
Rama mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi begitu ia menerima telepon dari Adam yang mengatakan kalau Tiffani melarikan diri dari rumah sakit setelah bertengkar dengan Richard. Rama bahkan menerobos lampu merah beberapa kali, agar dapat segera menemukan Tiffani. Sebelumnya Rama telah mencoba berulang kali untuk menghubungi Tiffani dan juga Mona, tetapi kedua gadis itu tidak ada yang menerima panggilan darinya.
Tiiiit!
Tiiiit!
Rama menekan klakson saat sebuah mobil berhenti tepat di depannya, menghalangi jalannya dan membuat ia kehabisan waktu.
"Cepatlah!" seru Rama.
Rama memang gelisah sekali. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa Tiffani bertengkar dengan ayahnya yang baru saja sadar dari koma. Ia penasaran, masalah apa yang membuat ayah dan anak yang begitu dekat sampai harus bertengkar, apalagi saat kondisi kesehatan Richard masih belum pulih benar.
Rama terus berkendara membelah ramainya jalanan kota yang padat akan kendaraan bermotor. Ia memutuskan untuk mengunjungi tempat-tempat yang biasanya Tiffani kunjungi saat gadis itu sedang sedih.
Tempat yang pertama Rama kunjungi adalah pemakaman, ia memutuskan untuk datang ke sana karena ia mengira bahwa ke sanalah Tiffani pergi untuk meluapkan kekesalannya, tetapi saat tiba di pemakaman, Rama tidak menemukan keberadaan Tiffani di sana.
"Tidak ada. Ck, ke mana dia," gumam Rama, sembari kembali mencoba menghubungi ponsel Tiffani, tetapi lagi-lagi Tiffani tidak menjawab panggilannya.
Rama kemudian memilih untuk menelepon Mona, dan beruntung kali ini Mona menerima panggilannya.
"Kenapa baru angkat teleponku, Mon?" bentak Rama, saat suara serak Mona menyapanya dari seberang panggilan.
"Berhentilah membentakku, Rama, aku sedang sibuk sekarang!" ucap Mona.
Suara Mona memang terdengar terengah-engah, seolah gadis itu sedang berlarian mengelilingi dunia.
"Kamu sedang ada di mana? Dan di mana Tiffani?'" tanya Rama.
"Aku masih di rumah sakit sekarang. Aku tidak tahu di mana Tiffani. Justru aku sedang mencarinya sekarang. Dia pergi begitu saja dari ruangan Om Richard."
"Bagaimana bisa kamu kehilangan dia, Mon? Seharusnya kamu terus membuntutinya ke mana pun dia pergi." Rama mengeluh.
"Kamu sendiri kenapa sampai bisa tertinggal di rumah saat aku dan Tiffani pergi ke rumah sakit, hah? Jangan terus menyalahkanku, kalau kamu sendiri saja masih bisa kehilangan langkah Tiffani. Kamu kan tahu kalau Tiffani berbakat sekali dalam bidang hilang-menghilang," omel Mona, yang merasa begitu kesal pada Rama.
Rama hanya menghela napas, ia tidak lagi mendebat Mona yang memang jika dipikirkan lagi, semua ucapan Mona sangatlah benar. Tiffani lihai sekali menghilangkan diri. Ia saja sudah berulang kali kehilangan Tiffani, padahal Tiffani adalah tanggung jawabnya juga, selain tanggung jawab Mona.
"Baiklah, aku minta maaf. Kalau begitu segera hubungi aku saat kamu telah menemukan Tiffani, dan aku juga akan menghubungimu saat aku bertemu dengan Tiffani," ujar Rama, lalu segera memutus panggilan telepon.
__ADS_1
Rama masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan,
"Selanjutnya adalah pantai," gumam Rama. "Semoga kamu ada di sana, Tiffani. Plis, jangan menghilang begini."
***
"Dasar Babi betina penggoda. Pantat besar, gatalan, sialan, dan tidak tahu diri, tidak tahu malu!! Untuk apa kamu datang lagi, hah?! Lihat saja, kalau sampai kamu datang dan tinggal di rumahku, aku pasti akan menjambak rambutmu hingga semua rambutmu itu terlepas dari kulit kepalamu!"
Tiffani menghela napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia melakukannya berulang kali sembari mengumpat, memaki Gracella yang bahkan batang hidung Gracella belum terlihat olehnya. Terkahir kali Tiffani melihat Gracella beberapa tahun lalu, saat mereka masih sama-sama duduk di kelas tiga SMA.
Tiffani menggeleng, berusaha mengenyahkan mimpi buruk tentang masa lalu yang pernah hinggap di dalam kehidupannya.
Gracella Rea Raendra, adalah putri satu-satunya yang dimiliki Rio Raendra, adik dari Richard Raendra, yang berarti Gracella adalah sepupu sekali Tiffani.
Gracella memiliki wajah yang sangat cantik, wajahnya yang blasteran bahkan bisa dikatakan lebih cantik daripada Tiffani, hingga mudah sekali bagi Gracella untuk membuat siapa pun terpikat padanya, termasuk Rayan, cinta pertama Tiffani, kekasih pertama Tiffani, laki-laki tertampan yang pernah Tiffani lihat saat itu.
Tiffani masih ingat, saat ia tidak sengaja melihat Rayan dan Gracella berciuman di dalam kamar Tiffani ketika mereka sedang mengerjakan tugas kelompok untuk tugas akhir semester, dan bukan hanya itu, di saat yang sama Tiffani pun tidak sengaja mendengar percakapan antara Gracella dan Rayan tentang sesuatu yang membuat Tiffani seketika merasa jijik pada mereka berdua.
Tiffani sama sekali tidak menyangka jika Rayan, yang selama ini mengaku sangat cinta dan sayang padanya, ternyata malah menduakannya. Rayan berselingkuh dengan Gracella, sepupu Tiffani sendiri, dan saat itu Gracella sedang mengandung anak Rayan.
Setelah dikhianati habis-habisan oleh sepupunya sendiri, tentu saja Tiffani merasa sangat keberatan ketika mengetahui bahwa Gracella akan datang dan tinggal satu atap dengannya. Ia pun tidak mengerti kenapa ayahnya bisa meminta Gracella datang dan tinggal dengan mereka.
"Lebih baik aku memiliki sepupu seorang troll, keong, bekicot, atau cacing daripada harus memiliki sepupu seperti dia!" Tiffani kembali mengomel, Setelah puas mengomel, Tiffani melanjutkan teriakan-teriakan kasarnya untuk mencaci Gracella.
"Bang-sat, ja-lang gatal. Dasar monster. Dasar alien mengerikan!" teriak Tiffani.
"Seorang gadis berteriak-teriak sambil mencaci maki udara di tempat sangatlah tidak baik."
Tiffani terperanjat. Ia sangat terkejut ketika mendengar suara seseorang tepat di belakangnya.
"Kamu! Sedang apa kamu di sini?!" tanya Tiffani pada Rama yang berdiri di belakangnya sambil menatap laut.
Tiffani memang sedang berada di tepi pantai saat ini. Pantai favoritnya, sekaligus pantai yang paling sering ia jadikan sebagai tempat untuk melarikan diri. Tidak heran jika Rama dapat menebak di mana keberadaannya, karena bukan kali ini saja ia menjadikan pantai tersebut tempat untuk melarikan diri.
"Aku mencarimu, memangnya apalagi yang kulakukan di sini jika bukan sedang mencarimu. Aku tidak datang untuk bermain ombak, karena aku tidak begitu menyukai pantai."
Tiffani mendengkus kesal, kemudian kembali berbalik memunggungi Rama. Ia tidak peduli pada kehadiran Rama yang sangat mengganggu dan semakin merusak mood-nya.
__ADS_1
"Pergilah, dan jangan ganggu aku," ujar Tiffani, tanpa menatap Rama sama sekali. Ia lalu berdeham dan kembali berteriak, "Dasar gatal! Alien! Babi--"
"Cukup, Tiffani. Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu memaki udara? Ayo kembali ke rumah." Rama menghentikan teriakan Tiffani.
Tiffani menyentak telapak tangan Rama yang sekarang melingkar di pergelangan tangannya. "Ck, jangan berani-berani menyentuhku. Aku bukannya sedang memaki udara, aku sedang memaki seseorang yang tidak kasat mata," ujarnya, lalu mendorong Rama dengan keras.
Rama mengatur napas, dan meletakkan kedua tangannya di pinggang. Ia kualahan menghadapi Tiffani yang begitu kasar dan keras kepala.
"Kamu akan ikut pulang dengan sukarela, atau ingin kupaksa? Kalau kamu tetap tidak ingin ikut, jangan salahkan aku jika aku menyeretmu pulang dengan caraku."
Tiffani tidak menjawab. Ia hanya melempar tatapan kesal ke Rama, lalu segera melangkah menyusuri bibir pantai sambil mengomel, "Dasar bodyguard rendahan. Bisa-bisanya dia mengancamku."
Rama hanya menggeleng mendengar omelan Tiffani yang masih menolak untuk bekerja sama.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menggunakan caraku!" seru Rama, lalu ia segera mendekat ke Tiffani dan langsung menggendong Tiffani.
Tiffani sangat terkejut akan tindakan yang Rama lakukan. Ia berontak, berusaha untuk melepaskan diri dari Rama, karena jika terus berada di dalam dekapan Rama, ia takut jika ia akan luluh, dan perasaan sayang yang sejak semalam telah berusaha ia singkirkan dengan susah payah akan kembali menggerogoti dadanya dengan begitu mudah.
"Lepas! Lepaskan aku! Jangan kurang ajar begini! Dasar tidak sopan!" teriak Tiffani, sambil menggerak-gerakkan kakinya.
Akan tetapi, Rama tidak menghiraukan protes dan sumpah serapah yang keluar dari bibir Tiffani, Ia terus saja menggendong Tiffani hingga tiba di mobil.
Setibanya di samping mobil, Rama membuka pintu mobil dan memasukan Tiffani ke dalam mobil dengan begitu kasar, seperti seseorang nyang sedang menjejalkan barang bawaannya ke dalam mobil.
"Aw! Pelan-pelan. Aku ini manusia." Tiffani mengomel, saat ia telah duduk di kursi bagian belakang mobil sambil mengusap puncak kepalanya yang berdenyut karena menghantam bagian atas pintu mobil. "Kenapa kamu ini kasar sekali. Aku bisa saja meminta ayahku untuk memecatmu kalau aku mau, untung saja aku tidak meminta demikian, kalau sampai aku meminta hal demikian, bisa-bisa kamu akan menjadi tunawisma dan kemudian--"
"Diamlah, Tiffani! Apa mulutmu itu tidak lelah sejak tadi terus mengoceh? Aku saja yang mendengar rasanya sakit kepala." Rama lagi-lagi memotong ucapan Tiffani.
Tiffani mendengkus kesal. "Tentu aku tidak capek, kalau aku capek mana mungkin aku terus bicara. Kalau kamu tidak suka, yang jangan didengarkan. Kamu kan bisa--"
"Sudah aku bilang diam, Tiffani, diam. Kalau kamu tidak diam, maka aku yang akan membuat mulutmu itu diam."
Tiffani menendang bagian belakang kursi mobil yang tengah Rama duduki. "Jangan banyak bicara, memangnya dengan cara apa kamu akan membuat mulutku diam, hah?"
Rama memiringkan tubuhnya, dan menatap Tiffani yang duduk di kursi belakang. "Dengan cara menciummu! Jadi, lebih baik kamu duduk diam, jika tidak ingin kucium."
Bersambung.
__ADS_1