My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Saling Memaafkan


__ADS_3

Vico mengajak Arini ikut dengan mobilnya saja sedangkan


mobil Arini di tinggal di taman kota. Vico menghubungi sopirnya dan meminta


mengambil mobil Vico di taman Kota.


Vico menggandeng tangan Arini menuju ke mobil yang di parkir


cukup jauh dari taman tersebut.


“ Kenapa kamu kesini ?” Tanya Vico yang penasaran karena


Arini tidak pernah ke taman kota selama menjadi istrinya selama ini.


“ Aku senang kesini dulu saat aku mencari beberapa konsep


desain aku kadang kesini, di sini tempat yang tenang dan memiliki pemandangan


yang indah menurutku.” Jawab Arini tersenyum dan mengenang masa-masa di mana dia


mulai mendirikan perusahaannya dia beberapa kali datang ke sini untuk mencari


beberapa inspirasi saat taman itu tidak sedang hari libur karena akan sangat


ramai dipadati banyak pengunjung saat hari libur atau akhir pekan.


“ Aku kira kamu tadi pulang ke rumah karena marah padaku,


jika saja aku tidak menghubungi kak Putra aku pasti sudah datang ke rumahmu


juga untuk mencari kamu.” Ucap Putra mengingat seberapa kawatir dan cemas akan


keberadaan Arini yang dia rasa marah padanya.


“ Aku tidak mungkin pulang, aku terbiasa mandiri dan


menyelesaikan semua masalah jika itu sudah menyangkut pilihanku sendiri dan


biasanya aku akan bercerita dengan kakak untuk meminta pendapat, bukan aku


tidak mau terbuka dengan kedua orang tuaku hanya saja aku tidak ingin membuat


mereka kawatir dengan keadaanku.” Jelas Arini yang berjalan tertunduk tangannya


masih digandeng Vico. Tiba-tiba Vico menghentikan langkahnya.


“ Mulai sekarang kan ada aku cobalah cerita padaku ya selain


dengan kakakmu.” Ucap Vico yang menangkup wajah Arini dengan kedua tangannya


dan menatapnya erat.


“ Baiklah, Terima kasih selalu mengerti aku selama ini.” Ucap


Arini dan meneteskan air matanya terharu merasa ada laki-laki lain selain kakak


dan papahnya yang dia rasa menyayanginya. Vico memang suaminya selama ini tapi


karena mereka dijodohkan Arini tidak ingin membebani Vico dengan masalahnya,


apa lagi kesibukan Vico yang menurutnya padat itu.


“ Jangan menangis, O iya kamu kenapa datang tidak


mengabariku tadi, dan kenapa kamu tadi datang ?” Tanya Vico yang melupakan


pertanyaan pentingnya mencari keberadaan Arini saat ini. Sambil mengusap


butiran bening yang menetes di pipi Arini dengan kedua jarinya.

__ADS_1


“ Aku tidak ingin mengganggumu takut kamu sibuk jadi mungkin


aku bisa menunggumu di ruanganmu selain itu aku ingin minta maaf masalah


kemarin karena kamu tidak pulang jadi aku berinisiatif datang ke kantor takut


kamu masih tidak pulang lagi hari ini.” Ucap Arini menjelaskan tujuan


kedatangannya ke kantor Vico hari ini.


Vico lalu kembali menggandeng Arini menuju parkiran mobilnya


dia merasa senang Arini adalah wanita yang pemaaf dan bahkan datang ke


kantornya untuk minta maaf, selain itu dia kagum dengan kemandirian Arini dan


tidak manja seperti anak konglomerat kebanyakan yang selalu mengandalkan kedua


orang tuanya.


Vico dan Arini sudah sampai di tempat parkir mobil Vico


membukakan pintu untuk Arini setelah Arini sudah masuk Vico segera menuju


kursinya dan mengemudikan kendaraannya tersebut ke sebuah restoran yang ada di


hotelnya yang menjadi tempat dengan pemandangan kota yang indah.


“ Bukannya kita akan makan, kenapa kita ke Hotel Vic ?”


Tanya Arini setelah sampai di depan Hotel tersebut bingung apakah Vico tidak


salah tempat.


“ Ayo turunlah, kita akan makan di sini.” Ucap Vico lalu


Semua pelayan resepsionis menyambut Vico dengan ramah dan


seorang yang mungkin menjadi manajer Hotel tersebut menemui Vico saat melihat


kedatangan mobil Vico yang memang tidak banyak orang yang memiliki mobil jenis


itu hanya ada 2 pemilik mobil itu Vico dan satunya adalah Putra.


“ Selamat datang tuan Vico.” Ucap semua pelayan dan


resepsionis yang berjajar di sana.


“ Siapkan makan siang di rooftop untukku dan Arini siapkan


makanan yang sangat spesial aku akan menuju Penthouse jika sudah selesai


hubungi aku.” Ucap Vico lalu menggandeng Arini memasuki lift dan menuju lantai


paling atas yang menjadi letak Penthouse miliknya itu.


“ Siapa wanita tadi Tuan Vico selama ini tidak pernah membawa


wanita kesini sebelumnya, wah irinya bisa menjadi pasangan tuan Vico.” Ucap


resepsionis yang bertugas menerima tamu menatap kepergian Vico dengan Arini.


“ Kembali bekerja jangan bergosip.” Tegas manajer hotel


tersebut melihat kelakuan resepsionisnya tersebut.


“ Baik Pak .” Jawab resepsionis dan kembali bekerja seperti


semula.

__ADS_1


Vico dan Arini sudah sampai di lantai yang di tuju.


“ Bagaimana pemandangan di sini juga tidak kalah indahkan


dengan taman tadi ?” Tanya Vico yang mengajak Arini melihat keindahan kota dari


tembok kaca yang menjadi tempat favorit Vico sebelumnya.


“ Iya ini indah sekali Vic, terima kasih sudah mengajakku


kesini.” Jawab Arini dan tersenyum memandang takjub dengan keindahan yang


disuguhkan untuk indra penglihatannya itu.


“ Jika kamu ingin mencari ketenangan kamu bisa kesini kapan


pun aku akan bicara pada manajer agar kamu bisa melakukannya.” Ucap Vico yang


menuju ke sofa empuk yang tersedia di ruangan tersebut dan mendudukkan tubuhnya


yang lelah mencari Arini.


“ Terima kasih, apakah ini tidak disewakan untuk umum ?”


Tanya Arini yang beralih membalikan tubuhnya dan berjalan mendekati sofa di mana


Vico terduduk dan menyandarkan punggungnya.


“Tidak, tenang saja ini hanya aku yang menempatinya


kadang-kadang saat aku terlalu sibuk bekerja dan mencari ketenangan, tidak


pernah disewakan untuk umum, jadi kamu bebas menggunakannya juga.” Jawab Vico


yang menatap Arini dan menyelipkan rambut Arini yang terjatuh pada wajah


cantiknya.


“ Baiklah.” Ucap Arini lalu mencium pipi Vico dan


mengucapkan terima kasih di dekat telinga Vico membuat degub jantung Vico yang


tidak bisa di ajak kompromi bagaikan lomba pacuan kuda.


“ Hmmmm.” Ucap Vico lalu pergi ke kamar mandi meninggalkan


Arini yang masih duduk di sofa.


“ Tuhan bagaimana aku bisa menahan semua godaan ini rasanya


jika dia berinisiatif menciumku membuat jantungku berdebar cepat dan sesak


sulit bernafas rasanya, bahkan aku tidak pernah sekalipun merasakan ini saat


bersama Poppy dulu.” Gumam Vico sambil menatap cermin kamar mandi melihat sosok


dirinya yang sangat lemah dengan Arini.


“ Apa sebaiknya aku bermalam di sini saja dengan Arini,


mungkin ini bisa lebih meningkatkan perasaan kita satu sama lain, aku akan


meminta pelayan untuk mendekorasi kamar tidurku saat aku dan Arini makan siang


di rooftop pasti Arini akan senang dengan hal itu.” Ucap Vico lagi yang


menemukan ide meningkatkan perasaan Arini padanya dia lalu membasuh wajahnya


agar lebih segar dan dapat mengendalikan dirinya di depan Arini sekarang.

__ADS_1


__ADS_2