
Arini lalu bergegas ke kamarnya dan membersihkan diri
setelah berolahraga terlihat banyak keringat di dahi Arini.
Arini lalu berpakaian siap untuk berangkat ke kantor dia
lalu turun ke bawah dan sarapan.
“ Bi Titin dan Bi Wati temani Arini makan di sini ya.”
Ucapnya pada kedua pelayan yang bertugas menyiapkan makanan untuknya setiap
hari itu yang terlihat meninggalkan meja makan setelah meletakkan hidangan
untuk sarapan Arini.
“ Tidak apa-apa bibi makan di belakang saja.” Jawab kedua
pelayan tersebut merasa tidak enak jika duduk di meja makan bersama majikannya
tersebut.
“ Tidak apa-apa Bi Arini ingin makan bersama toh makanannya
juga banyak Vico masih bekerja sehingga dia tidak pulang semalam, jadi tidak
apa-apa bi temani Arini makan ya.” Ucap Arini lalu menarik dua kursi untuk
pelayan itu duduk dan mempersilahkan makan.
Aduh nona selama ini saya bekerja sebagai pelayan hanya
nona yang sangat baik dan tidak memperlakukan kami para pelayan dengan
semena-mena menganggap sebagai bagian dari rumah bukan hanya sebagai seorang
yang dipekerjakan dan dibayar, bahkan nyonya di rumah juga seperti itu, untung
tuan muda mengajak kita berdua untuk pindah kesini dan melayaninya dan nona,
kami sangat senang bekerja di sini nona tidak pernah marah-marah dan berkata kasar
selalu berbicara sopan dan lembut. Batin Bi Wati yang memang pernah berapa
kali pindah kerja sampai akhirnya bekerja di keluarga Marlino dan sekarang
pindah di rumah Arini dan Vico
Mereka bertiga lalu menyantap makanan itu bersama seperti
biasa tidak ada pembicaraan saat mereka sarapan.
“ Bi Arini berangkat kerja dulu ya.” Ucap Arini lalu pergi
meninggalkan kedua pelayan yang masih duduk di meja makan itu menuju mobilnya.
Arini tidak mau menyusahkan Vico mengantar jemputnya setiap
hari sehingga dia memilih untuk mengendarai kendaraan sendiri walaupun ditawari
jasa sopir Arini tidak mau karena dia lebih nyaman berkendara sendiri daripada
dengan sopir yang akan menunggunya cukup lama jika dia harus lembur di kantor.
Kantor Arini
Arini memasuki perusahaannya di sambut beberapa karyawannya
dengan ramah ya karena Arini sangat ramah dengan karyawannya dia menganggap
mereka semua adalah partner kerjanya bukan karyawan yang hanya mencari gaji
belaka membuatnya menjadi Bos yang sangat disegani selama memimpin perusahaan
desainnya tersebut.
Arini yang sudah sampai di ruangnya mendudukkan tubuhnya di
__ADS_1
kursi kerja warna hitamnya dengan membuang nafas kasar.
“ Bagaimana aku nanti mengunjungi Vico ya ? Aku takut dia
akan marah, tapi aku juga tidak mau dia tidak pulang lagi bagaimanapun itu
kesalahanku. Aku mengaku wakil dari perusahaan ini saja bagaimana ya ? Hah tapi
masa aku mengatakan kalau aku wakil perusahaan ini dan mengatakan ada pertemuan
dengan Vico pasti terlihat aneh, Ya Allah Arini harus bagaimana ?” Ucap Arini Frustasi
dengan menggaruk rambutnya yang tak gatal sama sekali dan merengek sendiri di
mejanya memikirkan apa alasan yang tepat menemui suaminya yang marah padanya
tersebut.
“ Entahlah aku akan menemuinya nanti siang saat jam makan
siang mungkin dia tidak sibuk saat itu, saat ini aku fokus dulu menyelesaikan
semua tugasku di sini.” Ucap Arini dan mengepalkan kedua tangannya menyemangati
diri sendiri agar bisa konsentrasi dengan desain yang harus dia selesaikan.
Tok Tok Tok
“ Iya masuk” Ucap Arini yang masih fokus dengan komputer di
depannya tersebut.
“ Nona untuk desain perusahaan Horison yang sudah disetujui
bulan lalu meminta perbaikan dan meminta nona sendiri untuk ke sana bertemu
dengan Tuan Haris untuk membicarakan perubahannya.” Ucap Vivi menyampaikan panggilan
telepon yang dia terima dari Perusahaan Horison barusan.
“ Aturkan besok saja Vivi nanti siang aku akan pergi
pada sekretarisnya Vivi setelah berpikir beberapa saat dan memutuskan hal
tersebut.
“ Baik Nona akan saya aturkan dan konfirmasi ke Perusahaan
Horison untuk jadwal kedatangan nona Arini, saya permisi nona.” Ucap Vivi lalu
pergi meninggalkan Arini
Hotel Vico
Terlihat matahari sudah menyinarkan cahaya panasnya dan terlihat
sudah meninggi menusuk pada kulit Vico tanpa terhalang tirai karena memang
semalam tidak ditutup oleh Vico.
Vico yang merasa panas terasa pada kulitnya dan silau di
kedua matanya membuka matanya dan mengerjap beberapa kali mengajak tubuhnya
yang terlihat masih lelah untuk bangun dan kembali ke rutinitas hariannya untuk
datang ke kantor.
Dia mengedarkan seluruh pandangannya dan merasa cukup aneh
dengan ruangan itu lalu dia tersadar semalam tidak pulang sehingga berakhir
tidur di Penthouse-nya tersebut.
Vico lalu bangun dan membersihkan diri dan berpakaian rapi
siap untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
Saat keluar dari kamarnya terlihat sekretaris Kim sudah
duduk di sofa dengan pakaian rapi dan sudah memangku leptopnya menyusun dan
mengerjakan pekerjaannya mengawasi semua perusahaan Vico.
Terlihat meja makan juga sudah terisi berbagai hidangan
untuk sarapan pagi tetapi pelayan langsung pergi setelah menyiapkan semuanya.
“ Kim ayo sarapan.” Ajak Vico memanggil teman sekaligus
sekretarisnya tersebut untuk makan.
Sekretaris Kim lalu menyelesaikan tugasnya dan mematikan
leptop tersebut menutup dan meletakkannya di meja dan berdiri berjalan menuju
meja makan untuk memenuhi kebutuhan energi untuk tubuhnya bersama Vico.
Vico juga duduk di meja tersebut mengambil beberapa lauk,
sayur dan nasi untuk sarapan.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi mereka, mereka lalu
berangkat ke kantor.
“ Kim aku sebaiknya berbicara dengan Arini dan meminta maaf
akan apa yang aku lakukan kemarin.” Ucap Vico yang terlihat terduduk di kursi belakang
dan menatap jendela melihat pemandangan pagi yang sudah mulai dipadati
orang-orang yang berangkat bekerja.
“ Iya tuan, Anda sebaiknya mencoba terbuka dan membicarakan
hal tersebut agar nona juga bisa terbuka dengan Tuan Vico.” Ucap sekretaris Kim
memberi sedikit semangat agar Vico bisa memberanikan diri berbicara dengan istrinya yang
menurutnya Arini sangat tertutup akan segalanya itu.
“ Menurutmu apa perlu aku memberikannya hadiah untuk minta
maaf ya Kim ?” Tanya Vico takut kalu Arini akan marah dan membencinya bahkan
bisa saja meminta cerai dari Vico karena kekasarannya tersebut.
“ Tuan perlu saya siapkan bunga, atau hadiah lain ?” Tanya
sekretaris Kim yang cukup setuju akan hadiah untuk Arini karena memang mereka
sudah bermalam di luar itu saja membuatnya takut jika Arini bahkan bisa
melaporkan Vico pada kakaknya itu.
“ Siapkan bunga saja Kim, aku tidak terlalu tahu apa yang
dia sukai, dia terlihat bukan wanita yang suka dengan barang-barang mahal
seperti wanita lain.” Ucap Vico menyusun rencana minta maaf dengan Arini.
“ Baik tuan akan saya siapkan bunga terbaik untuk tuan
meminta maaf pada nona Arini.” Ucap sekretaris Kim yang terlihat sangat
bersemangat.
Nah begitu tuan Anda harus berbicara dengan nona, nona
Arini kan bukan saya yang akan mengerti semua perilaku tuan walaupun hanya
mengeluarkan nafas kasar saja saya sudah paham alasan tuan itu apa, sedangkan
nona bahkan tuan mengajaknya berbicara saja kadang tidak mengerti. Batin
__ADS_1
sekretaris Kim.