My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Arini ke Kantor


__ADS_3

Arini lalu bergegas ke kamarnya dan membersihkan diri


setelah berolahraga terlihat banyak keringat di dahi Arini.


Arini lalu berpakaian siap untuk berangkat ke kantor dia


lalu turun ke bawah dan sarapan.


“ Bi Titin dan Bi Wati temani Arini makan di sini ya.”


Ucapnya pada kedua pelayan yang bertugas menyiapkan makanan untuknya setiap


hari itu yang terlihat meninggalkan meja makan setelah meletakkan hidangan


untuk sarapan Arini.


“ Tidak apa-apa bibi makan di belakang saja.” Jawab kedua


pelayan tersebut merasa tidak enak jika duduk di meja makan bersama majikannya


tersebut.


“ Tidak apa-apa Bi Arini ingin makan bersama toh makanannya


juga banyak Vico masih bekerja sehingga dia tidak pulang semalam, jadi tidak


apa-apa bi temani Arini makan ya.” Ucap Arini lalu menarik dua kursi untuk


pelayan itu duduk dan mempersilahkan makan.


Aduh nona selama ini saya bekerja sebagai pelayan hanya


nona yang sangat baik dan tidak memperlakukan kami para pelayan dengan


semena-mena menganggap sebagai bagian dari rumah bukan hanya sebagai seorang


yang dipekerjakan dan dibayar, bahkan nyonya di rumah juga seperti itu, untung


tuan muda mengajak kita berdua untuk pindah kesini dan melayaninya dan nona,


kami sangat senang bekerja di sini nona tidak pernah marah-marah dan berkata kasar


selalu berbicara sopan dan lembut. Batin Bi Wati yang memang pernah berapa


kali pindah kerja sampai akhirnya bekerja di keluarga Marlino dan sekarang


pindah di rumah Arini dan Vico


Mereka bertiga lalu menyantap makanan itu bersama seperti


biasa tidak ada pembicaraan saat mereka sarapan.


“ Bi Arini berangkat kerja dulu ya.” Ucap Arini lalu pergi


meninggalkan kedua pelayan yang masih duduk di meja makan itu menuju mobilnya.


Arini tidak mau menyusahkan Vico mengantar jemputnya setiap


hari sehingga dia memilih untuk mengendarai kendaraan sendiri walaupun ditawari


jasa sopir Arini tidak mau karena dia lebih nyaman berkendara sendiri daripada


dengan sopir yang akan menunggunya cukup lama jika dia harus lembur di kantor.


Kantor Arini


Arini memasuki perusahaannya di sambut beberapa karyawannya


dengan ramah ya karena Arini sangat ramah dengan karyawannya dia menganggap


mereka semua adalah partner kerjanya bukan karyawan yang hanya mencari gaji


belaka membuatnya menjadi Bos yang sangat disegani selama memimpin perusahaan


desainnya tersebut.


Arini yang sudah sampai di ruangnya mendudukkan tubuhnya di

__ADS_1


kursi kerja warna hitamnya dengan membuang nafas kasar.


“ Bagaimana aku nanti mengunjungi Vico ya ? Aku takut dia


akan marah, tapi aku juga tidak mau dia tidak pulang lagi bagaimanapun itu


kesalahanku. Aku mengaku wakil dari perusahaan ini saja bagaimana ya ? Hah tapi


masa aku mengatakan kalau aku wakil perusahaan ini dan mengatakan ada pertemuan


dengan Vico pasti terlihat aneh, Ya Allah Arini harus bagaimana ?” Ucap Arini Frustasi


dengan menggaruk rambutnya yang tak gatal sama sekali dan merengek sendiri di


mejanya memikirkan apa alasan yang tepat menemui suaminya yang marah padanya


tersebut.


“ Entahlah aku akan menemuinya nanti siang saat jam makan


siang mungkin dia tidak sibuk saat itu, saat ini aku fokus dulu menyelesaikan


semua tugasku di sini.” Ucap Arini dan mengepalkan kedua tangannya menyemangati


diri sendiri agar bisa konsentrasi dengan desain yang harus dia selesaikan.


Tok Tok Tok


“ Iya masuk” Ucap Arini yang masih fokus dengan komputer di


depannya tersebut.


“ Nona untuk desain perusahaan Horison yang sudah disetujui


bulan lalu meminta perbaikan dan meminta nona sendiri untuk ke sana bertemu


dengan Tuan Haris untuk membicarakan perubahannya.” Ucap Vivi menyampaikan panggilan


telepon yang dia terima dari Perusahaan Horison barusan.


“ Aturkan besok saja Vivi nanti siang aku akan pergi


pada sekretarisnya Vivi setelah berpikir beberapa saat dan memutuskan hal


tersebut.


“ Baik Nona akan saya aturkan dan konfirmasi ke Perusahaan


Horison untuk jadwal kedatangan nona Arini, saya permisi nona.” Ucap Vivi lalu


pergi meninggalkan Arini


Hotel Vico


Terlihat matahari sudah menyinarkan cahaya panasnya dan terlihat


sudah meninggi menusuk pada kulit Vico tanpa terhalang tirai karena memang


semalam tidak ditutup oleh Vico.


Vico yang merasa panas terasa pada kulitnya dan silau di


kedua matanya membuka matanya dan mengerjap beberapa kali mengajak tubuhnya


yang terlihat masih lelah untuk bangun dan kembali ke rutinitas hariannya untuk


datang ke kantor.


Dia mengedarkan seluruh pandangannya dan merasa cukup aneh


dengan ruangan itu lalu dia tersadar semalam tidak pulang sehingga berakhir


tidur di Penthouse-nya tersebut.


Vico lalu bangun dan membersihkan diri dan berpakaian rapi


siap untuk pergi ke kantor.

__ADS_1


Saat keluar dari kamarnya terlihat sekretaris Kim sudah


duduk di sofa dengan pakaian rapi dan sudah memangku leptopnya menyusun dan


mengerjakan pekerjaannya mengawasi semua perusahaan Vico.


Terlihat meja makan juga sudah terisi berbagai hidangan


untuk sarapan pagi tetapi pelayan langsung pergi setelah menyiapkan semuanya.


“ Kim ayo sarapan.” Ajak Vico memanggil teman sekaligus


sekretarisnya tersebut untuk makan.


Sekretaris Kim lalu menyelesaikan tugasnya dan mematikan


leptop tersebut menutup dan meletakkannya di meja dan berdiri berjalan menuju


meja makan untuk memenuhi kebutuhan energi untuk tubuhnya bersama Vico.


Vico juga duduk di meja tersebut mengambil beberapa lauk,


sayur dan nasi untuk sarapan.


Setelah menyelesaikan sarapan pagi mereka, mereka lalu


berangkat ke kantor.


“ Kim aku sebaiknya berbicara dengan Arini dan meminta maaf


akan apa yang aku lakukan kemarin.” Ucap Vico yang terlihat terduduk di kursi belakang


dan menatap jendela melihat pemandangan pagi yang sudah mulai dipadati


orang-orang yang berangkat bekerja.


“ Iya tuan, Anda sebaiknya mencoba terbuka dan membicarakan


hal tersebut agar nona juga bisa terbuka dengan Tuan Vico.” Ucap sekretaris Kim


memberi sedikit semangat agar Vico bisa memberanikan diri berbicara dengan istrinya yang


menurutnya Arini sangat tertutup akan segalanya itu.


“ Menurutmu apa perlu aku memberikannya hadiah untuk minta


maaf ya Kim ?” Tanya Vico takut kalu Arini akan marah dan membencinya bahkan


bisa saja meminta cerai dari Vico karena kekasarannya tersebut.


“ Tuan perlu saya siapkan bunga, atau hadiah lain ?” Tanya


sekretaris Kim yang cukup setuju akan hadiah untuk Arini karena memang mereka


sudah bermalam di luar itu saja membuatnya takut jika Arini bahkan bisa


melaporkan Vico pada kakaknya itu.


“ Siapkan bunga saja Kim, aku tidak terlalu tahu apa yang


dia sukai, dia terlihat bukan wanita yang suka dengan barang-barang mahal


seperti wanita lain.” Ucap Vico menyusun rencana minta maaf dengan Arini.


“ Baik tuan akan saya siapkan bunga terbaik untuk tuan


meminta maaf pada nona Arini.” Ucap sekretaris Kim yang terlihat sangat


bersemangat.


Nah begitu tuan Anda harus berbicara dengan nona, nona


Arini kan bukan saya yang akan mengerti semua perilaku tuan walaupun hanya


mengeluarkan nafas kasar saja saya sudah paham alasan tuan itu apa, sedangkan


nona bahkan tuan mengajaknya berbicara saja kadang tidak mengerti. Batin

__ADS_1


sekretaris Kim.


__ADS_2