
Wajah Tiffani terlihat pucat sekarang, dan Rama menyadari perubahan yang terjadi pada istrinya itu. Ia menyentuh wajah Tiffani dan merasakan keringat dingin membanjiri wajah Tiffani.
"Aku rasa dia tidak enak badan," ujar Rama pada Gracella dan Xavier, lalu melanjutkan. "Ara, tinggal lah di sini untuk beberapa saat, aku akan mengantarmu menemui pengusaha itu setelah keadaan istriku membaik," ujar Rama.
Ara mengangguk. "Baik, maafkan aku karena aku sangat merepotkan. Maafkan aku, Nyonya," ucap Ara, sambil membungkuk ke Tiffani.
Tiffani tidak mengatakan apa pun. Ia terlalu terpukul dan merasa bersalah pada Ara dan juga orang-orang lainnya yang tinggal di lahan yang telah dibelinya. Jangankan untuk bicara pada Ara, menatap Ara saja ia tidak mampu.
Rama kemudian segera bangkit berdiri dan memeluk pinggang Tiffani, di depan Ara yang merupakan tamunya pun Rama tidak ragu untuk menggendong Tiffani untuk keluar dari dalam ruang keluarga.
"Astaga, manis sekali," gumam Ara yang melihat bagaimana perlakuan Rama ke sang istri.
Sepeninggalan Rama dan Tiffani, Ara kembali menatap Xavier dan Gracella yang masih duduk di hadapannya.
"Apa kalian mengenal pengusaha yang aku maksud?" tanya Ara.
Xavier menggeleng, tetapi Gracella diam saja.
"Jujur saja sebenarnya aku pun tidak tahu, tapi aku akan mencari tahu dan segera mengantarmu ke sana. Sekarang istirahatlah dulu, biar aku meminta beberapa anak buahku untuk mencari tahu tentang pengusaha yang kamu maksud," ujar Xavier pada Ara, kemudian ia menatap Gracella sambil berujar. "Aku pergi dulu, Sayang. Bisa kamu bantu untuk memanggilkan pelayan dan menunjukan kamar tamu padanya?"
Gracella mengangguk. "Ya, pergilah, tapi kembalilah ke kamar sepuluh menit lagi, Vier, aku ingin bicara," ujar Gracella.
Xavier mengecup singkat bibir Gracella. ”Baik, Cantik, aku akan segera kembali," ujar Xavier, dan segera berlalu dari hadapan Gracella dan Ara.
Setelah Xavier tidak lagi ada di hadapannya, Ara kembali berujar. ”Anda beruntung sekali karena dicintai dengan sangat tulus. Tuan yang tadi bahkan tidak malu mencium Anda di depanku."
Gracella tersenyum. "Dia memang seperti itu. Dia tidak ragu untuk menciumku di mana pun dan kapan pun. Terkadang malah aku yang malu."
"Anda sangat cantik. Wajar jika suami Anda bersikap demikian," ujar Ara yang bicara secara blak-blakan. Jujur saya ia iri pada Tiffani dan Gracella yang memiliki suami tampan juga baik.
Gracella kembali tertawa. "Sekarang ayo aku antar ke kamar tamu, kamu bisa istirahat sejenak sebelum Rama dan Xavier kembali."
Ara tersenyum dan segera bangkit berdiri, lalu mengekor langkah Gracella menyusuri lorong yang membawanya menuju ruangan lain di sisi kanan bangunan megah tersebut hingga akhirnya mereka berdua tiba di sebuah aula berbentuk bulat, dan di setiap sisi aula tersebut terdapat pintu yang merupakan kamar-kamar tamu.
Gracella membuka salah satu pintu dan segera mempersilakan Ara untuk masuk.
"Nah, masuk dan istirahatlah, aku akan meminta pelayan untuk membawakanmu kudapan dan juga jus," ujar Gracella.
Ara megibas tangan dengan cepat sambil melangkah memasuki kamar. "Jangan repot-repot. Aku sama sekali tidak lapar, aku hanya--"
"Sudahlah, jangan menolak. Istirahat saja, oke, aku pergi dulu," ucap Gracella, kemudian menutup pintu kamar dan ia setengah berlari melintasi lorong untuk menghampiri salah satu kamar yang ada di lantai dasar, kamar yang letaknya paling dekat dengan ruang kerja dan juga paling dekat dengan kamar mendiang Richard Raendra. Kamar itu adalah kamar Damar.
"Om! Om Damar! Om Damar!" Gracella menggedor pintu kamar Damar sambil berteriak memanggil pria tua itu agar keluar dari kamar, tetapi nihil. Damar tidak ada di rumah saat ini.
__ADS_1
Gracella berhenti mengetuk dan ia menendang pintu kamar di depannya dengan gemas. "Sialan!" serunya.
Apa yang Gracella lakukan itu tertangkap oleh Rama yang kebetulan juga ada di lorong yang sama dengan Gracella.
"Apa yang kamu lakukan, Grace?" tanya Rama.
Gracella terkejut, ia mengelus dadanya dan segera menghampiri Rama. "Bagaimana keadaan Tiffani?" Gracella balik menanyai Rama, dan tidak mengindahkan pertanyaan Rama sebelumnya..
"Dia baik. Aku baru saja menelepon dokter, aku rasa sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa Tiffani."
Gracella menghela napas lega sambil mengusap wajah. "Dia syok. Aku yakin itu."
Rama mengernyitkan dahi. "Syok? Kenapa dia harus syok? Beberapa saat yang lalu dia masih baik-baik saja. Dia bahkan masih bisa tertawa saat menyambut kedatangan Ara."
Gracella menjentikkan jemarinya di hadapan Rama. "Ara adalah penyebabnya. Awalnya memang tidak, tetapi sesuatu yang keluar dari bibir Ara membuat Tiffani terkejut dan terluka."
Rama menggeleng. "Aku sama sekali tidak mengerti, Grace."
"Tidak perlu mengerti sekarang. Ayo, kita harus bicarakan ini semua."
"Kita maksudmu aku dan kamu?"
"Tidak. Bukan hanya aku dan kamu, tapi Xavier juga dan terutama Tiffani." Gracella berujar dengan tidak sabar.
Gracella mengangguk setuju dan segera mengekor langkah Rama menuju lantai dua.
***
Di dalam kamar, Tiffani tidak dapat beristirahat seperti saran Rama. Ia terus saja merasa gelisah hingga rasanya hampir gila. Ia masih ingat apa yang Damar katakan saat pertama kali Damar memutuskan untuk membangun hotel di Distrik EL 33.
"Kamu harus memperluas jaringan bisnismu, Tiffani. Selama ini ayahmu menguasai segala bidang yang bergerak di bagian properti, dan salah satu keinginannya adalah membangun hotel di pedesaan yang terdapat banyak tempat wisata. Kebetulan sekali aku menemukan tempat yang cocok. Sebuah lahan kosong yang berada di sekitaran pantai."
Itulah ucapan Damar saat membujuk Tiffani untuk membangun sebuah hotel, dan saat itu juga Tiffani langsung menyetujui usulan Damar. Damar tahu betul bahwa Tiffani tidak akan menolak jika Damar menyeret nama Richard. Richard adalah kelemahan Tiffani.
Tok, tok, tok.
Ingatan Tiffani tentang ucapan Damar seketika buyar saat suara ketukan di pintu terdengar menembus gendang telinganya.
Tiffani mengalihkan pandangan dari langit-langit kamar yang sejak tadi ia pandangi menuju pintu yang perlahan terbuka.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang," tanya Rama, begitu ia telah memasuki kamar.
Tiffani tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya. "Aku baik-baik saja, apalagi kalau dipeluk," ujar Tiffani dengan manja, lalu menambahkan, "Sambil dicium."
__ADS_1
Rama tersenyum mendengar jawaban Tiffani.
"Ehem, ehem, ada orang ketiga di sini. Tolong jaga sikap." Gracella berdeham, memberitahukan keberadaannya pada Tiffani yang sepertinya tidak melihat dirinya.
Tiffani buru-buru bangkit dari posisi berbaringnya dan memiringkan tubuhnya sedikit agar dapat memandang Gracella.
"Grace," ujar Tiffani, nada suaranya terdengar begitu cemas, jauh berbeda saat ia sedang berbicara dengan Rama.
Gracella mempercepat langkahnya dan langsung duduk di tepi ranjang Tiffani.
"Bagaimana ini, Grace, bagaimana?" lirih Tiffani.
Gracella memeluk Tiffani dan mengusap punggung Tiffani. "Jangan panik, Fan, kita pasti bisa selesaikan semua ini."
Rama menatap kedua wanita di hadapannya dengan tatapan bingung. Ia yakin jika ada sesuatu yang Tiffani dan Gracella sembunyikan darinya, jika tidak mana mungkin ia tidak tahu menahu tentang masalah yang sekarang membuat Tiffani menjadi sangat cemas.
"Ada apa sebenarnya ini?" tanya Rama.
Akan tetapi, baik Gracella dan Tiffani tidak ada yang menjawab pertanyaan Rama. Keduanya masih saling berpelukan.
"Tidak ada yang mau menjelaskan padaku?" tanya Rama lagi.
Gracella melepas pelukannya dari tubuh Tiffani. "Kita tunggu sampai Xavier datang. Aku sudah mengirim pesan padanya kalau aku ada di sini sekarang." Gracella menjawab pertanyaan Rama.
Rama mengangguk. "Baiklah, kalau begitu tunggu di sini, aku akan ambilkan kalian berdua jus," ucap Rama, lalu melangkah menuju lemari pendingin yang ada di sudut ruangan, dan segera meraih dua botol jus instan yang ada di dalam lemari pendingin.
Tidak lama kemudian suara ketukan kembali terdengar di pintu kamar Tiffani, lalu daun pintu berayun membuka dan Xavier muncul dengan langkah tergesa.
"Aku datang," ujar Xavier
"Ya, aku sudah lihat." Rama berujar sambil melambai, meminta Xavier agar melangkah lebih cepat menghampiri mereka yang duduk mengelilingi Ranjang.
Xavier setengah berlari, dan ketika ia tiba di depan ranjang Tiffani, ia malah mengeluarkan komentar yang membuat Tiffani dan Gracella melemparnya dengan bantal.
"Kita akan bercinta masal di sini?" ujar Xavier dengan santainya. Kedua matanya yang gelap berkilat nakal saat mengatakan itu.
"Sekali lagi mengatakan hal seperti itu, aku akan membuat pe-nismu menghilang dari tempatnya," ujar Gracella, sambil memelototi sang suami.
Xavier nyengir. "Aku hanya bercanda. Sekarang cepat katakan ada apa?" tanya Xavier penasaran.
Gracella menarik napas dalam-dalam, kemudian ia menatap Rama dan Xavier lekat-lekat. "Pengusaha yang Ara cari ada di sini. pengusaha yang akan membangun perhotelan di Distrik EL 33 adalah Tiffani."
Bersambung ....
__ADS_1