
Di tempat lain, kabar tentang keributan yang ditimbulkan oleh Calvin sudah terdengar oleh Theo. Laki-laki tua itu sangat marah, ia sangat kecewa saat mengetahui bahwa Calvin merendahkan Valerie dengan sangat tidak sopan. Semua informasi itu Theo dapatkan dari sang sekretaris yang kebetulan berada di tempat kejadian saat hendak menemui Valerie untuk mengantar dokumen penting.
Theo juga telah mengetahui bahwa karena keributan tersebut Valerie di usir dari rumah kosnya.
Sore ini, Theo menghubungi Valerie dan meminta cucunya untuk bertemu. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Valerie dan ingin mengetahui dengan detail tentang masalah yang telah terjadi.
"Kau baik-baik saja, Cucuku?" tanya Theo.
"Tenanglah, Kakek. Aku baik-baik saja, semuanya baik-baik saja," jawab Valerie.
"Apa kau mencintai laki-laki itu?"
"Maksud Kakek, Brian?" Valerie balik bertanya, ia diam beberapa saat. "Sejujurnya, ya, aku mencintainya, Kek. Hanya saja, hubungan kami ...."
"Orang tuanya tidak setuju karena kau bukan wanita yang setara dengan keluarga mereka? Bisa-bisanya mereka bersikap sangat buruk padamu, andai saja mereka tahu," ujar Theo dengan nada lemah.
__ADS_1
"Kakek, ada keuntungan yang bisa aku dapatkan meski mereka tidak tahu tentangku. Dengan ketidaktahuan mereka, aku bisa mengetahui bahwa Brian benar-benar mencintaiku dengan tulus, dan kita juga bisa tahu seburuk apa mereka dalam hal menilai kedudukan seseorang," terang Valerie.
"Kau benar. Tapi Kakek tetap saja tidak terima karena mereka berlaku seperti itu padamu."
"Aku baik-baik saja, Kakek tahu aku tidak mudah terpengaruh dengan perkataan buruk orang lain."
"Lalu, bagaimana dengan Brian?"
"Dia rela menentang kedua orang tuanya, meninggalkan perusahaan bahkan menyerahkan kuasa penuhnya atas perusahaan kepada orang tuanya. Dia lebih memilihku daripada semua yang diberikan oleh orang tuanya," jelas Valerie.
"Kakek tidak bisa melarang kalian saling mencintai, Kakek hanya menyesalkan sikap orang tuanya," keluh Theo.
"Mereka memandang orang berdasarkan kedudukan dan kekayaannya. Mereka akan menerimaku jika mereka tahu bahwa akulah pewaris sesungguhnya. Hanya saja, mereka tidak akan pernah tulus," ujar Valerie.
Saat keduanya sedang berbincang, ponsel Valerie berdering nyaring. Nama Brian tertera dalam layar ponselnya. Mengetahui hal itu, Theo mengizinkan Valerie untuk berbicara dengan laki-laki itu demi menjaga perasaan cucunya.
__ADS_1
Hanya berselang lima menit, Valerie mengakhiri panggilan dari Brian dan kembali duduk bersama Theo. Ia menyampaikan apa yang baru saja Brian katakan padanya.
"Brian mengajakku datang ke pesta perayaan hari jadi perusahaan kita, Kek. Dia memohon agar aku ikut bersamanya," ucap Valerie.
"Dalam perayaan itu, Pamanmu juga telah merencanakan pesta pertunangan untuk Elena. Mereka akan membuat Brian setuju karena saat itu akan ada banyak sekali rekan bisnis serta awak media yang meliput pesta kita. Mereka akan menekan Brian demi kehormatan keluarga," terang Theo.
"Lalu, apa yang akan aku lakukan?"
"Datanglah bersama Brian, Kakek tahu laki-laki itu punya rencana lain dengan membawamu ke pesta kita. Kakek akan turut membantu kalian dan kita akan menyelesaikan segalanya hari itu juga."
"Apa Kakek merestui hubungan kami?" tanya Valerie. Ia khawatir Theo tidak memberi restu setelah mengetahui sifat orang tua Brian yang sesungguhnya.
"Kakek menginginkan kebahagiaanmu, Cucuku. Bagaimana bisa Kakek menolak calon menantu sebaik Brian?"
Kebahagiaan Valerie adalah yang utama. Terlepas bagaimana sikap buruk orang tua Brian, Theo tidak ingin menghancurkan perasaan cucunya dengan menjadi tembok pemisah di antara sepasang kekasih yang tengah di mabuk cinta.
__ADS_1
🖤🖤🖤