merasa tidak
mendapat tanggapan dari Vico Orlando mendekati Vico dan menepuk bahu teman yang
baru dia kenal karena insiden penculikan itu.
Luar ruangan penculikan
“ Bagaimana apakah kedua anak sialan itu berulah ?” Tanya
seseorang melalui panggilan telepon pada pria kekar yang selalu mengantarkan
makanan pada Orlando dan Vico selama penyekapan itu.
“ Tenang saja Bos kedua bocah itu tidak ada perlawanan dan
hanya menurut.” Jawab Pria kekar yang terlihat sangat menghormati penelpon itu.
“ Baiklah, ingat jangan sampai mereka berdua lepas,
__ADS_1
rencanaku akan segera aku laksanakan jika kalian tidak bisa menjaganya ucapkan selamat
tinggal dengan matahari esok.” Ancam penelepon itu dengan suara tegas dan
amarah.
“ Jangan kawatir bos.” Jawab pria kekar yang duduk di kursi
usang bersama empat rekannya yang berpakaian serba hitam tersebut.
Ruangan Penyekapan
“ Hei bagaimana kamu memikirkan apa ?” Tanya Orlando setelah
mendapat sorotan tajam Vico yang kaget bercampur marah karena konsentrasinya
terganggu akan ulah Orlando tersebut.
“ Memikirkan bagaimana kita bisa lolos dari hutan di luar,
karena aku tidak tahu kita berada di posisi mana, aku tidak ingin kehilangan
nyawaku ditangan binatang buas karena kelebatan hutan di luar.” Ucap Vico
serius tatapan tajam dan instingnya membuatnya terlihat menonjol dibandingkan
anak seusianya.
“ Sudahlah yang penting kita bisa keluar dulu dari sini,
kita bisa bersembunyi nanti atau bahkan kalau beruntung kita bisa bertemu orang
lain yang bisa menolong kita.” Orlando yang selalu berpikir optimis tidak
terlalu kawatir dengan semua penjelasan yang telah Vico utarakan. Menurutnya
selama sudah tidak di ruangan pengap, lembab dan seram itu otaknya akan lebih
mudah berpikir untuk melarikan diri.
“ Heh lihat ada kumbang.” Teriak Orlando mendapatkan kumbang
besi itu.
“ Apakah ada banyak di sana ?” Tanya Vico berjalan mendekati
Orlando yang berjongkok di sudut ruangan mengamati Kumbang besar yang tengah
berjalan berpasangan. Orlando yang menyukai serangga terlihat sangat senang
karena bisa melihat kumbang yang cukup langka itu.
“ Apa kamu bisa mengidentifikasi ini kumbang apa ?” Tanya
Vico melihat ekspresi Orlando yang tersenyum dan serius mengamati kedua kumbang
langka itu berada. Orlando terlihat berpikir mengingat artikel buku-buku yang
dia baca tanpa sepengetahuan orang tuanya karena memang dia tidak mungkin
membaca buku mengenai hal tersebut jika tidak meminjam dari temannya.
“ Mmmm sepertinya ini kumbang langka yang hanya ada di
Belanda seharusnya.” Ucap Orlando mencoba memastikan apa yang dia baca itu
benar, dan merasa keberadaannya terlalu jauh dari asalnya yang dari Italia.
Vico mencoba memikirkan ide lain melihat keberadaan kumbang-kumbang itu.
“ Oh kita gunakan kumbang ini saja, bungkus makan ada
tulisan buka bukan ? Kalau kita beruntung ada orang yang berada di sekitar akan
memahami maksud kita.” Ucap Vico menyalurkan ide yang memiliki kemungkinan
kecil tapi itu harapan satu-satunya dia bisa keluar dengan selamat yaitu
meminta bantuan orang lain.
“ Tapi ini hanya ada 1 persen kemungkinannya ada orang yang
__ADS_1
melintas, selain itu jika artikel itu benar kumbang ini dari Belanda akan
sangat susah kita kembali ke negara kita, apa lagi kita hanya anak kecil, dan
bahkan katamu hutan di luar sangat lebat pasti akan sangat jarang orang masuk
ke hutan ini bukan ?” Orlando yang sebelumnya optimis menjadi pesimis karena
mungkin orang yang menculiknya hanya meminta imbalan dari orang tuannya.
Orlando yang memang di didik dengan keras oleh orang tua dan kakeknya sebagai
penerus grup mafia mengetahui jika mungkin orang-orang melakukan itu untuk
mendapatkan uang.
Orlando merasa jika uang bisa menyelesaikannya dan dia bisa
keluar dari situ. Vico yang tidak memikirkan hal lain dan mengambil
kumbang-kumbang itu dan menempelinya tulisan open dan plaster makanan yang
mereka terima dari para penyekap. Vico berharap jika ada seorang yang bisa
mengerti maksudnya dan dapat menyelamatkan mereka berdua dari dalam ruangan
itu.
Keluarga Vico
3 Hari berlalu dari waktu kehilangan Vico keluarga merasa
tidak ada harapan lagi menemukan anak mereka tersebut. Bahkan jika itu penculik
juga tidak ada panggilan yang meminta tebusan. Kedua orang tua Vico dan Kakek
Vico terlihat masih tidak putus asa melakukan pencarian.
“ Pah bagaimana ?” Tanya mamah Vico pada suaminya yang baru
masuk rumah karena ikut dalam tim pencarian anak semata wayangnya itu. Hanya
gelengan kepala yang ia lakukan untuk menjawab pertanyaan istri tercintanya
itu, wajah lesunya dan hembusan kasar ia lakukan kala tubuhnya didudukkan pada
sofa ruang tamu rumah itu.
Mamah Vico hanya bisa menangis mendengar kabar yang tidak ia
inginkan itu. Kakek Vico pun yang sangat menyayangi Vico juga tidak bisa
berbuat banyak saat itu. Hanya Fernando Paman Vico yang terlihat menyeringai
sedikit merasa rencananya akan berjalan lancar dengan merampok harta yang telah
diwariskan pada adik perempuannya tersebut.
Keluarga Orlando
Keluarga Orlando mencoba berbagai cara untuk menemukan anaknya
juga. Semua tim mata-mata dan orang dari negaranya di kerahkan, tapi kala itu bisnis
gelap keluarga Orlando masih mencakup terkuat di kotanya saja. Semua orang
dalam dikerahkan untuk mencari ke seluruh daratan Italia. Tak sedikit uang
dikeluarkan untuk menyewa para detektif dan orang hebat untuk menemukan anak
mereka itu.
Orlando yang memang sudah ditinggal ibunya hanya ada seorang
ayah dan kakek yang merawatnya. Mereka berdua terlihat sangat sibuk menelepon
ke sana kemari. Mencoba mendapatkan kabar baik dari para orang suruhan mereka
dalam pencarian Orlando tapi semua masih memberikan kabar yang tidak sesuai
keinginan mereka.
__ADS_1