
Brian sedikit berjongkok, lalu menggendong tubuh Valerie dan menaikkannya di atas meja kerja wanita itu.
"Jangan, kita sedang di kantor," bisik Valerie.
"Kenapa? Ini kantormu Nona Presdir. Kau berhak melakukan apapun di sini."
"Bagaimana jika ada yang melihat?"
"Aku tidak peduli," sergah Brian. Laki-laki itu sedikit menaikkan rok yang di pakai oleh Valerie dan ia berdiri di tengah-tengah kedua paha wanita itu.
Kedua tangan Brian menekan pinggul Valerie hingga tubuh mereka saling menempel.
"Jangan, Sayang," ucap Valerie memohon. Namun sayangnya Brian tidak mengindahkan permintaan wanita itu. Brian meraba tengkuk leher Valerie dan mendekatkan wajah mereka hingga dua bibir saling bersentuhan.
Kecupan yang awalnya sangat lembut dan hati-hati, semakin lama semakin cepat dan intens.
Valerie tidak bisa menolak, sentuhan laki-laki itu benar-benar memabukkan. Meski ia ingin menghindar, namun tubuhnya sangat menginginkan.
Tangan Brian meraba setiap jengkal tubuh Valerie, membuat setiap syaraf di tubuh wanita itu menegang. Ciuman panas serta belaian singkat itu membuat Valerie mabuk kepayang.
__ADS_1
"Aku tidak akan bisa bersabar lebih lama," bisik Brian setelah bibir mereka terlepas. Jika ciuman ini terus berlanjut, Brian tidak bisa memastikan bahwa ia bisa mengendalikan dirinya.
"Jika tidak bisa bersabar, mungkin lebih baik kita tidak bertemu selama beberapa waktu," goda Valerie.
"Mana mungkin aku bisa melakukanya? Sehari saja terasa setahun," keluh Brian. Valerie menggeleng pelan sambil tersenyum samar.
"Aku akan meminta Kakek untuk mempercepat persiapan pesta pernikahan kita," lanjutnya.
"Hei ...." Valerie ingin protes, namun dengan cepat Brian membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya.
"Aku tidak ingin berlama-lama menunggu. Aku mencintaimu, dan ingin segera mengumumkan pada dunia bahwa kau hanya milikku!" tegas Brian.
"I love you to." Brian tersenyum senang. Ia langsung menggendong tubuh Valerie dan mendudukkan wanita itu di sofa.
Mereka akhirnya menikmati setumpuk kue dan donat berbagai toping itu bersama sambil mengobrol. Brian menceritakan pada Valerie tentang pembicaraannya bersama kedua orang tuanya.
Brian mengatakan jika Calvin dan Rossa tidak keberatan jika mereka akan menikah dalam waktu dekat. Calvin dan Rossa berjanji akan mempersiapkan pesta terbesar dan terbaik untuk pernikahan mereka nanti. Persiapan akan segera dilakukan setelah tanggal pernikahan telah ditetapkan.
Valerie merasa sangat senang. Meskipun ia tahu bahwa alasan kedua orang tua Brian menerimanya sebagai menantu bukan karena sebuah ketulusan, namun Valerie tetap merasa lega. Karena kini ia telah diterima dengan baik oleh Calvin dan juga Rossa.
__ADS_1
"Aku tahu kau datang ke kantor polisi untuk menemui paman dan bibimu," ujar Brian.
"Kau tahu? Jangan-jangan kau membuntutiku," selidik Valerie.
"Hei, Noah memberitahuku, Sayang. Jangan berprasangka buruk."
"Ya ... siapa tahu."
"Ngomong-ngomong, apa Noah mengungkapkan perasaannya padamu, Sayang?" tanya Brian tiba-tiba. Sontak, pertanyaan itu mengejutkan Valerie.
Wanita itu kebingungan, ia tidak tahu harus berkata jujur atau bagaimana. Karena ia yakin jika jawabannya akan berpengaruh pada hubungan Brian dan Noah selama ini.
"Kenapa? Berapa kali dia mengungkapkan perasaannya padamu?" tanya Brian lagi.
"Sayang ...." Valerie mengeluh.
"Tidak apa. Aku sudah tahu sejak awal jika dia menyukaimu. Bahkan mungkin, dia lebih dulu jatuh cinta padamu sebelum aku mengenalmu," ungkap Brian.
...🖤🖤🖤...
__ADS_1