My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Kecelakaan Vico


__ADS_3

Surya pagi terlihat malu-malu untuk


keluar karena tertutup awan. Pagi ini masih seperti hari-hari sebelumnya lengan


kekar yang biasa memeluknya dikala Arini istirahat tidak ada. Hari ini


benar-benar terasa sepi karena mama Arini sudah kembali karena akan menemani


Papa Arini melakukan perjalanan bisnis.


Semenjak dirinya hamil pagi hari


menjadi terasa sangat malas untuk meninggalkan kasur empuk yang menemaninya


dikala malam hari itu. Arini juga beberapa kali bahkan lupa beribadah


karenanya. Entah kenapa badannya selalu merasa lelah dan kurang bersemangat.


Selain kurang bersemangat dirinya


juga sering mengalami mual dan pusing saat pagi hari. Ingin sekali dia segera


memberi kabar baik ini pada suaminya tercinta tapi sayang sepertinya pekerjaan


Vico memakan lebih banyak waktu dibanding estimasi yang seharusnya. Walau


keduanya selalu berkomunikasi setiap hari menggunakan panggilan telepon atau


pesan tetapi rasa rindu sangat terasa pada keduanya yang berpisah baru seminggu


itu.


Mata Arini terlihat mengerjap


beberapa kali menyesuaikan sinar matahari yang masuk karena sinar matahari yang


menembus di sela tirai yang tak tertutup rapat. Tubuh yang malas itu pun


terpaksa bangun karena tanggung jawab pekerjaannya yang mau tidak mau harus ia


tangani sendiri, walau dia mulai mengurangi porsi kerjanya dan merekrut


beberapa karyawan desain baru.


Kala dirinya melihat penunjuk waktu


dia kaget karena dia bangun lebih siang dari biasanya. Arini pun segera ke


kamar mandi membersihkan diri dan berangkat ke kantor. Sebelum berangkat Arini


terlihat mengambil kotak makan yang sudah disiapkan pelayan sesuai perintah


mama Vico untuk mencukupi kebutuhan gizi sang cucu yang dia tunggu-tunggu itu.


Karena perhatian itu Arini selalu membawanya setiap berangkat ke kantor.


Arini juga tidak mengendarai mobil


sendiri seperti biasanya semenjak kehamilan tetapi dia menggunakan sopir yang


juga diperintahkan mama Vico. Mama Arini sebenarnya juga ingin menyuruh sopir


di rumah untuk mengantar Arini tapi karena sudah disiapkan oleh mama Vico


dirinya pun hanya bisa membantu hal yang lain yang sekiranya Arini butuhkan.


Saat Arini berada di lampu merah


terlihat di layar besar menyiarkan berita terkini tentang kecelakaan pesawat


yang menimpa Vico.


“ Pemirsa dikabarkan dini hari pukul

__ADS_1


23.55 pesawat yang ditumpangi CEO dari Angkasa Grup mengalami kecelakaan di


sekitar laut Tengah, sampai berita ini di siarkan tim evakuasi masih dalam


pencarian bagi seluruh kru dan penumpang karena bangkai pesawat ditemukan telah


hancur dan puing-puing terlihat mengambang di sekitar kejadian belum diketahui


apakah ada penumpang atau kru yang selamat atas kejadian naas ini.”


Dada Arini terasa tertimpa beban hingga


sulit untuk bernafas melihat berita yang sekilas itu. Tangannya mengepal erat


sudut matanya terlihat merah titik-titik air mengumpul seakan melonjak ingin


jatuh di pipi putihnya. Tangannya gemetar hebat mencoba mencari benda persegi


dari tas kecil berwarna pink miliknya. Entah kenapa dirinya benar-benar takut


jika berita itu benar-benar terjadi. Padahal kemarin keduanya masih


berkomunikasi dan Vico tidak memberitahunya jika pekerjaannya sudah selesai dan


dirinya akan kembali ke tanah air.


Tangan yang masih gemetar mencoba


mengetik berita yang baru saja terlihat di layar dan benar saja semua portal


berita berisi kabar yang sama tentang kejadian itu.


Dan ternyata banyak notifikasi


panggilan dan pesan pada ponsel milik Arini tapi karena dirinya kesiangan hari


ini dia benar-benar tidak mengeceknya sama sekali.


spion untuk memastikan keadaan majikannya mendengar berita tersebut. Karena


dirinya sudah diberi pesan untuk bertindak seperti biasa. Karena sebenarnya


dari kedua belah pihak baik keluarga Vico dan Arini sudah mencoba membuat


berita tersebut tidak mengudara dan tersebar tapi entah kenapa salah satu stasiun


berita masih tetap menyiarkannya.


Melihat banyaknya panggilan dari


kakaknya Arini pun menghubungi nomor orang yang sangat dia sayangi itu. Terdengar


bunyi “ bip bip bip” hingga panggilan itu diterima Putra.


“ Halo Ar, apakah kamu sudah


mengetahui beritanya ?” Putra sebenarnya ingin bertindak seperti biasa tapi


karena seolah sudah tahu apa yang akan adik kesayangannya itu tanyakan mau tak


mau dia menjawab seperti itu.


“ Kak kak a apakah berita i itu


benar ?” Arini masih terlihat berlinang air mata dan terbata-bata saat mencoba mengkonfirmasi


berita yang membuat jantungnya seolah melompat keluar dari tempatnya itu.


“ Arini dengarkan kakak ya, Vico


pasti selamat, oke orang-orang kakak sudah di sana dan melakukan pencarian jadi


kamu tenang saja ya, kamu tidak perlu berangkat kerja kamu langsung ke rumah

__ADS_1


saja ya kembali ke rumah mama, kakak di rumah sekarang oke ? Semuanya pasti


baik-baik saja oke ?” Putra sebisa mungkin mencoba menenangkan Arini dan


membujuknya untuk tinggal di rumah bersamanya karena takut terjadi apa-apa pada


kehamilan Arini dan Arini jika Arini sendirian.


“ Kakak hiks hiks hiks.” Seakan


tidak tahu lagi apa yang bisa dia katakan lagi seribu bahasa seolah lenyap dan


hanya bisa memanggil kakaknya karena hal yang sangat menghancurkan hatinya itu


terjadi. Berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi seperti Vico benar-benar


tewas dalam kecelakaan itu mendengung di telinga Arini. Tangisnya pun semakin


tidak bisa dibendung.


“ Arini tenang ya, percaya sama


kakak oke ? tenang sekarang kamu bilang ke sopir untuk mengantar ke rumah ya.”


Ucap Putra mencoba menenangkan Arini. mendengar Arini menangis hatinya seolah


hancur tetapi dia harus menjadi orang yang paling logis dan tenang di keadaan


itu. Tak ada jawaban dari Arini hanya suara tangisan terdengar. Putra pun


meminta Arini memberikan ponselnya pada sang sopir.


Arini memberikan dan sopir mengerti


perintah Putra dirinya pun memutar balik kendaraannya menuju rumah Arini.


Terlihat dari kaca spion Arini masih menangis dan dalam kondisi yang


benar-benar tidak stabil. Putra juga terlihat di luar menunggu mobil Arini yang


akan datang. Putra terlihat berjalan mondar-mandir merasa tidak tenang dan memanggil


anak buahnya untuk mengetahui keadaan di lapangan tetapi masih nihil.


Terlihat mobil Arini datang dan


berhenti tepat di depan Putra berdiri. Putra segera membuka pintu mobil


tersebut dan memperlihatkan Arini yang menangis dan segera memeluk Putra lalu


pingsan.


Melihat hal tersebut Putra segera


menggendong Arini ke dalam kamar dan segera menghubungi dokter pribadi keluarga


mereka untuk memeriksa keadaan Arini dan kondisi janin Arini. Karena kedua


orang tua mereka sedang berada di negara paman Sam untuk melalukan bisnis


mereka tidak dapat pulang hari itu.


Arini terlihat lemah dan dipasangkan


selang infus karena keadaannya tersebut. Dokter memberitahukan jika keadaan


Arini tidak terlalu baik dan meminta Putra untuk sebisa mungkin Arini untuk makan


dan mengkonsumsi obat yang ia berikan.


Putra mengerti dengan anjuran dokter


tersebut dan berterima kasih dan mengantarkannya pergi.

__ADS_1


__ADS_2