
“ Dasar Bodoh .” Ucap Vico lalu meninggalkan meja
resepsionis itu menuju ruangannya ingin menghubungi Arini tapi dia lupa karena
buru-buru tidak membawa ponselnya tersebut.
Kedua resepsionis yang tidak tahu apa-apa itu lalu terduduk
takut melihat tatapan tajam Vico yang terlihat sangat marah, tapi dia juga
tidak tahu wanita yang mengantar makanan tadi mereka hanya menjalankan
prosedur.
Vico sudah sampai di ruangannya. Terlihat sekretaris Kim
berada di depan Lift mungkin ingin menyusul Vico.
“ Kim pecat sekretaris bodoh yang di bawah itu, karena tidak
membiarkan Arini masuk menemuiku.” Ucap Vico yang sudah marah akan apa yang
terjadi itu.
“ Tuan mereka hanya melakukan prosedur tuan, mereka juga
tidak tahu jika nona Arini adalah istri Tuan.” Jawab sekretaris Kim
mengingatkan kenyataan yang ada.
“ Ah di mana ponselku aku ingin menghubungi Arini.” Ucap Vico
yang sudah memasuki ruangannya dan terlihat bingung dan mencari sesuatu dengan
buru-buru.
“ Ini tuan tadi saya membawanya ingin menyusul Tuan ke bawah.”
Ucap sekretaris Kim dan menyerahkan ponsel pada Vico.
Vico lalu menyahutnya dan mencari nomor istrinya tersebut
untuk menelponnya.
Beberapa kali Vico menghubungi Arini tetapi tidak ada
jawaban dari Arini.
“ Hasssshhh apakah Arini marah, dia tidak mengangkat
panggilanku, aku akan memperkenalkan dia ke semua karyawan agar semua tahu
kalau dia istriku jadi lain kali kalau kesini dia tidak perlu pergi lagi.” Ucap
Vico yang tidak dapat menghubungi istrinya tersebut dia mengusap kasar wajahnya
dan menggaruk rambutnya beberapa kali.
“ Kim mana kunci aku akan menemui Arini di kantornya.” Ucap
Vico yang sudah berdiri dari sofa dan mendekati sekretaris Kim.
“ Biar saya antar tuan ?” Tawar sekretaris Kim sambil
mengeluarkan kunci mobil dari saku jasnya.
“ Tidak perlu kamu di sini saja urus semuanya.” Ucap Vico
dan menyambar kunci di tangan sekretaris Kim lalu pergi meninggalkan kantornya
ingin menemui Arini di kantornya.
Sesampainya di kantor Arini Vico langsung menuju resepsionis
menanyakan ruangan Arini.
“ Ruangan Arini di mana ?” Tanya Vico yang masih memasang
tatapan tajam pada resepsionis di kantor Arini.
“ Nona tidak ada di kantor Tuan, nona pergi sejak akan waktu
makan siang dan belum kembali sampai sekarang.” Ucap resepsionis tersebut yang
__ADS_1
bingung dengan kedatangan Vico di kantor Arini siang itu.
Vico yang mengetahui itu lalu pergi meninggalkan kantor
Arini menuju rumahnya mungkin Arini pulang ke rumah.
Vico sampai di rumah dan berteriak memanggil-manggil Arini
sampai Bi Titin menemuinya.
“ Tuan Vico nona Arini belum pulang.” Ucap Bi Titin pada
Vico
Vico yang mendengar itu bingung mencari Arini ke mana, dia lalu
mencoba menghubungi Putra.
“ Kak Arini bersama kakak ?” Tanya Putra sudah tidak
memikirkan hal lain selain menemui Arini.
“ Tidak, kenapa kamu membuat masalah dengan adikku ?” Tanya
Putra curiga karena adiknya tidak pernah sekalipun kabur dari rumah selama ini.
“ Ada sedikit masalah kak aku dengan Arini.” Ucap Vico
memberanikan diri berbicara dengan Putra.
“ Oh sebentar aku cekkan dia di mana ?” Ucap Putra lalu menutup
panggilan adik iparnya tersebut.
Putra lalu menghubungi Dika yang menjadi mata-mata yang
selalu mengikuti Arini selama ini dan mengatakan bahwa Arini sedang berada di
taman Kota membaca buku di bawah pohon.
Dan mengatakan bahwa Arini baik-baik saja tidak terlihat
bersedih atau menangis pada Putra.
“ Adikku di taman kota, kamu sebagai suami harusnya yang
lebih tahu kenapa jadi menyusahkan aku.” Ucap Putra yang terlihat duduk di
kursinya membereskan pekerjaannya dengan berbagai berkas di mejanya.
“ Baik kak, terima kasih.” Ucap Vico lalu pergi meninggalkan
rumahnya dan menemui Arini di taman Kota.
Vico yang sudah sampai di Taman Kota lalu menyisir semua
sudut untuk menemukan keberadaan istrinya tersebut. Dia akhirnya menemukan
Arini.
Terlihat Arini sangat fokus membaca buku tentang Arsitektur
kesukaannya itu di bawah pohon yang rindang terdengar suara burung dan angin
sepoi-sepoi yang berhembus membuatnya tenang dan sangat menikmati siang itu.
“Akhirnya aku menemukanmu.” Ucap Vico lega setelah melihat
istrinya dari kejauhan itu.
Vico lalu bergegas mendekati Arini dan menatapnya . Arini
yang tidak mendengar kedatangan orang dia melihat sepasang sepatu dan
menatapnya hingga terlihat wajah panik Vico.
“ Vico, kenapa kamu kesini ?” Tanya Arini yang bingung akan
kedatangan Vico tersebut.
“ Aku mencarimu, maafkan aku Arini atas apa yang aku lakukan
kemarin.” Ucap Vico yang sudah duduk dan berhadapan dengan Arini.
__ADS_1
“ Aku yang sebaiknya minta maaf, maafkan aku tidak meminta
ijin saat bertemu dengan Arga kemarin, tapi sungguh aku dan Arga tidak ada
hubungan apa-apa kami hanya makan siang saja.” Ucap Arini memperlihatkan rasa
bersalahannya dengan menunduk sambil meminta maaf pada Vico.
“ Iya, aku yang terlalu marah kemarin, maafkan aku hingga
membuatmu menangis .” Ucap Vico yang sudah mengangkat dagu Arini yang semula
tertunduk sekarang sudah berhadapan tepat di depan wajahnya.
“ Iya.” Jawab Arini dan tersenyum terhadap Vico.
Vico tidak bisa menahan lagi ingin mengecup bibir merah
Arini yang sedikit terpoles lipstik itu.
Vico mencium Arini dalam tanpa ada balasan dari Arini,
mengalirkan semua rasa sesal yang sudah dia perbuat hingga membuat wanita yang
disayangi itu menangis.
Vico lalu memeluk erat tubuh Arini dan membenamkan wajah
Arini pada dada lebarnya tersebut.
“ Kamu semalam di mana ?” Tanya Arini yang sudah menjauhkan
tubuh Vico dari pelukannya.
“ Aku hanya menenangkan diri dan tidur di hotelku dengan
Kim.” Ucap Vico menjelaskan keberadaannya pada Arini.
“ Aku menunggumu dan menghubungimu berkali-kali apa kamu
tidak mendengarnya ?” tanya Arini kecewa karena panggilannya tidak diangkat
Vico.
“ Maafkan aku, aku semalam ingin menenangkan diri tidak
ingin menyakitimu jadi aku memilih pergi untuk menghilangkan rasa marahku.”
Ucap Vico yang membelai wajah cantik Arini dan menyusupkan rambut-rambu pendek
yang menari-nari terbawa angin di wajah Arini.
“ Maafkan aku membuatmu marah.” Ucap Arini yang masih merasa
bersalah.
“ Bukan sebenarnya apa yang kamu lakukan tidak terlalu
membuatku marah, hanya saja sebelumnya aku sudah marah, dan melihatmu membuatku
sedikit tambah marah.” Ucap Vico jujur dengan apa yang dia alami tersebut.
“ Apakah karena perusahaan ?” Tanya Arini memberanikan diri
bertanya.
“ Bukan, sudahlah apa kamu sudah makan ?” Tanya Vico mulai
mengalihkan pembicaraan mereka.
“ Belum, kamu sudah makan makanan yang aku bawakan ?” Tanya
Arini.
“ Aku langsung mencarimu setelah mengetahui kamu datang ke
kantor, aku tadi ke kantormu dan pulang ke rumah hingga aku menghubungi kak
Putra tentang keberadaanmu, dan memberitahukan kamu di sini sehingga aku datang
kesini sekarang.” Ucap Vico lalu mengajak Arini pergi meninggalkan taman kota
tersebut dan mengajaknya makan siang bersama.
__ADS_1