My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Taman Bermain


__ADS_3

Walaupun menurut Vico makanannya kurang cocok dengan indra


perasanya tetapi karena ingin menghargai Arini dia tetap melahap semua makanan


itu bersama Arini.


Untuk Arini dia sangat menikmati semua sajian itu. Setelah


selesai menyantap makanan di restoran itu mereka lalu pergi ke Tempat yang


Arini sebutkan tadi.


Sesampainya di sana Arini dan Vico menunggu sekretaris Kim


membeli tiket masuk.


Terlihat taman Hiburan yang menyediakan berbagai wahana


menarik untuk para pengunjung.


Setelah mereka mendapatkan tiket, mereka berdua dan beberapa


pengawal termasuk sekretaris Kim masuk ke dalam taman Hiburan tersebut.


Arini yang sudah masuk langsung berlari menggandeng Vico


menuju wahana permainan Roller Coaster yang terlihat sangat menantang adrenalin


bagi para penumpangnya.


“ Ayo kita naik ini dulu, aku sangat rindu dengan wahana


ini.” Ucap Arini lalu mereka berjalan ke tempat antrean untuk menaikinya.


Vico hanya diam saja mengikuti Arini dan ikut mengantre di


belakang Arini.


Giliran mereka menaikinya sudah tiba, kedua sejoli yang


menikah tapi dalam tahap perkenalan itu memiliki ekspresi yang berbeda  Arini terlihat bersemangat dan bahagia itu


diperlihatkan dengan senyuman yang mengembang saat sudah duduk di bagian depan berbeda


dengan Vico yang memang tidak pernah menaiki Roller Coaster terlihat gugup


tegang apakah dia takut entahlah.


“ Ini adalah wahana terseru di taman bermain ini.” Ucap


Arini yang memegang tangan Vico.


“ Mmmhh.” Hanya itu respon yang Vico keluarkan atas


pernyataan Arini tadi yang terduduk di samping Arini dengan ekspresi yang tak


bisa dijelaskan.


“ Apa kamu takut, kamu terlihat pucat ?” Tanya Arini yang


menyadari lelaki yang berada di sampingnya tidak menunjukkan bahwa dia senang


menaiki wahana itu.


“ Tidak, kenapa aku harus takut, aku biasa menaiki ini.”


Ucap Vico dan mempertegas wajahnya bahwa dia merasa ini hal biasa walaupun


sebenarnya ini adalah pertama kali baginya.


Roller Coaster sudah melaju sangat kencang berkelok, naik,


turun membuat semua penumpang berteriak, menangis, tertawa dan banyak ekspresi


lain. Arini selalu berteriak saat wahana itu menurun dan akan merasa berdebar


saat naik , Vico hanya diam seribu bahasa.


Setelah naik Roller Coaster Vico dan Arini lalu menuju


berbagai permainan mulai memanah dan menembak.

__ADS_1


Saat wahana menembak Vico yang merepakan salah satu ketua


mafia yang terlatih soal menembak kalah dengan Arini dia meleset dalam


percobaan terakhirnya sedangkan Arini mendapat nilai sempurna.


“ Apa kamu belajar menembak sebelumnya, tembakanmu sangat


akurat ?” Tanya Vico setelah menerima hadiah dari penjaga permainan dan


menyerahkannya pada Arini.


“ Tidak mungkin aku hanya beruntung saja.” Ucap Arini


berbohong, dia sangat terlatih memang soal menembak karena pelatihnya saja


adalah badan intelejen internasional yang disewa khusus kakaknya untuk


mengajarinya.


“ Benarkah, ada hal lain yang aku perlu tahu darimu, aku


mulai takut dengan keahlianmu yang lain.” Ucap Vico sedikit bercanda dengan


Arini karena merasa kedekatan dengan istrinya sudah berjalan dengan baik sesuai


rencananya.


“ Tidak ada, aku tidak memiliki keahlian apa-apa, sudah


tidak perlu memikirkannya, Ayo kita main boom boom car itu.” Tunjuk Arini lalu


menarik tangan Vico.


Walaupun Vico merasa


berjalan-jalan dengan anak kecil jika bisa berkata jujur, tapi dia sangat menikmati


momen-momen itu, karena dia tidak pernah ke taman hiburan memang selama ini.


Saat dia anak-anak dia hanya di penuhi dengan sekolah dan belajar bisnis karena


menjadi anak satu-satunya keluarga Marleno, remaja hanya mengurusi perusahaan


pergi ke pusat perbelanjaan.


“ Sini duduk sini Vic.” Teria Arini yang sudah menduduki


salah satu mobil di arena bermain itu, sedangkan Vico masih berdiri di luar


Arena bermain, mendengar terikan Arini itu dia lalu bergegas menuju mobil


tersebut dan duduk di samping Arini.


Permainan dimulai dan semua mobil berjalan memutar


bertabrakan satu sama lain.


Mereka terlihat kelelahan bermain mereka duduk di salah satu


bangku panjang berwarna putih di dekat komedi putar. Tersirat warna orange kala


waktu menunjukkan akan segera petang, semua pengunjung terlihat masih menikmati


dan riuh di taman bermain itu.


Saat malam biasanya akan diadakan festival sehingga banyak


pengunjunga mulai memadati jalanan utama taman bermain tidak mau ketinggalan


semua atraksi yang akan ditampilkan dari semua peserta festival.


“ Vic aku ingin permen kapas itu.” Ucap Arini yang masih


belum beranjak dari tempat dia duduk menunjuk penjual permen kapas.


“ Baiklah tunggu di sini jangan kemana-mana aku akan


membelikannya untukmu.” Ucap Vico yang sudah berjongkok di depan Arini sambil


mengusap rambut istrinya dan berdiri untuk membelikan permen kapas keinginan

__ADS_1


wanita yang dia sukai itu.


“ Hai Ar.” Sapa seorang pemuda yang juga berada disana


dengan senyum menyeringai membuat Arini menjadi takut dan cemas semua ingatan


buruknya terkumpul mejadi satu dalam pikirannya.


“ Bagaimana kabarmu, aku sangat merindukanmu.” Ucap Pria


tersebut lagi pada Arini. Arini sama sekali tidak menaggapinya dan hanya


tertunduk mendengar pertanyaan dari pria dengan hodi warna hitam menutupi


kepalanya itu.


“ Pergilah, aku tidak ingin berbicara denganmu.” Ucap Arini


yang memberanikan diri mengusir pria yang menurutnya sangat mengganggu itu.


“ Aku akan mendapatkanmu kembali, tunggu aku.” Ucap Pria


tadi yang berjogkok dan menatap Arini.


Sekretaris Kim yang melihat kejadian yang merasa nona


mudanya diganggu segera mendekat untuk memastikan keamanannya.


“ Aku pergi dulu ada pengganggu datang, sampai jumpa Arini


sayang.” Ucap Pria itu lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Arini yang masih


duduk di kursi dengan ekspresi cemas.


“ Anda baik-baik saja nona ?” Tanya sekretaris Kim yang


sudah berada di dekat Arini.


“ Iya, aku tidak apa-apa.” Jawab Arini dan mencoba tersenyum


dan mengendalikan dirinya.


“ Arini ini permen kapas yang kamu minta.” Ucap Vico yang


sudah berdiri di depan Arini dan menyerahkan permen kapas itu.


“ Terima kasih.” Jawab Arini sambil tersenyum


“ Ada apa Kim ?” Tanya Vico yang heran melihat sekretaris


Kim mendekat dimana memang sebelumnya mereka selalu mengikuti dari jarak yang


cukup jauh tapi tetap bisa memandang keduanya.


“ Tidak apa-apa Tuan saya hanya ingin melindungi nona muda


yang sendiri menunggu Anda, karena Anda sudah disini saya akan kembali berjaga


.” Jawab sekretaris setelah mendapat kode dari Arini yang bermaksud jangan


memberi tahu Vico tentang apa yang terjadi, lalu meninggalkan mereka berdua.


“ Kamu mau mencobanya ?” Tanya Arini yang terlihat memakan


permen kapas dengan lahap itu.


“ Tidak, itu tidak sehat.” Jawab Vico jujur yang memang


tidak menyukai makanan manis apalagi permen kapas dia sama sekali tidak pernah


memakannya.


“ Cobalah, aaaaa ini sangat enak.” Ucap Arini dan


meyuapkannya pada Vico.


“ Tidak Arini aku tidak suka, aku tidak mau memakannya.”


Jawab Vico dengan menggelengkan kepalanya dan merasa makanan itu akan


menyakitinya jika masuk kedalam mulutnya.

__ADS_1


Arini lalu cemberut akan penolakan itu.


__ADS_2