My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Pencarian


__ADS_3

Vico dan Orlando yang sudah melepaskan semua ikatan dan


sumpalan pada mereka. Kini keduanya memikirkan cara untuk keluar dari ruangan


tersebut. Hanya ada satu jalan keluar dari ruangan gelap, lembab dan berdebu


itu. Tapi sayang jendela itu berjeruji besi yang kuat dan akan sangat sulit


untuk melepasnya.


Vico dan Orlando saling memanggul untuk mencapai jendela


yang cukup tinggi untuk kedua anak kecil itu raih. Vico yang berada di atas


Orlando mencoba melihat daerah sekitar dan memikirkan ide untuk memulai rencana


kabur dari ruangan tersebut.


“ Bagaimana ada cara untuk keluar ?” Orlando yang terlihat


keberatan menahan berat Vico mencoba bertanya pada Vico yang masih menyapu


semua pemandangan luar jendela.


Vico yang sudah bisa mengingat semuanya loncat dari tubuh


Orlando dan mulai membicarakan rencananya dengan Orlando. “ Orlando untung kita


berada di lantai satu di luar juga tidak ada pagar dan kita bisa langsung


keluar jika bisa melewati jendela ini.” Ucap Vico terlihat sangat serius dan masih


memikirkan cara melepas jeruji besi tersebut.


“ Oke, kita harus mencari alat yang bisa digunakan untuk


membobol jendela besi ini.” Orlando terlihat sudah memahami rencana tersebut,


dia lalu mencoba menyusuri ruangan yang terbengkalai itu mencoba mencari alat


yang mungkin bisa digunakan untuk membobol jendela berjeruji besi.


Vico yang masih memikirkan bagaimana untuk kabur jika sudah


keluar dari jendela mencoba mengingat semua pemandangan di luar yang hanya


terlihat hutan dengan banyak pohon tinggi. “ Bagaimana aku bisa kabur setelah


melewati jendela ini, Huh aku sendiri tidak mengetahui posisi kita di mana,


jika aku keluar dari sini malah di mangsa binatang buas akan semakin jauh dari


kata bebas.” Pikir Vico lebih dalam dan mencoba kembali memikirkan rencana


dengan matang.


“ Kenapa kamu tidak mencari benda yang bisa untuk


mengeluarkan kita dari sini ?” Tanya Orlando yang kembali menatap Vico yang


masih terduduk di bawah jendela berjeruji besi itu. Terlihat Vico sangat serius


berpikir sehingga pertanyaan Orlando tersebut tidak dia jawab. Merasa tidak


mendapat tanggapan dari Vico Orlando mendekati Vico dan menepuk bahu teman yang


baru dia kenal karena insiden penculikan itu.


Luar ruangan penculikan


“ Bagaimana apakah kedua anak sialan itu berulah ?” Tanya


seseorang melalui panggilan telepon pada pria kekar yang selalu mengantarkan


makanan pada Orlando dan Vico selama penyekapan itu.


“ Tenang saja Bos kedua bocah itu tidak ada perlawanan dan


hanya menurut.” Jawab Pria kekar yang terlihat sangat menghormati penelpon itu.


“ Baiklah, ingat jangan sampai mereka berdua lepas,

__ADS_1


rencanaku akan segera aku laksanakan jika kalian tidak bisa menjaganya ucapkan selamat


tinggal dengan matahari esok.” Ancam penelepon itu dengan suara tegas dan


amarah.


“ Jangan kawatir bos.” Jawab pria kekar yang duduk di kursi


usang bersama empat rekannya yang berpakaian serba hitam tersebut.


Ruangan Penyekapan


“ Hei bagaimana kamu memikirkan apa ?” Tanya Orlando setelah


mendapat sorotan tajam Vico yang kaget bercampur marah karena konsentrasinya


terganggu akan ulah Orlando tersebut.


“ Memikirkan bagaimana kita bisa lolos dari hutan di luar,


karena aku tidak tahu kita berada di posisi mana, aku tidak ingin kehilangan


nyawaku ditangan binatang buas karena kelebatan hutan di luar.” Ucap Vico


serius tatapan tajam dan instingnya membuatnya terlihat menonjol dibandingkan


anak seusianya.


“ Sudahlah yang penting kita bisa keluar dulu dari sini,


kita bisa bersembunyi nanti atau bahkan kalau beruntung kita bisa bertemu orang


lain yang bisa menolong kita.” Orlando yang selalu berpikir optimis tidak


terlalu kawatir dengan semua penjelasan yang telah Vico utarakan. Menurutnya


selama sudah tidak di ruangan pengap, lembab dan seram itu otaknya akan lebih


mudah berpikir untuk melarikan diri.


“ Heh lihat ada kumbang.” Teriak Orlando mendapatkan kumbang


besi itu.


“ Apakah ada banyak di sana ?” Tanya Vico berjalan mendekati


Orlando yang berjongkok di sudut ruangan mengamati Kumbang besar yang tengah


berjalan berpasangan. Orlando yang menyukai serangga terlihat sangat senang


karena bisa melihat kumbang yang cukup langka itu.


“ Apa kamu bisa mengidentifikasi ini kumbang apa ?” Tanya


Vico melihat ekspresi Orlando yang tersenyum dan serius mengamati kedua kumbang


langka itu berada. Orlando terlihat berpikir mengingat artikel buku-buku yang


dia baca tanpa sepengetahuan orang tuanya karena memang dia tidak mungkin


membaca buku mengenai hal tersebut jika tidak meminjam dari temannya.


“ Mmmm sepertinya ini kumbang langka yang hanya ada di


Belanda seharusnya.” Ucap Orlando mencoba memastikan apa yang dia baca itu


benar, dan merasa keberadaannya terlalu jauh dari asalnya yang dari Italia.


Vico mencoba memikirkan ide lain melihat keberadaan kumbang-kumbang itu.


“ Oh kita gunakan kumbang ini saja, bungkus makan ada


tulisan buka bukan ? Kalau kita beruntung ada orang yang berada di sekitar akan


memahami maksud kita.” Ucap Vico menyalurkan ide yang memiliki kemungkinan


kecil tapi itu harapan satu-satunya dia bisa keluar dengan selamat yaitu


meminta bantuan orang lain.


“ Tapi ini hanya ada 1 persen kemungkinannya ada orang yang

__ADS_1


melintas, selain itu jika artikel itu benar kumbang ini dari Belanda akan


sangat susah kita kembali ke negara kita, apa lagi kita hanya anak kecil, dan


bahkan katamu hutan di luar sangat lebat pasti akan sangat jarang orang masuk


ke hutan ini bukan ?” Orlando yang sebelumnya optimis menjadi pesimis karena


mungkin orang yang menculiknya hanya meminta imbalan dari orang tuannya.


Orlando yang memang di didik dengan keras oleh orang tua dan kakeknya sebagai


penerus grup mafia mengetahui jika mungkin orang-orang melakukan itu untuk


mendapatkan uang.


Orlando merasa jika uang bisa menyelesaikannya dan dia bisa


keluar dari situ. Vico yang tidak memikirkan hal lain dan mengambil


kumbang-kumbang itu dan menempelinya tulisan open dan plaster makanan yang


mereka terima dari para penyekap. Vico berharap jika ada seorang yang bisa


mengerti maksudnya dan dapat menyelamatkan mereka berdua dari dalam ruangan


itu.


Keluarga Vico


3 Hari berlalu dari waktu kehilangan Vico keluarga merasa


tidak ada harapan lagi menemukan anak mereka tersebut. Bahkan jika itu penculik


juga tidak ada panggilan yang meminta tebusan. Kedua orang tua Vico dan Kakek


Vico terlihat masih tidak putus asa melakukan pencarian.


“ Pah bagaimana ?” Tanya mamah Vico pada suaminya yang baru


masuk rumah karena ikut dalam tim pencarian anak semata wayangnya itu. Hanya


gelengan kepala yang ia lakukan untuk menjawab pertanyaan istri tercintanya


itu, wajah lesunya dan hembusan kasar ia lakukan kala tubuhnya didudukkan pada


sofa ruang tamu rumah itu.


Mamah Vico hanya bisa menangis mendengar kabar yang tidak ia


inginkan itu. Kakek Vico pun yang sangat menyayangi Vico juga tidak bisa


berbuat banyak saat itu. Hanya Fernando Paman Vico yang terlihat menyeringai


sedikit merasa rencananya akan berjalan lancar dengan merampok harta yang telah


diwariskan pada adik perempuannya tersebut.


Keluarga Orlando


Keluarga Orlando mencoba berbagai cara untuk menemukan anaknya


juga. Semua tim mata-mata dan orang dari negaranya di kerahkan, tapi kala itu bisnis


gelap keluarga Orlando masih mencakup terkuat di kotanya saja. Semua orang


dalam dikerahkan untuk mencari ke seluruh daratan Italia. Tak sedikit uang


dikeluarkan untuk menyewa para detektif dan orang hebat untuk menemukan anak


mereka itu.


Orlando yang memang sudah ditinggal ibunya hanya ada seorang


ayah dan kakek yang merawatnya. Mereka berdua terlihat sangat sibuk menelepon


ke sana kemari. Mencoba mendapatkan kabar baik dari para orang suruhan mereka


dalam pencarian Orlando tapi semua masih memberikan kabar yang tidak sesuai


keinginan mereka.

__ADS_1


__ADS_2