
“ Dasar orang-orang bodoh menculik wanita begitu saja tidak
becus, bisa berkelahi pun kalau wanita masa dia tidak bisa menghadapinya,
sebenarnya siapa wanita yang bersama keponakanku itu.” Gumam Fernando paman
Vico yang masih memikirkan latar belakang Arini.
Belanda
Vico yang sudah menenangkan Arini lalu bangkit dari tidurnya
dan mengambil benda pipih yang dia letakkan di atas nakas, dan menghubungi
seseorang.
“ Halo iya ada apa Vic ?” Tanya Orlando yang menyahuti
panggilan Vico
“ Selidiki kejadian penculikan pada istriku di sini hari
ini, apakah itu suruhan paman atau ini berurusan dengan Dark Knight ?” Perintah
Vico pada Orlando lalu menutup panggilannya.
“ Aku tidak mungkin tenang jika belum menemukan pelakunya,
aku akan menghancurkannya tunggu saja.” Gumam Vico terlihat sangat dendam
terhadap perbuatan orang yang tidak dikenal ingin menculik istrinya tersebut.
Drt drt drt tak berapa lama setelah Vico meletakkan
ponselnya di atas meja ruang tamu tempatnya duduk memikirkan apa rencananya
selanjutnya benda pipih itu bergetar, terlihat panggilan dari Putra.
“ Mati aku, kak Putra menghubungi pasti dia sangat
marah.” Ucap Putra setelah tahu siapa
yang menghubunginya saat hampir pagi tiba itu.
“ Halo iya Kak Putra.” Jawab Vico setelah menggeser icon
hijau tanda menerima panggilan.
“ Kamu bodoh ya, pengawalmu tidak cukup untuk menjaga adikku
?” Tanya putra yang sudah murka dan tidak sabar memarahi suami adiknya yang
sangat ceroboh melindungi Arini menurutnya.
“ Maafkan aku Kak, aku tidak melindungi Arini dengan baik
disini.” Ucap Vico yang menyiratkan rasa sangat bersalah akan kejadian yang
menimpa Arini di wajahnya.
“ Aku tidak akan memaafkanmu, jika aku tidak meminta
seseorang menjaga adikku selama kalian di sana, Arini pasti sudah dibawa para
penculik itu asal kamu tahu.” Ucap Putra memarahi suami adiknya itu.
“ Iya kak ini tidak akan terulang lagi, besok aku dan Arini
akan pulang ke Indonesia.” Jawab Vico mendengar ucapan Putra yang semuanya
benar dan dia memang tidak pantas dimaafkan atas kebodohannya tersebut.
__ADS_1
“ Aku akan mencari tahu pelakunya, jika itu berhubungan
denganmu kamu siap-siap saja.” Ucap Putra mengancam Vico terlihat dahinya mengeryit karena masalah Arini yang merupakan titik terlemah kesabarannya tersebut..
“ Tidak perlu kak aku akan menyelidikinya dan membalasnya Kak,
aku janji akan membalasnya lebih dari yang Arini alami.” Ucap Vico yang sudah
menandakan wajah perang akan ucapannya itu terhadap para penculik itu.
“ Baiklah aku serahkan padamu, kamu pasti bisa menanganinya,
tapi sampai sekali lagi Arini dalam bahaya karena dirimu jangan salahkan aku
mengambilnya kembali darimu, aku tidak perduli walaupun kamu bersimpuh di
depanku untuk mengijinkan Arini bersamamu camkan itu.” Ucap Putra tegas dengan
ancamannya terhadap Vico.
“ Iya kak.” Jawab Vico Pasrah akan ancaman kakak iparnya
tersebut, lalu panggilan diputus oleh Putra setelah mendapat jawaban dari Vico.
“ Bagaimana dia bisa menangani Grup Mafianya sampai sekuat
itu jika melindungi satu orang saja dia tidak becus, aku heran apa pengawalnya
sangat bodoh yang dia pekerjakan sampai tidak bisa melindungi Arini.” Umpat
putra lalu pergi ke kamarnya merasa heran dengan kekuatan dan kecerdasan Vico yang dapat membuat Grup Mafia milik Orlando menjadi yang terkuat di Eropa dalam waktu singkat.
“Aku tidak mau berpisah dengan Arini, semakin mengenalnya
saja membuatku sangat bahagia dan selalu tidak ingin jauh-jauh darinya, aku
harus benar-benar waspada mulai sekarang, aku tahu kak Putra tidak mungkin
main-main dengan ucapannya.” Gumam Vico lalu pergi ke kamarnya dan meletakkan
mencium beberapa kali di puncak kepala Arini lalu terlelap.
Sinar surya telah menembus kaca yang terlihat tidak tertutup
tirai pagi itu, Arini yang biasanya sudah bangun pagi untuk beribadah terlihat
masih tertidur dalam pelukan Vico.
“ Vico kamu tidak membangunkanku.” Ucap Arini yang
mengerjapkan matanya dan merasa kesiangan bangun dan melihat Vico sudah duduk
di ranjang memainkan ponselnya.
“ Aku tidak tega membangunkanmu, segeralah mandi atau perlu
aku membantumu mandi ?” Tanya Vico yang merasa tidak ada salah dalam ucapannya
tersebut.
“ Apa, tidak perlu, aku akan mandi sendiri.” Jawab Arini terbata-bata dan
bergegas bangun ingin menuju ke kamar mandi saat berjalan Arini terlihat
kesusahan melihat itu Vico lalu menggendong Arini dan meletakkan tubuhnya dalam
bak mandi, walaupun dia dipukuli Arini berkali-kali minta diturunkan akan
tindakannya tersebut tapi dia tidak peduli, dia tidak tega melihat Arini
berjalan dengan luka yang dia alami, sebenarnya Vico juga ingin membantu
__ADS_1
memandikan Arini tapi diusir oleh Arini untuk meninggalkannya di kamar mandi.
Arini yang sudah selesai membersihkan diri lalu keluar. Vico
yang melihat Arini sudah selesai mandi lalu menggendong Arini dan
membaringkannya di atas tempat tidur untuk mengoleskan obat yang diberikan
dokter kemarin.
“ Apakah masih perih ?” Tanya Vico sambil mengoleskan salep
dan meniup-niup luka Arini di kaki, tangan dan sedikit lebam di wajah cantiknya.
“ Tidak, aku bisa melakukannya sendiri.” Ucap Arini yang
ingin mengambil salep dari tangan Vico dan ingin mengoleskannya sendiri tanpa
bantuan Vico.
“ Sudah diam, jauhkan tanganmu atau aku akan menciummu.”
Ucap Vico mengancam karen tindakan Arini tidak mau menerima bantuannya.
“ Baiklah, Terima Kasih.” Ucap Arini yang sekarang pasrah
dengan apa yang dilakukan Vico pada luka-lukanya.
To tok tok. Terdengar pintu kamar diketuk dari luar.
“ Tunggu di sini jangan bergerak aku akan membukakan pintu,
itu pasti sarapan yang tadi aku sudah pesan.” Ucap Vico memperingatkan Arini
lalu pergi ke arah pintu.
“ Silahkan sarapannya saya taruh dimana tuan ?” Tanya
Pelayan mendorong troli yang membawa hidangan sarapan untuk Vico dan Arini.
“Tidak perlu, terima kasih kamu boleh pergi, aku akan
membawanya sendiri.” Ucap Vico meminta pelayan meninggalkannya lalu membawa
troli makanan itu masuk dan meletakkannya di meja makan dengan telaten setelah
selesai dia menggendong Arini yang sebelumnya terduduk di ranjang ke meja
makan. Arini yang sudah dua kali di gendong laki-laki itu hanya pasrah tidak
menolak akan perlakuan suaminya tersebut.
“ Kamu ingin makan apa ? akan aku ambilkan ?” Tanya Vico
yang akan mendadak menjadi pelayan istrinya yang sedang terluka.
“ Tidak perlu aku bisa sendiri.” Ucap Arini menolak bantuan
Vico. Tidak mengindahkan apa yang diucapkan Arini Vico mengambilkan nasi
beberapa lauk dan sayur pada piring Arini. Arini hanya melihat semua yang
dilakukan Vico tersebut dan sekarang beralih ke piring makannya yang terlihat
porsi makan yang banyak.
“ Apa kamu ingin aku menyuapimu juga ?” Tanya Vico yang
beralih memandang Arini tidak menyentuh makanannya dan hanya memandanginya.
“ Tidak perlu aku bisa makan sendiri. “ Jawab Arini dan
__ADS_1
beralih memegang sendok dan garpu untuk memakan makanan yang sudah diambilkan
Vico tadi.