
Flash Back On
Setelah penculikan Arini Vico menyelidiki kejadian itu
dengan serius dan meminta anak buahnya mengabari secepatnya siapa dalang dari
aksi penculikan yang membuat Arini terluka.
Setelah 2 hari penyelidikan yang dilakukan tanpa henti diketahui
otak rencana itu adalah paman Vico.
Vico lalu menyuruh anak buahnya membawa Pamannya ke suatu
gudang Tua.
Kala itu Paman Vico terlihat di markasnya dan akan pergi
bersama beberapa pengawalnya untuk berangkat ke kantor tapi saat di perjalanan
di hentikan banyak anak buah Vico. Semua anak buah Paman Vico di habisi di
tempat dan di masukkan pada sebuah Van hitam untuk menghilangkan jejak
pembunuhan dengan membuang seluruh mayatnya pada sebuah sumur tua.
“ Apa yang kalian lakukan ?” Terlihat Paman Vico tidak dapat
berkutik saat menunggu semua anak buahnya dengan berada di dalam mobil.
“ Anda harus ikut saya sekarang ?” Ucap seorang pria tinggi
kekar besar berkulit coklat mendekati Fernando yang berada di dalam Mobil.
“ Tidak, jangan mendekat aku akan menghabisi kalian jika
kalian mendekat.” Ucap Fernando sambil menodongkan sebuah pistol yang biasa dia
bawa untuk berjaga-jaga.
“ Tembak saja, cepat ikut saya sebelum kesabaran saya
habis.” Ucap Pria itu tidak takut bahkan semakin mendekat dan menarik tangan
Fernando.
Duarrrr duarrr duaarrr
Bunyi tembakan yang dikeluarkan dari suari pistol yang di
pegang Fernando mengenai kepala pria itu.
“ Hahaha kamu kira itu akan mempan.” Ucap Pria tadi lalu
melepas topeng karet yang dia pakai yang sudah menggunakan teknologi canggih
yang dikembangkan perusahaan Orlando di mana akan tahan dengan tembakan dan
tidak akan dapat tertembus oleh pistol atau senapan tercanggih pun.
Trek trek trek
Terdengar suara tembakan sudah tidak mengeluarkan pelurunya
karena sudah habis ditembakkan.
“ Sudah tidak usah banyak melawan, cepat ikut.” Ucap Pria
satu lagi yang datang membantu dan menyeret Fernando masuk ke dalam mobil untuk
membawanya ke tempat yang sudah di perintahkan Vico.
Fernando lalu di ikat dan di gantung di dinding dengan rantai
dengan mata ditutup dan mulut terbungkam kain yang diikat.
Markas Besar Black Kingdom
Drt drt drt
“ Tuan perintah sudah kami selesaikan, Fernando sudah di
__ADS_1
gudang.” Ucap penelpon pada Vico.
“ Oke aku akan ke sana sekarang.” Jawab Vico dan menyeringai
puas dengan kerja anak buahnya.
“Bagaimana Vic, sudah beres ya, aku ikut membereskan pamanmu
yang melukai kakak ipar ya ?” Ucap Orlando yang mendengar dari dekat Vico.
“ Tidak perlu, aku akan memberikan pelajaran padanya.” Jawab
Vico lalu bergegas pergi dari markas ditemani sekretaris Kim ke Gudang yang
sudah mereka tentukan.
Sebelumnya Vico mengantar Arini pulang ke Indonesia dan dia
langsung kembali ke Eropa untuk membereskan masalah penculikan Arini ditemani
sekretaris dan juga teman setianya Kim.
Sekretaris Kim lalu segera membukakan pintu untuk Vico dan
mengendarainya ke Gudang di mana Fernando di sekap.
“Tuan Vico selamat datang.” Ucap semua anak buah Vico.
“ Ya di mana Fernando ?” Tanya Vico saat akan memasuki Gudang
tua itu.
“ Silakan ikuti saya tuan.” Jawab pria berpakaian serba
hitam itu dan mengantar Vico ke tempat Fernando di gantung.
“ Hai Paman.” Ucap Vico pertama kali melihat pamannya
tergantung di dinding.
“ MMMMmMMMmMHHHH.” Terdengar suara Fernando dengan mulut
“ Buka penutup mulutnya dan matanya.” Perintah Vico pada
anak buahnya.
Dua anak buah Vico lalu berjalan mendekat dan melepas
penutup mata dan mulut Fernando.
“ Dasar anak kurang ajar, lepaskan aku.” Ucapnya setelah
mulutnya terbuka sambil meronta-ronta.
“ Oh Fernando kenapa kamu bermain-main denganku, aku sudah
tidak peduli dengan harta kakek dan perusahaannya, kamu yang mengelolanya
hingga ingin menghancurkannya, tapi kenapa kamu masih menggangguku ?” Ucap Vico
terlihat sangat marah dan memegang dagu Paman sekaligus musuhnya itu.
“ Apa yang kamu katakan aku tidak mengerti.” Ucap Fernando
mengelak perbuatannya pada Arini.
“ Paman, aku bukan anak kecil yang bisa di ajak bermain jadi
paman tidak perlu berakting tidak bersalah, aku sudah menyelidikinya dan semua
bukti tertuju padamu.” Ucap Vico menatap Pamannya tajam ada rasa ingin membunuh
pria yang masih menjadi keluarga dari darah ibunya itu.
“ Aku tidak melakukannya.” Jawab Fernando tetap tidak mau
mengaku.
“ Apa paman ingin mulut paman aku robek, sekarang juga ?”
Ucap Vico lagi dan mulai melepaskan tangannya dari wajah paman dan berlalu
__ADS_1
pergi.
“ Jangan-jangan, maafkan aku, berikan semua sahammu di
Perusahaan Ayah, aku pasti tidak akan mengganggumu lagi.” Ucap Fernando masih
sempat menawar akan apa yang sudah terjadi itu.
“ Hahahahahaha Paman apakah kamu sedang membuat lelucon, itu
sangat lucu, apakah tepat jika kamu tawar menawar denganku saat keadaanmu
seperti ini.” Ucap Vico memandang sinis pada Pamannya.
“ Apa yang kamu mau, cepat lepaskan aku.” Ucap Pamannya
dengan berteriak dan meronta.
“ Berikan semua saham yang kakek wariskan pada paman dan
berikan semua warisan yang paman terima juga, aku ingin melihat paman tidak
punya apa-apa karena sepertinya memiliki banyak pun paman tidak bersyukur
tetapi malah serakah.” Ucap Vico dan tersenyum sinis.
“ Kamu keponakan durhaka, beraninya kamu meminta hal itu.”
Ucap Fernando dengan mata berapi-api.
“ Paman ingin disiksa di sini selamanya juga tidak apa-apa,
sampai jumpa ?” Ucap Vico lalu berjalan keluar dengan sekretaris Kim.
“ Tunggu-tunggu baiklah.” Jawab Fernando tidak mau mati
sia-sia toh kalau hanya harta dia masih bisa merebutnya lagi.
“ Turunkan dia, dan borgol tangan kirinya dengan meja serta
ikat kakinya pada kursi biarkan tangan kanannya leluasa untuk tanda tangan.”
Ucap Vico memerintah anak buahnya.
“ Baik Tuan.” Jawab anak buah Vico dan melaksanakan perintah
itu.
“ Kim berikan dokumen pemindahan aset pada paman agar bisa
segera ditanda tangani.” Perintah Vico pada sekretaris Kim.
Sekretaris Kim lalu berjalan menuju meja di mana Fernando
diikat dan menyuruhnya untuk tanda tangan di tempat yang ditentukan.
“ Aku sudah melakukan yang kamu mau lepaskan aku.” Ucap
Fernando setelah menandatangani dokumen tersebut.
“ Oh terima kasih Paman, dan satu lagi.” Ucap Putra pada
Fernando dan memberi kode pada anak buahnya dengan membuat bentuk lingakaran
dari jari telunjuk dan jempolnya memberi kode untuk merusak mata kanan
pamannya.
“ Paman jangan pernah menggangguku lagi atau siapa pun orang
terdekatku, jika tidak jangan salahkan Vico yang kejam ini tidak akan
mengampuni paman seperti ini dan membiarkan paman dapat bernafas dan menikmati
dunia yang indah ini.” Ucap Vico dekat dengan telinga Pamannya setiap kata-kata
yang dia ucapkan tidak pernah main-main.
Vico lalu pergi meninggalkan Gudang itu bersama sekretaris
Kim.
__ADS_1