My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Kantor


__ADS_3

Kembali ke sekarang


“ Begitulah awal mula pamanku mulai membuat keluargaku tidak


lagi pernah ke Jerman karena mamahku takut pamanku menyakitiku mungkin, aku


tahu hal itu saat aku dan temanku yang kemarin waktu kita di Paris bertemu


Orlando itu menyelidikinya, tetapi papahku tidak mengetahuinya sampai sekarang


karena semua merahasiakannya .” Ucap Vico terlihat kecewa dan dendam mengingat


semua kejadian yang telah berlalu bertahun-tahun itu tapi tetap membekas di


ingatannya sampai detik ini itu.


Rasanya dirinya sudah tidak bisa mengampuni paman yang


menjadi anggota keluarganya itu. Mungkin kali ini dia harus benar-benar


memberikan pelajaran yang setimpal atas perlakuan Pamannya tersebut pada istri


tercintanya. Vico masih belum menemui penghianat yang bekerja sama dengan


Pamannya dan belum membereskan kejadian ini mengingat keadaan Arini yang masih


lemah.


“ Vic.” Ucap Arini pelan dan memeluk tubuh kekar Vico dengan


erat menyalurkan rasa hangat pada diri Vico hingga meredakan kemarahannya.


Sungguh pelukan Arini terasa bisa menggetarkan hatinya. Perasaan damai dan


merasa dicintai yang belum pernah dia rasakan dari orang lain seperti menyengat


pada hati dinginnya. Usai pelukan hangat itu Arini lalu mencium puncak kepala


Vico dan tersenyum manis padanya.


Vico yang sangat menyesal pada Arini terlihat menunduk. “


Sudahlah aku baik-baik saja mungkin beberapa hari aku akan bisa bekerja lagi.


Oh apa kamu tidak perlu ke kantor ?” Tanya Arini mulai mengalihkan pembicaraan


agar Vico tidak berlarut-larut pada penyesalan tentang apa yang terjadi padanya


itu.


“ Tidak aku akan menjagamu sampai sembuh.” Ucap Vico sambil


membelai wajah mulus Arini dan menyalipkan rambut-rambut halus yang menggerai menutupi


pipi Arini. Dia sangat bersyukur dengan keputusannya untuk menikahi wanita yang


ada di depannya itu. Arini wanita satu-satunya yang bisa membuatnya bahagia dan


selalu marah jika dia berdekatan dengan pria lain. Dia juga satu-satunya yang


bisa membuatnya rela mati untuk menyelamatkannya.


“ Jangan begitu, kamu pasti memiliki banyak pekerjaan, aku


di rumah kan masih ada bibi tenang saja ini hanya luka luar aku tidak selemah


yang kamu pikirkan. Bekerjalah aku akan menunggumu pulang oke ?” Ucap Arini


yang tidak mau merepotkan Vico yang memang seharusnya super sibuk dengan


banyaknya bidang usaha yang digeluti perusahaannya itu. Dia juga tidak ingin


karena merawatnya semua pekerjaan Vico terbengkalai dan saat mulai bekerja

__ADS_1


malah akan membuatnya sakit.


“ Tenanglah ada Kim, dia bisa membereskan semuanya untukku.”


Ucap Vico menenangkan kekawatiran Arini.


“ Benar tidak masalah ?” Tanya Arini ragu dan masih tidak


ingin merepotkan Vico.


“ Iya, atau begini saja kamu ikut aku ke perusahaan kamu


temani aku bekerja kamu hanya perlu duduk di depan meja kerjaku saja.” Ucap


Vico memberikan ide agar Arini tidak cemas padanya lagi. Walaupun dia memiliki


sisi pengertian tetapi juga seorang yang cukup keras kepala kadang-kadang.


Terlihat Arini memikirkan ajakan Vico tersebut untuk memutuskan ikut atau


tidak.


“ Itu akan semakin merepotkan, selain itu nanti akan membuat


orang lain risih jika aku bersamamu saat bekerja bukan.” Ucap Arini yang


sebenarnya tidak setuju karena itu akan membuatnya canggung dan mengganggu Vico saat


bekerja.


“ Tenanglah itu perusahaanku tidak ada yang akan berani


padaku. Oh sekarang kamu ganti baju aku akan menghubungi Kim untuk menjemput


kita untuk ke kantor. Di kantor ada ruang istirahatku jadi kamu bisa di sana


untuk istirahat untuk penyembuhan. Itu semakin membuatku tenang jika kamu


berada di sisiku.” Arini hanya mengangguk pasrah pada ucapan Vico lalu Vico


dirinya juga memakai pakaian kerja.


Mereka pun akhirnya sampai ke kantor. Karena Vico ingat


dengan perjanjian Arini untuk tidak mempublikasikan hubungannya dia turun di


parkiran bawah dan menggendong istrinya ke lift khusus miliknya. Sekretaris Kim


yang mengikutinya tidak ingin menjadi orang ketiga yang melihat drama


percintaan yang menyesakkan memilih menunggu lift berikutnya.


“ Vic turunkan aku, aku masih bisa berdiri dan berjalan.”


Ucap Arini yang malu karena digendong Vico di dalam Lift.


“ Sudahlah tidak apa-apa lukamu akan semakin parah jika kamu


berjalan sendiri. Aku senang melakukannya.” Ucap Vico dan tersenyum pada Arini,


Arini yang hanya bisa pasrah jika berdebat dengan Vico hanya bisa membenamkan


mukanya agar tidak diketahui orang lain. Vico dengan santainya berjalan keluar


dari lift dan berjalan menuju ruangannya. Beberapa sekretaris wanita bawahan


sekretaris kim terlihat saling bergosip melihat adegan pagi yang menyakiti hati


wanita-wanita itu.


“ Wanita tadi siapa ya ? bahkan presdir yang selalu dingin


itu menggendongnya dengan penuh kasih begitu.” Ucap sekretaris dengan pakaian

__ADS_1


serba hitam itu.


“ Iya bagaimana dia bisa menggoda presdir idaman kita,


bahkan beberapa tahun aku bekerja jangankan menggoda mendapatkan senyuman presdir


saja aku tidak pernah hanya tatapan dingin mengintimidasi yang membuatku kaku


.” Ucap sekretaris berpakaian seksi dengan rok merah menyala itu.


“ Iya, mungkin dia sudah melakukan hal kotor untuk memikat


presdir Vico kita.” Ucap sekretaris dengan rambut tergerai panjang di


sampingnya.


“ Kalian bekerja atau bergosip, jika ingin terus bergosip


segera ke HRD dan minta pesangon kalian sekarang.” Ucap sekretaris Kim dingin


mendengar bawahannya itu saling bergosip tentang Tuan dan nona mudanya itu.


Semua bawahannya kembali terbungkam membisu dan kembali ke kursi mereka


masing-masing dan mengerjakan tugas mereka dengan menatap layar komputer


masing-masing. Sekretaris Kim lalu berlalu pergi ke ruangan kerjanya.


Huh dasar wanita sukanya bergosip, sifatnya memang sangat


berbeda dengan nona Arini yang tidak suka membicarakan orang lain. Batin


sekretaris Kim


“ Ar kamu di sini ya, jika perlu apa-apa panggil Kim jangan


keluar ruangan juga jika kamu bosan kita bisa pergi berdua, toilet ada di


sebelah sana , aku tinggal ke depan untuk bekerja.” Ucap Vico meletakkan tubuh


ramping Arini dan kasur empuk di ruangan istirahatnya. Vico lalu mengecup


puncak kepala Arini dan meninggalkannya untuk kembali beristirahat. Hanya


Anggukan mengerti yang Arini berikan sebagai respon paham akan ucapan Vico


tersebut.


“ Huh aku tidak mengira Vico memiliki masa lalu yang


menyakitkan juga.” Gumam Arini dan mencoba beristirahat, tetapi karena tanggung


jawabnya sebagai pemilik perusahaan desain dia mengambil ponselnya dan


menghubungi Vivi untuk mengurus usahanya tersebut selama beberapa hari


ketidakhadirannya. Arini yang sebenarnya ingin istirahat karena tubuh sakit dan


lelah tetapi dia mengurungkannya dan memilih membuka email miliknya untuk


mengecek pekerjaan menggunakan smart phone miliknya.


“ Ar kamu harus istirahat, biarkan karyawanmu


membereskannya. Oiya aku akan rapat aku tinggal dulu.” Ucap Vico sambil


mengambil ponsel Arini dan meletakkannya di nakas sambil mengusap kepala Arini


dan meninggalkannya pergi rapat.


“ Iya.” Ucap Arini sambil mengembuskan nafas kasar karena


sedikit kesal dengan perhatian berlebihan dari Vico tersebut. Arini yang bosan

__ADS_1


di ruangan istirahat lalu berjalan keluar ke ruang kerja Vico dan duduk di


sofa.


__ADS_2