
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat bagi pasangan
kekasih yang sudah halal itu bercanda tawa burung besi yang mereka naiki sudah
sampai di bandara di Pulai Dewata.
Terlihat senyum tipis dari sekretaris Kim lega akhirnya
drama romantis yang dia nikmati secara nyata di pesawat telah berakhir.
Semua pengawal yang sebelumnya diterbangkan dahulu terlihat
berjajar untuk menyambut Tuan dan Nyonya Angkasa Grup tersebut di luar pesawat
yang telah berhenti.
Arini menarik lengan Vico agar menyejajarkan ketinggian
mereka lalu berbisik
“ Vic, kenapa yang mengawal banyak sekali ?” Arini yang
keheranan dengan apa yang di lihat lebih dari yang dia rasakan saat mereka
berbulan madu di Paris dan Belanda.
“ Untuk keselamatan Arini.” Jawab Vico sambil tersenyum dan
memandang istrinya dan mengusap halus rambut Arini yang halus.
Arini hanya membentuk mulut kecilnya menyerupai huruf O
tanda dia mengerti apa yang Vico maksud.
“ Kim kita hari ini ke mana dulu ?” Vico bertanya pada sang
pengatur jadwal yang selalu menjadi pendampingnya di berbagai kesempatan itu.
“ Hari ini kita akan ke Ubud dulu tuan, hari kedua ke Kuta,
ketiga akan ke Nusa Dua. Ke empat akan ke daerah Pegunungan di Karang Asem
Tuan.” Jawab sekretaris Kim setelah mendekati Tuannya yang sedang berjalan
berdampingan dengan istri tercintanya itu.
“ Oke.” Jawab Vico mengerti semua yang sudah di atur
sekretaris Kim yang entah kenapa walaupun belum pernah memiliki kekasih tetapi
selalu berhasil menyiapkan berbagai tempat romantis untuk Vico saat memintanya
mengatur keinginan Vico.
Terlihat mobil sedan Hitam keluaran merek berlambang segitiga
menunggu di terminal kedatangan dengan seorang sopir berjas hitam dengan sopan
mempersilahkan Arini, Vico dan sekretaris Han masuk.
Semua pengawal mengikuti di beberapa mobil berada di depan
dan belakang mobil yang membawa Vico dan Arini.
Tak beberapa lama mereka sudah sampai di daerah Ubud daerah
wisata yang lebih mengedepankan pemandangan alam pedesaan dan sawah-sawah yang
tertata indah.
Siang itu mereka sampai di Hotel yang sangat megah untuk
keduanya bermalam, terlihat semua barang-barang sudah di bawakan ke dalam kamar
Arini dan Vico.
Hotel tersebut khusus di sewa sekretaris Kim selama sehari
semalam untuk semua pengawal dan demi kenyamanan Tuan mudanya sehingga tidak
terlihat penghuni lain selain rombongan Vico.
Kamar Hotel Arini dan Vico terlihat sangan indah dengan
semua perabotan berwarna cream dan putih dengan ranjang besar dan balkon yang
menghadap langsung pada sawah yang terlihat padinya mulai menguning dan
beberapa bukit membuat semua penghuninya merasa nyaman dan tenang setelah
kepenatan daerah ibu kota yang berisik.
__ADS_1
Suara air yang bergericik terdengar dari luar karena adanya
irigasi alami untuk semua tanaman yang sedang Pak Tani tanam tersebut.
“ Apakah kamu menyukainya ?” Tanya Vico mendekati Arini yang
terlihat menikmati pemandangan tanaman padi yang akan menguning dan beberapa
bukit hijau serta tanaman kelapa yang melambai-lambai terkena sepoi angin dari
balkon kamarnya.
“ Tentu saja, Apakah kamu yang menyiapkan semua ini ?” Tanya
Arini terlihat mengalihkan pandangannya ke arah laki-laki bertubuh tegap tinggi
di sampingnya yang juga melihat pemandangan dari balkon itu.
“ Tentu saja, dengan bantuan sekretaris Kim.” Jawab Vico
kemudian mendekati Arini dan menarik tubuh Arini hingga sekarang mereka saling
berhadap-hadapan kedua mata kecoklatan yang mereka dapat dari darah blasteran
kedua orang tuanya terlihat saling bertatapan dalam.
Tanpa sadar Vico mulai mendekatkan bibirnya pada bibir Arini
terjadilah penyaluran semua hasrat dari sebuah ciuman dalam keduanya seakan
semua kata tidak dapat menggambarkan kasih sayang antar kedua insan manusia
yang saling mencintai itu.
“Huh.” Nafas terbuang kasar dari Arini mencoba mengendalikan
paru-parunya agar bisa berfungsi normal setelah adegan berciuman dengan Vico
tersebut.
Terlihat Vico tersenyum memandangi istrinya yang belum
berpengalaman akan aktivitasnya yang satu itu.
Vico kembali mendekat dan memeluk tubuh Arini yang terlihat
ramping karena kegiatan olahraganya setiap pagi itu.
Ajak Arini setelah menjauhkan tubuhnya dari pelukan Vico sambil memandang wajah
Vico terlihat bagai kucing yang sedang memohon menurut Vico.
“ Hah baiklah.” Jawab Vico yang sebenarnya tidak rela dengan
ajakan Arini tetapi karena ingin menyenangkan istri tercintanya itu dia mencoba
mengikutinya.
Agenda Vico sebenarnya dengan adanya acara pergi ke Bali ini
dia bisa menghabiskan semua waktunya berdua di dalam kamar saja dengan Arini
karena ingin mendapatkan kabar kehamilan dari Arini secepatnya agar bisa
membuat mamahnya tidak lagi mengganggu hubungannya dengan Arini.
Arini terlihat berjalan masuk dan pergi ke kamar mandi untuk
berganti pakaian yang lebih santai untuk berjalan-jalan.
“ Vic kamu tidak berganti pakaian ?” Tanya Arini yang
terlihat masih menggunakan pakaian yang sama saat mereka berangkat.
“ Kamu pakai baju ini saja .” Arini memberikan baju yang
sudah dia siapkan celana jeans pendek warna putih dan kaos warna biru senada
dengan mini dress yang sedang dia kenakan.
Terlihat juga mereka menggunakan topi berwarna putih dengan
desain yang sama membuatnya bagaikan pasangan muda yang seperti ada di drama
Korea yang menjadi kegemaran para muda mudi masa kini.
Sekretaris Kim yang selalu siap menemani ke mana pun pergi
terlihat masih saja kaku menggunakan baju pakaian forman berwarna hitam.
“ Vico bisakah semua orang yang mengikuti kita berpakaian
__ADS_1
santai termasuk sekretaris Kim ?” Bisik Arini pada Vico karena merasa tidak
nyaman jika diikuti dengan semua orang berjas hitam itu.
“ Kim suruh semua pengawal memakan pakaian santai, termasuk
kamu juga.” Perintah Vico pada sekretaris Kim tanda setuju dengan permintaan
wanita cantik di sampingnya itu.
Walaupun terlihat perubahan ekspresi tipis dari sekretaris
Kim yang tidak pernah terlihat berpakaian santai di berbagai kondisi saat
bersama Vico hanya bisa pasrah menerima perintah itu.
“ Baik Tuan.” Sekretaris Kim lalu berlalu meninggalkan Arini
dan Vico di depan kamar mereka lalu menyuruh semua pengawal berganti pakaian
termasuk dirinya.
Semua sudah berganti pakaian santai termasuk sekretaris Kim.
Sekretaris Kim memang selalu berjaga-jaga dengan nona mudanya yang sedikit unik
itu. Dia terlihat menggunakan celana jeans Hitam dengan kemeja pantai warna
merah bergambar pantai dan topi seperti seorang pemimpin mafia di film Luar
karena tubuh kekar besar dan tinggi yang dia miliki.
Kenapa sekretaris Kim terlihat bagai bos mafia saja ya
jika berpakaian seperti ini tambah terlihat mengerikan di banding biasanya. Batin
Arini melihat sekretaris Kim sambil mengernyitkan dahinya.
“ Ayo tuan putri kita pergi.” Ajak Vico sambil mengulurkan
lengan kirinya agar digenggam Arini.
Keduanya pun lalu pergi menuju ke kebun binatang untuk
berjalan-jalan. Arini sangat menikmati kebersamaannya dengan Vico tersebut
beberapa kali dia meminta sekretaris Kim memotret keduanya di berbagai momen
dengan berbagai satwa yang ada di Kebun Binatang tersebut.
Senyum cerah dan tawa renyah keduanya keluarkan tanpa ada
beban momen yang jarang sekali keduanya lakukan selama ini. Bahkan sekretaris
Kim yang biasanya terlihat datar juga mendapat berbagai permintaan jail dari
Arini.
Dia harus berpose lucu sambil seekor kera menggelayutinya
dan berbagai momen aneh menurut sekretaris Kim yang belum pernah dia alami
selama ini.
Entahlah semua yang ketiganya nikmati di dalam kebun
binatang terasa sangat indah dan menyenangkan karena aksi jail yang Arini
keluarkan itu. Membuat kenangan tak terlupakan bahkan para pengawal juga tidak
luput dari aksi jailnya.
“ Wah sangat menyenangkan di umur ini aku masih bisa sangat
bersenang-senang seperti ini.” Ucap Arini kala dia duduk di dekat pintu keluar
kebun binatang dengan peluh di dahinya.
Vico yang duduk di sampingnya menghapus titik keringat pada
Arini lembut begitu pula Arini pada Vico.
“Apakah sangat menyenangkan ?” Tanya Vico sambil tersenyum
tipis.
“ Iya, sangat menyenangkan.”Jawab Arini yang kembali menjadi
sosok ceria seperti anak kecil itu.
Kruek kruek kruek. Terdengar suara perut Arini membuat momen
__ADS_1
Vico ingin mencium bibir ranum milik istrinya itu pupus.