
Seperti agenda sebelumnya malam itu Vico dan sekretaris Kim
yang sudah selesai kegiatan di kantornya menjemput Orlando di Hotel Vico di
mana Orlando menginap. Wajah tampan Vico selalu mengundang perhatian bagi kaum
hawa. Saat dia memasuki hotel tersebut tak sedikit para wanita bergunjing
mengagumi ciptaan Tuhan yang satu ini. Ada yang memuji ketampanannya,
kekayaannya, keberhasilannya, kekuasaannya dan tentu saja membicarakan tentang
kesendiriannya karena memang hubungannya dengan Arini benar-benar disembunyikan
dari khalayak ramai sesuai permintaan yang mulia ratu di hati Vico itu.
Bahkan ada seorang reporter yang mengabadikan kebersamaannya
dengan Arini tak lepas dari kehancuran jika berani mempublikasikannya. Orang
lain yang pernah melihat keduanya pun seolah bungkam dan tidak ingin membahas
karena memang tidak tahu hubungan pasti keduanya.
“ Bukankah itu Tuan Vico yang sangat terkenal itu ?” Tanya
seorang penghuni hotel yang menginap di sana dan sedang berada di lobi di depan
resepsionis untuk mengurus sesuatu. Wanita tersebut terlihat cantik dan
sepertinya dari kalangan atas yang juga mengagumi sosok Vico.
“ Iya benar itu Tuan Vico, beruntung sekali aku menginap di
sini dan bisa bertemu dengannya dia itu sudah tampan mapan lagi sungguh suami idaman
masa depan.” Ucap Gadis satu lagi yang mungkin teman wanita yang di sampingnya.
“ Hah tapi sayang mendekatinya sangat sulit apa lagi ada
sekretaris yang selalu bersamanya ke mana-mana itu sungguh menyeramkan wajahnya
selalu datar ya walaupun Tuan Vico juga berwajah sama datarnya tapi
ketampanannya tidak pudar hehehe.” Ucap Gadis lainnya yang mulai berjalan ke
arah lift mencoba untuk satu lift dengan Vico dan sekretaris Kim. Tapi dengan
sigap sekretaris Kim menahan keduanya karena ini adalah lift khusus Vico yang
merupakan pemilik hotel tersebut. Kedua gadis itu pun terlihat kecewa dan kesal
dengan tingkah sekretaris Kim tersebut. Tidak berapa lama lift itu sudah
mengantarkan keduanya di lantai di mana Orlando berada.
“ Bangunlah sudah malam.” Ucap Vico sambil menarik selimut
yang tengah digunakan Orlando. Terlihat pria Eropa itu masih tertidur pulas
tidak menghiraukan kedatangan kedua temannya itu. Walau sekretaris Kim menepuk
pundaknya Orlando seakan tidak rela meninggalkan pulau kapuk tempatnya mengistirahatkan
tubuh kekarnya itu.
“ Huh kalian mengganggu tidurku saja, ini baru jam berapa ?”
Protes Orlando dengan masih memeluk bantal dan menarik kembali selimutnya
menutupi tubuh atasnya yang telanjang. Mata Orlando seakan tidak rela terbuka
__ADS_1
untuk sekedar melihat kedua temannya itu.
“ Ini sudah malam, ayolah cepat aku juga ingin merencanakan
untuk memperluas Black Kingdom di Asia Tenggara hingga Australia dengan mereka,
dasar babi makan tidur pulas sekali cepat bangun !” Perintah Vico yang kesal
dengan tingkah Orlando yang menurutnya terkadang seperti anak-anak itu.
Walaupun tingkah seperti ini hanya dia lakukan terhadap Vico kalau orang lain
dia pasti tidak akan melakukannya karena menjaga wibawanya sebagai ketua mafia
di depan layar.
“ Hah iya iya aku bangun sebentar aku mandi dulu keluarlah.”
Orlando pun bangun dengan sangat malas. Vico dan sekretaris Kim keluar kamar
dan menunggu di ruang tamu. Orlando pun membersihkan diri lalu berpakaian rapi
siap untuk pergi ke Klub tempat Vico dan lain biasa bertemu.
Di rumah Vico dan Arini
Terlihat Arini yang baru melaksanakan ibadah isya duduk di
meja makan untuk menyantap makan malamnya sendirian karena dia sudah di kabari
Vico jika suaminya tersebut akan pulang cukup malam karena masih ada urusan.
Arini terlihat memakan hidangan yang tersaji dengan tidak selera karena tidak
adanya Vico dan di temani dua pelayannya yang dia minta menemaninya makan.
“ Nona apa nona ingin bibi masakkan yang lain ?” Tanya
makanan yang ada di piring Arini hanya diaduk-aduk saja dan tidak dia suapkan
ke mulutnya.
“ Tidak perlu bi Arini makan ini saja.” Ucapnya lalu segera
menyelesaikan kegiatan makan malamnya. Usai makan malam Arini kembali ke
kamarnya untuk istirahat. Hari itu Arini merasa bosan karena tidak bisa tidur
dan memikirkan Vico yang belum pulang juga. Karena menunggu memang hal yang
tidak menyenangkan Arini pun mencoba iseng ingin mengetahui keberadaan Vico.
Arini lalu turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah lemari
di mana leptopnya berada. Usai menemukan barang yang dia inginkan dia lalu
menggunakannya untuk meretas ponsel Vico untuk menemukan keberadaan Vico saat
ini, ya sekedar ingin tahu saja di mana suaminya itu berada. Arini sangat
terkejut menemukan jika Vico berada di sebuah klub malam. Karena penasaran
Arini lalu berganti baju dan ingin mendatangi Klub malam itu untuk memastikan
kebenaran informasi yang dia dapat. Arini segera berganti pakaian yang terlihat
seperti laki-laki dan menggunakan topi untuk menutupi rambut panjangnya. Dia
segera ke tempat parkir mobil dan bergegas berangkat.
Terlihat Dika yang biasa mengikuti Arini ke mana pun sesuai
__ADS_1
perintah Putra akan kembali ke kediamannya karena waktu sudah menunjukkan pukul
21.00 dia memang biasa pulang setelah cukup malam memastikan Arini aman dan
tidak ada aktivitas di luar. Dia meregangkan otot-otonya yang kaku karena duduk
di sana cukup lama tak lama kemudian dia menyalakan mobil miliknya. Dika
mengurungkan niatnya karena melihat mobil yang biasa dikendarai Arini berjalan
keluar dari rumah tersebut. Dika mengikuti ke mana perginya Arini malam-malam
begini karena hal ini tidak seperti biasanya.
Klub Malam
Di suatu ruangan VIP yang cukup luas terlihat sekretaris
Kim, Vico, Mike, Orlando, Peter dan Rezky sedang berdiskusi masalah rencana
mereka memperluas jaringan grup mafia mereka. Sesuai rencana sebelumnya Vico
memang sangat ingin memperluas di daratan cina sehingga dia meminta Orlando dan
sekarang ditemani Peter untuk melakukan penyelidikan bagaimana keadaan di sana.
Sedangkan untuk Mike dan Peter menyelidiki keadaan dan
mendapatkan informasi tentang Australia. Keempat temannya itu terlihat mengerti
instruksi yang Vico berikan. Orlando juga memberikan beberapa ide untuk
merambah sektor lain dalam grupnya. Dia juga memberitahu jika saat ini sektor
penyelundupan sulit di lakukan karena adanya perubahan regulasi di berbagai
negara barat. Semua orang yang tengah berdiskusi itu ditemani berbagai minuman
yang terjajar di meja mereka. Semua terlihat meminumnya kecuali sekretaris Kim
yang harus mengemudi dan Vico tentunya yang tidak ingin Arini tahu dia berada
di tempat sepeti itu tentunya.
“ Kau tidak minum ?” Tanya Orlando melihat Vico hanya
meneguk air putih dingin. Orlando memang sudah biasa meminum benda haram itu,
di Eropa memang sangat wajar meminum minuman kerasa walau hanya sekedar
menghangatkan tubuh. Segelas minuman berwarna coklat yang baru dituangkan dia
tengkuk dalam sekali percobaan.
“ Tidak aku tidak ingin membuat istriku curiga, bagaimana
pun penciumannya sangat tajam kakeknya sudah melatih banyak keahlian padanya
asal kau tahu saja, selain itu aku tidak ingin membuatnya marah jika tahu aku
berada di sini malam ini.” Ucap Vico yang kembali meneguk air putih dingin
miliknya.
“ Apakah kakak ipar sangat kejam padamu ?” Tanya Orlando
yang tidak terlalu mengenal Arini, dan di pertemuan pertamanya dia merasa Arini
perempuan yang baik dan lemah lembut dan tidak terlihat orang yang seaneh Vico
ceritakan. Arini terlihat seperti perempuan biasa pada umumnya.
__ADS_1