
Kembali ke sekarang
“ Begitulah awal mula pamanku mulai membuat keluargaku tidak
lagi pernah ke Jerman karena mamahku takut pamanku menyakitiku mungkin, aku
tahu hal itu saat aku dan temanku yang kemarin waktu kita di Paris bertemu
Orlando itu menyelidikinya, tetapi papahku tidak mengetahuinya sampai sekarang
karena semua merahasiakannya .” Ucap Vico terlihat kecewa dan dendam mengingat
semua kejadian yang telah berlalu bertahun-tahun itu tapi tetap membekas di
ingatannya sampai detik ini itu.
Rasanya dirinya sudah tidak bisa mengampuni paman yang
menjadi anggota keluarganya itu. Mungkin kali ini dia harus benar-benar
memberikan pelajaran yang setimpal atas perlakuan Pamannya tersebut pada istri
tercintanya. Vico masih belum menemui penghianat yang bekerja sama dengan
Pamannya dan belum membereskan kejadian ini mengingat keadaan Arini yang masih
lemah.
“ Vic.” Ucap Arini pelan dan memeluk tubuh kekar Vico dengan
erat menyalurkan rasa hangat pada diri Vico hingga meredakan kemarahannya.
Sungguh pelukan Arini terasa bisa menggetarkan hatinya. Perasaan damai dan
merasa dicintai yang belum pernah dia rasakan dari orang lain seperti menyengat
pada hati dinginnya. Usai pelukan hangat itu Arini lalu mencium puncak kepala
Vico dan tersenyum manis padanya.
Vico yang sangat menyesal pada Arini terlihat menunduk. “
Sudahlah aku baik-baik saja mungkin beberapa hari aku akan bisa bekerja lagi.
Oh apa kamu tidak perlu ke kantor ?” Tanya Arini mulai mengalihkan pembicaraan
agar Vico tidak berlarut-larut pada penyesalan tentang apa yang terjadi padanya
itu.
“ Tidak aku akan menjagamu sampai sembuh.” Ucap Vico sambil
membelai wajah mulus Arini dan menyalipkan rambut-rambut halus yang menggerai menutupi
pipi Arini. Dia sangat bersyukur dengan keputusannya untuk menikahi wanita yang
ada di depannya itu. Arini wanita satu-satunya yang bisa membuatnya bahagia dan
selalu marah jika dia berdekatan dengan pria lain. Dia juga satu-satunya yang
bisa membuatnya rela mati untuk menyelamatkannya.
“ Jangan begitu, kamu pasti memiliki banyak pekerjaan, aku
di rumah kan masih ada bibi tenang saja ini hanya luka luar aku tidak selemah
yang kamu pikirkan. Bekerjalah aku akan menunggumu pulang oke ?” Ucap Arini
yang tidak mau merepotkan Vico yang memang seharusnya super sibuk dengan
banyaknya bidang usaha yang digeluti perusahaannya itu. Dia juga tidak ingin
karena merawatnya semua pekerjaan Vico terbengkalai dan saat mulai bekerja
__ADS_1
malah akan membuatnya sakit.
“ Tenanglah ada Kim, dia bisa membereskan semuanya untukku.”
Ucap Vico menenangkan kekawatiran Arini.
“ Benar tidak masalah ?” Tanya Arini ragu dan masih tidak
ingin merepotkan Vico.
“ Iya, atau begini saja kamu ikut aku ke perusahaan kamu
temani aku bekerja kamu hanya perlu duduk di depan meja kerjaku saja.” Ucap
Vico memberikan ide agar Arini tidak cemas padanya lagi. Walaupun dia memiliki
sisi pengertian tetapi juga seorang yang cukup keras kepala kadang-kadang.
Terlihat Arini memikirkan ajakan Vico tersebut untuk memutuskan ikut atau
tidak.
“ Itu akan semakin merepotkan, selain itu nanti akan membuat
orang lain risih jika aku bersamamu saat bekerja bukan.” Ucap Arini yang
sebenarnya tidak setuju karena itu akan membuatnya canggung dan mengganggu Vico saat
bekerja.
“ Tenanglah itu perusahaanku tidak ada yang akan berani
padaku. Oh sekarang kamu ganti baju aku akan menghubungi Kim untuk menjemput
kita untuk ke kantor. Di kantor ada ruang istirahatku jadi kamu bisa di sana
untuk istirahat untuk penyembuhan. Itu semakin membuatku tenang jika kamu
berada di sisiku.” Arini hanya mengangguk pasrah pada ucapan Vico lalu Vico
dirinya juga memakai pakaian kerja.
Mereka pun akhirnya sampai ke kantor. Karena Vico ingat
dengan perjanjian Arini untuk tidak mempublikasikan hubungannya dia turun di
parkiran bawah dan menggendong istrinya ke lift khusus miliknya. Sekretaris Kim
yang mengikutinya tidak ingin menjadi orang ketiga yang melihat drama
percintaan yang menyesakkan memilih menunggu lift berikutnya.
“ Vic turunkan aku, aku masih bisa berdiri dan berjalan.”
Ucap Arini yang malu karena digendong Vico di dalam Lift.
“ Sudahlah tidak apa-apa lukamu akan semakin parah jika kamu
berjalan sendiri. Aku senang melakukannya.” Ucap Vico dan tersenyum pada Arini,
Arini yang hanya bisa pasrah jika berdebat dengan Vico hanya bisa membenamkan
mukanya agar tidak diketahui orang lain. Vico dengan santainya berjalan keluar
dari lift dan berjalan menuju ruangannya. Beberapa sekretaris wanita bawahan
sekretaris kim terlihat saling bergosip melihat adegan pagi yang menyakiti hati
wanita-wanita itu.
“ Wanita tadi siapa ya ? bahkan presdir yang selalu dingin
itu menggendongnya dengan penuh kasih begitu.” Ucap sekretaris dengan pakaian
__ADS_1
serba hitam itu.
“ Iya bagaimana dia bisa menggoda presdir idaman kita,
bahkan beberapa tahun aku bekerja jangankan menggoda mendapatkan senyuman presdir
saja aku tidak pernah hanya tatapan dingin mengintimidasi yang membuatku kaku
.” Ucap sekretaris berpakaian seksi dengan rok merah menyala itu.
“ Iya, mungkin dia sudah melakukan hal kotor untuk memikat
presdir Vico kita.” Ucap sekretaris dengan rambut tergerai panjang di
sampingnya.
“ Kalian bekerja atau bergosip, jika ingin terus bergosip
segera ke HRD dan minta pesangon kalian sekarang.” Ucap sekretaris Kim dingin
mendengar bawahannya itu saling bergosip tentang Tuan dan nona mudanya itu.
Semua bawahannya kembali terbungkam membisu dan kembali ke kursi mereka
masing-masing dan mengerjakan tugas mereka dengan menatap layar komputer
masing-masing. Sekretaris Kim lalu berlalu pergi ke ruangan kerjanya.
Huh dasar wanita sukanya bergosip, sifatnya memang sangat
berbeda dengan nona Arini yang tidak suka membicarakan orang lain. Batin
sekretaris Kim
“ Ar kamu di sini ya, jika perlu apa-apa panggil Kim jangan
keluar ruangan juga jika kamu bosan kita bisa pergi berdua, toilet ada di
sebelah sana , aku tinggal ke depan untuk bekerja.” Ucap Vico meletakkan tubuh
ramping Arini dan kasur empuk di ruangan istirahatnya. Vico lalu mengecup
puncak kepala Arini dan meninggalkannya untuk kembali beristirahat. Hanya
Anggukan mengerti yang Arini berikan sebagai respon paham akan ucapan Vico
tersebut.
“ Huh aku tidak mengira Vico memiliki masa lalu yang
menyakitkan juga.” Gumam Arini dan mencoba beristirahat, tetapi karena tanggung
jawabnya sebagai pemilik perusahaan desain dia mengambil ponselnya dan
menghubungi Vivi untuk mengurus usahanya tersebut selama beberapa hari
ketidakhadirannya. Arini yang sebenarnya ingin istirahat karena tubuh sakit dan
lelah tetapi dia mengurungkannya dan memilih membuka email miliknya untuk
mengecek pekerjaan menggunakan smart phone miliknya.
“ Ar kamu harus istirahat, biarkan karyawanmu
membereskannya. Oiya aku akan rapat aku tinggal dulu.” Ucap Vico sambil
mengambil ponsel Arini dan meletakkannya di nakas sambil mengusap kepala Arini
dan meninggalkannya pergi rapat.
“ Iya.” Ucap Arini sambil mengembuskan nafas kasar karena
sedikit kesal dengan perhatian berlebihan dari Vico tersebut. Arini yang bosan
__ADS_1
di ruangan istirahat lalu berjalan keluar ke ruang kerja Vico dan duduk di
sofa.