
Tiffani dan Rama akhirnya tiba di kantor. Tentu saja Rama lah yang bersikeras agar mereka segera beranjak dari taman dan langsung melajukan mobil menuju kantor. Ia bahkan tidak peduli pada omelan Tiffani yang masih ingin menyantap satu cup es krim lagi sebelum mereka berangkat ke kantor.
Tingkah Tiffani yang kekanakan sama sekali tidak terduga dan membuat Rama merasa tidak nyaman. Bukannya ia tidak suka Tiffani menciumnya di tempat umum. Ia hanya takut jika ada tangan-tangan jahil yang merekam tindakan Tiffani dan menyebar rekaman itu ke media sosial. Jika sampai tersebar, itu berarti penyamarannya sebagai bodyguard Tiffani akan terbongkar.
Pernikahan Rama dan Tiffani sebenarnya bukan rahasia bagi sebagian orang. Namun, baik Tiffani atau pun Rama tidak ada yang mengungkap hubungan mereka pada kalangan tertentu, seperti kalangan penjahat-penjahat yang hanya datang sesekali ke Indonesia untuk berbisnis. Semua itu mereka lakukan agar tidak ada yang memanfaatkan hubungan mereka demi kepentingan yang tidak manusiawi.
"Tadi seru sekali," ujar Tiffani, begitu Rama menyusulnya masuk ke dalam ruang kerjanya dan menutup pintu di belakang mereka.
Rama meletakkan tas tangan Tiffani di atas meja dan langsung mendudukkan Tiffani di sofa.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Tiffani. Suaranya terdengar jahil, seperti menggoda Rama untuk melakukan sesuatu yang sejak tadi ia tunggu.
"Saatnya balas dendam," bisik Rama di telinga Tiffani.
Tiffani bergidik, ia menatap Rama sejenak sebelum menutup kedua matanya dan memajukan bibirnya yang mulai mengerucut.
Rama berusaha menahan tawa melihat apa yang Tiffani lakukan. Wanita itu memang dari dulu tidak berubah. Sikapnya yang kekanakan membuat Rama selalu merasa gemas setiap saat. Walau sering bertingkah seperti gadis remaja, Tiffani tetap profesional saat sedang bekerja. Tidak sedikit orang yang segan pada Tiffani. Kemampuan berbisnis Tiffani pun tidak diragukan lagi. Tiffani pandai bernegosiasi. Kelemahannya hanyalah saat siapa pun mengaitkan nama Richard dalam berbagai kesempatan. Di saat-saat seperti itulah keprofesionalan Tiffani patut untuk dipertanyakan.
"Mana, sih?" gerutu Tiffani, yang masih memajukan bibirnya.
Suara Tiffani yang begitu dekat di telinga Rama membuat Rama tersentak. Ia yang sejak tadi hanya diam menatap Tiffani kini mulai mendekatkan bibirnya ke bibir Tiffani dan mengecup singkat bibir lembut itu.
Tiffani membuka mata. "Hanya itu?" tanyanya, yang terlihat kecewa.
Rana mengangguk, dan segera bangkit berdiri. "Sekarang bukan waktu yang tepat. Apa kamu belum melihat sekarang sudah pukul berapa?" tanya Rama, sambil menunjuk arloji yang melingkar di tangannya sendiri.
Tiffani menggeleng. "Mana bisa aku menatap ke tempat lain, bahkan ke tanganku sendiri saat kamu berada di dekatku," ujar Tiffani, sembari mengedipkan kedua matanya, membuat bulu matanya yang lentik bergerak-gerak lincah.
Rama menggeleng. "Berhentilah menggodaku, Tiffani, jika tidak ingin aku melucuti pakaianmu sekarang."
__ADS_1
Tiffani bangkit berdiri dan segera menghampiri Rama. "Lakukan saja," tantangnya, sambil membusungkan dada di depan Rama.
Rama yang tidak tahan menerima godaan dari Tiffani tanpa ragu menyentuh kedua bagian yang membusung di dada Tiffani dan mengusapnya lembut hingga suara des-ahan Tiffani mulai terdengar.
"Astaga!"
Suara pekikan seorang pria yang menerobos masuk ke dalam ruangan begitu saja membuat Rama dan Tiffani terkejut. Keduanya segera menjauh.
"Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Aku akan keluar kalau begitu, Nyonya. Lanjutkan saja apa yang belum selesai." Adam membungkuk berulang kali, sebelum ia beranjak dari hadapan Rama dan Tiffani.
Rama terlihat kesal, tetapi Tiffani malah tertawa.
"Dasar dia itu. Apa tidak bisa mengetuk dulu sebelum masuk." Rama menggerutu.
Tiffani mendorong punggung Rama menuju pintu. "Hampiri dia. Aku rasa ada sesuatu yang penting sampai-sampai dia datang kemari dan menerobos masuk ke dalam ruanganku," ucap Tiffani, memberi saran pada Rama.
Rama mengangguk. "Baiklah, aku keluar sebentar. Jangan pergi ke mana pun sebelum aku kembali," ujar Rama, sambil mengeluarkan pistol dari balik saku jasnya dan meninggalkan pistol itu di meja kerja Tiffani, setelah itu Rama segera keluar dari dalam ruangan.
Sementara itu, Adam yang sekarang sedang berada di kantin di lantai dasar sibuk memukuli kepalanya dengan keras. Ia merasa tidak enak karena telah melihat adegan 21 plus yang baru saja dilakukan oleh Rama dan Tiffani.
"Bodohnya aku. Seharusnya aku mengetuk dulu. Ke mana perginya otakku yang super cerdas dan--"
"Mungkin telah tertimbun oleh lemak!" seru Rama, yang sekarang berada di kantin juga, ia berdiri tidak jauh dari tempat Adam berdiri.
Adam cemberut begitu mendengar Apa yang Rama katakan. Ia memang merasa bersalah pada Rama karena telah merusak suasana, tetapi bukan berarti ia akan terima jika Rama mulai menyindir bentuk fisiknya. Ia sudah cukup sedih melihat dirinya sendiri setiap hari di depan cermin, tidak perlu ada orang lain yang menegaskan padanya bahwa tubuhnya sekarang ini terlihat seperti tumpukan lemak yang berjalan.
"Jangan katakan itu, atau aku akan merajuk bertahun-tahun." Adam mengancam.
Rama hanya tertawa mendengar ancaman Adam yang ia tahu tidak akan terealisasi bahkan sampai kiamat sekali pun.
__ADS_1
"Duduklah, dan cepat katakan apa yang membuatmu datang kemari?" ucap Rama, sambil menarik satu buah kursi untuk ia duduki.
Adam melakukan hal yang sama dengan yang Rama lakukan. Toh, ia memang memiliki sesuatu yang penting yang harus ia sampaikan ke Rama saat ini juga.
"Ada dua berita buruk yang aku bawa, yang mana yang lebih dulu ingin kamu dengar?" tanya Adam, sambil menunjukan dua jemarinya ke Rama.
"Yang mana saja, toh dua-duanya buruk," jawab Rama, singkat dan cepat, ia sedang tidak ingin main tebak-tebakan sekarang.
Adam berdeham dan menegakkan duduknya. Kemudian ia berkata, "Aku rasa semua ini sudah direncanakan, itulah sebabnya kabar terbaru ini dikirim ke rumah, bukannya ke email kantor, atau langsung ke whatsapp Tiffani."
Rama mengernyitkan dahi. "Kabar apa tepatnya?" tanyanya penasaran.
"Kabar pertama adalah Andrew memajukan pertemuan menjadi pukul 08.30, itu berarti hanya tersisa sepuluh menit untukmu dan juga Tiffani agar segera tiba di sana. Jika kalian terlambat, kesepakatan akan dibatalkan sepihak dan kalian harus membayar denda. Kabar kedua, Pak Damar akan menurunkan alat berat hari ini untuk meratakan semua hunian yang ada di Distrik EL 33."
"****!" desis Rama, lalu bangkit berdiri dan berlari menuju elevator begitu mendengar apa yang Adam katakan.
Adam segera menyusul Rama hingga tubuhnya berkeringat.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Adam, dengan napas terengah.
"Pergilah dengan Tiffani untuk menemui Andrew, bawa serta Xavier dan tim bodyguard utama, sementara aku pergi untuk menghentikan Pak Damar."
"Menurutmu Tiffani akan setuju untuk menemui si cassanova itu tanpamu?" Adam kembali bertanya sambil memasuki elevator yang telah terbuka.
Rama mengangguk. "Tiffani pasti setuju. Aku akan menjelaskan padanya begitu kita tiba di atas."
Adam mengangguk.
"Semoga kita bisa menangani semua kekacauan ini," gumam Rama.
__ADS_1
Bersambung.