My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
PERJANJIAN


__ADS_3

Damar melihat semua yang terjadi di lobi gedung perkantoran Sapta Adiguna melalui ponselnya. Andi bertugas untuk merekam semua yang terjadi dan kemudian mengirimkannya langsung ke Damar, agar Damar tidak ketinggalan informasi.


Sekarang Damar sedang dalam perjalanan menuju gedung perkantoran milik Sapta, setelah sebelumnya ia mendapatkan telepon dari Adam yang mengatakan bahwa Sapta telah tiba di kantor.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya Damar tiba di gedung perkantoran tersebut. Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk. Ketika ia keluar dari dalam mobil, beberapa penjaga memberi hormat padanya, karena penampilan Damar memang kali ini tidak terlihat seperti seorang asisten, ia berwibawa dan terlihat berkharisma hingga siapa pun yang melihat pasti akan menyangka jika Damar adalah seorang pimpinan sebuah perusahaan besar dan ternama.


Kehadiran Damar yang baru saja melewati ambang pintu masuk disambut oleh keriuhan. Suasana di lobi begitu berisik, suara teriakan, sorakan,dan gelak tawa betcampur menjadi satu. Sesuatu jelas sedang terjadi di tengah-tengah lobi. Ia menyeruak di antara kerumunan orang yang terlihat begitu antusias menonton apa yang sedang terjadi.


"Ada apa di sini?"tanya Damar, sambil menekan headseat bluetooth di telinganya, ia mengajukan pertanyaan tersebut pada semua bodyguard yang bertugas di sana, karena headseat mereka saling terhubung sekarang.


"Sedikit lelucon sedang terjadi, semua berkat Rama yang memiliki banyak ide." Rei yang menjawab sambil terkekeh. Rei memutuskan keluar dari persembunyiannya di dekat elevator untuk menonton pertunjukan seru yang sedang dilakukan oleh Darren.


Damar mengernyitkan dahi. "Ide. Lelucon," gumamnya.


"Ya, ide cemerlang, Anda kan tahu kalau menunggu adalah sesuatu yang sangat membosankan, kami saja hampir tertidur karena menunggu Anda yang tidak kunjung datang. Tapi berkata Rama, rasa kantuk kami tiba-tiba saja hilang. Terima kasih, Rama." Kali ini Willi yang menjawab, sambil tertawa.


"Jadi?" tanya Damar lagi.


"Ah, sepertinya Anda tidak menonton video yang aku kirimkan sampai selesai, Pak Damar. Lihat saja sendiri kalau begitu," sahut Andi, yang terdengar bosan.


Perasaan Damar seketika menjadi tidak enak. Ia mempercepat langkahnya hingga tiba di sekitar kerumunan yang semakin padat, dan detik berikutnya ia terbelalak saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Bagaimana tidak, jika ia melihat Darren sedang menari erotis, sambil sesekali menyentuh alat kelam-innya dengan wajahnya yang begitu teran-gsang.


Beberapa menit yang lalu ....


"Anton, lepaskan ikatanya, lakukan seolah kamu melakukan itu karena perintahnya," ujar Rama.


Anton tersenyum, kemudian menekan headset di telinganya. "Oke, aku jago sekali berakting," ucapnya, sebelum akhirnya ia melangkah ke Darren dan melepas ikatan yang membuat tubuh Darren tidak mungkin dapat bergerak.


Setelah Darren dapat berdiri, Anton segera berucap, "Apa aku harus mematikan kameranya sekarang, Pak? Atau dibiarkan saja." Suara Anton yang begitu lantang tentu saja terdengar oleh semua orang yang berdiri di barisan paling depan untuk menonton Darren, termasuk Sapta.


Darren sendiri terlihat bingung. Namun, ia tahu jika Anton adalah komplotan yang bergabung dalam tim suruhan Tiffani.


"Jangan. Aku belum selesai, aku ingin menari." Rama kembali berujar.


Darren menggeleng. "Aku tidak akan menari," desisnya.


Mendengar jawaban Darren, Anton segera bertindak, ia menarik ke atas pakaian office boy yang ia kenakan agar Darren dapat melihat senjata yang bersembunyi di balik pakaian itu. Tentu saja Anton melakukannya dengan hati-hati agar tidak ada yang melihat selain Darren, dan ternyata tindakannya itu sukses. Darren menjadi ketakutan, dan langsung mengatakan apa yang Rama perintahkan.


"Jangan. Aku belum selesai, aku ingin menari." Darren berteriak, dan kemudian ia langsung menarik dengan gerakan yang tak keruan.


Tindakan Darren itu tentu saja mengundang gelak tawa dari para karyawan yang menonton, tapi tidak dengan Sapta. Sapta perlahan menyadari kejanggalan yang terjadi, terutama setelah ia melihat sebuah benda berwarna hitam di telinga putranya saat putranya itu melakukan gerakan memutar ketika memulai tarian.


"Sialan," gumam Sapta, lalu maju selangkah hendak menghampiri Darren, tetapi langkahnya terhenti saat ia merasa sebuah benda keras menempel di pinggangnya.


Sapta melirik ke samping, tepat di mana ada seorang pria asing berdiri sambil menodongkan pistol secara sembunyi-sembunyi tepat di pinggangnya, pria asing itu adalah Rei.


"Biarkan saja dia menari untuk beberapa menit, jika kamu menolongnya atau kamu berteriak meminta tolong, putramu akan mati. Jumlah kami banyak, dan kami ada di setiap sudut kantor ini. Pengawal yang kamu bawa tidak ada gunanya sama sekali jika kami mulai bertindak," bisik Rei di telinga Sapta.


"Ini teror,aku akan melaporkan kalian semua kepolisian,"Sapta balas berbisik.


"Sungguh? Maka kami akan mengatakan pada polisi alasan semua teror ini terjadi. Kamu pasti tahu alasannya, 'kan?"


Sapta bergeming, ia tidak berani bergerak sama sekali, dan dengan sangat berat hati ia pun mau tidak mau membiarkan Darren melakukan hal memalukan di depan banyak orang.


Sekarang beberapa menit telah berlalu, dan Damar telah tiba untuk melakukan negosiasi dengan Sapta Adiguna. Damar yang begitu terkejut melihat tindakan Darren segera menekan headset bluetooth di telingannya untuk berbicara pada semua bodyguard yang bertugas. "Siapa yang mengendalikan? Minta dia untuk berhenti," titah Damar.


Rama yang mendengar ucapan Damar melalui headseatnya langsung menuruti perintah dari Damar.


"Berhentilah, Ban-gsat mesum, aku jijik sekali melihat tarianmu,"ucap Rama.


Damar menggelengkan kepala begitu mendengar ucapan Rama, sementara bodyguard lainnya berusaha menahan tawa.

__ADS_1


Daren yang sekarang terlihat hampir menangis segera menghentikan tariannya dan langsung berlari menuju elevator yang terdapat di sisi lain lobi, di mana Mario masih bersembunyi dengan tenang, karena ia tidak tertarik sama sekali untuk menonton Darren yang tengah dipermalukan.


Begitu Darren telah tiba di dalam elevator, Mario ikut masuk ke dalam elevator dan memperlihatkan seringai kejam yang membuat bulu kuduk Darren meremang. Dibandingkan membuat lelucon, Mario memang lebih senang bertindak secara langsung, yaitu mengintimidasi lawan hingga lawan tidak berani berkutik seperti sekarang.


"Hai, Pria mesum, mari aku antar ke ruangan ayahmu," ucap Mario.


Sementara itu di tengah lobi, Damar langsung menghampiri Sapta dan berbicara pada pria itu. "Aku ingin bicara dengan Anda di ruangan Anda," pinta Damar.


"Sudah kuduga kalau semua ini adalah perbuatan kalian!" desis Sapta.


"Tidak akan ada asap kalau tidak ada api, dan kami adalah asapnya di sini," ujar Damar.


Sapta mendengkus kesal. "Ayo, kalau begitu!" Setelah mengatakan itu, Sapta langsung melangkah dengan cepat menunju elevator diikuti oleh beberpa pengawal yang Sapta sewa untuk mengawalnya.


Damar memperhatikan semua pengawal bertubuh besar yang terlihat cukup menakutkan. "Anda memiliki pengawal sekarang."


"Aku harus mempekerjakan mereke demi keselamatanku. Berurusan dengan penjahat seperti Richard membuat aku selalu merasa terancam di mana pun aku berada." Sapta menjawab dengan ketus. Ia lalu mengalihkan pandangan ke Damar. "Kamu datang seorang diri, kamu tidak takut? Aku bisa menjadi jahat jika aku mau."


Damar tertawa terbahak-bahak. "Aku tidak sendirian, aku selalu memiliki orang yang setia di sekitarku. Tapi lihatlah diri Anda Pak sapta, Anda tetap saja tidak selamat walaupun mempekerjakan mereka. Buktinya putra Anda masih saja bisa terjebak dengan mudah dan dipermalukan di depan banyak orang seperti tadi," ujar Damar, dengan nada mencela yang membuat Sapta menjadi sangat tersingung.


Sapta menahan diri hingga mereka tiba di dalam elevator. Begitu mereka telah tiba di dalam elevator dan pintu elevator tertutup, Sapta langsung memberi perintah, "Hajar dia!"


Namun, belum lagi perintah itu dilaksanakan oleh para pengawal Sapta, salah seorang pengawal yang terlihat paling tampan di antara pengawal lainnya segera menghampiri Sapta dan meletakkan ujung senjata apinya di kepala Sapta.


"Jangan ada yang bergerak jika tidak ingin aku menembaknya," ujar pengawal itu pada pengawal lainnya yang terlihat bingung.


Sapta terkejut bukan kepalang, ia tidak menyangka jika ternyata terdapat penyusup di antara pengawalnya "Beraninya kamu melakukan ini padaku!" teriak Sapta.


Damar tertawa begitu melihat kepanikan di wajah Sapta. "Sudah aku bilang, aku memiliki orang-orang setia di sekitarku. Ah, ya, perkenalkan, dia adalah Johan, bodyguard baru yang bekerja di bawah naungan Richard Raendra. Dia terampil sekali dan tampan," ucap Damar.


Sapta menghela napas, lagi-lagi ia kalah melawan kubu seorang mafia yang begitu licik.


Ting!


Damar keluar terlebih dahulu, disusul oleh Sapta yang masih menjadi tawanan Johan.


"Minta mereka semua untuk pergi. Aku tidak akan memb-unuh atau melukai Anda, aku datang hanya untuk membicarakan tindakan putra Anda yang memaksa Tiffani untuk melakukan tes DNA. Aku ingin tahu apa maunya si Darren itu sampai-sampai dia berani mengusik Tiffani lagi."


"Darren melakukan hal itu? Mana mungkin!" Sapta tidak begitu saja percaya pada ucapan Damar.


"Tanyakan sendiri pada putra Anda kalau begitu. Dia ada di ruangan Anda sekarang." Damar kembali berujar.


Damar menatap semua pengawalnya dan kemudian berkata, "Tunggu aku di bawah."


"Siap, Pak!"


Setelah semua pengawal pergi, Sapta segera melanjutkan langkah menuju ruangannya bersama dengan Johan dan Damar.


"Ayah, Ayah! Tolong aku, Ayah, mereka semua mengeksploitasiku." Darren segera berlari menghampiri Sapta begitu ia melihat Sapta memasuki ruangan.


Sementara itu Damar terlihat terkejut karena Rama dan yang lainnya sudah berada di dalam ruang kerja Sapta sekarang. Padahal beberapa waktu lalu ia meninggalkan semua bodyguard itu di lobi.


Melihat tatapan bingung Damar, Andi berkata, "Kami lewat tangga darurat, kecuali Mario."


"Dasar kalian ini. Sekarang berjagalah di luar sementara aku bicara dengan Darren dan ayahnya, kecuali kamu Rama, aku ingin agar kamu tetap berada di dalam sini," titah Damar, yang langsung mendapatkan respon dari para bodyguard.


Suasana menjadi hening seketika saat hanya tinggal mereka berempat di dalam ruang kerja Sapta.


Damar, Rama, Sapta, dan Darren.


Damar tidak ingin membuang waktu, ia segera mengeluarkan surat perjanjian dari dalam tas tangan yang sejak tadi ia bawa dan meletakkan surat perjanjian itu di atas meja kayu berlapis kaca.

__ADS_1


"Tanda tangani ini," ujar Richard.


"Apa ini?" tanya Sapta.


"Surat perjanjian yang menyatakan kalau Daren tidak akan mengusik Tiffani lagi, jika sampai Darren atau siapa pun dari pihak Anda melanggar perjanjian ini maka aku akan mengambil tindakan apa pun sesuai keinginan ayah atau suami Tiffani."


Semua yang ada di ruangan itu terkejut saat Damar mengucapkan kalimat 'suami' bahkan Rama pun tidak luput dari rasa terkejut.


"Suami? Apa putri Richard sudah menikah?" tanya Sapta, yang sekarang merasa tidak terima, karena biar bagaimana pun juga anak yang sedang dikandung Tiffani adalah cucunya, penerus keluarganya.


Damar mengangguk. Sekarang belum, tapi beberapa hari lagi Tiffani akan memiliki gelar sebagai seorang istri dari Rama. Sejak saat itu semua hal buruk yang terjadi pada Tiffani adalah tanggung jawab Rama, dan terserah dia mau berbuat apa pun pada para pengganggu istrinya.


Rama berdebar begitu mendengar apa yang Damar katakan. Ia pun menegakkan tubuhnya, dan memasang ekspresi serius yang ia yakini telah terlihat seperti seorang suami yang sangat overprotectif.


Darren semakin merosot di tempat duduknya saat ia mengetahui hal itu. Bagi Daren Rama lebih mengerikan jika dibandingkan dengan Richard. Rama mampu menyakiti dirinya secara keseluruhan, bukan hanya fisiknya yang hancur saat ini, tetapi mental dan harga dirinya juga telah hancur karena ulah Rama.


"Jujur saja kukatakan padamu, Darren, sebenarnya Rama ingin membu-nuhmu setelah mempermalukanmu seperti ini, tapi aku yang melarang. Jika tidak, mungkin kamu telah tiba di neraka saat ini dengan cara yang begitu menyakitkan." Damar berujar sambil mencondongkan tubuhnya ke Darren.


"Ayah," gumam Darren, yang menempel pada ayahnya seperti seorang bayi yang ketakutan.


"Aku akan tanda tangan. Apa pun isi surat perjanjian itu aku akan tanda tangan, asal kalian tidak mengganggu hidup kami lagi," ucap Sapta, sambil meraih pena dan kertas perjanjian, lalu segera membubuhkan tanda tangan tanpa membaca isinya lebih dulu.


Damar tersenyum. "Bagus. Aku jamin pihak kami tidak akan mengusikmu, asal pihakmu tidak mengusik kami," ujar Damar, lalu menakutkan, "Nah, Rama, kamu boleh melakukan bagianmu sekarang."


Darren dan Sapta menegang begitu melihat seringai di wajah Rama.


"Jangan. Aku mohon jangan lakukan ...."


Buk!


Percuma Sapta memohon, karena Rama dengan cepat menarik lengan Darren agar pria itu bangkit berdiri, dan kemudian melayangkan tinju di wajah Darren yang sudah sepucat mayat.


Darren jatuh tersungkur dengan hidung yang mengeluarkan darah dan sudut bibir pun pecah.


"Kamu pikir Tiffani itu gadis murahan sehingga kamu memintanya untuk tes DNA. Jika bukan karena dirimu yang begitu kurang ajar, Tiffani tidak harus mengalami semua hal menyedihkan seperti yang sekarang tengah ia alami. Dasar bedebah sialan!" Rama menendang perut Darren berulang kali hingga Darren tidak lagi dapat bergerak.


Damar yang melihat Rama tidak dapat menggontrol amarahnya, langsung menghentikan tindakan Rama sebelum Darren mati di tangan Rama,


"Ayo, Rama, aku rasa sudah cukup. Aku yakin dia telah benar-benar menyesal sekarang. Ayo." Damar menarik lengan Rama untuk keluar dari ruangan itu dan segera kembali ke kediaman Richard Raendra.


***


Jika keributan tengah terjadi di kantor Sapta Adiguna karena perbuatan para bodyguard Richard, di kediaman Richard pun tengah terjadi keributan yang membuat para pelayan berteriak histeris.


"Nona, sudah, Nona, jangan begini. Kalau tuan sampai lihat, tuan bisa jantungan," ujar seorang kepala pelayan, yang berusaha melerai perkelahian antara Tiffani dan Gracella.


"Minggir, Bi, aku tidak akan melepaskan perempuan ****** itu. Enak saja dia mengatai anakku sebagai anak haram. Aku saja tidak pernah berkata seperti itu padanya saat dia ketahuan tengah hamil anak Dylan!" Tiffani berteriak, sambil mendorong kepala pelayan agar menjauh dari hadapannya.


"Kenapa kamu marah, hah? Yang aku katakan kan benar. Anak itu anak haram!" Gracella balas meneriaki Tiffani.


Sela menarik rambut Gracella hingga Gracella merintih kesakitan. "Heh, Nenek Lampir, di dunia ini tidak ada yang namanya anak haram, yang haram itu mulutmu yang tidak bisa dijaga."


"Lepaskan aku. Beraninya kamu menyentuh rambutku dengan tangan kotormu!" Gracella kembali berteriak.


"Kotor kamu bilang? Nih, rasakan tangan kotorku yang mengacak-ngacak wajah sok cantikmu!" Sela menyentuh seluruh bagian wajah Gracella dengan kedua tangannya, ia tidak peduli pada teriakan Gracella yang memenuhi setiap sudut ruang tamu.


Mona yang sejak tadi hanya menonton, sekarang ikut terpacing emosi, karena Gracella terus meneriakan kalimat anak haram, anak haram, dan anak haram. Mona pun menghampiri Gracella dan mulai menyerang Gracella dengan cara menarik rambut, tangan, dan telinga Gracella.


"Rasakan ini, enak saja kamu mengatai anak Tiffani dengan sebutan anak haram!" seru Mona.


"Anak haram! Siapa mengatakan itu?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2