
Penyembuhan untuk Arini berjalan dengan baik sekarang sudah
dapat bekerja seperti biasanya. Vico yang sudah menahan amarahnya untuk
memberikan balasan pada Fernando selama penyembuhan Arini akhirnya hari ini
mulai menjalankan keinginannya tersebut.
Sinar surya yang cerah berangsur keorenan akan kembali ke
ufuk barat. Arini hari ini karena ada janji dengan kakaknya untuk pergi dia
tidak dijemput Vico pulang seperti biasanya. Sedangkan Vico yang sudah
berencana membereskan urusannya dengan Fernando dan Zack langsung pergi ke
tempat keduanya disekap.
“ Kim kamu sudah cek masalah Zack ?” Tanya Vico yang ingin
menyelidiki kejadian yang sebenarnya terjadi pada ayah Zack minimal sebagai
hadiah kerjanya selama ini sebelum dia diberikan hukuman dari Vico.
“ Sudah tuan, dari data yang saya terima semua itu terjadi
benar karena kesalahan ayah Zack sendiri yang berkhianat pada Tuan besar dan dia
berkemudi dalam keadaan mabuk Tuan.” Jawab sekretaris Kim sambil memberikan
dokumen yang dia terima dari anak buahnya yang menyelidiki kejadian yang sudah
sangat lama tersebut.
“ Bagus, cepatlah agar aku bisa segera membereskan mereka.”
Ucap Vico yang terlihat berwajah dingin seperti biasa. Terlihat dia berkirim
pesan dengan Arini yang tengah pergi dengan Putra ke Mall miliknya itu.
“ Kim menurutmu aku dan Putra tampan siapa ?” Tanya Vico
tiba-tiba entah apa yang merasuki pikirannya membuatnya dengan tanpa sadar
bertanya hal itu pada sekretaris Kim.
“ Sama-sama tampan tuan.” Jawab sekretaris Kim yang tidak
ingin memihak salah satu dari keduanya, jika dia menjawab bahwa Vico lebih tampan Vico akan
meragukan jawabannya melihat sifat Vico, sedangkan jika dia menjawab jika Putra
yang tampan Vico akan tetap marah sehingga jawabannya tersebut yang menurutnya
paling membuatnya aman.
“ Kenapa ya aku kadang cemburu jika Arini bersama Putra, dia
terlihat seperti pasangan kekasih yang sebenarnya dibandingkan jika bersama
denganku. Ya walaupun sekarang Arini sudah jauh berubah tidak seperti awal kita
menikah dia sedikit lebih lucu sekarang tidak sedingin es atau sekaku tembok
Berlin.” Curhat Vico saat melihat Foto yang Arini kirim dengan kakaknya dari
permintaan Vico untuk melapor padanya.
“ Tuan hubungan nona dan Tuan Putra memang sangat dekat
karena mereka keluarga, nona Arini sekarang hanya milik Tuan jadi tidak perlu
mencemaskan hal tersebut.” Jawab sekretaris Kim mencoba berucap menenangkan
Vico yang merasa cemburu dan cemas itu.
Jalanan terlihat sedikit macet di beberapa titik karena
__ADS_1
waktu pulang kerja para karyawan. Vico mendengar ucapan sekretaris Kim mencoba
menerima dan bersemangat kembali. Walaupun dia selalu merasa ada yang tidak
sesuai dengan perasaannya saat ini karena kedekatan Putra dan Arini yang selalu
bagaikan kekasih itu.
30 menit tidak terasa mobil yang Vico dan sekretaris Kendarai
sudah berada di depan sebuah bangunan tua pinggiran kota yang kumuh dan jauh
dari hirup pikuk perkotaan. Kedua orang tersebut keluar dari mobil hitam itu
dan melangkah masuk ke tempat penyekapan Fernando.
Kedatangannya di sambut para penjaga yang sekretaris Kim
perintahkan untuk mengawasi tahanan itu.” Selamat datang Tuan, silakan ikuti
saya.” Ucap Pria bertubuh kekar dengan pakaian hijau berjalan menunjukkan
ruangan Fernando.
Terlihat ruangan itu sangat lembap, kotor dan penerangannya
sangat rendah hanya terlihat remang-remang. Fernando terikat pada kedua tangan
dan kakinya tertahan di tembok dengan mata tertutup dan mulut tersumpal.
Sungguh kejam penahanan yang Vico lakukan pada paman yang menurutnya sangat
jahat itu.
Vico berjalan mendekati Pamannya yang terlentang dan
tertempel di tembok dengan rantai mengikatnya itu.
“ Bagaimana kabarmu Paman ?”
Vico dengan suara rendah meremehkan berucap di dekat telinga
dalam keadaan yang sangat menghinakan itu menyeringai. Ingin dia menembaknya
dalam sekali tembakan untuk membalas semua perilaku pamannya tersebut tapi ia
urungkan karena itu akan mempermudah kematian Fernando.
“ Mmmmmmhhhhmhmmhmhm mhmmhmhmmh.”
Fernando bersuara tidak jelas karena mulutnya yang tersumpal
kain. Tenaganya terlihat lemah tapi tetap berusaha memberontak. Dirinya memang
saat ini benar-benar dalam kondisi terendahnya anak buahnya yang bersamanya
tidak ada yang tersisa orang-orang yang berada di Jerman sudah di beresi oleh
Orlando hingga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolongnya.
“ Buka mulutnya!”
Vico memerintah anak buahnya yang tadi mengantarnya masuk.
Pria itu lalu berjalan mendekati Fernando dan membuka penyumpalnya.
“ Dasar keponakan br*ngsek lepaskan aku.” Ucapan pertama
yang keluar dari mulut Fernando usai mulutnya leluasa berbicara.
“ Heh lepaskan, Paman kali ini jangan pernah berpikir aku
berbaik hati melakukan itu untukmu.”
Vico terlihat duduk di kursi coklat terbuat dari kayu dengan
kaki tersilang angkuh menatap pamannya. Sekretaris Kim berdiri tegak di samping
__ADS_1
belakangnya bagai patung tak bersuara sama sekali dan hanya memperhatikan
tuannya memberi pelajaran pada Fernando. Vico terlihat menyeringai seakan jiwa
iblisnya keluar untuk menyiksa pamannya.
“ Buka matanya, siksa dengan besi panas pada seluruh
tubuhnya.” Ucapnya pada Pria berpakaian hijau. Pria tersebut lalu berjalan
keluar dan mempersiapkan peralatan penyiksaan tersebut.
“ Keponakan si*l*n lepaskan aku\, aku tidak pernah berniat
menyakitimu atau istrimu jika kamu memberikan warisan tua bangka itu padaku.”
Ucapnya masih berusaha meminta dilepaskan.
“ Hah aku bukan anak kecil yang bisa dibohongi Paman.” Ucap
Vico menyeringai dan menyaksikan anak buahnya mulai menyalakan api pada Tong
besi dengan gelondongan kayu dan memasukkan beberapa besi memanasinya hingga
berubah merah.
Besi panas itu tanpa
babibu disentuhkan pada beberapa bagian tubuh Fernando. Senyum iblis keluar
dari wajah Vico melihat kejadian itu, jiwa psikopatnya melihat penyiksaan pada
Fernando terlihat sangat puas sambil mendengar teriakan kesakitan dan ampun
dari mulut Fernando.
Fernando benar-benar tidak menyangka jika keponakannya bisa
sesadis itu memperlakukannya. Bagian yang telah tersentuh besi panas terlihat
memerah dan bersiap melepuh. Siksaan itu sungguh sangat mengerikan entah bagaimana
jika Arini melihat apa yang dilakukan suami yang selalu lemah lembut padanya
itu.
“ Lepaskan aku, ahhhhhhhhhh.” Ucap Fernando sambil menerima
siksaan demi siksaan dari orang suruhan Vico tersebut.
“ Hentikan, cambuk dia 100 kali.” Ucap Vico menyudahi
siksaan pertamanya. Kali ini Pria berpakaian hijau itu keluar dan masuk kembali
dengan cambuk panjang bersiap menyambuk tubuh Fernando yang mulai melepuh itu.
“ Hahahah Bagaimana paman ? Vico ingin Paman mengingat semua
ini hingga akhir hayatmu agar walaupun Paman sudah menjadi Hantu pun tidak
berani menyakiti Vico dan keluarga Vico lagi.” Ucap Vico dan mulai berdiri
ingin beralih pergi ke tempat penyekapan Zack.
“ Anak si8lan lepaskan aku, orang lain akan membalaskan
dendamku walaupun aku sudah tidak di dunia ini, bunuh saja aku cepat! kamu
tidak berani kan? kamu hanya bisa bermain-main.” Ucap Fernando meremehkan Vico.
“ Paman Vico sudah biasa membunuh banyak orang selama ini
hingga bisa di posisi ini sekarang, jadi paman tenang saja jika ingin segera
bertemu dengan raja neraka tunggu Vico puas menyiksa paman baru aku akan kirim
ke raja neraka. Hahhahahahahaha.” Ucap Vico sambil tertawa puas dan berjalan
__ADS_1
keluar.