
Sikap Brian yang berubah drastis membuat Rossa kebingungan. Ini adalah pertama kalinya Rossa melihat anak laki-lakinya menolak permintaan sang papa.
"Ma, kali ini saja. Aku mohon," pinta Brian. Ia memandang Rossa dengan tatapan lembut. Meskipun Brian memiliki keinginan yang kuat, ia berusaha keras agar tidak menyakiti perasaan kedua orang tuanya. Hanya saja, mereka tampaknya tidak bisa memahami keinginan sang putra.
"Kau ingin menikahi wanita bernama Valerie itu?" tanya Rossa. Brian mengangguk.
"Wanita seperti apa dia? Tidak jelas asal usulnya. Kami tidak akan pernah membiarkanmu menikahi wanita yang tidak setara dengan keluarga kita!" sela Calvin. "Kau dan Elena tetap akan menikah!" Ia sudah cukup sabar menghadapi penolakan Brian.
"Itukah yang kalian inginkan?" tanya Brian sambil menatap Calvin dan Rossa secara bergantian. Dengan mata berkaca-kaca, Rossa mengangguk pelan.
"Jika benar, maka maafkan aku, Ma, Pa. Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan. Silahkan Papa datang ke kantor dan mengurus segalanya sendiri. Aku pamit," ucap Brian sambil berjalan meninggalkan kedua orang tuanya.
Mendengar hal itu Calvin melotot. Napasnya naik turun, laki-laki paruh baya itu memegang dadanya yang terasa nyeri. Tensi darahnya naik seketika.
Sementara Rossa, ia tidak bisa mencegah kepergian Brian saat melihat keadaan suaminya yang mengkhawatirkan.
__ADS_1
Rossa hanya bisa menangis, menatap kepergian anaknya sambil berusaha menenangkan suaminya.
"Anak kurang ajar!" hardik Calvin di tengah-tengah napas yang tersengal.
"Sudahlah, Pa. Sudah," ucap Rossa lirih. Ia mengusap lengan suaminya berharap Calvin segera tenang agar bisa bernapas dengan baik.
...****************...
Brian meninggalkan kediaman orang tuanya, ia benar-benar tidak punya pilihan lain selain memberikan ancaman pada mereka. Sejujurnya, Brian tidak bermaksud membuat mereka kesulitan, hanya saja kini ia memiliki pilihan dan pemikiran yang tidak sejalan dengan kedua orang tuanya.
Namun kali ini Brian ingin memilih untuk memprioritaskan keinginannya. Ia benar-benar muak jika harus tunduk dan patuh secara terus menerus. Brian juga ingin merasakan kebahagiaan atas pilihannya.
Dari rumah orang tuanya, Brian kembali ke kantor. Perasaan gelisah membuatnya merasa tidak nyaman, terlebih ia harus melibatkan Valerie dalam masalah keluarganya.
Seumur hidupnya, ini adalah pertama kalinya Brian merasakan kebimbangan luar biasa. Ia ingin mempertahankan cintanya, namun merasa tidak kuasa menyakiti hati orang tuanya.
__ADS_1
Sesampainya di kantor, Brian langsung menuju kantin. Ini adalah jam makan siang, dan ia yakin Max dan Valerie tengah berada di sana.
Sesampainya di kantin, Valerie dan Max sudah menyelesaikan makan siang mereka. Max asik bercerita dengan mulut berisi sebuah permen lollipop sementara Valerie hanya duduk diam sebagai pendengar setia.
Brian berjalan cepat mendekati mereka.
"Bos!" seru Max saat melihat Brian mendekat di belakang Valerie. Mendengar kedatangan Brian, sontak Valerie berdiri dan berbalik.
Saat Brian dan Valerie sudah dekat, Brian lantas memeluk Valerie tanpa aba-aba, ia membenamkan wajah wanita itu di depan dadanya. Entah mengapa, Brian merasa hanya ini satu-satunya cara untuk menenangkan hatinya dan menguatkan niatnya. Karena Valerie adalah alasan ia berbuat sejauh ini.
Sebuah kejadian mengejutkan sekaligus tidak terduga membuat seluruh penghuni kantin membulatkan matanya lebar. Mereka menemukan sebuah pemandangan langka yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah.
Melihat Brian memeluk Valerie, Max melongo. Secara tidak sadar ia telah menjatuhkan lollipop dari mulutnya.
🖤🖤🖤
__ADS_1