My Sexy Bodyguard

My Sexy Bodyguard
RAMA DAN TIM BODYGUARD SELAMAT


__ADS_3

Semua tim bodyguard utama kini menatap ke arah pintu masuk gudang. Mereka menatap wanita berperawakan kecil dengan jaket kebesaran yang membungkus tubuh rampingnya. Sebelah tangan wanita itu membawa speaker mini, dan sebelahnya lagi memegang ponsel.


Tidak ada satu pun rekan-rekan Rama yang mengenal wanita itu, tetapi tidak dengan Rama. Rama mengenal wanita itu dan ia tidak mungkin lupa pada jasa wanita yang telah menolongnya itu.


"Kami tidak apa-apa," jawab Rama, menjawab pertanyaan dari si wanita sambil tersenyum. Wanita itu adalah Ara, wanita pengantar makanan yang sebelumnya menghubungi Adam atas permintaan Rama.


Ara menghela napas lega, lalu melangkah masuk lebih jauh ke dalam gudang, menghampiri Rama dan rekan-rekannya yang terlihat bingung. "Syukurlah," ujar Ara, kemudian melanjutkan, "Sebenarnya aku ingin menghubungi polisi, tapi aku rasa akan ribet sekali jika aku harus pergi ke kantor polisi dan menjelaskan banyak hal. Itulah sebabnya aku terus mengintai gudang ini dari semak yang ada di seberang jalan sana, dan saat aku melihat segerombolan preman itu berdatangan, aku langsung mengeluarkan keahlianku," jelasnya, sambil mengayunkan speaker mini yang ia bawa.


Rama tertawa, ia lalu memandang bergantian antara speaker dan juga ponsel di kedua tangan Ara. "Jadi inilah keahlianmu?"


Ara mengangguk. "Ya, aku mengecoh mereka. Untungnya berhasil."


"Apa dia orang yang mengirimkan lokasi gudang ini padaku?" tanya Adam.


Rama mengangguk. "Ya, dia wanita yang telah membantuku agar dapat menghubungimu. Andai saja dia tidak datang sore tadi, dan dia tidak bersedia untuk menolongku, ungkin sampai kapan pun kalian tidak akan pernah menemukan keberadaanku, benar 'kan?"


"Tidak juga. Sebenarnya aku telah berhasil mendapatkan petunjuk tentang keberadaanmu kok," gumam Andi, tetapi tidak ada yang memedulikan.


Xavier menghampiri Ara, kemudian ia menepuk pundak wanita itu hingga membuat tubuh kecil Ara melesak beberapa sentimeter.


"Terimakasih, jika bukan karena dirimu mungkin kami akan terlambat menolong rekan kami," ucap Xavier dengan sungguh-sungguh.


Ara tersenyum, membuat wajahnya yang manis terlihat semakin manis.


"Nah, karena kita semua telah selamat, lebih baik kita semua kembali. Aku yakin Tiffani pasti sangat khawatir saat ini," ujar Adam.


Rama mengangguk, lalu ia kembali berbicara pada Ara.


"Aku ingin berterimakasih padamu dengan sepantasnya ... hem, siapa namamu?" tanya Rama, pada wanita di hadapannya.

__ADS_1


"Aku Ara, namaku Ara."


"Sependek itu? Serius?" Andi menimpali ucapan Ara. "Kenapa orang tuamu tidak kreatif sekali."


Ara mendelik ke Andi, lalu ia mendengus kesal sebelum menjawab pertanyaan Andi yang terkesan merendahkan orang tuanya.


"Terserah ayah dan ibuku dong mau memberiku nama seperti apa, yang penting aku terlahir cerdas, dan semakin tumbuh dewasa aku semakin cerdas," ujar Ara, sambil memelototi Andi, yang tiba-tiba saja nyalinya menciut saat mendapat tatapan tidak bersahabat dari Ara.


Rama berdeham, memotong perdebatan yang sepertinya akan terjadi pada Ara dan Andi.


"Hem, begini, Ara, aku sangat berterima kasih padamu, kalau boleh aku ingin memberimu sedikit--"


"Tidak perlu, aku tidak perlu uang. Sungguh aku tidak membutuhkan uang sama sekali." Ara memotong ucapan Rama.


"Wah, kamu dermawan sekali. Kamu menolong kami secara cuma-cuma kalau begitu?" tanya Willi, yang menatap Ara dengan tatapan kagum. Menurut Willi, Ara adalah wanita yang baik dan pemberani.


"Dan apa tujuanmu itu?" tanya Rama yang terlihat penasaran.


"Apa kalian semua berasal dari kota? Maksudku kalian datang dari pusat kota?" Ara bertanya pada semua pria yang ada di hadapannya, dan sontak saja semua yang ditanya mengangguk bersamaan, mungkin karena nada bicara Ara yang menyiratkan perintah 'jawab aku!'


Melihat anggukan dari Rama dan rekan-rekannya, Ara tersenyum puas. "Bagus. Aku memang sudah lama menunggu seseorang yang datang dari kota, seseorang yang terlihat berkuasa seperti kalian semua. Tapi, aku tidak bisa menjelaskannya sekarang, karena aku harus mengantar pesanan ayam yang lumayan banyak malam ini. Hem, begini saja, aku minta nomor ponselmu saja, aku akan datang ke rumahmu kapan-kapan, boleh?" Ara menyerahkan ponselnya ke Rama.


Rama menerima ponsel Ara dan langsung mencatat nomor ponselnya di ponsel wanita itu. Rama tidak ragu untuk melakukannya, karena ia berutang budi pada Ara. Jika bukan karena Ara, munglin ia belum selamat saat ini.


"Terima kasih," ujar Ara sambil tersenyum. "Pokoknya aku pasti akan datang secepat mungkin. Kalian cepatlah pergi sebelum bos semua penjahat tadi datang ke sini. Aku juga akan pergi, bye semua." Ara kemudian melesat secepat kilat, keluar dari dalam gudang sambil berlari-lari kecil hingga ia tidak lagi terlihat oleh Rama dan yang lainnya.


"Dia konyol sekali," komentar Andi, saat Ara tidak lagi terlihat.


"Jangan banyak komentar, nanti jatuh cinta," ejek Xavier, sambil meninju dada Andi, kemudian segera keluar dari dalam gudang, disusul oleh Rama dan yang lainnya. Sementara Andi hanya bisa bergidik ngeri membayangkan jika wanita seperti Ara adalah jodohnya.

__ADS_1


***


Tiffani baru saja menyelesaikan makan malamnya dan sedang duduk di teras bersama dengan Sela, Mona, dan Gracella. Keempat wanita itu sedang menunggu kedatangan Rama dan juga tim bodyguard yang pergi untuk misi penyelamatan Rama.


Sekarang sudah hampir tengah malam, dan mereka belum mendapat kabar apa pun dari Xavier yang memimpin tim untuk menjalankan misi,dan hal itu sungguh membuat Tiffani menjadi semakin panik.


Keheningan yang menyelimuti keempatnya terasa begitu menakutkan, setiap dari mereka memiliki pemikiran buruk tentang apa yang tengah terjadi sekarang. Bisa saja misi tersebut gagal dan malah mencelakakan semua bodyguard yang pergi untuk menjalankan misi. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang mengutarakan kekhawatiran yang mereka rasakan. Bagi mereka, lebih baik diam daripada harus mengumbar hal-hal yang menakutkan.


Setelah beberapa menit berlalu, Gracella memutuskan untuk memulai percakapan, karena sejak tadi ada sesuatu yang membuatnya penasaran, dan menurutnya sudah waktunya untuk bertanya pada Tiffani agar rasa penasarannya terjawab.


"Ngomong-ngomong di mana Om Damar? Aku tidak melihatnya sejak tadi," tanya Gracella.


"Sebenarnya bukan hanya sejak tadi, tapi Om Damar memang tidak terlihat sejak aku dan Johan menjemput Tiffani di kantor pagi tadi," ujar Sela, menimpali pertanyaan dari Gracella.


Gracella dan Sela sama-sama menatap Tiffani dengan tatapan tajam. Seolah keduanya menuntut penjelasan dari Tiffani, di mana keberadaan Damar di saat yang genting seperti ini?


Tiffani yang merasa diperhatikan oleh Gracella dan Sela pun memilih untuk menjawab rasa penasaran keduanya. "Om Damar ada urusan di luar kota kurasa. Tadi pagi setelah meminta tanda tanganku di sebuah dokumen, dia langsung pergi. Aku memang tidak mengabarinya tentang apa yang terjadi, aku takut dia malah panik dan pekerjaannya jadi tertunda."


Dahi Gracella mengernyit. "Benarkah? apa dia meminta tanda tangan untuk proyek pembangunan hotel?"


Tiffani mengangguk. "Ya, benar."


"Dan kamu menandatangani dokumen itu?" tanya Gracella lagi.


"Tentu," jawab Tiffani.


Gracella menghela napas panjang. "Kamu sedang dalam masalah, Tiffani."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2