
“ Oke Haris, Thanks Infonya.” Jawab Poppy sedikit
menyeringai membuat rencana mendapatkan cinta Vico kembali.
Mendengar informasi tersebut Poppy lalu mengambil tas dan
kunci kendaraannya untuk bergegas ke pusat perbelanjaan untuk mencari pakaian
yang cocok untuk bertemu Vico nanti malam.
Poppy berjalan masuk berbagai toko dimana dia mencari
pakaian seseksi mungkin untuk menggoda dan menaklukkan Vico kembali dia merasa
Vico adalah kekasih terbaik di bandingkan semua lelaki yang pernah dia kencani
selama ini.
“ Ada yang bisa saya bantu nona ?” Tanya seorang pelayan
toko yang melihat kedatangan Poppy.
“ Tunjukan koleksi terbaru dari toko ini .” Ucap Poppy
dengan sangat pongah terhadap pelayan tersebut.
“ Silahkan nona, berikut ini koleksi terbaru dari toko
kami.” Ucap Pelayan menunjukkan baju yang tergantung di paling depan toko
tersebut yang menjadi koleksi terbaru dan termahal dalam toko tersebut.
“ Oke, aku akan mencobanya dulu.” Ucap Poppy lalu mengambil
beberapa pakaian yang dia rasa cocok untuknya dan pergi ke ruang pas.
“ Sepertinya ini cukup cocok untuk nanti malam, terlihat
seksi tapi juga elegan terserah orang lain mengatakan terlalu terbuka yang
penting aku bisa mendapatkan Vico.” Ucap Poppy melihat penampilannya di cermin
menampakkan paha seksi jenjang yang dimiliki, belahan yang terbuka dan punggung
yang hanya tertutup beberapa tali dari baju tersebut benar-benar merusak
pemandangan orang timur jika melihatnya.
Poppy yang merasa sudah cocok lalu bergegas pergi ke kasir
untuk membayar pakaiannya.
Setelah mendapat pakaian dia mencari sepatu dan tas dia
benar-benar ingin tampil terbaik untuk malam ini karena memang sebelumnya Vico
tidak pernah mau bertemu dengannya, apa lagi kehadiran teman sekaligus
sekretaris yang menurut Poppy menyebalkan itu.
Telihat sepatu hitam dengan hak tinggi terpajang di salah
satu toko membuat Poppy tertarik dia lalu memasuki toko tersebut dan
membelinya.
Poppy tinggal mencari tas yang cocok untuk penampilannya dia
berkeliling mengunjungi beberapa toko tas tapi tidak menemukan yang cocok
dengannya hingga akhirnya dia melihat sebuah tas berwarna ungu yang sangat
cantik cocok dengan atasan baju yang dia beli lalu dia membelinya.
Tidak cukup hanya baju, tas, dan sepatu Poppy juga pergi ke
salon untuk memoles wajah agar terlihat cantik menurutnya dan menata rambut
__ADS_1
dengan cantik.
“ Hallo sis, mau diapain hari ini ?” Tanya seorang lelaki
yang bertingkah dan berpenampilan bak perempuan yang mendekati Poppy.
“ Aku mau make up se-georgeus mungkin untuk acara
club malam ini.” Jawab Poppy yang memang sudah langganan dengan salon tersebut
walau hanya sekedar mencuci rambut.
“ Oke nek siapppppp, sebentar eke ambilin peralanannya ya
nek.” Ucap Pria yang menyambutnya tadi lalu pergi meninggalkan Poppy yang
terduduk di kursi hitam di depannya terdapat kaca rias yang besar. Terlihat
salon itu cukup ramai tapi karena Poppy pelanggan tetap dia mendapat pelayanan
VIP untuknya.
Poppy sudah menyelesaikan riasannya sekarang beralih dengan
tatanan rambut yang dia minta.
Benar-benar dapat membuktikan kalau dia model internasional
dari mulai pakaian, assesoris, dan riasannya. Poppy merasa puas dengan apa yang
dia siapkan untuk ke club malam ini dia terlihat sangat percaya diri untuk
berangkat.
Kantor Vico
“Tuan apakah kita jadi pergi ke tempat sesuai janji dengan
Haris ?” Tanya sekretaris Kim
“ Iya Kim, aku sungguh ingin melepaskan kemarahanku hari ini
sekretaris Kim
Terlihat Vico benar-benar terlihat kusut bagai pakaian yang
belum di setrika sore itu, dia terduduk di kursi hitamnya menghadap ke
pemandangan kota dengan pandangan kosong dia sangat menyesal memperlakukan
Arini seperti itu siang tadi, dia bingung bagaimana bertemu Arini malam ini,
sehingga dia ingin pergi dan saat pulang Arini sudah tidur.
“ Tuan , Tuan Vico.” Panggil sekretaris Kim yang menunggunya
untuk berangkat tapi tidak ditanggapi Vico.
“ Oh Iya Kim.” Jawab Vico yang tersadar akan lamunannya yang
kalut sambil memijat dahinya.
“ Sudah waktunya berangkat tuan.” Ucap Kim mengingatkan
janji pergi ke Club yang di maksud Haris.
“ Ayo berangkat sekarang.” Jawab Vico lalu bangkit dengan
malas dari tempat duduk nyamannya berjalan dengan tubuh tegapnya meninggalkan
ruang kantornya menuju parkiran diikuti sekretaris Kim.
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil dan sekretaris Kim
terlihat berpikir sendiri dengan keadaan Vico saat ini.
“ Kim, aku menyakiti Arini hari ini, aku membuatnya menangis
__ADS_1
padahal aku sudah janji dengan papah, Kak Putra dan diriku sendiri untuk tidak
membuatnya menangis .” Ucap Vico dengan wajah yang cukup sedih mengingat
perlakuannya tadi siang terhadap Arini hingga membuat wanita itu menangis
tersedu-sedu.
“ Tuan coba tuan berbicara baik-baik dengan nona.” Saran
sekretaris Kim yang melihat kondisi Vico saat ini.
“ Aku bingung Kim, apa yang harus aku lakukan padanya.” Ucap
Vico lagi yang terlihat mengusap wajahnya kasar.
“ Tuan nona adalah istri tuan saat ini dia milik tuan jadi
Tuan tidak perlu terlalu berpikir yang rumit, Tuan coba berbicara dengan nona
saja, nona pasti mengerti apa yang tuan rasakan.” Ucap sekretaris Kim memahami
apa yang Vico pikirkan saat ini. Tak ada tanggapan akan ucapan itu.
Mereka sudah tiba di Club yang di sebutkan Haris tadi, dan
mereka memasukinya terlihat banyak orang menari dengan suara musik yang keras,
bau alkohol menyeruak saat mereka masuk, mereka lalu menuju ruang VIP yang
biasa teman-temannya pesan.
“ Hai Vic.” Ucap Poppy langsung menggelayuti tangan Vico
“ Lepaskan aku atau kau akan berurusan dengan Kim ?” Ucap
Vico tak tertarik dengan Poppy.
“ Santai Bro, ayo minumlah.” Ucap Haris lalu menawari Vico
minuman.
Vico yang sudah sangat stress dengan pikirannya sendiri lalu
meneguk minuman itu sampai habis.
Tak berhenti di situ saja Vico mengambil satu botol minuman
di depan Haris dan meneguknya sampai habis, entah apa yang dipikirkan Vico yang
sangat menjauhi minum-minuman keras itu menjadi sangat kalap dan menghabiskannya.
“ Tuan cukup, nanti jika nona mengetahui tuan seperti ini
akan cemas.” Ucap sekretaris Kim di dekat telinga Vico.
“ Aku tidak peduli Kim, aku ingin sebentar saja
melupakannya.” Ucap Vico yang masih meneguk minumannya hingga kesadaraannya
berangsur-angsur sirna.
Rumah Vico dan Arini
Karena waktu sudah sangat larut dan Vico tidak kunjung
pulang, Arini sangat kawatir dengan keberadaan dan keadaan suaminya yang belum
pulang bahkan tidak mengabarinya, karena biasanya Vico memang memberitahu Arini
jika dia pulang telat atau tidak bisa menjemput Arini tapi kali ini Vico
benar-benar tidak menghubungi sama sekali sejak siang tadi.
“ Apakah dia sangat marah denganku ?” Gumam Arini yang masih
terduduk di sofa memandangi Telpon genggam dan Jam dinding.
__ADS_1
“ Apa aku telepon dia saja ya ?” Gumam Arini lagi