
“ Iya, bagaimana denganmu ?” Tanya Arini
“ Aku juga.” Jawab Vico singkat.
“ Arini bolehkah aku menyentuh rambutmu ?” Tanya Vico yang
ingin sekali menyentuh rambut Arini saat itu.
Arini tidak merespon pertanyaan itu.
“ Baiklah jika kamu
tidak mau, segeralah beristirahat karena besok kamu akan bekerja.” Ucap Vico
mengurungkan niatnya dan ingin segera beristirahat.
Bukankah hanya menyentuh rambut saja, aku harus belajar
menerima Vico mulai saat ini bagaimana pun dia berhak atas diriku, baiklah aku
akan memperbolehkannya menyentuh rambutku. Batin Arini.
Setelah berbicara Vico berniat membalikkan badannya tapi
tangan Vico diraih Arini dan menempelkan pada rambutnya.
“ Terima kasih” Ucap Vico tidak jadi membalikkan tubuhnya
dan menutup matanya untuk istirahat.
Dia orang yang baik, dia tidak pernah memaksaku dan
selalu berperilaku sopan seperti Kakak. Batin Arini memandang Vico yang
terlelap di depannya. Setelah itu Arini menutup matanya dan istirahat.
Saat Vico merasa Arini sudah tertidur nyinyak dia membuka
sebelah matanya pelan-pelan dan memandang Arini lekat.
Terima kasih Pah, papah tidak membatalkan pernikahanku
dengan Arini, dia sepertinya wanita yang baik aku akan selalu menjaganya. Batin
Vico dan memandang Arini dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.
“ Selamat malam Arini, selamat tidur “ Ucap Vico pelan. Lalu
melanjutkan tidurnya.
Arini terbangun karena sudah subuh dia lalu menuju kamar
mandi dan membersihkan diri lalu sholat di ruang pakaian. Setelah itu Arini
menuju dapur dan membantu para pelayan menyiapkan sarapan pagi.
“ Bi ada yang bisa Arini bantu ?” Tanya Arini pada 4 Pelayan
yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur.
“ Tidak perlu non, nona bisa menunggu di meja makan saja,
ini sudah menjadi tanggung jawab bibi.” Ucap pelayan tersebut.
“ Tidak apa bi, biarkan Arini bantu, Arini bisa mengerjakan
pekerjaan dapur juga kok.” Ucap Arini
“ Baiklah non.” Ucap pelayan tersebut.
“ Apa bi yang bisa Arini bantu ?” Tanya Arini beralih
mendekat pada pelayan.
“ Tolong bawakan hidangan yang sudah jadi saja non ke meja
makan.” Ucap Pelayan itu lalu menunjuk hidangan yang sudah berada di mangkok
saji.
Mamah Vico yang terlihat baru bangun dan menuju dapur untuk
minum air putih dan melihat Arini membantu pelayan.
“ Dasar, wanita licik itu pasti melakukannya untuk
mendapatkan perhatian papah dan Vico.” Gumam mamah Vico yang sudah menuruni
tangga.
Arini yang melihat mertuanya menuju dapur lalu menyapanya
__ADS_1
“ Selamat pagi mah .” Sapa Arini ramah.
“ Pagi, apa kamu di dapur pasti lagi cari perhatian Vico dan
suamiku ya ?” Tanya Mamah Vico dengan wajah judesnya.
“ Tidak mah, Arini sudah biasa membantu di dapur selain itu
Arini tidak ada pekerjaan.” Jawab Arini tetap sopan dengan mertuanya itu.
“ Kenapa tidak ada pekerjaan, kamu sebagai istrinya Vico
harusnya menemani Vico di kamar malah di sini membantu pelayan, pelayan yang
dipekerjakan di sini banyak jadi kamu tidak perlu membantu mereka.” Ucap Mamah
Vico.
Vico yang melihat kejadian itu lalu menarik Arini.
“ Tidak perlu kamu dengarkan ucapan mamah ayo ikut aku saja
ke kamar.” Ucap Vico dan menggandeng Arini menuju kamar mereka.
“ Tapi Vic.” Belum selesai Arini berbicara sudah dipotong
Vico.
“ Sudahlah Arini ikuti aku saja.” Ucap Vico menarik
tubuh istrinya itu meninggalkan dapur.
Setelah sampai di kamar Vico mendudukkan Arini di ranjang
dan Vico duduk di sampingnya.
“ Ada apa Vic ?” Tanya Arini karena Vico memandanginya tanpa
berbicara apa pun.
“ Arini semua yang mamah ucapkan, jangan dimasukkan ke hati
ya, kamu tidak perlu membatu pelayan, dan saat kamu turun ke bawah untuk
sarapan kamu tunggu aku di dalam kamar ya.” Ucap Vico tidak mau melihat Arini
tersakiti kata-kata mamahnya.
“ Kenapa Vic ?” Tanya Arini bingung dengan peringatan Vico
“ Pokoknya ikuti permintaanku. Aku akan meminta Kim untuk
mencarikan rumah untuk kita tinggal bersama .” Ucap Vico memutuskan untuk
menjauhkan Arini dari mamahnya.
“ Baiklah.” Jawab Arini pasrah dengan ucapan Vco.
Arini yang mendengar itu lalu duduk di sofa dan menunggu
Vico siap untuk turun sarapan .
Selain menunggu Vico siap-siap . Arini juga melakukan hal
sama untuk pergi ke kantor.
“ Arini untuk berangkat ke kantor nanti biar aku antar saja
ya.” Ucap Vico yang sudah keluar dari kamar ganti.
“ Baik, Terima Kasih Vic.” Ucap Arini.
“ Kita ini suami istri, kita harus membantu satu sama lain.”
Ucap Vico lalu mengambil dasi dan akan mengikatnya di leher.
“ Bisakah aku membantu mengikatkan dasimu ?” Tanya Arini
Vico yang mendengar pertanyaan dari Arini lalu mendatangi
Arini menyerahkan dasi, dan sedikit menunduk takut Arini kesulitan
mengikatkannya.
“ Terima Kasih Arini.” Ucap Vico
“Arini bisakah aku memegang rambutmu kapan pun aku mau ?” Pinta
Vico pada Arini.
“Mmmm.” Ucap Arini dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.
__ADS_1
“ Terima kasih.” Ucap Vico sambil memegang puncak rambut Arini,
Vico dan menggandeng Arini meninggalkan kamar menuju ke meja makan.
“ Aduh pasangan pengantin baru, baru turun.” Ucap Pak Marco
yang senang melihat Vico dan Arini bergandengan tanda hubungan baik telah
terjalin di antara mereka.
Arini dan Vico yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum
menanggapinya.
Vico lalu duduk di tempatnya, Arini yang berkewajiban
melayani suaminya menyiapkan sarapan di piring Vico.
“ Kamu biasanya sarapan apa, biar aku ambilkan ?” Tanya
Arini berdiri di samping Vico.
“ Tolong ambilkan, sedikit nasi lalu lauk itu dan itu.” Ucap
Vico dan menunjuk beberapa lauk di depannya.
“ Wah benar-benar istri idaman ya kan Vic ?” Tanya Pak Marco
menggoda anaknya sambil tersenyum.
“ Iya Pah.” Jawab Vico dan tersenyum pada papahnya.
Sedangkan Arini hanya membalas senyuman dengan ucapan yang dilontarkan Papah
mertuanya itu.
Terlihat hanya mamah Vico yang tidak menyukai adegan sarapan
pagi yang romantis itu.
Arini setelah menyiapkan sarapan di piring Vico lalu duduk
dan mengambil makanan untuknya, dan berdoa sebelum makan lalu menyantapnya
tanpa bersuara seperti yang biasa dilakukan di rumahnya.
Vico yang melihat Arini berdoa sebelum makan merasa malu
sebagai suami tidak memimpin dan tidak berdoa sebelum menyantap makanannya.
Setelah sarapan usai Vico membicarakan tentang
kepindahannya.
“ Pah Vico akan membeli rumah untuk kita berdua tinggal.”
Ucap Vico setelah meneguk air minum di gelasnya.
“ Kenapa Vic, apa istrimu tidak menyukai rumah ini, atau
tidak menyukai mamah.” Ucap mamah Vico memotong pembicaraan Vico.
“ Mah kamu ini apa-apaan sih.” Ucap Pak Marco menghentikan
pembicaraan istrinya tersebut.
“ Bukan Arini mah, Vico yang menginginkan tinggal di rumah
Vico sendiri berdua dengan Arini.” Ucap Vico menjelaskan.
“ Kenapa Vic ?” Tanya Papah Vico.
“ Vico ingin mandiri Pah, Vico sekarang juga sudah memiliki
istri.” Ucap Vico
“ Jika itu keputusanmu papah akan mendukungnya, tapi ingat
kamu juga harus berkunjung kesini kadang-kadang.” Ucap Papah Vico mengingatkan
mereka berdua.
“ Iya pah tenang saja.” Ucap Vico sambil tersenyum.
“ Pah, mah Vico berangkat kerja dulu.” Ucap Vico dan berdiri
meninggalkan meja makan dan menggandeng Arini.
“ Pah, mah Arini juga pamit berangkat ke kantor dulu.” Ucap
Arini lalu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
“ Iya kalian berdua hati-hati.” Ucap Pak Marco melepas anak
dan menantunya berangkat bekerja.