My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Proyek


__ADS_3

Menikmati senja merupakan hal sangat Arini sukai tidak


terasa jingga sudah berubah menjadi kegelapan karena surya yang sudah


benar-benar menghilang. Pasangan itu pun kembali ke Hotel untuk membersihkan


diri masing-masing.


Sore itu agenda yang akan mereka lakukan adalah menikmati


olahan laut di tepi pantai yang berada di Jimbaran. Ramai mobil dan kendaraan


lain terparkir memenuhi area parkir. Terlihat banyak restoran berjajar dengan


semua bangku mereka berada di atas pasir putih dengan cahaya lilin di setiap


meja yang ada membuat hawa romantis bagi seluruh pengunjung tempat itu.


Makanan yang sudah di pesan sudah tersaji, terdapat olahan


kepiting, udang, cumi, ikan sayur dan nasi. Arini mengambilkan makanan tersebut


pada piring Vico. Vico yang melihat istrinya melayaninya tersebut juga tidak


berpangku tangan. Dia terlihat mengupaskan udang yang dibumbui asam manis


tersebut dan menaruhnya di piring Arini.


Makan malam yang berbaur dengan berbagai pengunjung belahan


dunia tersebut membuat keduanya menjadi orang biasa, karena memang selama ini


mereka selalu menggunakan ruangan VIP yang di pisah dengan ruangan umum tamu


lain.


Arini yang biasanya tidak bertindak lebih dulu kali ini dia


mendekat lalu mengecup pipi Vico. Vico yang mendapat kecupan tiba-tiba dari


Arini mematung seketika dengan kedua tangannya masih memegang cangkang kepiting.


Para pengawal yang melihat ekpresi tidak terduka tersebut


membuatnya tertawa dalam hati karena sosok yang selalu menjadi ladies killer


itu menjadi kikuk dan tak berdaya hanya dengan kecupan di pipi dari sosok


wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut.


Vico yang kembali kesadarannya lalu meletakkan bagian tubuh


kepiting itu dan mengecup bibir Arini lembut. Kemesraan mereka pun di saksikan


para pengawal yang membuat iri karena memang mereka semua masih lajang.


Waktu berjalan sangat cepat saat semuanya terasa


membahagiakan makan malam tersebut berakhir mereka pun kembali ke tempat


penginapan.


Seperti malam sebelumnya bagai tidak ingin menyianyiakan


waktu mereka berdua terlihat keduanya sudah melakukan kegiatan suami istri


tersebut. Hingga waktu menunjukkan hampir pukul 1 malam dan berakhir tumbang


tubuh kekar Vico yang sudah lelah di samping tubuh Arini yang mulai menutup


matanya karena lunglai yang melanda seluruh tubuhnya.


Siang itu sesuai jadwal mereka seharusnya melakukan


perjalanan menuju tempat menginap di daerah sekitar gunung tertinggi di pulau


Dewata itu tetapi karena adanya pekerjaan mendadak membuat perjalanan tersebut


tertunda.


“ Ar maafkan aku, aku tinggal dulu dengan Kim untuk

__ADS_1


berkunjung ke proyek perusahaan yang sedang di kerjakan di sini.” Vico yang


sudah berpakaian rapi terlihat memegang kedua bahu istrinya meminta ijin untuk


meninggalkannya karena adanya tuntutan pekerjaan. Terlihat raut rasa bersalah


pada wajah Vico yang tengah menatap wajah cantik istri kesayangannya tersebut.


“ Iya Vic, hati-hati. Tenang saja aku akan menunggumu jangan


kawatir, aku tidak apa-apa.” Arini tersenyum memandang wajah tampan Vico


meyakinkan suami yang selalu protektif seperti kakaknya itu agar tidak kawatir


padanya. Sambil kedua tangan Vico yang sebelumnya berada di bahunya berpindah


ke genggaman Arini.


“ Tenang saja aku sudah meminta Zack untuk menjagamu bersama


para pengawal dia adalah salah satu orang kepercayaanku seperti Kim.” Vico yang


masih tidak ingin meninggalkan istrinya mencoba memberikan keamanan terbaik,


karena jika mengajak Arini dia takut terjadi apa-apa pada istrinya tersebut di


lokasi proyek pembangunan gedung tersebut.


“ Iya Vic.” Jawab Arini mencoba menenangkan Vico yang


terlihat tidak tega itu. Vico lalu mengusap rambut Arini lembut.


“ Hati-hati jangan kemana-mana tunggu sampai aku kembali.”


Ucap Vico lalu mengecup puncak kepala Arini berlanjut pada adegan ciuman yang


dalam dari kedua sejoli yang di mabuk cinta tersebut.


Akhirnya drama perpisahan pasangan suami istri yang bak


drama korea tersebut berakhir. Vico terlihat diikuti sekretaris Kim berjalan


tersebut.


Tak beberapa lama pintu kamar Arini di ketuk oleh seseorang.


Tok tok tok


“ Iya siapa ?” Tanya Arini karena dia tidak ingin membukakan


pintu untuk orang asing.


“ Nona Arini saya Zack yang di minta tuan Vico untuk menjaga


Anda.


Arini yang mendengar hal tersebut lalu berjalan meninggalkan


sofa berwarna biru yang menemaninya melihat pekerjaan perusahaannya dari leptop


yang tengah dia pangku.


“ Ada apa Zack ?” Tanya Arini saat sudah membukakan pintu


kamar miliknya tersebut.


“ Tidak apa-apa nona, apakah nona ingin memakan sesuatu ?”


Zack mencoba bertindak profesional seperti sekretaris Kim untuk menjaga istri


Vico tersebut sesuai permintaan Vico.


“ Tidak terima kasih.” Tolak Arini karena merasa masih


kenyang karena dia sudah sarapan dengan Vico sebelumnya.


“ Baiklah nona Arini, jika membutuhkan sesuatu silakan


panggil saya saja saya akan duduk di sini.” Zack menunjuk kursi yang entah


datang dari mana sudah berada di depan pintu kamar Arini.

__ADS_1


“ Baiklah, Terima Kasih.” Arini lalu menutup pintu kamarnya


dan kembali ke aktivitasnya melihat desain para karyawannya melalui email yang


dikirimkan Vivi sekretaris pribadinya tersebut.


Lokasi Proyek pembangunan Gedung


“ Selamat Siang Tuan Zian, ada perlu apa hingga membuat saya


harus datang ke sini ?” Tanya Vico yang merasa pertemuan yang di minta sangat


mendadak itu sangat mengganggu acaranya dengan istri tercinta.


“ Mohon maaf Tuan Vico saya tiba-tiba mengganggu jadwal Anda


di sini, begini saya sebagai pengembang proyek Tuan Vico di sini merasa ada


beberapa masalah yang perlu saya sampaikan pada Tuan Vico.” Zian yang terlihat


sangat ramah itu mengajak Vico berkeliling di area proyek tersebut lalu


menunjukkan beberapa masalah yang dia alami karena tidak dapat menjelaskan


melalui panggilan telepon atau sekedar mengirim foto dan laporan melalui email


saja.


“ Jadi dananya kurang berapa ?” Tanya Vico langsung ke inti


permasalahan dari semua penjelasan Zian yang terlalu bertele-tele tersebut.


Sekretaris Kim yang selalu mengikuti Vico tersebut terlihat


menghela nafas kasar karena ulah pimpinan perusahaan pengembang yang sedang


berjalan bersama Vico tersebut.


“ Begini tuan karena tuan sudah melihatnya langsung saya


akan mengirikan rencana anggarannya nanti melalui email, karena tuan sudah mau


meluangkan waktu yang sangat berharga ini bagaimana kalau istirahat sambil


makan siang sebentar kami dari Grup Anggara sudah menyiapkan banyak hidangan di


dalam.” Ajak Zian sambil mempersilakan Vico dan sekretaris Kim berjalan ke arah


sebuah bangunan yang menjadi kantor sementara untuknya mengelola proyek yang


sangat penting untuk perusahaannya tersebut.


“ Tidak perlu, aku sudah kenyang.” Tolak Vico dan bersiap


untuk meninggalkan Lokasi proyek tersebut dengan langkah panjangnya yang sudah


merindukan istri cantiknya.


“ Tuan Vico saya mohon, ini salah satu bentuk terima kasih


Grup Anggara karena telah mendapatkan tender yang sangat berharga ini dari Grup


Angkasa. Walaupun hanya mencicipi tidak apa-apa.” Zian mencoba memaksa Vico


yang terlihat enggan tersebut. Malas berdebat akhirnya Vico berjalan menuju


bangunan tersebut dan memang sudah terlihat meja bundar besar dengan sajian


berbagai olahan sea food, sayuran, daging dan ayam tertata rapi di atasnya.


“ Silakan Tuan.” Zian mencoba menjamu orang nomor satu Grup


Angkasa tersebut dengan ramah sambil mengambilkan beberapa makanan yang


sekiranya Vico sukai.


Entah apa yang yang terkandung dalam makanan tersebut


terlihat sekretaris Kim dan Vico mulai terlihat pusing dan berakhir tertidur di


meja makan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2