
Walaupun menurut Vico makanannya kurang cocok dengan indra
perasanya tetapi karena ingin menghargai Arini dia tetap melahap semua makanan
itu bersama Arini.
Untuk Arini dia sangat menikmati semua sajian itu. Setelah
selesai menyantap makanan di restoran itu mereka lalu pergi ke Tempat yang
Arini sebutkan tadi.
Sesampainya di sana Arini dan Vico menunggu sekretaris Kim
membeli tiket masuk.
Terlihat taman Hiburan yang menyediakan berbagai wahana
menarik untuk para pengunjung.
Setelah mereka mendapatkan tiket, mereka berdua dan beberapa
pengawal termasuk sekretaris Kim masuk ke dalam taman Hiburan tersebut.
Arini yang sudah masuk langsung berlari menggandeng Vico
menuju wahana permainan Roller Coaster yang terlihat sangat menantang adrenalin
bagi para penumpangnya.
“ Ayo kita naik ini dulu, aku sangat rindu dengan wahana
ini.” Ucap Arini lalu mereka berjalan ke tempat antrean untuk menaikinya.
Vico hanya diam saja mengikuti Arini dan ikut mengantre di
belakang Arini.
Giliran mereka menaikinya sudah tiba, kedua sejoli yang
menikah tapi dalam tahap perkenalan itu memiliki ekspresi yang berbeda Arini terlihat bersemangat dan bahagia itu
diperlihatkan dengan senyuman yang mengembang saat sudah duduk di bagian depan berbeda
dengan Vico yang memang tidak pernah menaiki Roller Coaster terlihat gugup
tegang apakah dia takut entahlah.
“ Ini adalah wahana terseru di taman bermain ini.” Ucap
Arini yang memegang tangan Vico.
“ Mmmhh.” Hanya itu respon yang Vico keluarkan atas
pernyataan Arini tadi yang terduduk di samping Arini dengan ekspresi yang tak
bisa dijelaskan.
“ Apa kamu takut, kamu terlihat pucat ?” Tanya Arini yang
menyadari lelaki yang berada di sampingnya tidak menunjukkan bahwa dia senang
menaiki wahana itu.
“ Tidak, kenapa aku harus takut, aku biasa menaiki ini.”
Ucap Vico dan mempertegas wajahnya bahwa dia merasa ini hal biasa walaupun
sebenarnya ini adalah pertama kali baginya.
Roller Coaster sudah melaju sangat kencang berkelok, naik,
turun membuat semua penumpang berteriak, menangis, tertawa dan banyak ekspresi
lain. Arini selalu berteriak saat wahana itu menurun dan akan merasa berdebar
saat naik , Vico hanya diam seribu bahasa.
Setelah naik Roller Coaster Vico dan Arini lalu menuju
berbagai permainan mulai memanah dan menembak.
__ADS_1
Saat wahana menembak Vico yang merepakan salah satu ketua
mafia yang terlatih soal menembak kalah dengan Arini dia meleset dalam
percobaan terakhirnya sedangkan Arini mendapat nilai sempurna.
“ Apa kamu belajar menembak sebelumnya, tembakanmu sangat
akurat ?” Tanya Vico setelah menerima hadiah dari penjaga permainan dan
menyerahkannya pada Arini.
“ Tidak mungkin aku hanya beruntung saja.” Ucap Arini
berbohong, dia sangat terlatih memang soal menembak karena pelatihnya saja
adalah badan intelejen internasional yang disewa khusus kakaknya untuk
mengajarinya.
“ Benarkah, ada hal lain yang aku perlu tahu darimu, aku
mulai takut dengan keahlianmu yang lain.” Ucap Vico sedikit bercanda dengan
Arini karena merasa kedekatan dengan istrinya sudah berjalan dengan baik sesuai
rencananya.
“ Tidak ada, aku tidak memiliki keahlian apa-apa, sudah
tidak perlu memikirkannya, Ayo kita main boom boom car itu.” Tunjuk Arini lalu
menarik tangan Vico.
Walaupun Vico merasa
berjalan-jalan dengan anak kecil jika bisa berkata jujur, tapi dia sangat menikmati
momen-momen itu, karena dia tidak pernah ke taman hiburan memang selama ini.
Saat dia anak-anak dia hanya di penuhi dengan sekolah dan belajar bisnis karena
menjadi anak satu-satunya keluarga Marleno, remaja hanya mengurusi perusahaan
pergi ke pusat perbelanjaan.
“ Sini duduk sini Vic.” Teria Arini yang sudah menduduki
salah satu mobil di arena bermain itu, sedangkan Vico masih berdiri di luar
Arena bermain, mendengar terikan Arini itu dia lalu bergegas menuju mobil
tersebut dan duduk di samping Arini.
Permainan dimulai dan semua mobil berjalan memutar
bertabrakan satu sama lain.
Mereka terlihat kelelahan bermain mereka duduk di salah satu
bangku panjang berwarna putih di dekat komedi putar. Tersirat warna orange kala
waktu menunjukkan akan segera petang, semua pengunjung terlihat masih menikmati
dan riuh di taman bermain itu.
Saat malam biasanya akan diadakan festival sehingga banyak
pengunjunga mulai memadati jalanan utama taman bermain tidak mau ketinggalan
semua atraksi yang akan ditampilkan dari semua peserta festival.
“ Vic aku ingin permen kapas itu.” Ucap Arini yang masih
belum beranjak dari tempat dia duduk menunjuk penjual permen kapas.
“ Baiklah tunggu di sini jangan kemana-mana aku akan
membelikannya untukmu.” Ucap Vico yang sudah berjongkok di depan Arini sambil
mengusap rambut istrinya dan berdiri untuk membelikan permen kapas keinginan
__ADS_1
wanita yang dia sukai itu.
“ Hai Ar.” Sapa seorang pemuda yang juga berada disana
dengan senyum menyeringai membuat Arini menjadi takut dan cemas semua ingatan
buruknya terkumpul mejadi satu dalam pikirannya.
“ Bagaimana kabarmu, aku sangat merindukanmu.” Ucap Pria
tersebut lagi pada Arini. Arini sama sekali tidak menaggapinya dan hanya
tertunduk mendengar pertanyaan dari pria dengan hodi warna hitam menutupi
kepalanya itu.
“ Pergilah, aku tidak ingin berbicara denganmu.” Ucap Arini
yang memberanikan diri mengusir pria yang menurutnya sangat mengganggu itu.
“ Aku akan mendapatkanmu kembali, tunggu aku.” Ucap Pria
tadi yang berjogkok dan menatap Arini.
Sekretaris Kim yang melihat kejadian yang merasa nona
mudanya diganggu segera mendekat untuk memastikan keamanannya.
“ Aku pergi dulu ada pengganggu datang, sampai jumpa Arini
sayang.” Ucap Pria itu lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Arini yang masih
duduk di kursi dengan ekspresi cemas.
“ Anda baik-baik saja nona ?” Tanya sekretaris Kim yang
sudah berada di dekat Arini.
“ Iya, aku tidak apa-apa.” Jawab Arini dan mencoba tersenyum
dan mengendalikan dirinya.
“ Arini ini permen kapas yang kamu minta.” Ucap Vico yang
sudah berdiri di depan Arini dan menyerahkan permen kapas itu.
“ Terima kasih.” Jawab Arini sambil tersenyum
“ Ada apa Kim ?” Tanya Vico yang heran melihat sekretaris
Kim mendekat dimana memang sebelumnya mereka selalu mengikuti dari jarak yang
cukup jauh tapi tetap bisa memandang keduanya.
“ Tidak apa-apa Tuan saya hanya ingin melindungi nona muda
yang sendiri menunggu Anda, karena Anda sudah disini saya akan kembali berjaga
.” Jawab sekretaris setelah mendapat kode dari Arini yang bermaksud jangan
memberi tahu Vico tentang apa yang terjadi, lalu meninggalkan mereka berdua.
“ Kamu mau mencobanya ?” Tanya Arini yang terlihat memakan
permen kapas dengan lahap itu.
“ Tidak, itu tidak sehat.” Jawab Vico jujur yang memang
tidak menyukai makanan manis apalagi permen kapas dia sama sekali tidak pernah
memakannya.
“ Cobalah, aaaaa ini sangat enak.” Ucap Arini dan
meyuapkannya pada Vico.
“ Tidak Arini aku tidak suka, aku tidak mau memakannya.”
Jawab Vico dengan menggelengkan kepalanya dan merasa makanan itu akan
menyakitinya jika masuk kedalam mulutnya.
__ADS_1
Arini lalu cemberut akan penolakan itu.