
Arini terlihat keluar dari kamar mandi dengan hanya
menggunakan handuk yang melilit tubuh putihnya dan rambut yang basah masih
meneteskan air dan dia mengusapnya dengan handuk.
Vico yang melihatnya menelan air ludahnya, jantungnya
berdegub sangat kencang, desiran terjadi pada seluruh organnya, ini pertama
kalinya Vico melihat Arini seperti itu karena biasanya Arini sudah keluar
dengan berpakaian lengkap, terlihat Vico masih menatap tanpa berkedip .Arini
yang beberapa memanggilnya tapi seperti terhipnotis Vico tak mendengar suara
itu hingga Arini mendekat dan menepuk bahu Vico yang kala itu terduduk di tepi
ranjang.
“ Vico, aku sudah selesai mandi.” Ucap Arini membuyarkan
semua pikiran Vico yang berkecamuk dan perasaan tidak karuan dari dalam
dirinya, ada keinginan untuk menyambut hal itu tapi dia tidak ingin menyakiti
Arini.
“ OO Oh iya a a aku akan mandi dulu.” Ucap Vico sedikit terbata dan
berdiri dari ranjang yang empuk tempat dia terduduk lama menunggu Arini
membersihkan diri menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
“ Bagaimana aku bisa terus menahan keinginanku bersentuhan
dengannya, aku rasanya seperti tersihir hanya melihatnya selesai mandi dan
menggunakan handuk itu, Arini kamu benar-benar membuatku lemah saat berada di
dekatmu.” Ucap Vico yang kala itu mengucurkan air dari sower ke tubuhnya untuk
mendinginkan pikiran yang berkecamuk sambil berbicara sendiri mengungkapkan
perasaan yang sedang dia alami. Cukup lama Vico lalu keluar dengan sudah
berpakaian.
“ Kamu ingin jalan-jalan menikmati suasana paris ?” Tanya
Vico yang mengeringkan rambutnya dengan handuk mendekati Arini yang lagi-lagi
berada di balkon menikmati menara Eiffel dari kejauhan yang terlihat sangat
memanjakan matanya.
“ Iya.” Jawab Arini lalu membalikkan tubuhnya ke arah Vico
dan dia memberanikan diri untuk memeluk Vico yang kala itu berjarak satu meter
di depan Arini.
Jantung Vico yang tadi sudah tenang karena guyuran air yang
mengalir dari kepalanya kembali bedegub kencang bagaikan terjadi lomba pacuan
kuda.
“ Vico maafkan aku, aku akan berusaha untuk menerima
semuanya, aku akan belajar untuk dekat denganmu, maafkan aku yang masih belum
bisa melakukan kewajibanku.” Ucap Arini yang memeluk erat tubuh suaminya
__ADS_1
tersebut dan membenamkan wajahnya di dada bidang Vico dan sedikit meneteskan
air mata mengungkap perasaan bersalahnya terhadap Vico.
“ Iya Arini aku akan menunggumu siap untuk segalanya, kita
akan pelan-pelan saling mengenal, mempercayai satu sama lain, kamu tidak perlu
terburu-buru.” Ucap Vico menjauhkan tubuh Arini dan sedikit menunduk agar
tinggi mereka sama dan menghapus air mata Arini dengan ibu jarinya.
Vico lalu memcium puncak kepala Arini dan memeluknya kembali
dengan erat diiringi senyuman terukir di bibirnya.
“ Ayo kita pergi sekarang.” Ajak Vico lalu menggandeng
tangan istrinya keluar dari kamar itu menuju lobby hotel untuk menaiki mobil
menuju beberapa destinasi yang sudah disiapkan oleh sekretaris Kim.
Arini terlihat tersenyum menikmati jalan-jalannya.
“ Vico ayo beli ice cream di sana.” Ucap Arini dan
menggandeng Vico menuju kedai ice cream yang terlihat ramai pengunjung yang
antre membeli olahan susu yang sangat nikmat dikala siang menjelang itu.
Vico mengikuti kemana istrinya itu berjalan dan mengajaknya
tanpa ada penolakan dan rasa tidak suka, baginya menuruti keinginan Arini saat
ini bisa membuat Arini bahagia dan nyaman dengan kehadirannya.
Terlihat Arini sangat bahagia dia berlarian kesana-kemari,
di kolam yang memiliki air mancur yang indah dan mencipratkan sedikit ke Vico,
Vico pun tak kalah membalas apa yang Arini lakukan.
Sekretaris Kim yang memandang dari kejauhan tersenyum dengan
semua yang tuan dan nona mudanya lakukan.
Seperti ini saja saya sudah bahagia tuan, selama ini
menemani Anda yang jarang sekali tersenyum karena terlalu banyak beban pikiran
yang menjadi tanggung jawab tuan, nona memang sedikit kaku awalnya tapi jika
sudah dekat kelihatannya dia tipe wanita yang sangat ceria. Batin
sekretaris Kim
Dari kejauhan terlihat tiga orang mata-mata mengamati semua
yang mereka berdua lakukan
Mata-mata paman Vico yang mengetahui keponakannya datang ke
Paris dan diberi informasi kalau Vico datang bersama wanita.
Mata-mata dari Putra yang dia utus untuk mengawasi dan
menjaga Arini karena dia tahu Vico bukan orang biasa dan pasti memiliki banyak
musuh apalagi tujuan mereka adalah di tempat yang cukup bahaya menurut Putra,
tempat dimana ketiga kubu mafia memilki kekuasaannya masing-masing yang bisa
saja menyakiti Arini.
__ADS_1
Mata-mata Orlando yang hanya mengawasi untuk melaporkannya
ke Orlando dan memastikan bahwa yang dilihat adalah salah satu bosnya yang
memang tidak diketahui banyak orang hanya beberapa pertinggi dalam grup mafia
itu yang mengetahuinya.
Terlihat mereka terduduk di salah satu bangku taman.
kala itu langit sudah terlihat jingga tersirat waktu untuk sang surya menutup hari itu
berganti menjadi malam, lampu-lampu mulai menyala burung-burung berkicau riang
mulai beterbangan kembali ke sarangnya.
“ Arini apa kamu bahagia ?” Tanya Vico melihat senyum Arini
yang masih terlukis di bibirnya dan memandang ke segala arah yang menurutnya
menarik.
“ Iya aku sangat bahagia hari ini, aku jarang pergi berlibur
kecuali dengan kakak, kalau dengan mamah papah jarang karena mereka selalu
sibuk.” Jawab Arini yang terlihat sedikit getir dari mimik mukanya menceritakan
pengalaman liburan yang memang jarang dilakukan, karena dia biasanya hanya akan
di rumah, membaca buku dan hal lainnya.
“Itu sebabnya kamu sangat dekat dengan kakakmu ?” Tanya Vico
untuk membuat Arini melupakan hal yang tidak membahagiakan menurutnya.
“ Iya kakak selalu melindungiku, mengajakk bermain, mendukungku
dan selalu ada untukku selama ini saat mamah dan papah tidak ada.” Jawab Arini
kembali tersenyum menceritakan kakaknya yang menurutnya sangat menyayanginya,
walaupun kakaknya sangat protektif dan posesif menurutnya tapi dia tahu kakaknya melakukan itu karena ingin
menjaga Arini. Bahkan dari kakaknya juga dia belajar berbagai seni bela diri
dan menebak, tapi dia tidak pernah menunjukkannya karena larangan kakaknya agar
menggunakan keahlian itu hanya saat situasi terjepit untuk melindungi diri
saja.
“ Aku tahu sekarang kenapa dia sangat tidak menyukaiku, dan
memperingatkanku berkali-kali tentangmu, Arini aku berjanji akan menjagamu
seperti yang kakak Putra lakukan, percalah padaku.” Ucap Vico dan mengacak
rambut Arini dan tersenyum pada wanita yang sangat cantik menurutnya.
“ Terima kasih.” Ucap Arini dan juga memberikan senyuman
sejuta watt yang selalu dia tampilkan untuk Vico.
“ Ayo kita makan malam.” Ajak Vico menggandeng tangan Arini
untuk berdiri beranjak dari duduknya karena dia merasa masih lapar dengan semua
makanan yang dia lahap dengan Arini sejak tadi.
“ Baiklah,” Jawab Arini lalu berdiri dan meninggalkan kursi
panjang tempat mereka berdua duduk untuk pergi menyantap sajian khas Paris.
__ADS_1