
Menikmati senja merupakan hal sangat Arini sukai tidak
terasa jingga sudah berubah menjadi kegelapan karena surya yang sudah
benar-benar menghilang. Pasangan itu pun kembali ke Hotel untuk membersihkan
diri masing-masing.
Sore itu agenda yang akan mereka lakukan adalah menikmati
olahan laut di tepi pantai yang berada di Jimbaran. Ramai mobil dan kendaraan
lain terparkir memenuhi area parkir. Terlihat banyak restoran berjajar dengan
semua bangku mereka berada di atas pasir putih dengan cahaya lilin di setiap
meja yang ada membuat hawa romantis bagi seluruh pengunjung tempat itu.
Makanan yang sudah di pesan sudah tersaji, terdapat olahan
kepiting, udang, cumi, ikan sayur dan nasi. Arini mengambilkan makanan tersebut
pada piring Vico. Vico yang melihat istrinya melayaninya tersebut juga tidak
berpangku tangan. Dia terlihat mengupaskan udang yang dibumbui asam manis
tersebut dan menaruhnya di piring Arini.
Makan malam yang berbaur dengan berbagai pengunjung belahan
dunia tersebut membuat keduanya menjadi orang biasa, karena memang selama ini
mereka selalu menggunakan ruangan VIP yang di pisah dengan ruangan umum tamu
lain.
Arini yang biasanya tidak bertindak lebih dulu kali ini dia
mendekat lalu mengecup pipi Vico. Vico yang mendapat kecupan tiba-tiba dari
Arini mematung seketika dengan kedua tangannya masih memegang cangkang kepiting.
Para pengawal yang melihat ekpresi tidak terduka tersebut
membuatnya tertawa dalam hati karena sosok yang selalu menjadi ladies killer
itu menjadi kikuk dan tak berdaya hanya dengan kecupan di pipi dari sosok
wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut.
Vico yang kembali kesadarannya lalu meletakkan bagian tubuh
kepiting itu dan mengecup bibir Arini lembut. Kemesraan mereka pun di saksikan
para pengawal yang membuat iri karena memang mereka semua masih lajang.
Waktu berjalan sangat cepat saat semuanya terasa
membahagiakan makan malam tersebut berakhir mereka pun kembali ke tempat
penginapan.
Seperti malam sebelumnya bagai tidak ingin menyianyiakan
waktu mereka berdua terlihat keduanya sudah melakukan kegiatan suami istri
tersebut. Hingga waktu menunjukkan hampir pukul 1 malam dan berakhir tumbang
tubuh kekar Vico yang sudah lelah di samping tubuh Arini yang mulai menutup
matanya karena lunglai yang melanda seluruh tubuhnya.
Siang itu sesuai jadwal mereka seharusnya melakukan
perjalanan menuju tempat menginap di daerah sekitar gunung tertinggi di pulau
Dewata itu tetapi karena adanya pekerjaan mendadak membuat perjalanan tersebut
tertunda.
“ Ar maafkan aku, aku tinggal dulu dengan Kim untuk
__ADS_1
berkunjung ke proyek perusahaan yang sedang di kerjakan di sini.” Vico yang
sudah berpakaian rapi terlihat memegang kedua bahu istrinya meminta ijin untuk
meninggalkannya karena adanya tuntutan pekerjaan. Terlihat raut rasa bersalah
pada wajah Vico yang tengah menatap wajah cantik istri kesayangannya tersebut.
“ Iya Vic, hati-hati. Tenang saja aku akan menunggumu jangan
kawatir, aku tidak apa-apa.” Arini tersenyum memandang wajah tampan Vico
meyakinkan suami yang selalu protektif seperti kakaknya itu agar tidak kawatir
padanya. Sambil kedua tangan Vico yang sebelumnya berada di bahunya berpindah
ke genggaman Arini.
“ Tenang saja aku sudah meminta Zack untuk menjagamu bersama
para pengawal dia adalah salah satu orang kepercayaanku seperti Kim.” Vico yang
masih tidak ingin meninggalkan istrinya mencoba memberikan keamanan terbaik,
karena jika mengajak Arini dia takut terjadi apa-apa pada istrinya tersebut di
lokasi proyek pembangunan gedung tersebut.
“ Iya Vic.” Jawab Arini mencoba menenangkan Vico yang
terlihat tidak tega itu. Vico lalu mengusap rambut Arini lembut.
“ Hati-hati jangan kemana-mana tunggu sampai aku kembali.”
Ucap Vico lalu mengecup puncak kepala Arini berlanjut pada adegan ciuman yang
dalam dari kedua sejoli yang di mabuk cinta tersebut.
Akhirnya drama perpisahan pasangan suami istri yang bak
drama korea tersebut berakhir. Vico terlihat diikuti sekretaris Kim berjalan
tersebut.
Tak beberapa lama pintu kamar Arini di ketuk oleh seseorang.
Tok tok tok
“ Iya siapa ?” Tanya Arini karena dia tidak ingin membukakan
pintu untuk orang asing.
“ Nona Arini saya Zack yang di minta tuan Vico untuk menjaga
Anda.
Arini yang mendengar hal tersebut lalu berjalan meninggalkan
sofa berwarna biru yang menemaninya melihat pekerjaan perusahaannya dari leptop
yang tengah dia pangku.
“ Ada apa Zack ?” Tanya Arini saat sudah membukakan pintu
kamar miliknya tersebut.
“ Tidak apa-apa nona, apakah nona ingin memakan sesuatu ?”
Zack mencoba bertindak profesional seperti sekretaris Kim untuk menjaga istri
Vico tersebut sesuai permintaan Vico.
“ Tidak terima kasih.” Tolak Arini karena merasa masih
kenyang karena dia sudah sarapan dengan Vico sebelumnya.
“ Baiklah nona Arini, jika membutuhkan sesuatu silakan
panggil saya saja saya akan duduk di sini.” Zack menunjuk kursi yang entah
datang dari mana sudah berada di depan pintu kamar Arini.
__ADS_1
“ Baiklah, Terima Kasih.” Arini lalu menutup pintu kamarnya
dan kembali ke aktivitasnya melihat desain para karyawannya melalui email yang
dikirimkan Vivi sekretaris pribadinya tersebut.
Lokasi Proyek pembangunan Gedung
“ Selamat Siang Tuan Zian, ada perlu apa hingga membuat saya
harus datang ke sini ?” Tanya Vico yang merasa pertemuan yang di minta sangat
mendadak itu sangat mengganggu acaranya dengan istri tercinta.
“ Mohon maaf Tuan Vico saya tiba-tiba mengganggu jadwal Anda
di sini, begini saya sebagai pengembang proyek Tuan Vico di sini merasa ada
beberapa masalah yang perlu saya sampaikan pada Tuan Vico.” Zian yang terlihat
sangat ramah itu mengajak Vico berkeliling di area proyek tersebut lalu
menunjukkan beberapa masalah yang dia alami karena tidak dapat menjelaskan
melalui panggilan telepon atau sekedar mengirim foto dan laporan melalui email
saja.
“ Jadi dananya kurang berapa ?” Tanya Vico langsung ke inti
permasalahan dari semua penjelasan Zian yang terlalu bertele-tele tersebut.
Sekretaris Kim yang selalu mengikuti Vico tersebut terlihat
menghela nafas kasar karena ulah pimpinan perusahaan pengembang yang sedang
berjalan bersama Vico tersebut.
“ Begini tuan karena tuan sudah melihatnya langsung saya
akan mengirikan rencana anggarannya nanti melalui email, karena tuan sudah mau
meluangkan waktu yang sangat berharga ini bagaimana kalau istirahat sambil
makan siang sebentar kami dari Grup Anggara sudah menyiapkan banyak hidangan di
dalam.” Ajak Zian sambil mempersilakan Vico dan sekretaris Kim berjalan ke arah
sebuah bangunan yang menjadi kantor sementara untuknya mengelola proyek yang
sangat penting untuk perusahaannya tersebut.
“ Tidak perlu, aku sudah kenyang.” Tolak Vico dan bersiap
untuk meninggalkan Lokasi proyek tersebut dengan langkah panjangnya yang sudah
merindukan istri cantiknya.
“ Tuan Vico saya mohon, ini salah satu bentuk terima kasih
Grup Anggara karena telah mendapatkan tender yang sangat berharga ini dari Grup
Angkasa. Walaupun hanya mencicipi tidak apa-apa.” Zian mencoba memaksa Vico
yang terlihat enggan tersebut. Malas berdebat akhirnya Vico berjalan menuju
bangunan tersebut dan memang sudah terlihat meja bundar besar dengan sajian
berbagai olahan sea food, sayuran, daging dan ayam tertata rapi di atasnya.
“ Silakan Tuan.” Zian mencoba menjamu orang nomor satu Grup
Angkasa tersebut dengan ramah sambil mengambilkan beberapa makanan yang
sekiranya Vico sukai.
Entah apa yang yang terkandung dalam makanan tersebut
terlihat sekretaris Kim dan Vico mulai terlihat pusing dan berakhir tertidur di
meja makan tersebut.
__ADS_1