
Rama dan Adam duduk di sebuah kursi sambil menyilangkan kaki dan melipat tangan di depan dada. Sudah sejak satu jam yang lalu Rama dan Adam berada dalam posisi seperti itu. Keduanya sibuk memperhatikan Xavier yang mondar-mandir di tengah ruangan private room sebuah restoran Jepang terkenal sambil membawa setangkai bunga mawar merah di tangan.
"Menikahlah denganku, jadilah istriku ... hem, teman hidupku untuk selamanya. Terimalah ... maukah kamu menikah ... Argh, katakan padaku kalimat mana yang bagus, yang tepat, yang menyentuh untuk kukatakan!" Xavier memelototi Rama dan Adam. Ia terlihat kesal karena Rama dan Adam tidak membantunya sama sekali. Kedua temannya itu hanya memperhatikannya tanpa mengatakan apa pun, seolah dirinya adalah tontonan.
"Beri saran, atau aku akan menembak kalian berdua." Xavier mengeluarkan pistol dari balik saku jasnya dan mengarahkan pistol tersebut ke tempat duduk Rama dan Adam.
Rama dan Adam berdecak, lalu keduanya saling menatap.
"Lihatlah dia, begitukah cara yang baik untuk meminta bantuan?" tanya Adam pada Rama.
Rama menggeleng dengan ekspresi kesal yang terlihat dibuat-buat. "Seharusnya tidak begitu. Entah kenapa pria macho yang satu ini sangat tidak sopan."
"Karena dia sangat tidak sopan, bagaimana kalau kita pergi saja. Tidak ada gunanya juga berlama-lama di sini," ujar Adam lagi.
Rama menghela napas panjang, lalu ia berkata,"Ya, ayo kita pergi dari sini. aku tidak ingin mati sia-sia hanya karena seorang pria yang frustrasi yang tidak mampu melamar seorang wanita."
Adam pun mengangguk, dan segera bangkit berdiri, Rama melakukan hal yang sama. Keduanya kemudian melangkah dengan santai menuju pintu.
Melihat kedua temannya akan pergi, Xavier segera melempar pistolnya ke lantai dan menghampiri Rama juga Adam.
"Eits, mau ke mana kalian. Jangan marah, aku cuma bercanda. Ayolah, tolong bantu aku. Aku gugup sekali saat ini. Sebelumnya aku tidak pernah melamar seorang wanita, jadi wajar saja jika sekarang aku benar-benar merasa stres." Xavier menahan lengan Rama dan Adam. Wajahnya telihat memelas sekali.
Rama menatap Xavier, dan ia merasa kasihan melihat keadaan Xavier yang tidak berdaya. "Aku dan Adam juga hanya bercanda. Mana mungkin kami meninggalkanmu sendirian di sini. Aku takut kamu akan bunuh diri," ujar Rama. "Ayo, latihan lagi. Jangan payah begini. Bagaimana mungkin kamu yang brandalan seperti ini ternyata payah sekali dalam urusan cinta."
Xavier tertunduk lesu. "Aku tidak tahu kalau ternyata melamar seseorang akan sulit seperti ini. Jujur saja berkelahi lebih mudah untuk dilakukan daripada menghadapi seorang wanita."
Adam menepuk bahu Xavier dengan keras. "Tidak sulit, kamulah yang mempersulit dirimu sendiri. Lakukan saja seperti yang ingin kamu lakukan, dan katakan apa yang ingin kamu katakan, maka semuanya akan beres. Begitulah caraku melamar Mona. Aku hanya bilang, menikahlah denganku, aku ingin setiap malam dan pagiku dipenuhi oleh cintamu." Adam berujar sambil menaik-turunkan alisnya.
"Kamu melamar Mona!" seru Rama dan Xavier berbarengan. Keduanya terlihat begitu terkejut. Hubungan Mona dan Adam memang bukan rahasia lagi, hanya saja baik Rama maupun Xavier tidak menyangka jika ternyata Adam seserius itu dengan Mona.
Adam tertawa melihat ekspresi kedua temannya. "Tentu saja aku melamarnya, aku mencintainya. Pernikahan kami akan diadakan setelah pernikahan kalian berdua."
__ADS_1
Rama bertepuk tangan. Senyum lebar terlihat di wajahnya yang tampan. "Wah, selamat, aku dan Tiffani pasti akan hadir di acara bersejarahmu itu!" seru Rama, ia merasa senang karena Adam pun akhirnya akan mengakhiri masa lajang, sama seperti dirinya.
Xavier ikut memberi selamat, lalu kembali berlatih sebelum Gracella datang. Ia tidak ingin kalah dari Adam. Jika Adam saja semudah itu melamar Mona, tidak mungkin ia tidak bisa melakukan hal serupa pada Gracella.
Setelah satu jam waktu tambahan untuk berlatih, akhirnya tiba saat yang dinanti. Pintu private room bergeser membuka, dan tidak lama kemudian terlihat Tiffani memasuki ruangan. Tiffani yang terlihat begitu anggun mengenakan dress berwarna lilac tidak datang sendirian, ia bersama dengan Mona dan Gracella, yang juga terlihat sama anggunnya seperti Tiffani.
"Kalian menunggu sejak tadi, ya?" tanya Tiffani.
Rama mengangguk. "Sela tidak ikut?" tanyanya, sembari menghampiri Tiffani dan kemudian menuntun wanita itu untuk duduk di salah satu kursi yang telah disediakan.
"Tidak. aku sudah mengajaknya tadi, tapi dia bilang tidak ingin menjadi obat nyamuk." Tiffani menjawab pertanyaan Rama sambil tersenyum.
"Aku harap dia mendapatkan jodoh sesegera mungkin." Mona menimpali.
"Harapan terbesar Sela saat ini bukanlah pasangan, tapi ayahnya. Dia ingin sekali agar Burhan Lubis memperlakukannya seperti seorang ayah yang memperlakukan putrinya dengan baik," ujar Tiffani lagi. "Kasihan dia. Aku harap ayahnya bisa berubah dan bersikap baik sesuai keinginan Sela."
Rama meremas tangan Tiffani dengan lembut, lalu mendaratkan kecupan di sana agar Tiffani merasa sedikit lebih tenang. Semenjak mengandung, suasana hati Tiffani memang kerap berubah. Tidak jarang Tiffani merasa sedih akan hal-hal yang terjadi di sekitarnya.
Semua yang duduk mengelilingi meja makan mengangguk setuju, terutama Adam yang memang sudah kelaparan sejak tadi.
"Hem, sebelum makan ada yang ingin aku sampaikan." Xavier menyela acara makan siang mereka.
Begitu mendengar suara Xavier yang mengambil alih acara, kedua pipi Gracella tiba-tiba saja merona. Gracella terlihat tidak sabar untuk mendengarkan apa yang ingin Xavier katakan, walaupun sebenarnya ia sudah tahu apa yang akan Xavier katakan saat ini.
"Hem, begini ... sebenarnya aku ingin. Hem, aku ... hiduplah, maksudku bagaiman kalau aku ...." Xavier melirik Rama dan Adam, ia terlihat gugup.
"Astaga, dia bodoh sekali," gumam Adam, sembari mengusap dahinya.
"Shut, diamlah, jangan ganggu konsentrasinya."Mona menendang tulang kering Adam dengan keras.
Adam meringis. "Masalahnya, aku sudah kelaparan."
__ADS_1
Detik demi detik berlalu, berganti menit dengan cepat, tetapi Xavier belum juga berhasil mengatakan apa yang ingin ia katakan, Gracella saja sampai lelah menunggu dan mulai kehilangan rasa antusias.
"Biar aku saja kalau begitu. Biar aku yang lakukan," ucap Gracella, yang kemudian bangkit berdiri dan segera menghampiri Xavier. Setelah tiba di hadapan Xavier, tanpa tanggung-tanggung Gracella duduk di atas pangkuan pria itu, lalu ia berkata, "Menikahlah denganku. Aku ingin menjadi wanita pertama yang mendapatkan keperjakaanmu."
Wajah Xavier menegang, sementara itu seisi ruangan tertawa mendengar apa yang Gracella katakan. Mana ada orang yang menggunakan kalimat seperti itu saat melamar kekasih hati.
"Bukankah kamu bilang kalau kamu itu masih perjaka, dan kamu hanya akan menyerahkan keperjakaannmu pada istrimu. Maka, jadikanlah aku istrimu, Xavier. Jika kamu menerimaku, ciuman aku. Jika tidak, ciuman juga aku." Gracella kembali berujar.
Xavier menghela napas. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan, semua tindakan Gracella sungguh di luar dugaan. "Lamaran macam apa ini," gumamnya, tetapi detik berikutnya Xavier mendaratkan bibirnya di bibir Gracella. "Ya, aku terima."
Semua yang ada di ruangan bertepuk tangan. Tiffani dan Mona bahkan bersorak riang seperti sedang menonton pertandingan bola.
"Ini kelewatan sekali. Setelah kita melatihnya berjam-jam, justru Gracella yang melamarnya." Adam menggerutu pada Rama.
Rama tertawa. "Ya, dia memang payah sekali."
***
Dedaunan kering, hingga kelopak-kelopak dari bunga tabebuya yang banyak tubuh di halaman depan berayun ke sana-kemari terbawa angin. Gerakannya lembut juga indah, seperti seorang ballerina yang sedang menari di sebuah punggung pertunjukan.
Wuuush ... wuuush ... wuuush!
Angin mendaratkan mereka di atas kain-kain berwarna putih yang menutupi permukaan meja-meja panjang, dan meja-meja bundar yang berjejer di halaman depan. Beberapa bahkan terlihat mengambang di atas gelas-gelas berisi wine yang berwarna kemerahan.
Hening. Suasana hening sekali, padahal halaman depan terlihat begitu penuh dengan dekorasi. Sebuah punggung indah dengan lima buah kursi bersandaran tinggi terlihat kosong--seperti diabaikan begitu saja. Lalu, terdapat alat musik yang juga satu pun pemain musiknya tidak terlihat. Belum lagi ratusan kursi berlapis kain berwarna putih dan cream yang berjejer di halaman terlihat sama kosongnya seperti yang lain.
Dua jam yang lalu sesuatu telah terjadi, dan sesuatu itu membuat segala kemeriahan hari ini tidak berjalan seperti yang seharusnya.
Dua jam yang lalu ....
Bersambung.
__ADS_1