My Lovely Husband Is Mafia

My Lovely Husband Is Mafia
Ubud


__ADS_3

Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat bagi pasangan


kekasih yang sudah halal itu bercanda tawa burung besi yang mereka naiki sudah


sampai di bandara di Pulai Dewata.


Terlihat senyum tipis dari sekretaris Kim lega akhirnya


drama romantis yang dia nikmati secara nyata di pesawat telah berakhir.


Semua pengawal yang sebelumnya diterbangkan dahulu terlihat


berjajar untuk menyambut Tuan dan Nyonya Angkasa Grup tersebut di luar pesawat


yang telah berhenti.


Arini menarik lengan Vico agar menyejajarkan ketinggian


mereka lalu berbisik


“ Vic, kenapa yang mengawal banyak sekali ?” Arini yang


keheranan dengan apa yang di lihat lebih dari yang dia rasakan saat mereka


berbulan madu di Paris dan Belanda.


“ Untuk keselamatan Arini.” Jawab Vico sambil tersenyum dan


memandang istrinya dan mengusap halus rambut Arini yang halus.


Arini hanya membentuk mulut kecilnya menyerupai huruf O


tanda dia mengerti apa yang Vico maksud.


“ Kim kita hari ini ke mana dulu ?” Vico bertanya pada sang


pengatur jadwal yang selalu menjadi pendampingnya di berbagai kesempatan itu.


“ Hari ini kita akan ke Ubud dulu tuan, hari kedua ke Kuta,


ketiga akan ke Nusa Dua. Ke empat akan ke daerah Pegunungan di Karang Asem


Tuan.” Jawab sekretaris Kim setelah mendekati Tuannya yang sedang berjalan


berdampingan dengan istri tercintanya itu.


“ Oke.” Jawab Vico mengerti semua yang sudah di atur


sekretaris Kim yang entah kenapa walaupun belum pernah memiliki kekasih tetapi


selalu berhasil menyiapkan berbagai tempat romantis untuk Vico saat memintanya


mengatur keinginan Vico.


Terlihat mobil sedan Hitam keluaran merek berlambang segitiga


menunggu di terminal kedatangan dengan seorang sopir berjas hitam dengan sopan


mempersilahkan Arini, Vico dan sekretaris Han masuk.


Semua pengawal mengikuti di beberapa mobil berada di depan


dan belakang mobil yang membawa Vico dan Arini.


Tak beberapa lama mereka sudah sampai di daerah Ubud daerah


wisata yang lebih mengedepankan pemandangan alam pedesaan dan sawah-sawah yang


tertata indah.


Siang itu mereka sampai di Hotel yang sangat megah untuk


keduanya bermalam, terlihat semua barang-barang sudah di bawakan ke dalam kamar


Arini dan Vico.


Hotel tersebut khusus di sewa sekretaris Kim selama sehari


semalam untuk semua pengawal dan demi kenyamanan Tuan mudanya sehingga tidak


terlihat penghuni lain selain rombongan Vico.


Kamar Hotel Arini dan Vico terlihat sangan indah dengan


semua perabotan berwarna cream dan putih dengan ranjang besar dan balkon yang


menghadap langsung pada sawah yang terlihat padinya mulai menguning dan


beberapa bukit membuat semua penghuninya merasa nyaman dan tenang setelah


kepenatan daerah ibu kota yang berisik.

__ADS_1


Suara air yang bergericik terdengar dari luar karena adanya


irigasi alami untuk semua tanaman yang sedang Pak Tani tanam tersebut.


“ Apakah kamu menyukainya ?” Tanya Vico mendekati Arini yang


terlihat menikmati pemandangan tanaman padi yang akan menguning dan beberapa


bukit hijau serta tanaman kelapa yang melambai-lambai terkena sepoi angin dari


balkon kamarnya.


“ Tentu saja, Apakah kamu yang menyiapkan semua ini ?” Tanya


Arini terlihat mengalihkan pandangannya ke arah laki-laki bertubuh tegap tinggi


di sampingnya yang juga melihat pemandangan dari balkon itu.


“ Tentu saja, dengan bantuan sekretaris Kim.” Jawab Vico


kemudian mendekati Arini dan menarik tubuh Arini hingga sekarang mereka saling


berhadap-hadapan kedua mata kecoklatan yang mereka dapat dari darah blasteran


kedua orang tuanya terlihat saling bertatapan dalam.


Tanpa sadar Vico mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Arini


terjadilah penyaluran semua hasrat dari sebuah ciuman dalam keduanya seakan


semua kata tidak dapat menggambarkan kasih sayang antar kedua insan manusia


yang saling mencintai itu.


“Huh.” Nafas terbuang kasar dari Arini mencoba mengendalikan


paru-parunya agar bisa berfungsi normal setelah adegan berciuman dengan Vico


tersebut.


Terlihat Vico tersenyum memandangi istrinya yang belum


berpengalaman akan aktivitasnya yang satu itu.


Vico kembali mendekat dan memeluk tubuh Arini yang terlihat


ramping karena kegiatan olahraganya setiap pagi itu.


Ajak Arini setelah menjauhkan tubuhnya dari pelukan Vico sambil memandang wajah


Vico terlihat bagai kucing yang sedang memohon menurut Vico.


“ Hah baiklah.” Jawab Vico yang sebenarnya tidak rela dengan


ajakan Arini tetapi karena ingin menyenangkan istri tercintanya itu dia mencoba


mengikutinya.


Agenda Vico sebenarnya dengan adanya acara pergi ke Bali ini


dia bisa menghabiskan semua waktunya berdua di dalam kamar saja dengan Arini


karena ingin mendapatkan kabar kehamilan dari Arini secepatnya agar bisa


membuat mamahnya tidak lagi mengganggu hubungannya dengan Arini.


Arini terlihat berjalan masuk dan pergi ke kamar mandi untuk


berganti pakaian yang lebih santai untuk berjalan-jalan.


“ Vic kamu tidak berganti pakaian ?” Tanya Arini yang


terlihat masih menggunakan pakaian yang sama saat mereka berangkat.


“ Kamu pakai baju ini saja .” Arini memberikan baju yang


sudah dia siapkan celana jeans pendek warna putih dan kaos warna biru senada


dengan mini dress yang sedang dia kenakan.


Terlihat juga mereka menggunakan topi berwarna putih dengan


desain yang sama membuatnya bagaikan pasangan muda yang seperti ada di drama


Korea yang menjadi kegemaran para muda mudi masa kini.


Sekretaris Kim yang selalu siap menemani ke mana pun pergi


terlihat masih saja kaku menggunakan baju pakaian forman berwarna hitam.


“ Vico bisakah semua orang yang mengikuti kita berpakaian

__ADS_1


santai termasuk sekretaris Kim ?” Bisik Arini pada Vico karena merasa tidak


nyaman jika diikuti dengan semua orang berjas hitam itu.


“ Kim suruh semua pengawal memakan pakaian santai, termasuk


kamu juga.” Perintah Vico pada sekretaris Kim tanda setuju dengan permintaan


wanita cantik di sampingnya itu.


Walaupun terlihat perubahan ekspresi tipis dari sekretaris


Kim yang tidak pernah terlihat berpakaian santai di berbagai kondisi saat


bersama Vico hanya bisa pasrah menerima perintah itu.


“ Baik Tuan.” Sekretaris Kim lalu berlalu meninggalkan Arini


dan Vico di depan kamar mereka lalu menyuruh semua pengawal berganti pakaian


termasuk dirinya.


Semua sudah berganti pakaian santai termasuk sekretaris Kim.


Sekretaris Kim memang selalu berjaga-jaga dengan nona mudanya yang sedikit unik


itu. Dia terlihat menggunakan celana jeans Hitam dengan kemeja pantai warna


merah bergambar pantai dan topi seperti seorang pemimpin mafia di film Luar


karena tubuh kekar besar dan tinggi yang dia miliki.


Kenapa sekretaris Kim terlihat bagai bos mafia saja ya


jika berpakaian seperti ini tambah terlihat mengerikan di banding biasanya. Batin


Arini melihat sekretaris Kim sambil mengernyitkan dahinya.


“ Ayo tuan putri kita pergi.” Ajak Vico sambil mengulurkan


lengan kirinya agar digenggam Arini.


Keduanya pun lalu pergi menuju ke kebun binatang untuk


berjalan-jalan. Arini sangat menikmati kebersamaannya dengan Vico tersebut


beberapa kali dia meminta sekretaris Kim memotret keduanya di berbagai momen


dengan berbagai satwa yang ada di Kebun Binatang tersebut.


Senyum cerah dan tawa renyah keduanya keluarkan tanpa ada


beban momen yang jarang sekali keduanya lakukan selama ini. Bahkan sekretaris


Kim yang biasanya terlihat datar juga mendapat berbagai permintaan jail dari


Arini.


Dia harus berpose lucu sambil seekor kera menggelayutinya


dan berbagai momen aneh menurut sekretaris Kim yang belum pernah dia alami


selama ini.


Entahlah semua yang ketiganya nikmati di dalam kebun


binatang terasa sangat indah dan menyenangkan karena aksi jail yang Arini


keluarkan itu. Membuat kenangan tak terlupakan bahkan para pengawal juga tidak


luput dari aksi jailnya.


“ Wah sangat menyenangkan di umur ini aku masih bisa sangat


bersenang-senang seperti ini.” Ucap Arini kala dia duduk di dekat pintu keluar


kebun binatang dengan peluh di dahinya.


Vico yang duduk di sampingnya menghapus titik keringat pada


Arini lembut begitu pula Arini pada Vico.


“Apakah sangat menyenangkan ?” Tanya Vico sambil tersenyum


tipis.


“ Iya, sangat menyenangkan.”Jawab Arini yang kembali menjadi


sosok ceria seperti anak kecil itu.


Kruek kruek kruek. Terdengar suara perut Arini membuat momen

__ADS_1


Vico ingin mencium bibir ranum milik istrinya itu pupus.


__ADS_2