
Surya pagi terlihat malu-malu untuk
keluar karena tertutup awan. Pagi ini masih seperti hari-hari sebelumnya lengan
kekar yang biasa memeluknya dikala Arini istirahat tidak ada. Hari ini
benar-benar terasa sepi karena mama Arini sudah kembali karena akan menemani
Papa Arini melakukan perjalanan bisnis.
Semenjak dirinya hamil pagi hari
menjadi terasa sangat malas untuk meninggalkan kasur empuk yang menemaninya
dikala malam hari itu. Arini juga beberapa kali bahkan lupa beribadah
karenanya. Entah kenapa badannya selalu merasa lelah dan kurang bersemangat.
Selain kurang bersemangat dirinya
juga sering mengalami mual dan pusing saat pagi hari. Ingin sekali dia segera
memberi kabar baik ini pada suaminya tercinta tapi sayang sepertinya pekerjaan
Vico memakan lebih banyak waktu dibanding estimasi yang seharusnya. Walau
keduanya selalu berkomunikasi setiap hari menggunakan panggilan telepon atau
pesan tetapi rasa rindu sangat terasa pada keduanya yang berpisah baru seminggu
itu.
Mata Arini terlihat mengerjap
beberapa kali menyesuaikan sinar matahari yang masuk karena sinar matahari yang
menembus di sela tirai yang tak tertutup rapat. Tubuh yang malas itu pun
terpaksa bangun karena tanggung jawab pekerjaannya yang mau tidak mau harus ia
tangani sendiri, walau dia mulai mengurangi porsi kerjanya dan merekrut
beberapa karyawan desain baru.
Kala dirinya melihat penunjuk waktu
dia kaget karena dia bangun lebih siang dari biasanya. Arini pun segera ke
kamar mandi membersihkan diri dan berangkat ke kantor. Sebelum berangkat Arini
terlihat mengambil kotak makan yang sudah disiapkan pelayan sesuai perintah
mama Vico untuk mencukupi kebutuhan gizi sang cucu yang dia tunggu-tunggu itu.
Karena perhatian itu Arini selalu membawanya setiap berangkat ke kantor.
Arini juga tidak mengendarai mobil
sendiri seperti biasanya semenjak kehamilan tetapi dia menggunakan sopir yang
juga diperintahkan mama Vico. Mama Arini sebenarnya juga ingin menyuruh sopir
di rumah untuk mengantar Arini tapi karena sudah disiapkan oleh mama Vico
dirinya pun hanya bisa membantu hal yang lain yang sekiranya Arini butuhkan.
Saat Arini berada di lampu merah
terlihat di layar besar menyiarkan berita terkini tentang kecelakaan pesawat
yang menimpa Vico.
“ Pemirsa dikabarkan dini hari pukul
__ADS_1
23.55 pesawat yang ditumpangi CEO dari Angkasa Grup mengalami kecelakaan di
sekitar laut Tengah, sampai berita ini di siarkan tim evakuasi masih dalam
pencarian bagi seluruh kru dan penumpang karena bangkai pesawat ditemukan telah
hancur dan puing-puing terlihat mengambang di sekitar kejadian belum diketahui
apakah ada penumpang atau kru yang selamat atas kejadian naas ini.”
Dada Arini terasa tertimpa beban hingga
sulit untuk bernafas melihat berita yang sekilas itu. Tangannya mengepal erat
sudut matanya terlihat merah titik-titik air mengumpul seakan melonjak ingin
jatuh di pipi putihnya. Tangannya gemetar hebat mencoba mencari benda persegi
dari tas kecil berwarna pink miliknya. Entah kenapa dirinya benar-benar takut
jika berita itu benar-benar terjadi. Padahal kemarin keduanya masih
berkomunikasi dan Vico tidak memberitahunya jika pekerjaannya sudah selesai dan
dirinya akan kembali ke tanah air.
Tangan yang masih gemetar mencoba
mengetik berita yang baru saja terlihat di layar dan benar saja semua portal
berita berisi kabar yang sama tentang kejadian itu.
Dan ternyata banyak notifikasi
panggilan dan pesan pada ponsel milik Arini tapi karena dirinya kesiangan hari
ini dia benar-benar tidak mengeceknya sama sekali.
spion untuk memastikan keadaan majikannya mendengar berita tersebut. Karena
dirinya sudah diberi pesan untuk bertindak seperti biasa. Karena sebenarnya
dari kedua belah pihak baik keluarga Vico dan Arini sudah mencoba membuat
berita tersebut tidak mengudara dan tersebar tapi entah kenapa salah satu stasiun
berita masih tetap menyiarkannya.
Melihat banyaknya panggilan dari
kakaknya Arini pun menghubungi nomor orang yang sangat dia sayangi itu. Terdengar
bunyi “ bip bip bip” hingga panggilan itu diterima Putra.
“ Halo Ar, apakah kamu sudah
mengetahui beritanya ?” Putra sebenarnya ingin bertindak seperti biasa tapi
karena seolah sudah tahu apa yang akan adik kesayangannya itu tanyakan mau tak
mau dia menjawab seperti itu.
“ Kak kak a apakah berita i itu
benar ?” Arini masih terlihat berlinang air mata dan terbata-bata saat mencoba mengkonfirmasi
berita yang membuat jantungnya seolah melompat keluar dari tempatnya itu.
“ Arini dengarkan kakak ya, Vico
pasti selamat, oke orang-orang kakak sudah di sana dan melakukan pencarian jadi
kamu tenang saja ya, kamu tidak perlu berangkat kerja kamu langsung ke rumah
__ADS_1
saja ya kembali ke rumah mama, kakak di rumah sekarang oke ? Semuanya pasti
baik-baik saja oke ?” Putra sebisa mungkin mencoba menenangkan Arini dan
membujuknya untuk tinggal di rumah bersamanya karena takut terjadi apa-apa pada
kehamilan Arini dan Arini jika Arini sendirian.
“ Kakak hiks hiks hiks.” Seakan
tidak tahu lagi apa yang bisa dia katakan lagi seribu bahasa seolah lenyap dan
hanya bisa memanggil kakaknya karena hal yang sangat menghancurkan hatinya itu
terjadi. Berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi seperti Vico benar-benar
tewas dalam kecelakaan itu mendengung di telinga Arini. Tangisnya pun semakin
tidak bisa dibendung.
“ Arini tenang ya, percaya sama
kakak oke ? tenang sekarang kamu bilang ke sopir untuk mengantar ke rumah ya.”
Ucap Putra mencoba menenangkan Arini. mendengar Arini menangis hatinya seolah
hancur tetapi dia harus menjadi orang yang paling logis dan tenang di keadaan
itu. Tak ada jawaban dari Arini hanya suara tangisan terdengar. Putra pun
meminta Arini memberikan ponselnya pada sang sopir.
Arini memberikan dan sopir mengerti
perintah Putra dirinya pun memutar balik kendaraannya menuju rumah Arini.
Terlihat dari kaca spion Arini masih menangis dan dalam kondisi yang
benar-benar tidak stabil. Putra juga terlihat di luar menunggu mobil Arini yang
akan datang. Putra terlihat berjalan mondar-mandir merasa tidak tenang dan memanggil
anak buahnya untuk mengetahui keadaan di lapangan tetapi masih nihil.
Terlihat mobil Arini datang dan
berhenti tepat di depan Putra berdiri. Putra segera membuka pintu mobil
tersebut dan memperlihatkan Arini yang menangis dan segera memeluk Putra lalu
pingsan.
Melihat hal tersebut Putra segera
menggendong Arini ke dalam kamar dan segera menghubungi dokter pribadi keluarga
mereka untuk memeriksa keadaan Arini dan kondisi janin Arini. Karena kedua
orang tua mereka sedang berada di negara paman Sam untuk melalukan bisnis
mereka tidak dapat pulang hari itu.
Arini terlihat lemah dan dipasangkan
selang infus karena keadaannya tersebut. Dokter memberitahukan jika keadaan
Arini tidak terlalu baik dan meminta Putra untuk sebisa mungkin Arini untuk makan
dan mengkonsumsi obat yang ia berikan.
Putra mengerti dengan anjuran dokter
tersebut dan berterima kasih dan mengantarkannya pergi.
__ADS_1