
Vico mengajak Arini ikut dengan mobilnya saja sedangkan
mobil Arini di tinggal di taman kota. Vico menghubungi sopirnya dan meminta
mengambil mobil Vico di taman Kota.
Vico menggandeng tangan Arini menuju ke mobil yang di parkir
cukup jauh dari taman tersebut.
“ Kenapa kamu kesini ?” Tanya Vico yang penasaran karena
Arini tidak pernah ke taman kota selama menjadi istrinya selama ini.
“ Aku senang kesini dulu saat aku mencari beberapa konsep
desain aku kadang kesini, di sini tempat yang tenang dan memiliki pemandangan
yang indah menurutku.” Jawab Arini tersenyum dan mengenang masa-masa di mana dia
mulai mendirikan perusahaannya dia beberapa kali datang ke sini untuk mencari
beberapa inspirasi saat taman itu tidak sedang hari libur karena akan sangat
ramai dipadati banyak pengunjung saat hari libur atau akhir pekan.
“ Aku kira kamu tadi pulang ke rumah karena marah padaku,
jika saja aku tidak menghubungi kak Putra aku pasti sudah datang ke rumahmu
juga untuk mencari kamu.” Ucap Putra mengingat seberapa kawatir dan cemas akan
keberadaan Arini yang dia rasa marah padanya.
“ Aku tidak mungkin pulang, aku terbiasa mandiri dan
menyelesaikan semua masalah jika itu sudah menyangkut pilihanku sendiri dan
biasanya aku akan bercerita dengan kakak untuk meminta pendapat, bukan aku
tidak mau terbuka dengan kedua orang tuaku hanya saja aku tidak ingin membuat
mereka kawatir dengan keadaanku.” Jelas Arini yang berjalan tertunduk tangannya
masih digandeng Vico. Tiba-tiba Vico menghentikan langkahnya.
“ Mulai sekarang kan ada aku cobalah cerita padaku ya selain
dengan kakakmu.” Ucap Vico yang menangkup wajah Arini dengan kedua tangannya
dan menatapnya erat.
“ Baiklah, Terima kasih selalu mengerti aku selama ini.” Ucap
Arini dan meneteskan air matanya terharu merasa ada laki-laki lain selain kakak
dan papahnya yang dia rasa menyayanginya. Vico memang suaminya selama ini tapi
karena mereka dijodohkan Arini tidak ingin membebani Vico dengan masalahnya,
apa lagi kesibukan Vico yang menurutnya padat itu.
“ Jangan menangis, O iya kamu kenapa datang tidak
mengabariku tadi, dan kenapa kamu tadi datang ?” Tanya Vico yang melupakan
pertanyaan pentingnya mencari keberadaan Arini saat ini. Sambil mengusap
butiran bening yang menetes di pipi Arini dengan kedua jarinya.
__ADS_1
“ Aku tidak ingin mengganggumu takut kamu sibuk jadi mungkin
aku bisa menunggumu di ruanganmu selain itu aku ingin minta maaf masalah
kemarin karena kamu tidak pulang jadi aku berinisiatif datang ke kantor takut
kamu masih tidak pulang lagi hari ini.” Ucap Arini menjelaskan tujuan
kedatangannya ke kantor Vico hari ini.
Vico lalu kembali menggandeng Arini menuju parkiran mobilnya
dia merasa senang Arini adalah wanita yang pemaaf dan bahkan datang ke
kantornya untuk minta maaf, selain itu dia kagum dengan kemandirian Arini dan
tidak manja seperti anak konglomerat kebanyakan yang selalu mengandalkan kedua
orang tuanya.
Vico dan Arini sudah sampai di tempat parkir mobil Vico
membukakan pintu untuk Arini setelah Arini sudah masuk Vico segera menuju
kursinya dan mengemudikan kendaraannya tersebut ke sebuah restoran yang ada di
hotelnya yang menjadi tempat dengan pemandangan kota yang indah.
“ Bukannya kita akan makan, kenapa kita ke Hotel Vic ?”
Tanya Arini setelah sampai di depan Hotel tersebut bingung apakah Vico tidak
salah tempat.
“ Ayo turunlah, kita akan makan di sini.” Ucap Vico lalu
Semua pelayan resepsionis menyambut Vico dengan ramah dan
seorang yang mungkin menjadi manajer Hotel tersebut menemui Vico saat melihat
kedatangan mobil Vico yang memang tidak banyak orang yang memiliki mobil jenis
itu hanya ada 2 pemilik mobil itu Vico dan satunya adalah Putra.
“ Selamat datang tuan Vico.” Ucap semua pelayan dan
resepsionis yang berjajar di sana.
“ Siapkan makan siang di rooftop untukku dan Arini siapkan
makanan yang sangat spesial aku akan menuju Penthouse jika sudah selesai
hubungi aku.” Ucap Vico lalu menggandeng Arini memasuki lift dan menuju lantai
paling atas yang menjadi letak Penthouse miliknya itu.
“ Siapa wanita tadi Tuan Vico selama ini tidak pernah membawa
wanita kesini sebelumnya, wah irinya bisa menjadi pasangan tuan Vico.” Ucap
resepsionis yang bertugas menerima tamu menatap kepergian Vico dengan Arini.
“ Kembali bekerja jangan bergosip.” Tegas manajer hotel
tersebut melihat kelakuan resepsionisnya tersebut.
“ Baik Pak .” Jawab resepsionis dan kembali bekerja seperti
semula.
__ADS_1
Vico dan Arini sudah sampai di lantai yang di tuju.
“ Bagaimana pemandangan di sini juga tidak kalah indahkan
dengan taman tadi ?” Tanya Vico yang mengajak Arini melihat keindahan kota dari
tembok kaca yang menjadi tempat favorit Vico sebelumnya.
“ Iya ini indah sekali Vic, terima kasih sudah mengajakku
kesini.” Jawab Arini dan tersenyum memandang takjub dengan keindahan yang
disuguhkan untuk indra penglihatannya itu.
“ Jika kamu ingin mencari ketenangan kamu bisa kesini kapan
pun aku akan bicara pada manajer agar kamu bisa melakukannya.” Ucap Vico yang
menuju ke sofa empuk yang tersedia di ruangan tersebut dan mendudukkan tubuhnya
yang lelah mencari Arini.
“ Terima kasih, apakah ini tidak disewakan untuk umum ?”
Tanya Arini yang beralih membalikan tubuhnya dan berjalan mendekati sofa di mana
Vico terduduk dan menyandarkan punggungnya.
“Tidak, tenang saja ini hanya aku yang menempatinya
kadang-kadang saat aku terlalu sibuk bekerja dan mencari ketenangan, tidak
pernah disewakan untuk umum, jadi kamu bebas menggunakannya juga.” Jawab Vico
yang menatap Arini dan menyelipkan rambut Arini yang terjatuh pada wajah
cantiknya.
“ Baiklah.” Ucap Arini lalu mencium pipi Vico dan
mengucapkan terima kasih di dekat telinga Vico membuat degub jantung Vico yang
tidak bisa di ajak kompromi bagaikan lomba pacuan kuda.
“ Hmmmm.” Ucap Vico lalu pergi ke kamar mandi meninggalkan
Arini yang masih duduk di sofa.
“ Tuhan bagaimana aku bisa menahan semua godaan ini rasanya
jika dia berinisiatif menciumku membuat jantungku berdebar cepat dan sesak
sulit bernafas rasanya, bahkan aku tidak pernah sekalipun merasakan ini saat
bersama Poppy dulu.” Gumam Vico sambil menatap cermin kamar mandi melihat sosok
dirinya yang sangat lemah dengan Arini.
“ Apa sebaiknya aku bermalam di sini saja dengan Arini,
mungkin ini bisa lebih meningkatkan perasaan kita satu sama lain, aku akan
meminta pelayan untuk mendekorasi kamar tidurku saat aku dan Arini makan siang
di rooftop pasti Arini akan senang dengan hal itu.” Ucap Vico lagi yang
menemukan ide meningkatkan perasaan Arini padanya dia lalu membasuh wajahnya
agar lebih segar dan dapat mengendalikan dirinya di depan Arini sekarang.
__ADS_1