
Vico yang sedikit kaget dengan keahlian istrinya yang baru
ia tahu menjatuhkan sendok yang ia pegang. Vico terlihat berpikir sejenak untuk
menjelaskan pada Arini tentang apa yang dia lakukan semalam.
“ Ar kemarin temanku yang bernama Orlando baru saja datang
ke sini dan dia pertama kali ke Indonesia, kamu ingatkan pria yang pernah kita
temui saat bulan madu di Paris ? Selain dia ada Mike, Peter dan Rezky di tempat
itu bersamaku dan tentu saja ada Kim juga, Kami hanya membahas masalah
pekerjaan tidak ada hal lain, aku juga sama sekali tidak minum semalam juga
tidak ada wanita di ruangan kita, kamu tenang saja aku tidak seperti laki-laki
lain saat di tempat sepeti itu. Suamimu ini akan hanya menyayangimu aku
berjanji.” Ucap Vico yang berusaha menjelaskan apa yang dia lakukan dan
meyakinkan Arini dengan tangan kanannya diangkat ke atas terlihat sangat serius
dengan apa yang dia ucapkan.
“ Baiklah aku mempercayaimu, Maafkan aku telah curiga
padamu?” Ucap Arini merasa menyesal dengan apa yang dia lakukan semalam.
“ Tidak masalah, Arini kamulah satu-satunya wanita yang akan
selalu aku sayangi selain mamahku baik itu sekarang ataupun seterusnya. O iya
Orlando usai berjalan-jalan menikmati Indonesia akan makan malam dengan kita.” Vico berdiri dan mengecup puncak kepala
Arini lembut. Arini terlihat tersenyum dan mencoba mempercayai Vico.
“ O iya apa yang akan kamu lakukan hari ini ?” Tanya Vico
yang sudah kembali duduk di kursinya semula. Dia terlihat kembali mengambil
sendoknya untuk menyelesaikan sarapan yang masih tersisa di piring berwarna
putih di depannya.
“ Hari ini aku akan ada pertemuan dengan PT. Surya membahas
soal desain Apartemen yang akan mereka bangun dengan Vivi. Kamu sendiri ?”
Tanya Arini yang sudah menyelesaikan makanan miliknya dan meneguk segelas Air
putih untuk mendorong makanan dalam kerongkongannya turun ke lambung.
“ Aku sepertinya hanya di kantor saja menyelesaikan beberapa
tugas dan bertemu beberapa Klien.” Vico yang sudah selesai dengan kegiatan
sarapannya lalu berdiri hendak beranjak untuk berangkat ke kantor. Karena Arini
ada pertemuan dengan Klien Arini tidak berangkat ke kantor dengan Vico. Keduanya
terlihat saling berpelukan dan berciuman manis di depan rumah. Terlihat sekretaris
Kim menunggu di depan pintu belakang mobil menunggu Vico masuk.
Melihat pemandangan kedua sejoli yang selalu beradegan mesra
__ADS_1
itu membuat sekretaris Kim selalu menelan ludah. Sebenarnya dia juga ingin
memiliki pasangan tapi dia selalu merasa tidak ada yang bisa cocok dengan
keinginannya. Vico yang sudah menyelesaikan ritual perpisahannya berjalan ke
arah mobil sedangkan Arini berjalan ke arah mobil lain yang terparkir di depan
garasi.
“ Kim mulai sekarang ingatkan aku untuk tidak pergi ke Klub malam atau tempat lain sejenis itu ,
kemarin malam Arini ternyata datang ke sana, semakin hari aku selalu terkejut
dengan kemampuan istriku dia bisa melacak keberadaanku, aku harus lebih
hati-hati mulai sekarang aku masih belum mengetahui hal apa lagi yang bisa
dilakukan Arini, aku masih belum bisa memberitahu dia tentang pekerjaanku
sebagai ketua mafia dengan Orlando.” Vico berucap sambil mendesah kasar karena
ketegangan yang dia rasakan atas pertanyaan mendadak istrinya tersebut.
Memang benar-benar adik ketua mafia Belanda, tidak heran
nona Arini memiliki berbagai kemampuan mulai dari bertarung, menggunakan
senjata api, bahkan sekarang bisa melacak tuan Vico. Batin sekretaris Kim
yang sebenarnya kagum dengan Arini bagaimana pun tidak bisa dipungkiri jika
keluarga Arini merupakan keluarga mafia walau tidak banyak yang tahu.
“ Baik Tuan, tapi menurut saya sebaiknya tuan segera
lain.” Saran sekretaris Kim tidak ingin hal buruk terjadi pada hubungan Vico
dan Arini.
“ Aku akan menceritakannya saat aku sudah berkumpul dengan
Orlando juga nanti saat makan malam di rumah, selain itu ada hal lain yang
ingin sekali aku juga beri tahu pada Arini. Kim menurutmu hadiah apa yang cocok
untuk Arini ya, aku ingin sekali memberikan sesuatu untuknya ?” Tanya Vico yang
mulai mengalihkan pikirannya pada sesuatu yang lebih penting untuk memberikan
kejutan pada istrinya yang sudah menjadi dewi penolongnya dan Orlando yang
terkurung di tengah hutan.
“ Tuan coba bertanya pada Tuan Putra saja, apa yang sangat
disukai nona Arini bagaimana pun Tuan Putra adalah orang terdekat nona sampai
sekarang. Dia pasti tahu apa saja yang disukai nona Arini.” Sekretaris Kim yang
memang tidak ingin memberikan saran yang salah mengingat kepribadian Arini yang
cukup unik tidak seperti wanita yang menjadi pemeran utama dalam novel yang dia
baca.
“ Tanya pada Kak Putra ?” Vico mengerutkan Alisnya merasa
__ADS_1
jika bertanya pada Putra adalah yang yang menyebalkan entah kenapa dia selalu
merasa Putra selalu ia jadikan rival terberatnya walaupun dia tahu jika Putra
adalah kakak kandung Arini dan Arini sudah sah menjadi istrinya.
“ Iya Tuan nona Arini tidak seperti wanita lain kebanyakan
yang menyukai perhiasan, bunga atau hal-hal romantis lain sepertinya, jika Tuan
bertanya pada tuan Putra pasti sarannya sangat bagus dan Tuan bisa membuat nona
Arini senang dengan hadiah itu.” Saran sekretaris Kim lagi masih tetap menyuruh
Vico bertanya pada Putra.
“ Hah ya sudah nanti aku pikir-pikir dulu.” Ucap Vico yang masih
ragu untuk menghubungi Putra.
Kantor Arini
Terlihat Arini dan Vivi berjalan ke arah parkiran membawa
data desain untuk mereka gunakan dalam tender kali ini. Tiba-tiba Vivi terjatuh
pingsan kala sampai di depan mobil Arini. Sebelumnya Arini sudah menyadari jika
Vivi sakit tetapi Vivi memaksa jika dirinya baik-baik saja. Arini yang melihat
Vivi pingsan segera mengangkat Vivi ke dalam mobil dan membawanya ke rumah
sakit. Untung waktu berangkat mereka lebih awal sehingga masih ada waktu untuk
membawa Vivi ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit setelah diperiksa Vivi
dimasukkan ke ruangan inap dan terlihat masih belum sadarkan diri. Arini
sebenarnya tidak tega meninggalkan Vivi tapi bagaimana lagi dia sudah ada janji
sehingga ia meminta karyawan lain datang dan menemani Vivi di rumah sakit
sedangkan dia kembali pergi ke perusahaan itu.
Arini yang sudah sampai di perusahaan tersebut segera menuju
resepsionis untuk menanyakan ruang pertemuan tapi sekretaris pimpinan perusahaan
itu mengantarkan Arini di kantor Presdir. Arini sempat bertanya lagi tapi informasi
sekretaris itu mengatakan kalau memang hanya perusahaan Arini saja yang
mengikuti tender itu sehingga bisa langsung bertemu dengan atasan. Arini
sedikit bingung dengan pertemuan ini karena biasanya di perusahaan besar selalu
ada pertemuan dengan beberapa kolega lain untuk memenangkan tender apalagi
tender yang cukup besar seperti ini, kecuali untuk desain pribadi tapi Arini
mencoba berpikir positif akan pertemuan kali ini.
“ Selamat datang nona Arini.” Ucap seorang pria bertubuh
tambun dengan kepala botak menggunakan kacamata menyambut Arini dengan pandangan
mesum melihat Arini dari ujung kaki hingga ujung kepala.
__ADS_1