
Poppy yang semula duduk bahagia dan tersenyum menyeringai
licik di atas ranjang kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan
dirinya.
Tidak seperti biasanya yang berpenampilan seksi, Poppy hari
ini ingin menampilkan gaya elegan polos agar mendapat kepercayaan dari Arini
dan bisa lebih mendapat perhatian Arini lebih dari hanya sebagai pemesan
desain.
Poppy memakai dress di bawah lutut dengan lengan panjang
sampai pergelangan tangan berwarna baby
mint, sepatu warna senada begitu pula tas branded super mahal miliknya.
Dia lalu pergi ke kantor desain Arini dengan memacu mobil
sport warna merah kesukaannya.
Sesampainya di kantor Arini Poppy menuju meja resepsionis
dan mengatakan keperluannya saat sudah mendapat arahan dari wanita berpakaian
rapi dari meja resepsionis dia melangkahkan tubuh rampingnya menuju lift menuju
ruang tunggu klien yang biasa menjadi tempat pertemuan Arini.
Poppy terlihat sangat sopan berbeda dengan sebelumnya dan
duduk di sofa kosong yang berada di ruangan itu.
Tok tok tok
“ Iya masuk.” Saut Arini dari duduknya di kursi tanpa
memindahkan pandangan dari kertas desain miliknya.
“ Nona Poppy sudah menunggu di ruangan tunggu klien nona.”
Ucap Vivi menyampaikan
kedatangan Poppy sesuai janji dengannya kemarin.
“ Baiklah aku akan menemuinya, o iya Vivi siapkan minuman
untuk kita berdua.” Ucap Arini dan meninggalkan Vivi menuju ruangan tersebut.
“ Baik nona” Jawab Vivi menunduk sopan dan menggeser
tubuhnya setelah Arini pergi dia lalu meminta Office Girl lantai itu membuatkan
2 minuman untuk Arini dan Poppy dan mengantarnya pada ruangan pertemuan itu.
Arini sudah sampai di depan ruangan pertemuan dengan Poppy
dia mulai membuka pintu tersebut.
“ Selamat pagi nona Poppy, perkenalkan saya Arini.” Ucap
Arini sambil mengulurkan tangannya setelah ia duduk di sofa empuk dekat Poppy.
“ Selamat pagi nona Arini, saya Poppy.” Ucap Poppy menyambut
uluran tangan Arini dan tersenyum semanis mungkin.
“ Untuk desainnya kira-kira ingin yang bagaimana ya nona
Poppy.” Tanya Arini memulai pembicaraan dasar yang biasa dia lakukan untuk
menangani klien yang membutuhkan jasa desainnya.
“ Saya ingin memiliki rumah yang berkesan hangat, terbuat
__ADS_1
dari perpaduan kayu karena saya ingin membuat danau buatan, rumah yang
menenangkan dengan kesan klasik dan sedikit modern nona.” Jelas Poppy
memberikan beberapa keinginan dari desain rumah miliknya pada Arini.
Tok Tok tok
“ Permisi nona saya ingin mengantarkan minuman.” Ucap Office
Girl dari balik pintu ruang rapat itu.
“ Silakan masuk.” Sahut Arini mempersilahkan wanita muda
itu masuk dan menyajikan 2 cangkir teh untuk klien dan nona muda yang menjadi
atasannya itu, setelah itu dia pamit pergi meninggalkan kedua wanita yang masih
asing itu untuk membahas masalah desain.
" Silakan nona di minum tehnya." Arini menawarkan teh yang sudah di siapkan office Girlnya tersebut dan terlihat Poppy mengambil cangkir berisi teh dan meneguknya sedikit begitu pun Arini dan menaruh kembali pada tempatnya.
“ Untuk ukuran dan area yang akan menjadi tempat pembangunannya
tolong saya diinfo ya nona, kesan hangat dan kayu baiklah nanti coba saya
desainkan awal untuk permintaan nona, untuk pencahayaannya dan modelnya
bagaimana nona ?” Tanya Arini agar dapat membuat desain yang lebih mendekati
keinginan Poppy untuk perencanaan awal.
“ Saya ingin pencahayaan yang redup untuk depan rumah dan
sekitarnya tapi cukup terang untuk di dalam, dengan adanya aksen taman di depan
pasti akan terlihat sempurna dan modelnya sepertinya saya menyukai yang
minimalis saja.” Ucap Poppy lagi sambil membayangkan rumah yang dia ingin Arini
“ Baik nona Poppy saya akan berusaha membuat sesuai
keinginan nona, kira-kira nona memerlukannya dalam waktu cepat atau lama ?”
Tanya Arini untuk membuat dan merencanakan estimasi waktu pembuatan dan
penyelesaiannya.
“ Tenang nona Arini saya tidak buru-buru.” Ucap Poppy
tersenyum dan memegang kedua tangan Arini.
“ Baik nona Poppy, jika desain awal sudah saya selesaikan
nanti nona akan saya hubungi untuk proses selanjutnya.” Ucap Arini dan
tersenyum pada Poppy.
Wanita ini cukup lugu untuk aku singkirkan. Batin
Poppy
“ Ya sudah saya ada pertemuan, saya tunggu kabarnya ya nona
Arini saya permisi dulu.” Ucap Poppy pamit dan mengajak tubuh semampainya
berdiri dari sofa yang empuk menjabat tangan Arini dan melangkahkan kaki
jenjangnya meninggalkan Arini
“ Baik nona Poppy, sampai jumpa.” Ucap Arini ramah pada
klien barunya itu, dan membukakan pintu untuk Poppy setelah itu dia kembali ke
ruangan kerjanya.
Kantor Vico
__ADS_1
“ Tuan saya sudah mendapat informasi bahwa paman Tuan akan
datang ke Indonesia minggu depan dan untuk bisnisnya kali ini dia ingin membuat
sebuah pabrik untuk pengembangan produknya yang dari Jerman bekerja sama dengan
GK Grup Tuan untuk pembuatan obat.” Ucap sekretaris Kim pada Arga yang sedang
duduk di kursi hitamnya.
“ Tingkatan penjagaan dan awasi terus jangan sampai ada yang
terlewat, aku merasa paman tidak hanya akan melakukan hal itu, setelah dia
pernah menculik Arini sebelumnya dan aku menghancurkan bisnisnya di beberapa
tempat bahkan dia harus kehilangan orang-orang yang menjadi kepercayaannya.”
Perintah Putra pada sekretaris Kim.
“ Baik tuan, saya akan mengerahkan beberapa penjaga tambahan
untuk di rumah dan nona Arini.” Ucap sekretaris Kim.
“ O iya Kim bisnis kita yang kemarin ditangani Peter sudah
beres ?” Tanya Vico akan Bisnis Properti yang bermasalah di Jepang yang
bermasalah dengan Grup mafia di sana.
“ Tuan saat ini masih dalam tahap negosiasi, bagaimana kalau
kita meminta bantuan Tuan Putra dia cukup berpengaruh di sana.” Tanya Kim
memberikan solusi terbaik akan masalah Vico.
“ Jangan melibatkan Kak Putra mau ditaruh di mana mukaku kalu
minta tolong dengannya, segera atasi saja dengan uang jika tidak mau kerahkan
beberapa anak buah Orlando untuk segera menyelesaikannya jika cara halus sulit,
kita pakai cara kita saja.” Perintah Vico lagi pada sekretaris Kim.
“ Baik Tuan akan saya hubungi tuan Orlando dan akan saya
konfirmasi dengan Peter juga.” Ucap sekretaris Kim lalu pamit meninggalkan
ruangan Vico tersebut.
Begitulah selama ini dia mengembangkan perusahaan yang
Ayahnya mandatkan padanya dan perusahaan yang juga miliknya sendiri di berbagai
negara yang mencakup banyak sektor yang menghasilkan pundi-pundi kekayaan yang
sulit dihitung bagi orang biasa.
“ Aku hari ini menjemput Arini tidak ya, aku sangat
merindukannya sekarang, rasanya wajah Arini selalu terbayang di depanku
membuatkan sulit konsentrasi.” Gumam Vico sambil tersenyum-senyum di kursinya
dengan tangan kanan memegang dahinya.
Vico menjadi pria lembut, manis, sabar, perhatian dan sangat
berbeda dengan dia yang biasanya yang sangat pemarah dan bahkan bisa menjadi
iblis yang kejam.
“ Aku hubungi dia saja.” Ucapnya lagi lalu mengambil benda
pipih persegi panjang itu dari dekat leptop yang tertutup di sisi kiri mejanya
itu.
__ADS_1