
“ Sudah tenanglah, ayo istirahat lagi ini masih larut.” Ucap
Vico dan membaringkan tubuh Arini untuk kembali tidur.
“ Hiks hiks hiks.” Suara isak keluar dari Arini merasa tidak
tenang dengan mimpi yang baru dia alami.
“ Arini sudah jangan menangis ya, aku akan selalu
bersamamu.” Ucap Vico memandang Arini dari dekat menjauhkan dari pelukannya dan
menghapus air mata yang membasahi pipi Arini.
Arini terlihat hanya mengangguk. Vico kembali memeluk dan
mengusap punggung Arini untuk menenangkannya. Arini terlihat semakin tenang dan
sepertinya sudah terlelap kembali ke dalam tidurnya.
“ Kenapa dia tiba-tiba seperti ini ?” Pikir Vico merasa
tidak dapat mengelak perubahan Arini sejak di bioskop tadi.
Setelah Arini terlihat tertidur Vico lalu mengambil ponsel
miliknya yang ada di dalam laci.
“ Hallo Kim , saat aku dan Arini selama jalan-jalan ada hal
aneh tidak ?” Tanya Vico pada sekretaris Kim yang mengawalnya saat jalan-jalan
dengan Arini.
“ Sepertinya tidak ada Tuan, semuanya tidak ada yang aneh.”
Jawab sekretaris Kim yang terdengar serak karena dia sedang nyinyak-nyiyaknya
tertidur terbangun karena deringan ponsel panggilan dari Vico.
“ Ya sudah, tidurlah.” Jawab Putra lalu memutus panggilan
itu.
“ Aku kembali istirahat dulu mungkin Arini sedang mimpi
buruk coba besok aku tanyakan lagi padanya kenapa .” Gumam Vico kembali
meletakkan ponselnya lalu merangkak ke ranjang untuk beristirahat.
“ Arini aku akan selalu ada untukmu, jangan kawatir.” Ucap
Vico lembut lalu mengecup dahi Arini dan memeluknya kembali.
Apartemen Poppy
“ Usahakan aku bisa menjadi brand ambasador untuk perusahaan
Aldo, aku ingin lebih dekat dengannya, entah bagaimana caranya aku ingin segera
ada kerja sama dengan perusahaan Aldo.” Ucap Poppy pada manajernya lewat
panggilan telepon genggam.
“ Oke, akan aku aturin, tenang saja.” Jawab manajer itu yang
sudah hafal dengan sifat Poppy yang selalu seenaknya sendiri dan meminta
segalanya dengan cepat.
“ Oke aku tunggu informasinya.” Jawab Poppy lalu memutus
panggilan dan menjatuhkan tubuhnya pada Sofa empuk miliknya.
“ Saat aku sudah dekat dengan Aldo aku bisa menjalankan
rencanaku He..” Ucap Poppy sambil menyeringai memikirkan rencana jahatnya.
Rumah Vico
__ADS_1
Terlihat Arini dan Vico bersiap-siap berangkat kerja dan
turun ke bawah untuk sarapan lalu berangkat bekerja, pagi itu Vico yang
mengantar Arini berangkat ke kantor.
“ Arini kamu semalam bermimpi apa ?” Tanya Vico memulai
pembicaraan dan ingin segera mendapatkan jawaban atas rasa penasaran yang dia tahan karena
memang Arini tidak pernah seperti itu selama ini saat tidur.
“ Oh hanya mimpi buruk saja, tidak perlu dipikirkan.” Jawab
Arini dan tersenyum ingin menyampaikan dia baik-baik saja dan mimpi itu bukan
hal yang penting.
“ Baiklah jika kamu tidak ingin bercerita, jika ada apa-apa
ceritalah padaku dan jika ada yang menyakitimu aku akan memberinya pelajaran,
dan ingatlah aku selalu ada untukmu kapan pun jangan kawatir dan takut
melangkah, aku akan selalu di belakangmu.” Ucap Vico sambil beberapa kali
memandang Arini dan kembali fokus pada kemudinya.
“ Baiklah Vic.” Jawab Arini singkat.
Terlihat Arini mengalihkan pandangannya pada jendela dan
membuka sedikit jendela menikmati udara pagi yang masih asri di dekat
lingkungan rumahnya sebelum di jalan raya yang padat.
Vico menyentuh tangan Arini, karena sedikit kaget Arini menarik
tangan kanan yang tersentuh Vico. Saat sadar dia kembali menaruh tangannya lalu
di genggam Vico erat.
ikut aku ke kantor saja bagaimana ?” Ajak Vico pada Arini melihat rasa cemas
pada wajah Arini.
“ Tidak perlu Vic, aku baik-baik saja, aku akan ke kantor
ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini.” Jawab Arini
memandang Vico dan tersenyum.
“ Ya sudah terserah kamu.” Jawab Vico lembut.
Mereka sudah sampai di depan kantor Arini lalu mereka saling
berpisah ya seperti sebelumnya perpisahan mereka diakhiri dengan ciuman lembut
satu sama lain.
“ Hati-hati .” Ucap Arini masih di dekat mobil Vico.
“ Iya, kamu juga jika ada apa-apa telepon aku.” Ucap Vico
yang kawatir dengan Arini.
Kantor Aldo
“Untuk produk terbaru kita bagaimana rencana marketingnya ?”
Tanya Aldo pada sekretaris perempuannya.
“ Ada pengajuan beberapa model untuk menjadi brand ambasador
produk kecantikan kita Tuan.” Jawab sekretaris itu tetap berdiri di depan Aldo.
“ Bawakan semua penawaran dan rencana marketingnya sekarang,
biara aku tentukan.” Perintah Aldo pada sekretarisnya tersebut. Sang sekretaris
__ADS_1
lalu mengangguk dan meninggalkan ruang Aldo.
Sekretaris menghubungi bagian pemasaran untuk permintaan
dokumen agar di serahkan pada Aldo hari ini.
Aldo terlah menerima penawaran dan rencana pemasaran untuk
produk barunya dari bagian pemasaran dia terlihat fokus membaca masing-masing
map di depannya itu.
Aldo akhirnya memutuskan untuk bekerja sama dengan Poppy
yang menjadi model internasional dan dapat membantu penjualan produknya yang
cukup menurun bulan ini.
“ Saly kesini .” Panggil Aldo melalui telepon kantor pada
sekretarisnya.
Saly yang dipanggil atasannya segera masuk ke ruangan Aldo.
“ Iya Tuan, ada yang anda perlukan ?” Tanya Saly saat sudah
masuk ke ruangan Aldo.
“ Saly berikan dokumen yang sudah aku setujui dan berikan
pada bagian pemasaran untuk segera diproses aku ingin secepatnya kerja sama
ini berjalan.” Ucap Aldo sambil mengulurkan sebuah map yang sudah dia tanda
tangani.
“ Baik Tuan, akan segera saya sampaikan pada bagian
pemasaran.” Jawab Saly sambil menerima dan pamit pergi dari ruangan itu menuju
bagian pemasaran.
Studio pemotretan
Terlihat Poppy sedang melakukan pemotretan untuk beberapa
merek pakaian terkenal dengan berbagai pose yang menarik, tak jarang dia juga
berpose dengan model pria yang tampan memperagakan pakaian yang dia kenakan.
Pemotretan sudah selesai Poppy terlihat menunggu di ruang
make up dan juga istirahat untuknya.
Seorang pria mendekat dan membisikan pada Poppy “
Pengajuannya di terima kita akan mulai kerja sama minggu depan setelah penanda
tanganan kontrak hari Rabu ini” Ucap
pria itu yang tak lain manajer Poppy.
“ Bagus, atur semuanya jangan sampai kita mengecewakannya.”
Perintah Poppy pada manajer itu lalu terlihat senyuman dari balik cermin
riasnya menandakan tahap awal sudah dia lalui.
“ Oke, jangan kawatir, tapi kenapa kamu ingin bekerja sama
dengan dia, bahkan menurunkan tarif kerjamu ?” Tanya manajer yang penasaran.
“ Sudahlah, kita perlu umpan untuk mendapatkan ikan yang
besar, percaya saja padaku, jalankan permintaanku.” Ucap Poppy yang sombong
itu, lalu mengibaskan tangannya tanda menyuruh manajernya itu meninggalkannya
sendiri di ruangan itu.
__ADS_1