My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Jawaban Vico


__ADS_3

Vico yang sedikit kaget dengan keahlian istrinya yang baru


ia tahu menjatuhkan sendok yang ia pegang. Vico terlihat berpikir sejenak untuk


menjelaskan pada Arini tentang apa yang dia lakukan semalam.


“ Ar kemarin temanku yang bernama Orlando baru saja datang


ke sini dan dia pertama kali ke Indonesia, kamu ingatkan pria yang pernah kita


temui saat bulan madu di Paris ? Selain dia ada Mike, Peter dan Rezky di tempat


itu bersamaku dan tentu saja ada Kim juga, Kami hanya membahas masalah


pekerjaan tidak ada hal lain, aku juga sama sekali tidak minum semalam juga


tidak ada wanita di ruangan kita, kamu tenang saja aku tidak seperti laki-laki


lain saat di tempat sepeti itu. Suamimu ini akan hanya menyayangimu aku


berjanji.” Ucap Vico yang berusaha menjelaskan apa yang dia lakukan dan


meyakinkan Arini dengan tangan kanannya diangkat ke atas terlihat sangat serius


dengan apa yang dia ucapkan.


“ Baiklah aku mempercayaimu, Maafkan aku telah curiga


padamu?” Ucap Arini merasa menyesal dengan  apa yang dia lakukan semalam.


“ Tidak masalah, Arini kamulah satu-satunya wanita yang akan


selalu aku sayangi selain mamahku baik itu sekarang ataupun seterusnya. O iya


Orlando usai berjalan-jalan menikmati Indonesia  akan makan malam dengan kita.” Vico berdiri dan mengecup puncak kepala


Arini lembut. Arini terlihat tersenyum dan mencoba mempercayai Vico.


“ O iya apa yang akan kamu lakukan hari ini ?” Tanya Vico


yang sudah kembali duduk di kursinya semula. Dia terlihat kembali mengambil


sendoknya untuk menyelesaikan sarapan yang masih tersisa di piring berwarna


putih di depannya.


“ Hari ini aku akan ada pertemuan dengan PT. Surya membahas


soal desain Apartemen yang akan mereka bangun dengan Vivi. Kamu sendiri ?”


Tanya Arini yang sudah menyelesaikan makanan miliknya dan meneguk segelas Air


putih untuk mendorong makanan dalam kerongkongannya turun ke lambung.


“ Aku sepertinya hanya di kantor saja menyelesaikan beberapa


tugas dan bertemu beberapa Klien.” Vico yang sudah selesai dengan kegiatan


sarapannya lalu berdiri hendak beranjak untuk berangkat ke kantor. Karena Arini


ada pertemuan dengan Klien Arini tidak berangkat ke kantor dengan Vico. Keduanya


terlihat saling berpelukan dan berciuman manis di depan rumah. Terlihat sekretaris


Kim menunggu di depan pintu belakang mobil menunggu Vico masuk.


Melihat pemandangan kedua sejoli yang selalu beradegan mesra

__ADS_1


itu membuat sekretaris Kim selalu menelan ludah. Sebenarnya dia juga ingin


memiliki pasangan tapi dia selalu merasa tidak ada yang bisa cocok dengan


keinginannya. Vico yang sudah menyelesaikan ritual perpisahannya berjalan ke


arah mobil sedangkan Arini berjalan ke arah mobil lain yang terparkir di depan


garasi.


“ Kim mulai sekarang ingatkan aku untuk tidak pergi  ke Klub malam atau tempat lain sejenis itu ,


kemarin malam Arini ternyata datang ke sana, semakin hari aku selalu terkejut


dengan kemampuan istriku dia bisa melacak keberadaanku, aku harus lebih


hati-hati mulai sekarang aku masih belum mengetahui hal apa lagi yang bisa


dilakukan Arini, aku masih belum bisa memberitahu dia tentang pekerjaanku


sebagai ketua mafia dengan Orlando.” Vico berucap sambil mendesah kasar karena


ketegangan yang dia rasakan atas pertanyaan mendadak istrinya tersebut.


Memang benar-benar adik ketua mafia Belanda, tidak heran


nona Arini memiliki berbagai kemampuan mulai dari bertarung, menggunakan


senjata api, bahkan sekarang bisa melacak tuan Vico. Batin sekretaris Kim


yang sebenarnya kagum dengan Arini bagaimana pun tidak bisa dipungkiri jika


keluarga Arini merupakan keluarga mafia walau tidak banyak yang tahu.


“ Baik Tuan, tapi menurut saya sebaiknya tuan segera


lain.” Saran sekretaris Kim tidak ingin hal buruk terjadi pada hubungan Vico


dan Arini.


“ Aku akan menceritakannya saat aku sudah berkumpul dengan


Orlando juga nanti saat makan malam di rumah, selain itu ada hal lain yang


ingin sekali aku juga beri tahu pada Arini. Kim menurutmu hadiah apa yang cocok


untuk Arini ya, aku ingin sekali memberikan sesuatu untuknya ?” Tanya Vico yang


mulai mengalihkan pikirannya pada sesuatu yang lebih penting untuk memberikan


kejutan pada istrinya yang sudah menjadi dewi penolongnya dan Orlando yang


terkurung di tengah hutan.


“ Tuan coba bertanya pada Tuan Putra saja, apa yang sangat


disukai nona Arini bagaimana pun Tuan Putra adalah orang terdekat nona sampai


sekarang. Dia pasti tahu apa saja yang disukai nona Arini.” Sekretaris Kim yang


memang tidak ingin memberikan saran yang salah mengingat kepribadian Arini yang


cukup unik tidak seperti wanita yang menjadi pemeran utama dalam novel yang dia


baca.


“ Tanya pada Kak Putra ?” Vico mengerutkan Alisnya merasa

__ADS_1


jika bertanya pada Putra adalah yang yang menyebalkan entah kenapa dia selalu


merasa Putra selalu ia jadikan rival terberatnya walaupun dia tahu jika Putra


adalah kakak kandung Arini dan Arini sudah sah menjadi istrinya.


“ Iya Tuan nona Arini tidak seperti wanita lain kebanyakan


yang menyukai perhiasan, bunga atau hal-hal romantis lain sepertinya, jika Tuan


bertanya pada tuan Putra pasti sarannya sangat bagus dan Tuan bisa membuat nona


Arini senang dengan hadiah itu.” Saran sekretaris Kim lagi masih tetap menyuruh


Vico bertanya pada Putra.


“ Hah ya sudah nanti aku pikir-pikir dulu.” Ucap Vico yang masih


ragu untuk menghubungi Putra.


Kantor Arini


Terlihat Arini dan Vivi berjalan ke arah parkiran membawa


data desain untuk mereka gunakan dalam tender kali ini. Tiba-tiba Vivi terjatuh


pingsan kala sampai di depan mobil Arini. Sebelumnya Arini sudah menyadari jika


Vivi sakit tetapi Vivi memaksa jika dirinya baik-baik saja. Arini yang melihat


Vivi pingsan segera mengangkat Vivi ke dalam mobil dan membawanya ke rumah


sakit. Untung waktu berangkat mereka lebih awal sehingga masih ada waktu untuk


membawa Vivi ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit setelah diperiksa Vivi


dimasukkan ke ruangan inap dan terlihat masih belum sadarkan diri. Arini


sebenarnya tidak tega meninggalkan Vivi tapi bagaimana lagi dia sudah ada janji


sehingga ia meminta karyawan lain datang dan menemani Vivi di rumah sakit


sedangkan dia kembali pergi ke perusahaan itu.


Arini yang sudah sampai di perusahaan tersebut segera menuju


resepsionis untuk menanyakan ruang pertemuan tapi sekretaris pimpinan perusahaan


itu mengantarkan Arini di kantor Presdir. Arini sempat bertanya lagi tapi informasi


sekretaris itu mengatakan kalau memang hanya perusahaan Arini saja yang


mengikuti tender itu sehingga bisa langsung bertemu dengan atasan. Arini


sedikit bingung dengan pertemuan ini karena biasanya di perusahaan besar selalu


ada pertemuan dengan beberapa kolega lain untuk memenangkan tender apalagi


tender yang cukup besar seperti ini, kecuali untuk desain pribadi tapi Arini


mencoba berpikir positif akan pertemuan kali ini.


“ Selamat datang nona Arini.” Ucap seorang pria bertubuh


tambun dengan kepala botak menggunakan kacamata menyambut Arini dengan pandangan


mesum melihat Arini dari ujung kaki hingga ujung kepala.

__ADS_1


__ADS_2